Pawarta Adhicara!

JARINGACARA sebagai media publikasi memiliki keinginan turut memberi warna dalam mengabarkan segala agenda acara seni budaya, pariwisata, warta, cuaca, juga menebarkan canda-tawa.

Perihal kontak kerjasama publikasi pun media partner, selengkapnya sila simak laman “Syarat & Ketentuan“.

 

4.5
02
HIGHLIGHT
   
Pameran Seni upa Keep Calm And

Pameran Seni Rupa Keep Calm And…

Diunggah oleh Purwa Carica, pada tanggal 10 Mei 2018

Pameran Seni Rupa Keep Calm And… | karya Arif Hanung T @555hanung | Erza QPop @erzaqpop | Cahaya Novan @cahaya_novan | Di Tirana Art House & Kitchen, Jl Suryodiningratan 55 Yogyakarta | 8-31 Mei 2018

Meskipun bukan kelompok, tetapi kekompakan mereka terjalin sinergis. Meskipun bukan karya kolaborasi, namun karya mereka saling menguatkan satu sama lain. Display pameran ini pun sengaja mereka desain dinamis. Ketiganya sepakat menyeragamkan frame dengan warna putih dan background tembok warna merah. Sehingga terasa kontras dan mencuri fokus di ruang pamer yang juga berfungsi sebagai kafe. Mau tak mau pengunjung kafe ingin mendekat dan mengamati tiap kotak berukuran 25 x 25 cm atau 30 x 30 cm. Display pameran terkonsep seperti kotak-kotak puzzle yang berisi karakter masing-masing karya seniman.

Karya Pameran Seni Rupa Keep Calm And…

Pameran Seni upa Keep Calm AndKetiga seniman yang akan mempresentasikan karya mereka ini rata-rata kelahiran ’90-an. Arif Hanung TS lahir tahun 1990, Cahaya Novan lahir tahun 1987 dan Erza Q-Pop lahir di tahun 1989. Maka rata-rata mereka masih berumur kurang lebih 30 tahun. Menurut saya, ketiga seniman muda ini memiliki benang merah yang sama yakni kecenderungan karya “abstrak” dengan ciri masing-masing. Abstraknya Hanung yang dua dimensi, abstraknya Erza mixed media dan abstraknya Novan found objects. Benang merah yang lain adalah ‘bermain-main’. Hanung dengan nyaman bermain menggoreskan cat minyak; Erza bermain dengan media kayu yang ia distorsi; demikian juga Novan yang bermain-main mengolah kembali mainan hot wheels. Dalam pameran ini, masing-masing seniman mempresentasikan 15 karya, sehingga total ada 45 karya. Produksi antara tahun 20017-2018.

Arif Hanung T, sangat eksplisit mengajak penikmat seni memberi makna yang dalam pada karya abstraknya. Tahun 2008-2009 pertama kali Hanung menggunakan media kanvas dan cat akrilik. Hanung memiliki background fotografi, aktif juga seni pertunjukan, penikmat dan pernah bekerja di dunia film.

Karya-karyanya banyak terinspirasi dari latar belakangnya tersebut. Teknik-teknik fotografi tentang landscape sering ia pakai dalam teknik berkarya. Karya-karyanya yang saat ini dipamerkan adalah sebuah studi tentang bentuk. Hanung lebih menyukai tema-tema alam dan dia lebih sering mengeksplorasi tema tersebut. Tak ada tendensi ingin menyuarakan sesuatu melalui karya-karya yang ia tampilkan saat ini. Murni bermain-main dengan bentuk lewat memori yang ia tuangkan dalam kanvas. Maka penikmat seni boleh memaknai karya Hanung dengan persepsi mereka sendiri. Penikmat seni diharapkan bisa mendapatkan ‘pesan rasa’ melalui goresan kuasnya, demikianlah bagaimana menikmati karya abstrak. Hanung merupakan salah satu dari ketiga seniman ini yang konsisten berkarya abstrak dengan media kanvas akhir-akhir ini. Bila mengikuti karya-karya Hanung, maka kita bisa ‘membaca’ bagaimana ia memiliki karakter mengolah tekstur dan cat yang tebal.

Erza QPop (Erza Budi Faisal)

Ini merupakan karya pertama Erza dengan media kayu. Pameran ini juga menjadi penanda penting bagi Erza sebagai pribadi. Dimana ini adalah masa-masa hijrah untuk menjadi personaliti yang ia yakini sekarang. Perubahan personaliti ini turut mempengaruhi karya-karyanya. Dari segi karakter maupun bentuk berubah. Namun demikian tetap ada benang merah yang menjadi jembatan pembacaan karya Erza sejak awal ia berkarir sebagai seniman. Benang merah itu adalah modifikasi motif batik khas Yogya yang tetap ia pakai hingga kini.

Pameran Seni upa Keep Calm AndErza menampilkan karya dengan media acrylic dan potongan kayu jati belanda yang asimetris. Potongan kayu ini awalnya adalah bentuk utuh dari perahu, rumah, pesawat atau mobil. Kemudian oleh Erza diobrak-abrik, dibongkar sedemikian rupa hingga menjadi bentuk yang sekarang (asimetris). Pemilihan media kayu ini bukan tanpa alasan. Erza memiliki latar belakang ilmu robotik. Erza mengambil teknik-teknik assembling dalam robotik ia prakteknya dalam karya kayunya. Sementara Cahaya Novan karyanya cukup mengejutkan. Ia 'bermain-main' dengan mobil hot wheels yang ia olah lagi. Hot wheels, miniatur mobil yang muncul sejak tahun 1968 ini memang dikoleksi anak-anak hingga dewasa. Novan sendiri sudah menyukai dan mengoleksinya sejak ia di bangku menengah pertama. Sehingga bukan hal baru baginya. Ia mengkombinasikan mainan ini dengan found object lain atau juga teks. Total hot wheels yang dipakai ada 20 miniatur untuk 15 karya. Ada hot wheels yang
masih utuh atau dibongkar rodanya hingga dipotong bagian bodinya. Tak seperti karya Novan sebelumnya yang berlimpah warna, karya-karyanya yang ini lebih minimalis tapi dalam makna.

Karya-karya Novan kali ini endapan dari konflik perasaan si seniman. Bila diamati satu persatu, karyanya penuh sindiran atas fenomena sosial sering kita jumpai. Lihat saja, ada satu karya dengan presentasi gambar Ka’bah dan mobil hot wheels warna perak ditepi frame. Hot wheels yang dipakai pada karya ini adalah mobil fantasi (tidak ada wujud nyatanya). Novan ingin mengkritisi fenomena orang berulang kali naik haji, atau naik haji hanya dengan tujuan peningkatan status sosial, hanya untuk gengsi dan bukan ibadah yang sesungguhnya. Jenis hot weheels mobil fantasi (tidak ada wujud nyata), fantasinya aneh-
aneh bukan tujuan utama. Atau hot wheels warna putih dengan latar belakang warna yang sama; menurut Novan itu mobil sejuta umat, Avanza putih (ha ha ha). Karya ini bicara tentang mobil sebagai kebutuhan atau prestise.Bahan kita bisa membaca status sosial seseorang dari jenis mobil yang ia miliki.

TAJUK

Tajuk pameran ini bisa jadi ajakan atau nyinyiran; “Keep Calm and…”. Sengaja, di belakang kata “and” dikosongkan, berharap penikmat seni mengisi sendiri sesuai mau mereka. Tajuk ini cukup merepresentasikan mereka. Bukan santai sih tapi lebih tepatnya menikmati tiap proses berkarya bertiga.

“Keep Calm and…” juga bisa menjadi penyikapan terhadap problematika yang terjadi pada diri keiga seniman ini agar tetap berpikiran bersih, netral dan matang.

Karya-karya mereka segar dan menarik! Ada banyak cerita & impresi yang dihadirkan. Pameran ini adalah “jembatan” menuju pameran mereka bertiga selanjutnya di bulan Juli di Kiniko @kinikoart. Penikmat seni diajak untuk mengintip, melakukan pembacaan dan mengikuti proses bersama karya mereka melalui pameran “Keep Calm and…” ini. Nantikan karya mereka selanjutnya!

* Nunuk Ambarwati
(081-827- 7073)

4.5
02

Artikel pun Pawarta di atas diunggah dan dipublikasikan oleh 'Purwa Carica'. Isi ada di luar tanggung jawab redaksi, karenanya untuk informasi, sanggahan, saran, dan lain-lain, mohon kontak langsung pengunggah (Purwa Carica).

Ingin mengunggah serta mewartakan kegiatan dan acaramu di Situs Warta Agenda Acara | Pawarta Adicara Jaringacara juga?
Sila Klik Registrasi dan atau Login. Simak juga Syarat & Ketentuannya!

Sila Siarkan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *