Pawarta Adicara!

JARINGACARA sebagai media publikasi memiliki keinginan turut memberi warna dalam mengabarkan segala agenda acara seni budaya, pariwisata, warta, cuaca, juga menebarkan canda-tawa.
Perihal kontak kerjasama publikasi pun media partner, sila simak “Syarat dan Ketentuan“.

HIGHLIGHT
   
Voice of Baceprot

Tampilnya Voice of Baceprot dan Amuba di Pembukaan Biennale Jogja EQUATOR #5 2019 Sebagai Representasi Kaum Pinggiran


Diunggah oleh Jaring Acara pada tanggal 13 Oktober 2019   (727 Readers)

Pameran Seni Rupa ‘Biennale Jogja EQUATOR 5 tahun 2019’ agendanya bakal diselenggarakan selama kurang-lebih 40 hari, yaitu mulai tanggal 20 Oktober 2019 dan akan berakhir di tanggal 30 November 2019.

Adalah dihadirkannya ‘Voice of Baceprot’ sebagai penampil utama di Pembukaan Biennale Jogja EQUATOR #5, tepatnya pada tanggal 20 Oktober 2019. Selain band beraliran ‘rock-metal’ serta ‘underground’ tersebut, ada pula beberapa nama lain yang turut memeriahkan. Sebagai contoh adalah Raja Kirik, Amuba, Pisitakun, dan tak ketinggalan pula musik-kolaborasi Pisitakun Kuantalaeng dengan Yennu Ariendra.

Nama-nama yang dihadirkan sebagai penampil pada malam pembukaan Biennale Jogja EQUATOR #5 tahun 2019 tersebut tak lain juga guna merespon tema ‘pinggiran’ yang diusung pada helatan senirupa yang digelar rutin dua-tahunan ini.

Voice of Baceprot

Siapa Voice of Baceprot itu?

Dihadirkannya Voice of Baceprot sebagai penampil utama pada helatan Biennale Jogja Equator 5 ini bukan tanpa alasan dalam merepresentasikan tema pinggiran. Mereka merupakan tiga remaja wanita yang dikenal dengan latar-belakang identitas sebagai pengguna hijab, akan tetapi justru mereka berani memainkan musik heavy metal. Pada kondisi seperti ini, secara tidak langsung merekapun telah menjadi simbol resistensi dalam melawan kaum muslim konservatif di kotanya.

Lebih detail perihal Voice of Baceprot -atau dikenal pula dnegan akrnim VOB- ini dapat diketahui bahwa namanya mulai ramai diperbincangkan sejak viral di media-sosial sekira awal tahun 2017 silam, yaitu ketika video musiknya menyebar di ranah dunia maya tersebut. Ialah Firda Kurnia yang ada di posisi vokal sekaligus gitar), Euis Siti Aisah sebagai penggebuk drum, dan Widi Rahmawati si tukang betot bas.

Ketiga remaja tersebut memiliki kemampuan di atas rata-rata seperti itu karena memang telah konsisten dalam belajar bermusik. Bahkan bukan itu saja, mereka secara bersama-sama juga belajar agama, yaitu semenjak masa-masa di Sekolah Dasar. Selanjutnya, Voice of Baceprot dibangun tatkala mereka juga sama-sama bersekolah di Madrasah Tsanawiyah Al-Baqiyatussolihat, Garut.

Baca juga:  Tribute to Djaduk Ferianto Menjadi Persembahan dalam Pentas Pantomim 'Sowan' dan Gelaran Musik 'Ngayogjazz'

Ya, Garut. Bukan kota seperti Bandung ataupun Jogja. Sama sekali tak semeteropolis Jakarta, Surabaya, Medan, pun Makassar. Garut merupakan kota kecil yang masih asri alamnya. namun justru dengan keasrian alam itu bisa terlahirkan talenta-talenta handal, dan ‘Voice of Baceprot’ adalah satu di antaranya.

Awalnya, tiga gadis remaja itu adalah anak-anak sekolahan sebagaimana yang lainnya. Belajar, mengaji, dan bermain. Namun di tangan Cep Ersa Ekasusila Satia -yang kemudian lebih akrab disapa Abah-, anak-anak ini mampu menjadi berbeda dalam kemerdekaannya berkarya. Di bawah bimbingan mantan gurunya tersebut, mereka bertiga sukses menunjukkan bakat dan kemampuan, hingga akhirnya bertumbuh dalam satu wadah bernama ‘Voice of Baceprot’ di bulan Februari 2014.

Di bawah asuhan Abah, tiga remaja ini yakin bahwa tak ada yang salah dengan muslim yang memainkan musik metal. Justru pandangan negatif terhadap musik, khususnya musik metal ini menjadi tantangan untuk kemudian bisa membuktikannya bahwa mereka bisa bermusik metal secara positif, The other side of metalism, istilah mereka. Karenanya, dalam penggarapan musik tersebut, mereka menitikkan pandangan bahwa metal bukan perihal keras pada bunyi, namun ia tegas dan lugas dalam arti.

Bertolak pada pandangan tersebut, maka dalam setiap penulisan lagu-lagunya, Voice of Baceprot selalu mengupayakan membawa arti dan makna di dalamnya. ‘School Revolution’, ‘Perempuan Merdeka Seutuhnya’, ‘Kentut RUUP (Merdeka Itu Kentut)’, ‘The Enemy’, ‘Jalan Kebenaran’, dan ‘You’ll Never Walk Alone’,  adalah beberapa karya-lagu yang bermula dari kegelisahan mereka.

Perihal nama ‘baceprot’ sendiri merupakan bahasa sunda sebagai bahasa ibu para personal grup tersebut yang memiliki padanan kata ‘berisik’ ataupun ‘bawel’. Sehingga bisa dikatakan bahwa Voice of Baceprot memili arti Suara-suara berisik yang membawa makna.

Sehubungan dengan malam pembukaan Biennale Jogja Equator 5 baik di area Jogja Nasional Museum pun di area Taman Budaya Yogyakarta ini, VOB mengajak semuanya untuk bersua memperpanjang umur kemerdekaan berkarya.

Baca juga:  Pameran Duet Artmosphere Bapak Beranak

Amuba

Amuba Sebagai Representasi Kaum Queer

Amuba yang juga menjadi penampil di malam pembukaan Biennale Jogja Equator 5 ini adaah satu grup vokal yang awalnya digagas sekira tahun 2012 oleh Tamara Pertamina. Sebagai ‘Kaum Queer’ alias ‘umat aneh’ berjuluk waria yang acap menjadi pengamen jalanan saat itu Tamara mulai mengumpulkan teman-temannya guna membentuk grup musik, yang nantinya diharapkan bisa manggung. Hanya saja usai dikumpulkan, satu persatu mereka seolah tak bisa menerima keberadaannya di dalam kumplan tersebut.

Hal di atas disadari betul oleh Tamara. Pasalnya, memang para waria ini lebih terbiasa dengan pekerjaan yang berpenghasilan instan, bahwa usai bekerja ya langsung mendapatkan imbalan uang.

Pada akhirnya lima tahun proses panjang tersebut dilewati. Karena kemudian pada bulan Juli 2018 terbentuk formasi tetap dari AMUBA yang beranggotakan 4 orang. Ialah Tamara Pertamina, Nike Faradilla, Vanessa Mouriez dan Jesika Ayu.

Band Kaum Queer Waria -AmubaAmuba sendiri diartikan sebagai spesies yang sangat kecil dan bisa membelah diri. Karenanya, mereka memantik nama itu sebagai brand dari satu grup band bukan tanpa sebab. Tak lain adalah bahwa sebagai salah seorang queer, Tamara dan kawan-kawan sesama waria-nya kerap mendapat penindasan.

Dengan latar-belakang seperti itu, maka Tamara ingin ia dan ketiga temannya memberikan semangat, sehingga semangat itu kemudian harapannya bisa terbelah, kemuidan mampu menempel kepada para queer lainnya, sehingga kehadiran mereka sebagai girlband waria pertama di Indonesia ini dapat dijadikan sebagai cermin. Kecuali hal tersebut, ada keinginan mereka pula dalam menunjukkan kepada masyarakat sehingga tak harus selamanya dipandang sebelah mata oleh khalayak.

Perihal lantunan tembang dan lagu-lagunya sendiri, AMUBA memiliki kiblat pada aliran musik RnB dengan sedikit sisipan nuansa musik tradisi Indonesia serta diwarnai dengan lirik lagu yang merespon kondisi sosial Indonesia saat ini. Hal-hal semacam ini menjadi gambaran dari gerakan yang menunjukkan pernyataan bagaimana praktik seni memberi dukungan pada kelompok-kelompok terpinggirkan seperti mereka.

Baca juga:  Pameran Seni Rupa Tato Tolak Bala: Perlindungan Ampuh Warga Setempat di KKF Yogyakarta

Pisitakun Kuantalaeng dan Yennu Ariendra -Raja Kirik

Pisitakun Kuantalaeng dan Yennu Ariendra sejatinya adalah dua orang perupa (seniman seni rupa) yang karyanya juga masuk dalam helatan Biennale Jogja Equator #5 ini. Pisitakun Kuantalaeng adalah seniman yang berasal dari negeri gajah; Thailand, sedang Yennu Ariendra merupakan seniman tuan rumah; Yogyakarta – Indonesia.

Dalam memerihakan malam pembukaan Biennale Jogja, keduanya tak keberatan hadir dengan menyuguhkan kemampuan bermusiknya sebagai dua seniman partisipan. Di kesempatan tersebut, baik Pisitakun Kuantalaeng pun Yennu Ariendra, keduanya memanggungkan projek mereka yang diinspirasi oleh sejarah dan tradisi di masyarakat etnis.

Raja Kirik

  • Raja Kirik

Yenu performs with collaborative project with J Moong Pribadi, Raja Kirik.

Album Musik Raja Kirik merupakan bagian dari proyek seni yang lebih luas, yaitu Image of the Giant (War on Narrative). Ia masih melanjutkan tema besar Menara Ingatan yakni sejarah kekerasan, Yennu Ariendra berkolaborasi dengan J “Mo’ong” Santoso Pribadi, mengolah Jaranan Buto dan kisah Menak Jinggo sebagai sumber penciptaan. Selain itu mereka juga mempelajari Gedruk Merapi (Klaten) dan Jatilan dari Bantul. Jogja dan Purworejo.

Demikain ikhwal Voice of Baceprot, Amuba, Pisitakun Kuantalaeng, dan Raja Kirik sebagai para penampil yang dihadirkan di malam pembukaan Biennale Jogja EQUATOR #5 dengan agendanya pada tanggal 20 Oktober 2019. Helatan ini terbuka untuk umum, untuk semua kalangan, dan gratis. Lokasi pada rangakaian pembukaan ini sendiri ada di dua tempat, yaitu di kompleks TBY Ngupasan Gondomanan dan venue utama ada di area JNM Gampingan Wirobrajan Yogyakarta. []

Refferensi: suara.com | yennuariendra.com | boombastis.com
Pic-Sources: fb VoB | ig amuba

Simak pawarta terkait , atau adicara menarik lain oleh Jaring Acara


Ingin mengunggah dan mewartakan kegiatan serta acaramu di Situs WARTA AGENDA ACARA | PAWARTA ADICARA JARINGACARA?
Klik Registrasi dan atau Login! Baca juga Syarat & Ketentuannya!

Sila Siarkan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *