Pawarta Adicara!

JARINGACARA sebagai media publikasi memiliki keinginan turut memberi warna dalam mengabarkan segala agenda acara seni budaya, pariwisata, warta, cuaca, juga menebarkan canda-tawa.
Perihal kontak kerjasama publikasi pun media partner, sila simak “Syarat dan Ketentuan“.

HIGHLIGHT
   
Video Mapping Sumonar

Video Mapping Sumonar Menggerakkan dan Menyentuh Banyak Orang

Diunggah oleh Utroq Trieha, pada tanggal 6 Agustus 2019

Festival Video Mapping Sumonar yang telah digelar di kawasan Titik 0 Kilometer Jogjakarta, tepatnya di area Gedung Museum Bank Indonesia dan Kantor Pos Besar pada akhirnya mampu menjadi daya tarik tersendiri.

Ratusan pasang mata manusia yang sedang berada di tempat diselenggarakannya Festival Instalasi Seni Cahaya “Video Mapping Sumonar Festival” seolah tak hendak berkedip dalam menyaksikan sebuah kejadian besar. Tangan dan juga gawai mereka yang menyala juga tak ingin ketinggalan untuk mengabadikan kejadian itu semua.

Dua gedung ikonik di tengah kota Yogyakarta pada awalnya dibiarkan redup perlahan menemukan sinarnya, selanjutnya seiring  dengan suara musik menghentak, satu kejadian besar yang telah ditunggu-tunggu banyak orang tersebut akhirnya menemukan waktunya.

Video Mapping SumonarDimulai pada tanggal 26 Juli 2019, kawasan Titik Nol Kilometer Yogyakarta seolah telah menjadi tempat pertemuan asik guna menyaksikan beragam persembahan dalam SUMONAR 2019. Hingga pada hari akhir helatan Festival Video Mapping SUMONAR, Senin 5 Agustus 2019, festival ini selalu menjadi destinasi yang ramai dikunjungi.

Dalam penutupan SUMONAR 2019, disajikan karya video mapping dari Sany Budiman/Eureca Indonesia, Chiefy Pratama/Next, S.Wibowo/VJRI, RPTV, Isha Hening x Iga Massardi, JVMP x Febrianto Tri Kurniawan, LZY Visual, Furyco, Uvisual, Raymond Nogueira/Rampages (Macau) dan JVMP all stars.

Usai ditampilkannya karya-karya video mapping dari beberapa seniman tersebut, berikutnya dilakukan pesta penutupan Pameran Instalasi Visual di Loop Station.

Baca juga:  Keberlanjutan Jogja International Batik Biennale Didukung Presiden WCC

Video Mapping Sumonar

Iga Massardi sebagai salah satu seniman pada helatan SUMONAR 2019 menuturkan, dirinya sangat terkejut ketika dapat menyaksikan antusiasme dari masyarakat Jogja yang sangat besar pada festival ini. Kecuali baru pertama kali baginya turut terlibat di SUMONAR, helatan yang berakhir di tanggal 5 Agustus 2019 ini menjadi debut perdananya terlibat dalam penggarapan sebuah karya video mapping. Bagi gitaris dari band Barasuara ini, video mapping adalah hasil proses berkesenian yang wajib diapresiasi masyarakat luar.

“Video mapping bagi saya adalah karya yang sangat bisa langsung menyentuh orang yang datang untuk menyaksikannya. Di sini kan yang datang bukan hanya dari kalangan seniman, tapi kalangan orang-orang umum juga bisa mengapresiasi seni dengan lebih santai. Yang saya lihat justru mereka memberikan reaksinya lebih natural, karena tidak punya ekspektasi apa-apa di sini. SUMONAR adalah gerakan yang sangat bagus, dan ini adalah wadah bagi teman-teman seniman visual untuk mempresentasikan karyanya kepada khalayak luas,” pungkas Iga Massardi.

Video Mapping SumonarPun dengan Isha Hening sebagai seniman yang juga terlibat dalam helatan festival instalasi seni cahaya ini juga berujar bahwa baginya SUMONAR tidak hanya menjadi wadah bagi para seniman visual guna berjumpa secara langsung dengan para penikmatnya. Lebih dari itu, ia juga menjadi semacam tempat pertemuan menggembirakan bagi para pelaku karya video mapping untuk sekadar berjumpa pun bertukar gagasan perihal perkembangan seni visual saat ini.

Baca juga:  Open Call Volunteer Sanggar Omah Srawung Yogyakarta

“Dengan adanya SUMONAR bagi aku yang memang bergelut di dunia seperti ini, SUMONAR adalah wadah bagi sesama seniman visual untuk bertemu dengan para penikmatnya. Dari dulu, dari jaman JVMF, festival ini bisa dibilang acara arisannya teman-teman yang bergelut di dunia VJ (Video Jockey). Biasanya kan kita pada sibuk masing-masing, dan ini adalah tempat bagi kami untuk bisa berkumpul. Dan kami pasti akan selalu menyempatkan untuk hadir di sini. Kalau aku mau banget buat terlibat lagi di SUMONAR tahun-tahun setelahnya,” demikian pemaparan Isha Hening.

Gerak Serentak, Sentuh Meluruh, Gegar Sumonar

Video Mapping Sumonar

Ari Wulu selaku Director helatan Festival Video Mapping Sumonar menjelaskan bahwa pada penyelenggaraan SUMONAR Festival tahun 2019 ini pihaknya melihat animo masyarakat sangatlah besar dalam menikmati beragam sajiannya. Bahkan bukan sebatas mata di kepalanya saja yang berbinar dan sumonar menikmati, lebih dari itu, mata di kedua di tangannya yang berujud gadget pun smartphone turut merekam kejadian dari sajian yang dihidangkan. Selain itu, tak sedikit pihak dari berbagai daerah di Indonesia –bahkan dari negara lain- turut memberikan apresiasi dan tanggapan sangat positif.

Baca juga:  Pembukaan Platform Perupa Muda Biennale Jogja XV - 2019

“SUMONAR telah menjadi isu sangat positif, ia tidak hanya menjadi ajang hiburan bagi masyarakat. Tujuan bagi SUMONAR bisa terwujud pada tahun ini, di mana pada akhirnya SUMONAR bisa berinteraksi dengan wahana lain. Salah satu contoh yang terjadi adalah banyak tawaran dari festival lain ingin berkolaborasi dengan para seniman yang terlibat dalam SUMONAR, maupun orang-orang yang terlibat di dalam festival ini,” tutur Ari Wvlv.

Video Mapping SumonarKetua Jogjakarta Video Mapping Project (JVMP), Raphael Donny menambahkan, untuk penyelenggaraan SUMONAR di tahun-tahun selanjutnya, ia menginginkan lebih banyak lagi seniman yang bersedia melibatkan diri dalam festival ini. Bahkan harapannya juga bisa lebih dari itu, usai digelarnyahelatan Video Mapping Sumonar tahun 2019 kali ini ia juga menghendaki munculnya generasi-generasi baru yang berkarya dan mengembangkan video mapping di Indonesia.

“Semoga dengan SUMONAR ini teman-teman seniman akan bisa lebih terpacu lagi dalam berkarya, kemudian video mapping sebagai sebuah bentuk karya yang menggabungkan antara seni dan teknologi ini bisa menjadi wadah bagi mereka untuk terus berkarya. Semoga setelah ini akan berlahiran seniman-seniman baru yang menggeluti video mapping,” tutup Raphael. [uth]

Artikel pun Pawarta di atas diunggah dan dipublikasikan oleh 'Utroq Trieha'. Isi ada di luar tanggung jawab redaksi, karenanya untuk informasi, sanggahan, saran, dan lain-lain, mohon kontak langsung pengunggah (Utroq Trieha).

Ingin mengunggah serta mewartakan kegiatan dan acaramu di Situs WARTA AGENDA ACARA | PAWARTA ADICARA JARINGACARA juga?
Sila Klik Registrasi dan atau Login. Simak juga Syarat & Ketentuannya!

Sila Siarkan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *