Pawarta Adicara!

JARINGACARA sebagai media publikasi memiliki keinginan turut memberi warna dalam mengabarkan segala agenda acara seni budaya, pariwisata, warta, cuaca, juga menebarkan canda-tawa.
Perihal kontak kerjasama publikasi pun media partner, sila simak “Syarat dan Ketentuan“.

HIGHLIGHT
   
Upacara Melasti di Pantai Parangkusumo Bantul Yogyakarta

Upacara Melasti di Pantai Parangkusumo Yogyakarta Tahun 2020 Diselenggarakan Terbatas untuk Kalangan Sendiri Seiring Merebaknya Pandemi Corona Covid19


Diunggah oleh Jaring Acara pada tanggal 19 Maret 2020   (362 Readers)

Panitia pelaksana perayaan “Hari Raya Nyepi Tahun Baru Saka 1942” tahun 2020 di wilayah Daerah Istimewa Yogyakarta yang juga menjadi bagian dari PHDI (Parisada Hindu Dharma Indonesia) pada setiap tahunnya memang selalu rutin menggelar beberapa aagenda-acara, yang salah satu di antaranya adalah Upacara Melasti. Ikhwal Upacara Melasti di wilayah Yogyakarta ini sejatinya untuk rangkaian awal telah dilaksanakan pada tanggal 9 Maret 2020 silam, yaitu yang berlokasi di Pantai Ngobaran -Gunungkidul.

Selanjutnya masih tentang Upacara Melasti sekaligus beberapa rangkaian acara lain terkait dengan “Hari Raya Nyepi Tahun Baru Saka 1942” ini juga tetap dilanjutkan meski dalam situasi berat menghadapi pademik-wabah corona covid19. Satu di antaranya adalah ‘Dharma Tula’ yang diselenggarakan pada beberapa Pura di wilayah Yogyakarta. Acara yang benar-benar ditiadakan adalah Pawai Ogoh-Ogoh yang agendanya dilaksanakan digelar pada tanggal 21 Maret 2020, dengan tempat di sepanjang Malioboro.

Perihal Upacara Melasti kali kedua yang tentu saja diikuti oleh umat Hindu ini agenda penyelenggaraannya adalah pada tanggal 22 Maret 2020, dengan lokasinya masih sama dengan tahun-tahun sebelumnya, yaitu bertempat di Pantai Parangkusumo, Bantul.

Baca juga:  Sapa Aruh ‘Cobaning Gusti Allah Awujud Virus Corona’ oleh Ngarsa Dalem Sri Sultan Hamengku Buwono X

Upacara Melasti di Pantai Parangkusumo Bantul YogyakartaHal yang membedakan dari diselenggarakannya Upacara Melasti tahun 2020 di kawasan Pantai Parangkusumo ini adalah ditiadakannya acara seremonial, sehingga hanya sebatas acara ritual semata. Tak lain, ini dilakukan sehubungan dengan merebaknya virus corona “covid-19”, sekaligus melaksanakan himbauan dari pemerintah ikhwal social-distancing.

Pertimbangan untuk tetap dilaksanakannya acara Upacara Melasti di area Pantai Parangkusumo ini adalah; bahwa selain acara tersebut hanya terbatas dilakukan untuk kalangan sendiri, Upacara Melasti juga digelar di alam terbuka dengan sirkulasi udara lebih bebas dan cahaya matahari yang cukup. Kecuali itu, serta secara spiritual dipercaya bahwa dengan penyelenggaraan Melasti ini dapat membersihkan segala macam sumber penyakit dan memohon perlindungan dari Tuhan. Hal tersebut seperti yang dituturkan kepada awak media, oleh AKBP I Nengah Lotama, SAg selaku Ketua Umum Perayaan Nyepi Tahun Baru Saka 1942.

Selebihnya, mengenai ritual Melasti yang diyakini mampu membersihkan segala macam sumber penyakit ini juga telah tertera dalam Lontar Sang Hyang Aji Swamandala; “Melasti ngarania ngiring prewatek Dewata anganyutaken laraning jagad papa klesa, letuhing buwana” yang artinya “Melasti adalah meningkatkan sraddha dan bhakti pada apara Dewata manifestasi Tuhan Yang Maha Esa untuk menghanyutkan penderitaan masyarakat, menghilangkan papa klesa dan mencegah kerusakan alam”.

Baca juga:  Sapa Aruh ‘Cobaning Gusti Allah Awujud Virus Corona’ oleh Ngarsa Dalem Sri Sultan Hamengku Buwono X

Masih mengenai tujuan tertinggi dari Melasti ini juga telah disampaikan dalam Lontar Sundarigama yang dinyatakan dalam bahasa Jawa Kuno, yaitu yang berbnyi;“Melasti ngaran amet sarining amertha kamandalu ring telenging segara”, yang artinya; “Dengan Melasti mengambil sari sari kehidupan di tengah samudra“.

Lebih lengkap dapat dipaparkan bahwa terdapat 4 sasaran dari diselenggarakannya Melasti ini. Ialah sebagai berikut;

  1. Ngiring Prewatek Dewata, artinya patuh pada tuntutan para Dewata sinar suci Tuhan
  2. Anganyutaken Laraning Jagat, yang dapat dimaknai sebagai langkah menghilangkan sumber penderitaan masyarakat baik yang bersifat Niskala maupun Sengkala
  3. Anganyutaken Papa Klesa, dapat diartikan menghanyutkan kekotoran sendiri
  4. Anganyutaken Letuhing Bhuwana, bisa diartikan menghanyutkan kekotoran bumi, teja dan akasa
Baca juga:  Sapa Aruh ‘Cobaning Gusti Allah Awujud Virus Corona’ oleh Ngarsa Dalem Sri Sultan Hamengku Buwono X

Apabila dipandang dari himbauan umum oleh pemangku kepentingan, terkait Upacara Melasti ini bisa saja dilakukan pelarangan. Namun tak lantas serta-merta hal itu hanya didasarkan sebatas pada himbauan saja. Lain dari itu, Dra. Annihayah M. Eng. yang merupakan Sekretaris Dinas Pariwisata Kabupaten Bantul -Yogyakarta memaparkan bahwa ini terkait dengan keyakinan (umat Hindu), sehingga pihaknya akan selalu memberikan keputusan terbaik bagi semua.

“Upacara Melasti itu suatu ritual sebelun perayaan hari raya Nyepi, jadi wajib hukumnya untuk dilaksanakan,” Annihayah memaparkan.

Dalam rangka Upacara Melasti di Pantai Parangkusumo pada tanggal 22 Maret 2020 ini, rencana waktu pemberangkatan dari Pura dimulai pada pukul 12.00 WIB, dan kemudian diharapkan acara selesai pada pukul 16.00 WIB, untuk selanjutnya bida kembali ke Pura masing-masing guna melinggihkan Jempana dan melakukan Pecaruan, sehingga kelak pada saat Nyepi (yang jatuh tanggal 25 Maret 2020), semua sarana, buana alit dan buana agung telah tersucikan. []

Pic-Source: phdi.or.id

Simak pawarta terkait , atau adicara menarik lain oleh Jaring Acara


Ingin mengunggah dan mewartakan kegiatan serta acaramu di Situs WARTA AGENDA ACARA | PAWARTA ADICARA JARINGACARA?
Klik Registrasi dan atau Login! Baca juga Syarat & Ketentuannya!

Sila Siarkan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *