Pawarta Adicara!

JARINGACARA sebagai media publikasi memiliki keinginan turut memberi warna dalam mengabarkan segala agenda acara seni budaya, pariwisata, warta, cuaca, juga menebarkan canda-tawa.
Perihal kontak kerjasama publikasi pun media partner, sila simak “Syarat dan Ketentuan“.

HIGHLIGHT
   
JAFF Education 2019

Menyelami Suka-Duka Astrada Dalam Lokakarya JAFF Education di Jogja-NETPAC Asian Film Festival


Diunggah oleh Jaring Acara pada tanggal 21 November 2019   (158 Readers)

Gelaran Jogja-NETPAC Asian Film Festival 14 “Revival” pada tahun 2019 ini menjadi tahun kedua diselenggarakannya JAFF Education yang merupakan program lokakarya pembuatan film sebagai wujud kontribusi JAFF kepada perkembangan film independen Indonesia.

JAFF Education tahun 2019 sifatnya terbuka untuk umum dengan menawarkan total sembilan kelas dengan topik seputar pembuatan film, seperti, penyutradaraan, akting, sinematografi, penulisan naskah, dan produserial. Salah satu kelas penyutradaraan yang ditawarkan adalah kelas lokakarya mengenai astrada atau asisten sutradara yang berjuluk  “What Astrada Actually Do, How to Get to The Industry”

Kelas lokakarya pada JAFF Education ini dipandu oleh Gadis Fajriani, Pritagita Arianegara, dan Rieviena Yulieta “Pinung‟. Ketiganya merupakan asisten sutradara profesional yang telah terlibat dalam berbagai produksi film Indonesia.

Bahasan di kelas yang terkait mengenai deskripsi kerja profesi Astrada ini menerangkan pula ikhwal tahapan untuk menjadi sutradara yang dimulai dari Astrada 3, 2, 1 hingga Sutradara. Selain itu, diberikan pula penggambaran kerja pada saat di lapangan, sambil sesekali diselingi cerita pengalaman mereka saat proses syuting.

Baca juga:  Festival Bregada Nusantara 2019 Patmanaba Mengusung Tema 'Millennial Meet Traditional'

JAFF Education

Dimulai pada pukul 10:00 WIB, bertempat di LPP Yogyakarta, kelas ini dibuka oleh Pinung yang mengenalkan definisi dan tanggung jawab seorang asisten sutradara di sebuah produksi film. Saat sesi kelas, ia juga menyelipkan sedikit pengalamannya bekerja sama dengan sutradara-sutradara Indonesia dalam proses syuting. Misalnya, bekerja dengan sutradara Joko Anwar dalam film Perempuan Tanah Jahanam, di mana ia merasa sedikit sutradara yang mengapresiasi para asistennya. Beruntungnya, ia bisa bekerja bersama Joko Anwar beberapa kali yang dirasa dapat menghargai proses para asisten sutradara di produksinya.

“Ketika kalian ingin mendapatkan highlight, profesi ini bukan pilihan terbaik. Contohnya seperti saat sebuah film mendapatkan penghargaan, yang pertama ditanya adalah siapa sutradaranya, jarang sekali menyebutkan nama astrada. Tetapi ketika sebuah proses produksi tersebut tidak sesuai target syuting dan banyaknya hutang scene, maka astrada lah orang pertama yang dimarahi. Makanya, perlu diperhitungkan sejak awal,” cerita Pinung tentang pengalamannya di lapangan.

Baca juga:  Apa Jogja Festival Forum & Expo yang Berakronim JFFE itu?

Selain mengenalkan langkah-langkah bagaimana menjalankan porsi kerja asisten sutradara, Gadis Fajriani melanjutkan dengan menjelaskan apa saja pekerjaan yang dilakukan seorang astrada. Secara garis besar, astrada haruslah bisa mengatur dinamika kerja para crew baik sebelum maupun saat syuting. Misalnya, mereka harus membuat buku panduan syuting, mengetahui detail lokasi syuting, atau mengetahui detail kamera untuk membantu sutradara membuat shot list.

“Kita harus bisa jaga mood dan approaching semua orang supaya breakdown shot list yang tadi bisa kejadian,” kata Gadis Fajriani sambil setengah berkelakar.

Kemampuan untuk berkomunikasi ini pun diamini oleh Pritagita Arianegara. Ia juga memberikan tips-tips lain untuk dapay menjadi astrada yang baik, seperti selalu ramah, terbiasa bilang terima kasih dan maaf, serta sabar. Selain itu, dia menjelaskan tentang bagaimana cara seorang asisten sutradara berkarir di industri perfilman. Menurutnya, astrada harus sadar bahwa posisi ini tidak memiliki highlight ataupun bahkan muncul di credit title.

“Ya untuk tetap eksis, kita harus punya pengetahuan dan fisik yang kuat,” tegas Pritagita Arianegara.

Helatan JAFF memberikan pengalaman belajar yang menarik dalam program JAFF Education ini kepada 37 orang peserta yang berasal dari berbagai komunitas.

JAFF Education tahun 2019

Mereka yang turut serta dalam program JAFF Education itu di antaranya adalah History Film, Imajiku, Laju Tunjap, Kebon Studio, dan berbagai universitas seperti Universitas Gadjah Mada, Universitas Dian Nuswantoro, Amikom Yogyakarta, ISI Yogyakarta, ISI Surakarta, dan Jogja Film Academy.

Baca juga:  'Light of Asia' Merupakan Program Kompetisi Film Pendek JAFF dari Berbagai Perspektif Asia

Bahkan ada pula satu peserta (secara mandiri dan bukan komunitas) bernama El yang rela datang dari Solo, untuk kemudian mengikuti acara JAFF Education ini. Alasannya karena ia sudah mulai memproduksi film, ssehingga dengan workshop seperti ini ia berharap bisa membantu untuk tahu jobdesk astrada 1 sampai 3.

“Saya excited sekali saat mengetahui adanya program ini di instagram,” jelas El.

Adanya program ini juga sebagai bentuk keberlanjutan dari fokus JAFF tentang bagaimana mengelola bakat-bakat yang ada hingga melahirkan sineas muda berbakat. []

Simak pawarta terkait , atau adicara menarik lain oleh Jaring Acara


Ingin mengunggah dan mewartakan kegiatan serta acaramu di Situs WARTA AGENDA ACARA | PAWARTA ADICARA JARINGACARA?
Klik Registrasi dan atau Login! Baca juga Syarat & Ketentuannya!

Sila Siarkan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *