Pawarta Adicara!

JARINGACARA sebagai media publikasi memiliki keinginan turut memberi warna dalam mengabarkan segala agenda acara seni budaya, pariwisata, warta, cuaca, juga menebarkan canda-tawa.
Perihal kontak kerjasama publikasi pun media partner, sila simak “Syarat dan Ketentuan“.

HIGHLIGHT
   

Inilah Nama Kelompok Seni dan Seniman Mancanegara di Biennale Jogja EQUATOR #5 Tahun 2019


Diunggah oleh Jaring Acara pada tanggal 12 Oktober 2019   (110 Readers)

Seniman Mancanegara bakal dihadirkan pada gelaran Biennale Jogja EQUATOR #5 yang bertajuk ‘Do We Live in The Same PLAYGROUND?’ dan mengusung tema ‘Pinggiran’, di mana pada tahun 2019 ini para seniman manca yang turut berpartisipasi berasal dari seputar negara-negara di Asia Tenggara.

Seniman mancanegara di Biennale Jogja EQUATOR #5 yang didatangkan dari beberapa negara di kawasan Asia Tenggara ini sesuai dengan yang menjadi pagar dalam gelaran tahun 2019, yaitu ‘pinggiran’ dan sekaligus ‘Indonesia With Southeast Asia’. Hal ini menjadi ciri dari helatan Biennalse Jogja yang digelar dua tahun sekali, di mana pada setiap gelarannya selalu mendatangkan seniman manca yang selalu berbeda, baik ikhwal asal negara pun asal lingkungannya.

Karena isu yang sedang diangkat dalam Biennale Jogja EQUATOR #5 ini adalah pinggiran, maka jangan heran apabila mendapati bahwa baik karya pun para seniman mancanegara di Biennale Jogja EQUATOR #5 ini memang memiliki corak ‘pinggiran’ atau dalam bahasa kerennya kaum marginal.

10 Nama Kelompok Seni & Seniman Mancanegara di Biennale Jogja EQUATOR #5 Tahun 2019

Untuk sedikit mengetahui informasi para pelaku seni rupa dari manca gelaran dua tahunan ini, di bawah adalah sekilas gambaran perihal sejumlah nama seniman mancanegara di Biennale Jogja EQUATOR #5

Anida-Yeou-Ali -seniman mancanegara di Biennale Jogja

  • Anida Yeou Ali | Kamboja

Anida Yeou Ali adalah seniman asal Kamboja. Ia memperkenalkan dirinya dalam skena seni rupa kontemporer di Kamboja pada tahun 2012 silam. Saat itu, Anida meraih kesempatan untuk melakukan residensi di Java Arts Gallery selama tiga bulan untuk meneliti, membuat karya dan kemudian memamerkannya. Selama proses kreatifnya, Anida memberikan dirinya ruang untuk membongkar beban sejarah yang menekan berkaitan dengan periode Khmer Merah di Kamboja. Pada saat itu Anida mengijinkan diri untuk menjelajahi keindahan, kegembiraan dan percobaan tanpa harus menautkan dengan trauma sejarah, politisasi atau identitas hibrida yang sering melingkupinya.

Dalam foto panoramik dan video yang ditampilkan kali ini, Anida memilih lokasi sebuah area persawahan di wilayah desa tak jauh dari Pnom Penh. Ia sengaja mencari latar tempat untuk menari, yang memungkinkannya keluar dari pengaturan yang ketat dan konvensional untuk bisa memunculkan gagasan ruang yang berbeda. Di sini, garis hitam dan putih digunakannya untuk merujuk pada “institusi kubus putih” yang dalam konteks seni banyak merujuk pada ruang yang membatasi eksperimentasi seni.

  • Bounpaul Phothyzan | Laos

BOUNPAUL PHOTHYZANBounpaul Phothyzan yang terlahir pada tahun 1979 di Champasak, Laos merupakan seorang seniman kontemporer yang praktiknya berfokus pada Land Art, seni instalasi dan video. Ia lulus dari Institute ofFine Arts pada 2007, dan kemudian mendapatkan beasiswa untuk belajar master seni Visual di Universitas Mahasarakham di Thailand.

Pameran tunggalnya termasuk Champa Muang Lao exhibition (2004), Turning Point exhibition di Mask Gallery (2015), dan River Flows Through My Soul exhibition (2019) di Vientiane Laos. Ia telah berpartisipasi dalam berbagai pameran internasional termasuk Singapore Biennale (2013), Singapore Arts Stage (2014), The 5th Fukuoka Asian Art Triennale, Japan (2015), Remembrance Reimagining ASEAN + KOREA in Jakarta, Indonesia (2016), Gwangju International Art Festival, South Korea (2017), Imaginarium: To the Ends of the Earth at the Singapore Art Museum (2018), Thailand Biennale di Krabi, Thailand (2018), The 9th Asia Pacific Triennial in Brisbane, Australia (2018).

Karya ini terinspirasi dari situasi sekarang tentang manusia yang selalu mengambil keuntungan dari alam, termasuk fenomena deforestasi untuk pertanian, perluasan populasi dalam komunitas urban, dan berbagai aktivitas yang diciptakan manusia. Bounpaul tertarik untuk mendalami narasi itu melalui sebuah kisah rakyat yang dipercaya sebagai muasal masyarakat Laos.

Di masa lalu, sebelum lahirnya ras Laos, ada sebuah guci besar yang disebut Nam-Tao-Poung. Dalam cerita itu disebut bahwa ada sepasang orang tua yang memecahkan guci dan kemudian membiarkan orang di dalamnya untuk keluar. Dan kisah ini dipercaya menjadi narasi kelahiran etnik Laos.

Selain itu, legenda lokal ini menunjukkan isu-isu di luar prinsip antropologis tentang manusia yang lahir dari alam, sebelum akhirnya berkembang menjadi berbagai bentuk. Sembari kita menghadapi alam, dan bergantung padanya untuk hidup, serta terus mengubah bentang alam, mengapa kita terus merusak alam?

  • Khonkaen Manifesto | Thailand

KHONKAEN MANIFESTOKhonkaen Manifesto merupakan satu organisasi aktivis dan kolektif seni berbasis di Khonkaen, Thailand Utara. Tujuannya adalah untuk meneruskan semangat dan estetika perjuangan melalui pendekatan seni dan budaya untuk kelompok terpinggir di Thailand Utara. Visinya adalah untuk mewujudkan dan menciptakan keterlibatan budaya dan artistik di antara para seniman, pekerja budaya, dan komunitas. Misinya adalah berfokus pada isu-isu tertentu seperti subkultur, subaltern, migrasi, dan sebagainya, serta untuk melibatkan kreativitas dalam forum-forum publik, selain juga memainkan peran penting dalam menumbuhkan kesadaran seni, budaya, politik dan lingkungan.

The People’s Manifesto: Ghost & Spirit of Khonkaen Manifesto bertujuan untuk membuka ruang-ruang gerak melalui beragam medium seni. Gerakan ini memberi suara dan platform bagi mereka yang tereksploitasi, terlupakan dan terpinggir karena proses pembangunan yang terlalu pesat, baik dalam hal sosial, kultural, politik dan ekonomi. Mereka juga ingin menghidupkan seni, kerajinan, teater, dan performas yang sudah lama menjadi bagian dari kehidupan masyarakat pinggiran. Misalnya spirit Mor-Lam, (performans dan music tradisi dari Laos dan Thailand Utara), yang sekarang justru dilihat sebagai subkultur dalam kebudayaan Siam.

Kelompok ini berusaha meneruskan ideologi pelaku Mor Lam kepada komunitas melalui berbagai festival dan gerakan. Representasi, material kontemporer dan praktik-praktik yang dibawa oleh People Manifesto: Ghost & Spirit of Khonkaen Manifesto dalam Biennale Jogja 2019 diharapkan dapat membawa komunitas berpartisipasi dalam kolaborasi dan mengekspresikan hak budaya mereka melalui praktik artistik dan kultural. Dipimpin oleh Thanom Chapakdee, pameran ini menampilkan Adisak Phupa, I-na Phuyuthanon, Nutdanai Jitbunjong, Wantanee Siripattananuntakul, dan Woraphan Intaraworapad.

Baca juga:  Seniman Asal Jepang 'Jun Kitazawa' Mengusung Angkringan dengan Konsep NOWHERE OASIS di Gelaran Biennale Jogja 2019

Dengan kontribusi mereka melalui film dan instalasi di sebuah tempat yang terabaikan di Yogyakarta, The People’s Manifesto: Ghost & Spirit of Khonkaen Manifesto berupaya menegakkan dan menginvestigasi gerakan keterputusan dari Khonkaen ke Yogyakarta.

  • Moe Satt | Myanmar

MOE SATTMoe Satt adalah seniman mancanegara di Biennale Jogja EQUATOR #5 yang berasal dari negara Myanmar. Ia merupakan  sosok seniman konseptual dan performans serta seorang kurator. Pada 2008, ia mendirikan dan menyelenggarakan Beyond Pressure, sebuah festival performans internasional di Myanmar. Dalam karya-karyanya, yang terentang dalam berbagai medium seperti fotografi, patung, video dan instalasi bunyi, Moe Satt menunjuk isu-isu sosial politik provokatif tentang Myanmar yang masih dikuasai militer, misalnya mendiskusikan peran agama dan peran individu dalam masyarakat.

Ia telah berpartisipasi dalam beberapa program residensi seperti ACC in New York (2017); IASPIS in Umeå, Sweden (2016); dan International Residence at Recollets, Paris (2015). Ia telah berpameran di beberapa gelaran seperti Political Acts: Pioneers of performance art in Southeast Asia in Melbourne (2017); CAFAM Biennale, Beijing (2013); dan Busan Biennale (2012). Moe Satt adalah finalis untuk Hugo Bos Asia Art Award 2015.

Dalam video karyanya, Moe Satt merekan gerakan tangan dari orang-orang di sekitarnya, mulai dari buruh yang bekerja di jalanan dan di pasar sampai teman-teman dan seniman lokal. Ia mengajukan pertanyaan: apakah menurutmu gestur tangan bisa menceritakan sebuah kisah? Tentang kesedihan, sukses, dan sebagainya. Ada tangan-tangan bergerak, bekerja, makan atau sedang berkomunikasi. Moe Satt mengumpulkan banyak cerita tentang tangan yang liyan.

Video tersebut menegaskan karakter otonom dari sebuah gerak tak terencana yang mengikutinya. Tangan-tangan menunjukkan diri seolah mereka memiliki pemikiran mereka sendiri, dan selalu menjadi bagian dari aktivitas yang sedang dilakukan. Apakah gerakan tangan bisa menjadi kunci untuk memunculkan kerja dari dalam yang ada dalam setiap kebudayaan? Sepertinya bisa. Melihat bagaimana gerakan tangan ditentukan oleh apa yang mereka sentuh lalu mereka tinggalkan.

  • Nge Lay | Myanmar

NGE LAYNge Lay adalah salah satu seniman mancanegara di Biennale Jogja tahun 2019 yang merupakan seniman wanita terlahir tahun 1979 di Pyin Oo Lwin, Myanmar. Ia kini tinggal dan bekerja di Yangon, Myanmar.

Nge Lay belajar di jurusan Lukis pada University of Culture, Yangon (1999-2003) dan menerima gelar sarjana seni dalam Seni Lukis (2003). Dia juga lulus dari Yangon East University dengan gelar sarjana ekonomi, lalu belajar desain perhiasan hingga sekarang.

Nge Lay telah berpartisipasi di berbagai pameran dan juga menggelar pameran tunggal di berbagai negara. termasuk Singapore Biennale 2013 (If The World Changed); the 8th Asia Pacific Triennial of Contemporary Art (APT8) QGOMA, Brisbane, Queensland, Australia; 21stNovember 2015 – 10th April 2016; the 3rd Kunming Biennale, Kunming, China; Bangkok Art Biennale 2018; Children’s Biennale 2019 at National Gallery Singapore. Sekarang, ia merupakan penyelenggara dari Thuye`dan Village Art Project”, Thuye`dan Village, Pyay, Myanmar.

Semua terus berubah setiap waktu. Perubahan yang berbeda membawa ketidaksamaan yang berbeda-beda. Dalam lingkungan di mana saya hidup—di perlintasan setiap detik—semua terus berubah, termasuk isu budaya, politik, relasi global, bahkan situasi mental dan fisik saya.

Tidak ada yang permanen atau terus ada selamanya. Seringkali, hal-hal yang saya lihat ketika melihat foto-foto lama menunjukkan contoh dari situasi yang berbeda antara masa lalu dan masa kini. Beberapa perubahan bisa ditunjuk langsung, sementara yang lain berubah tipis-tipis. Beberapa berubah dalam moda yang beragam, sesuai dengan wilayah mereka sendiri, meskipun dalam waktu yang sama.

Karya-karya ini merefleksikan jelajah saya atas perbedaan-perbedaan antara masa lalu dan masa kini berkait dengan perubahan kebudayaan, masyarakat, ekonomi dan lingkungan di Myanmar. Endless Story dan Urban Story adalah sebuah projek berkelanjutan yang dimulai sejak 2012, dan kemudian bergeser ke Kamboja sejak 2016.

Projek ini dimaksudkan untuk terjadi di beberapa negara di dunia. Karenanya, proyek inilah yang saya kembangkan untuk Biennale Jogja 2019. Indonesia mempunyai sejarah panjang di Asia Tenggara dan menyimpan beragam kisah termasuk tentang arsitektur masa lalu.

Sangat menarik untuk melakukan riset tentang sumber sejarah dari foto-foto lama di Indonesia, menggabungkan refleksi masa kini atas Indonesia dan berkolaborasi dengan warga lokal.

Nguyen-Trinh-Thi -Seniman asal Vietnam

  • Nguyĕn Thi Thanh Mai | Vietnam

Nguyĕn Thi Thanh Mai adalah seniman mancanegara di Biennale Jogja EQUATOR #5 yang merupakan pembuat film dengan basis di Hanoi, Vietnam. Karya-karya gambar geraknya—termasuk film-film documenter eksperimental, video instalasi atau video satu saluran—secara konsisten bertaut dengan sejarah dan ingatan, dan merefleksikan posisi dan peran seniman dalam masyaakat. Praktik-praktiknya menembus batas antara film dan seni video, intalasi dan performans.

Karya videonya telah ditayangkan dalam berbagai festival dan pameran seni internasional termasuk the Asia Pacific Triennale of Contemporary Art (APT9) in Brisbane; Sydney Biennale 2018; Jeu de Paume, Paris; CAPC musée d’art contemporain de Bordeaux; the Lyon Biennale 2015; Asian Art Biennial 2015, Taiwan; Fukuoka Asian Art Triennial 2014; Singapore Biennale 2013; Jakarta Biennale 2013; Oberhausen International Short Film Festival and the Rotterdam International Film Festival. Nguyen adalah pendiri dan direktur Hanoi DOCLAB, sebuah ruang independen untuk film documenter dan gambar gerak di Hanoi sejak 2009.

Esai filmnya dibuat dalam bentuk sebuah pertukaran surat antara seorang lelaki dan seorang perempuan, yang diinspirasi oleh fakta bahwa pemerintah Vietnam berencana untuk membangun pusat pembangkit nuklir pertama di negara itu di Ninh Thuan (sebelumnya dikenal sebagai Panduranga), tempat di titik spiritual bagi masyarakat pedalaman Cham, yang artinya mengancam kelangsungan budaya Hindu matriarkal kuno yang usianya hampir mencapai 2000 tahun. Berada di antara fiksi dan dokumentasi, film ini menggeser perhatian penonton di antara latar depan dan latar belakang, antara potret intim dan lanskap yang berjarak, menawarkan refleksi tentang perjalanan, etnografi, seni dan peran seniman.

  • Pathompon ‘Mont’ Tesprateep | Thailand

PATHOMPON ‘MONT’ TESPRATEEPPathompon ‘Mont’ Tesprateep lahir di Bangkok, tetapi besar di Isan (wilayah utara timur Thailand). Ia meraih gelar master jurusan seni rupa di Chelsea College of the Arts, London. Karya-karya Mont menunjukkan kecenderungan puisi sinematik untuk mengyelidiki stratifikasi yang rumit dari cara berpikir manusia dan atas ingatan, dalam kaitannya dengan batas representatif yang kritis antara subjectivity politik dan ingatan.

Baca juga:  Inilah Rangkaian Program dan Jadwal Agenda Acara Yogyakarta Komik Weeks 2019

Dibentuk dari lapisan material suara dan film, dari seluloid sampai digital, dan juga fotografi, karya-karyanya menciptakan suasana trance dan pengalaman imersif selain juga memuncukan kesadaran permainan dan struktur mimpi yang berkait dengan ingatan tunggal atas fragmen-fragmen dan ketidakpastian.

Sejak 2014, Mont bekerja dengan sejumlah material film yang diolah tangan, film-film 16 mm dan S-8m: Endless, Nameless (2014) dan Song X (2017) dan Confusion Is Next (2018). Karyanya telah diputar di beragam film festival dan pameran internasional: Locarno Film Festival, International Film Festival Rotterdam, Berwick Film and Media Arts Festival, Les Rencontres Internationales (Paris/Berlin), Curtas Vila do Conde (Portugal), Media/Art Kitchen at BACC (Bangkok), Asian Film & Video Art Forum (S. Korea), M+ Southeast Asia Moving Image Mixtape (HK), Crossroads 2018 di San Francisco Museum of Modern Art, Hamburg International Short Film Festival, Media City Film Festival (Canada).

Pleng-Krom-Dek (Lullaby) adalah sebuah prolog bagi projek Mont yang masih berlangsung, “The Scattered World” (judul sementara) (2019-2020) berbasis pada penelitiannya yang berhubungan dengan konflik di Selatan Thailand. Prolog ini terdiri dari empat lagu dialek Cheche tradisional tyang diolah kembali. Sebagian ditulis oleh masyarakat lokal.

Lirik tradisional ini seringkali menceritakan cara hidup mereka, doktrin, dan percampuran bahasa yang unik. Dalam Pleng-Krom Dek, Mont berkolaborasi dengan seorang penganut Budha Thailand dan penisunan guru, Siriporn Thongchinda, yang juga merupakan pekerja sosial di pusat rehabilitasi anak muda, dan seorang pelestari dialek Cheche.

Dalam melakukan penulisan ulang lagu ini, mereka memilih lirik-lirik yang berfokus pada perilakunya terhadap ketidakharmonisan budaya dan agama yang terjadi akhir-kahir ini. Karya ini merupakan sebuah upaya untuk meleburkan batas antara kisah lokal dan perannya yang implisit sebagai hipnotisme ideologis.

Pisitakun-by-Keith-Jones Seniman Biennale Jogja 2019 asal Thailand

  • Pisitakun Kuantalaeng | Thailand

Pisitakun Kuantalaeng memulai karir sebagai seniman visual pada 2009, dan mulai memainkan musik beberapa waktu kemudian dengan ketertarikan pada bagaimana ekspresi dibentuk melalui berbagai lingkungan media. Peristiwa sejarah, bunyi sintetis, dan instrument musik menginspirasi lagu-lagunya.

Praktik pisitakun merepresentasikan keterputusan dari banyak teman Thailand sebayanya pada saat berlakunya darurat militer sejak terjadi kudeta pada 22 Mei 2014. Dia mempertanyakan nilai-nilai fundamental, yang makin menjadi universal, tanpa mengabaikan isu tentang korupsi dan sebagainya.

Karya-karyanya berbasis pada spekulasi politik dan frustasi internal dan eksternal yang dihadapi seniman. Di antara dunia pararel masa lalu dan masa kini, yang muncul dalam penggunaan “Kaen” dalam pengolahannya atas Elektronik Dance musik khas Isan, yang masih menggunakan gaya Mor Lam sebagai nada dasarnya.

Dalam masa Chao Anouvong ketika Raja Rama III masih bertahta, musik Lao pan banyak mengangkat perjuangan dan situasi politik pada masa itu yang biasanya dinyanyikan oleh tawanan perang Laos yang dibawa ke Thailand. Sekarang ini, versi modern Lao Pan telah disunting dan dinyanyikan lagi oleh Bank- seorang tawanan yang dipenjara karena pelanggaran atas pasal 112.

Waktu selalu bisa mengubah semangat perjuangan music Isan. Perjuangan politik telah mendorong masyarakat Isan untuk bertarung melalui musik mereka dari dulu sampai sekarang. Terjadinya insiden Kabote-Phi Boon (1901 – 1902) yang dipimpin oleh orang Isan pada masa Raja Rama V telah menjadi politik depolitisasi dan juga mendorong partisipasi orang Isan untuk United Front for Democracy against dictatorship (2006 – sekarang). Hal itu menjadi contoh yang tepat bagaimana waktu telah membangun budaya perlawanan menjadi lebih intens.

Masing-masing dunia yang parallel ini menegaskan peran music Isan dan penggunaan “Kaen” dalam beragam dimensi, mulai menjadi medium bagi ekspresi perjuangan politik hingga praktik hidup sehari-hari.

Sutthirat-Supaparinya seniman manca asal Thailand di Biennale Jogja

  • Sutthirat Supaparinya | Thailand

Sutthirat Supaparinya adalah sosok seniman mancanegara di Biennale Jogja EQUATOR #5 yang lulus dari jurusan lukis di Faculty of Fine Arts at Chiang Mai University dan meraih diploma Media Arts dari Hochschule Fuer Grafik und Buchkunst Leipzig, Jerman. Karya Sutthirat Supparinya melintasi beragam medium seperti instalasi, objek, foto, dan gambar gerak. Dengan praktik artistik, dan lebih jauh lagi melalui penelitian-penelitian yang ia lakukan, ia menafsir informasi publik untuk mempertanyakan bagaimana kerja informasi secara efekttif mempengaruhi diri dan penontonnya, sebagai warga dunia.

Karya-karya terbarunya berfokus pada sejarah dan bagaimana dampak dari aktivitas manusia terhadap kehidupan yang lain, termasuk lanskap budaya dan sejarah di dalamnya. Karya dalam pameran ini merupakan hasil dari perjalanan seniman ketika mengikuti Residensi Sungai di Kalimantan Barat selama satu bulan. Ia menginvestigasi peristiwa sejarah yang tidak banyak dikenal yang terjadi pada 1943-1944 yang dikenal dengan tragedy Mandor.

Pengalaman tentang penderitaan, peneropongan dan hilangya fakta-fakta ketika seniman melakukan penelitian ini, semua muncul dalam karakter karyanya. Instalasi ini terbuat dari uang-uang pada masa pendudukan Jepang yang jumlahnya tidak terbatas yang digunakan oleh Indonesia (pada saat itu masih dalam jajahan VOC, dengan sebuah video di dalam instalasinya. Uang-uang ini mendorong kita untuk mempelajari nilai-nilainya, yang ditunjukkan oleh uang yang mengombinasikan desain Jepang dengan karakter lokal, yang sangat jelas, misalnya, “De Japansche Regeering Betaalt Aan Toonder” (The Japanese Government Promise To Pay The Bearer On Demand) dalam sen dan gulden, atau in cents and Guldens, then "Dai Nippon Teikoku Seiku" (Imperial Japanese Government) dalam uang rupiah.

Baca juga:  Hotel Purgatorio Hadir di Biennale Jogja 2019 Sebagai Cikal-Bakal Lahirnya Hotel Jogoyudan Yogyakarta

Dua puluh persen dari nomer dalam cetakan uang kertas ini menyembunyikan peristiwa tersebut, dan membutuhkan usaha keras untuk bisa merangkai beragam fata atau untuk menemukan kata kunci untuk bisa dieksplorasi sendiri. Di bawah tumpukan uang-uang kertas ini, kita bisa menyaksikan satu video yang menampilkan tanda adanya kuburan masal di lokasi Makam Juang Mandor. Video ini direkam seminggu setelah peringatan berduka tahunan yang terjadi pada 28 Juni 2019.

  • Tran Luong | Vietnam

TRAN LUONGTran Luong adalah seorang seniman, kurator independen, seniman visual dan figur penting dalam menciptakan ruang seni kontemporer yang kritis di Vietnam. Karya-karyanya berbasis pada pengalaman lokal. Dengan menantang warisan sosial politik yang menekan ekspresi individu. Sebagai mentor generasi muda yang sangat murah hati, Tran Luong melakoni lebih dari praktik kurator, mendorong performans untuk bisa menembus batas, menegosiasi sendor dengan pihak yang berkuasa, menciptakan pertukaran di antara wilayah-wilayah yang ada di Vietnam. Karya-karyanya mengkritik menegaskan sisi dalam kemanusiaan, dan memberdayakan individu melalui aksi personal dan refleksi diri.

Ia mendedikasikan energinya untuk mengembangkan ruang, inisiatif, jejarik dan komunitas untuk karya video dan performans, untuk mempertahankan norma-norma dominan dan mendukung visi alternatif dalam konteks sensor dan kenyamanan. Komitmennya sangat tinggi untuk pembebasan ekspresi, pengayaan komunitas dan mendukung generasi muda. Karya ini mencoba untuk membawa isu-isu sosial dari perspektif masyarakat sipil secara alamiah dan kemudian meluas untuk menjadi sebuah forum diskusi. Dari sini, ia berupaya untuk menemukan solusi yang positif dan berkelanjutan terhadap isu-isu sosial yang telah menciptakan konflik, secara langsung mempengaruhi lingkungan budaya dan alam, hingga mendorong munculnya semangat komunitas pedalaman. Ruang ini juga menjadi tempat bagi aktivis dan organisator sosial untuk bertemu, berjejaring, membagi pengalaman, meningkatkan pemahaman sosial dan saling dukung.

Ruang ini diharapakan bisa menciptakan kesempatan untuk menunjukkan suara bagi para aktivis dalam sebuah ruang yang sudah mempunyai terpaan audiens seperti di Biennale Jogja. Dalam konteks praktik seni, Tran Luong ingin memperluas konsep ruang seni yang keluar dari bingkai kubus putih dan melihat kembali apakah yang disebut sebagai produk seni. Hal ini dapat menciptakan tantangan bagi pemerintah ketika harus mengontrol karya seni.

Karya ini juga berupaya membahas kerumitan dari isu hak cipta, melalui tatanan yang sengkarut antara praktik penciptaan seni dengan peran kurasi, penciptaan ruang untuk seniman muda, seniman dalam menara gading, investor, pemerintah, pembuat kebijakan untuk saling bertemu dan untuk berjumpa dengan individu dan sekelompok aktivis sosial.

  • Vandy Rattana | Kamboja

VANDY RATTANAVandy Rattana lahir setelah periode Khmer Rouge dan besari di Pnom Penh. Ia memaparkan episode-episode tentang kekerasan sejarah melalui citra visual yang tidak banyak dipaparkan. Ia memulai praktik fotografinya pada 2005. Karyanya tentang kerja dan karya menggunakan beragam teknik kamera analog, mencoba membaurkan foto jurnalisme dan praktik artistik. Karya terakhirnya menunjukkan pergeseran filosofis di sekitar relasi antara historiografi dan penciptaan citra visual. Bagi Vandy Rattana, foto adalah konstruksi fiksi, lapisan atas yang puitis dan abstrak, sejarah mereka sendiri.

Sejak proyek dokumenter dan fotografis Bomb Pounds (2009), di mana foto-foto ranjaunya mengartikulasikan luka-luka psikologis masyarakat Kamboja yang berhasil lepas dari serbuan Amerika antara 1964 hingga 1973, Vandy Rattana terus memantau kawasan pinggir Kamboja dengan cara pandangnya dan membuka trauma masa lalu di sana. Setelah film pendeknya Monologue (2015), dia meluncurkan film pendek Funeral (2018). Pada 2007, ia mendirikan Stiev Selapak (Art Rebels) bersama beberapa seniman lain dan pada 2009 ia membentuk Sasa Art Gallery bersama kolega lain. Ia berkontribusi, pada 2011, pada terbentuknya SA SA BASSAC, ruang pertama yang didedikasikan untuk seni kontemporer di Kamboja.

Pada 2014, ia juga mendirikan Ponleu Association, yang bertujuan menyediakan akses untuk buku-buku referensi internasional, melalui proyek penerjemahan dan penerbitan dalam bahasa Khmer. Ponleu juga menerbitkan bukunya sendiri, berfokus pada beragam bidang pengetahuan (filsafat, sastra, sains, dan sebagainya).

Sebagai bagian pertama dari sebuah trilogy, MONOLOGUE berfokus pada dialog satu arah antara si seniman dengan kakak perempuannya yang meninggal sebelum ia pernah bertemu dengannya. Menggunakan sebuah peta yang digambar tangan oleh sang ayah dan dengan bantuan dari pemimpin desa setempat, Vandy menempatkan tanda di sebuah tanah di Barat Utara Kamboja, di mana dia diberitahu kisah tentang lima ribu orang lain yang meninggal di bawah rezim Polpot, dan bersama sang kakak dikuburkan di sana. Tokoh utama dalam film ini termasuk pohon sawit dan pohon mangga, sang seniman sendiri, serta suara alam, yang diwakili oleh suara dedaunan dan batang pohon, yang mengindikasikan angin dan nafas manusia. Suara Vandy membawa ketiga elemen ini ketika ia berbicara pada kakaknya, bertanya, dan seringkali menjadi sangat emosional ketika membicarakan keluarga mereka, atau tentang orang-orang mati yang terkubur di bawahnya. Flora dan fauna tumbuh dari tanah ini.

Demikian sedikit perihal 10 seniman dan kelompok seni yang turut dihadirkan dan lolos kuratorial pada helatan Biennale Jogja Equator #5 tahun 2019. Penyelenggaraan helatan Biennale Jogja Equator 5 ini dibuka pada tanggal 20 Oktober 2019 di dua venue yaitu area Taman Budaya Yogyakarta dan juga area Jogja Nasional Museum sebagai venue utama. Beberapa pameran yang akan berlangsung selama 40 hari, yaitu hingga tanggal 30 November 2019 juga bakal digelar di beberapa tempat lain, di antaranya adalah PKKH UGM, Jalan Ketandan Kulon 17, dan Kampung Jogoyudan. []

Sources: doc biennalejogja

Simak pawarta terkait , atau adicara menarik lain oleh Jaring Acara


Ingin mengunggah dan mewartakan kegiatan serta acaramu di Situs WARTA AGENDA ACARA | PAWARTA ADICARA JARINGACARA?
Klik Registrasi dan atau Login! Baca juga Syarat & Ketentuannya!

Sila Siarkan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *