Pawarta Adicara!

JARINGACARA sebagai media publikasi memiliki keinginan turut memberi warna dalam mengabarkan segala agenda acara seni budaya, pariwisata, warta, cuaca, juga menebarkan canda-tawa.
Perihal kontak kerjasama publikasi pun media partner, sila simak “Syarat dan Ketentuan“.

HIGHLIGHT
   
Ika Vantiani -Kata Untuk Perempuan

Inilah 15 dari 30 Nama Kelompok Seni dan Seniman Indonesia di Biennale Jogja XV EQUATOR #5 2019 [Part 1]


Diunggah oleh Jaring Acara pada tanggal 15 Oktober 2019   (203 Readers)

Biennale Jogja XV merupakan salah satu helatan yang digelar setiap dua tahun sekali dengan menghadirkan seniman dan juga tema yang selalu berganti.

Para seniman Indonesia di Biennale Jogja XV EQUATOR #5 ini selain didominasi oleh tuan-rumah Yogyakarta, hadir pula tak sediit seniman yang berasal dari berbagai daerah di Nusantara. Dari Aceh hingga Sulawesi, dari Jakarta hingga Bali. Bahkan bukan itu saja, setidaknya ada sebanyak 10 seniman yang turut dihadirkan pula dari negeri manca di kawasan Asia Tenggara.

Ya, seniman dari kawasan Asia Tenggara dipilih karena gelaran Biennale Jogja XV tahun 2019 yang juga diwartakan sebagai Biennale Jogja EQUATOR #5 ini memang membidik ‘tema pinggiran‘ yang itu dapat disajikan oleh para seniman Indonesia bersama Asia Tenggara. Dan seturut dengan ‘tema pinggiran’ tersebut, maka sebagai tambahan dari kalimat berbunyi “Biennale Jogja EQUATOR #5 tahun 2019” masih ada kalimat tanya; “DO WE LIVE IN THE SAME PLAYGROUND?“.

15 Nama Kelompok Seni dan Seniman Indonesia di Biennale Jogja XV EQUATOR #5 2019

Di bawah ini adalah 15 dari total 30 nama kelompok seni dan atau seniman yang bakal menampilkan karya-karyanya di helatan Biennale Jogja XV Tahun 2019.

  • ABDOEL SEMUTE | Surabaya

Abdoel Semute adalah seniman seni rupa yang memiliki latar belakang keluarga penggandrung segala bentuk seni dan budaya Jawa. Baik mulai dari wayang, ketoprak atau ludruk, dan segala ritual yang menyertainya. Sejak tahun 1994 Abdoel Semute sejatinya telah terlibat dalam pertunjukkan teater.

ABDOEL SEMUTEPada tahun 2000an, pria yang akrab dipanggil Semute tersebut agak belok arah. Pasalnya, berangkat dari maraknya kehadiran komik-komik yang berasal dari manca, Semute membuat kelompok komik independen bernama ORET 101 KOMIK. Gagasannya adalah untuk “menjaga” keberadaan komik Indonesia itu sendiri. Ia juga menginisiasi kolektif Milisi Fotokopi yang fokus pada gerakan seni rupa yang bekerja bersama dengan kampung-kampung dalam kota Surabaya.

Saat ini, salah satu hal yang menjadi perhatian Semute adalah soal menjaga kearifan lokal dan tradisi masyarakat di perkampungan kota Surabaya. Dia lalu membentuk komunitas yang hingga sekarang mengajarkan seni tradisi ludruk dan tari remo yang bernama PENDAKI (Padepokan Seni Budaya Kampung Ilmu). Ia juga mendirikan komunitas Paseduluran Djati Djoyodiningrat berfokus merawat dan nguri-uri tradisi leluhur yang mulai luntur, macam ruwatan, slamatan, tirakatan, dan lain-lain.

Selain aktivitas di atas, Semute juga karya-karya performans dan karya-karya berbasis komunitas. Dia bekerja dengan sejumlah paguyuban seni dan kebudayaan untuk merespons berbagai isu sosial yang berlangsung di sekitarnya.

Sebagai salah satu seniman Indonesia di Biennale Jogja XV EQUATOR #5 ini, Semute menampilkan salah satu karya yang sempat dia buat bersama Paseduluran Djati Djoyodiningrat untuk menggugat kondisi sosial yang semakin “religius”. Dia melihat kebudayaan Jawa –atau lebih spesifik lagi, kejawen–seolah semakin digerus oleh sikap-sikap intoleran dari kelompok masyarakat tertentu.

Dia melihat bahwa kesenian tradisi yang banyak mengakar di dalam masyarakat Jawa telah terpinggirkan oleh pemahahan yang dangkal. Oleh karena itu, dia berkepentingan untuk membuat seni rupa pertunjukan yang mampu menjembatani kembali relasi yang hilang dari masyarakat dengan kearifan-kearifan lokalnya (dalam konteks masyarakat Jawa, tentunya).

ANGKI PURBANDONO Seniman Indonesia di Biennale Jogja XV

  • ANGKI PURBANDONO | Yogyakarta

Angki Purbandono adalah seniman yang tinggal dan bekerja di Yogyakarta. Ia menempuh pendidikan seni di Modern School of Design (MSD) Yogyakarta dan ISI Yogyakarta. Dia adalah salah satu pendiri Ruang MES 56, kolektif seni media berbasis di Yogyakarta dan juga PAPs (Prison Art Programs), program seni penjara di Yogyakarta.

Angki Purbandono juga acap menjadi narasumber pada program BBM (Belajar Bersama Maestro) dari Kementrian Pendidikan dan Kebudayaan RI. Ia dikenal sebagai seniman yang secara terus menerus mendorong batas penggunaan medium fotografi dalam berbagai ekpresi dan proyek seni.

Angki telah berpartisipasi dalam berbagai kegiatan seni nasional maupun internasional, diantaranya residensi 1 tahun Asian Artist Fellowship, Changdong Art Studio, Korea Selatan tahun 2005-2006, Pameran LIVE and LET LIVE: Creators of Tomorrow, 4th Fukuoka Asian Triennale (2009), Jakarta Biennale XIII 2009 ARENA: Zona Pertarungan, Jakarta (2009).

Angki juga telah berpameran tunggal di berbagai tempat seperti 2 Folders from Fukuoka, Fukuoka Asian Art Museum, Fukuoka, Japan tahun 2010 dan Grey Area, Bangkok University Gallery, Bangkok, Thailand tahun 2017.

Menjadi salah satu seniman Indonesia di Biennale Jogja XV tahun 2019 ini, Angki akan membicarakan aspek-aspek lain dari seniman sebagai gugusan pikiran dan pengalaman. Selama 10 bulan di penjara, dia mencatat berbagai pengalaman dan pikirannya ke dalam 2 buah buku harian yang sampai saat ini masih dia simpan dengan baik. Hasil karya seorang seniman, yang muncul dan dibicarakan di publik telah melalui proses estetikasi dan mistifikasi sesuai dengan konsep-konsep apa itu seni. Pengalaman hidup seniman jarang sekali ditampilkan dengan telanjang, apa adanya.

Pada tataran inilah Angki akan berusaha menjadikan catatan hariannya sebagai upaya, meski dengan keraguan dan kegamangan, mengajak publik berdialog dan mengetahui apa sebenarnya yang ada dipikirannya dan pengalaman seperti apa yang telah membentuknya.

  • ARISAN TENGGARA | Yogyakarta

Arisan Tenggara memiliki sebutan resmi “Arisan: Forum Kolektif Seni Asia Tenggara”. Ia merupakan kelompok yang dirancang sebagai forum kerja bersama antar kolektif seni di Asia Tenggara. Dalam program perdananya, para anggota perwakilan kolektif dari Asia Tenggara bermitra dengan satu kolektif seni Yogyakarta untuk mendorong dan mendukung kegiatan kolaboratif di antara mereka.

Arisan Tenggara ini dirintis oleh Ace House Collective bekerjasama dengan Krack! Studio, Lifepatch, Ruang Gulma, Ruang MES 56, dan SURVIVE! Garage.

ARISAN TENGGARAKeenam kolektif itu menjadi tuan rumah bagi enam kolektif lain yang bermukim di Asia Tenggara, yakni Tentacles (Bangkok, Thailand), Tanah Indie (Makassar, Indonesia), WSK! (Manila, Filipina), Rumah Api (Kuala Lumpur, Malaysia), Rekreatif (Dili, Timor Leste), dan Gembel Art Collective (Dili, Timor Leste) selama dua bulan masa residensi.

Baca juga:  Festival Buku dan Musik Mocosik 2019 Mengusung Tema "Buku Musik dan Kamu"

Salah satu proyek yang diinisiasi oleh Arisan Tenggara dalam program perdana mereka di tahun 2018 adalah Commons Credit Cooperativa (CCC). CCC merupakan koperasi yang bertujuan untuk mendukung produksi artistik anggotanya. Jika uang menjadi objek pertukaran di koperasi pada umumnya, CCC memfasilitasi pertukaran waktu antar anggotanya. Sebagai ilustrasi, seorang anggota CCC bisa memberikan waktunya selama 4 jam untuk mengerjakan hal-hal yang sesuai dengan keahliannya bagi anggota-anggota CCC yang lain. Anggota itu juga bisa meminta total 4 jam waktu dari para anggota CCC untuk mengerjakan apa yang dibutuhkannya.

Sebagai salah satu seniman Indonesia di Biennale Jogja XV kali ini, Arisan Tenggara hendak mengujicoba proyek CCC. Arisan Tenggara bekerjasama dengan dua seniman terpilih dari proses seleksi internal yang mereka lakukan. Dua seniman itu, masing-masing Manda Selena dan Andy Baskoro, akan berkolaborasi untuk mengerjakan karya dan berpameran dengan dukungan penuh dari CCC.

  • BING KALIS | Pontianak

BING KALISBing Kalis atau yang lebih dikenal sebagai Bing Lathan adalah seniman yang berasal dari Sanggau Kapuas. Bing Lathan lahir pada tahun 1971 dan meninggal pada 5 Juli 2017. Karya-karyanya menggunakan medium drawing hitam putih. Bing Lathan ikut serta dalam beberapa pameran, antara lain; Warni-Warni Khatulistiwa (2002), Isi Kepala, Museum Gedung Kontemporer Kalbar (2008), dan terlibat dalam pameran nasional bersama Galeri Nasional di Museum PTK (2015).

Sebelum meninggal dunia, Bing Lathan juga sempat mengadakan pameran tunggal yang berjudul Rasa Bineka Warna pada tahun 2017.

Semasa hidupnya, Bing Lathan cukup banyak mengabadikan ragam hias, praktik hidup, tradisi, dan segala hal yang bernuansa Kalimantan melalui drawing bercorak warna hitam dan putih. Dia mempunyai komitmen untuk memperkenalkan kebudayaan daerahnya lewat medium itu.

Sebelum meninggal, Bing Lathan mengerjakan sebuah proyek pribadi, yakni menggambar rumah-rumah panjang dan perkampungan tradisional Dayak di sepanjang sungai Kapuas. Sedianya, karya drawing itu dibuat sebanyak 15 buah. Namun, baru selesai 10 buah, Bing Lathan keburu berpulang. Dan 10 buah karya drawing tentang perkampungan tradisional Dayak itulah yang akan ditampilkan di dalam penyelenggaraan Biennale Jogja XV EQUATOR #5 tahun 2019 ini.

Karya-karya tersebut tidak hanya merekam kegelisahan Bing Lathan menjelang akhir hidupnya, tetapi juga menjadi ilustrasi penting yang menggambarkan kehidupan sosial dan tradisi masyarakat Dayak.

  • CITRA SASMITA | Bali

CITRA SASMITACitra Sasmita tinggal dan bekerja di Denpasar Bali. Ia menempuh pendidikan sastra di Universitas Udayana dan fisika di Universitas Pendidikan Ganesha.

Citra Sasmita mengasah praktiknya sebagai seniman saat bergabung dengan kelompok teater kampus dan menjadi ilustrator cerpen di Bali Post. Karyanya menjadi sorotan ketika dipamerkan di Bali Art Intervention #1 (2016) karena dianggap menggambarkan tekanan sosial pada perempuan Bali.

Selain itu, Citra juga aktif turut-serta dalam berbagai pameran, antara lain: Merayakan Murni, Sudakara Artspace Sanur, Bali (2016), Mabesikan Project, Art for Social Change Presentation, Salihara, Jakarta (2017), Redraw III: Ugahari, Edwin’s Gallery, Jakarta (2018), dan Synthesis (Wonders of Indonesia), National Gallery Kvadrat 500, Bulgaria (2019). Citra juga menjadi Gold Winner UOB Painting of the Year (2017). Pameran tunggal terbarunya berjudul Under the Skin dilaksanakan di REDBASE, Yogyakarta (2018).

Citra Sasmita akan mengajak kita untuk melihat betapa kakawin di Bali sulit untuk menjadi teks kanon seperti di Jawa. Kalaupun ada narasi-narasi kanon, terutama babad di Bali, ia tidak pernah lepas dari narasi kanon yang ada di Jawa. Teks kanon semacam itu lebih sebagai teks “plat merah”, maskulin, dan lahir di lingkungan istana–yang dalam pandangan Citra, sekadar mengakomodir gagasan elit pria di istana. Kakawin yang lahir di Bali sifatnya lebih fragmental (tidak berbentuk epos atau babakan) dan umumnya lahir di luar lingkungan istana.

Di dalam karyanya, Citra mencoba untuk menghadirkan sebuah konteks baru, merekonstruksi narasi historis (lama) seperti narasi peperangan dan seksualitas. Di dalam narasi yang dibuat oleh Citra, tokoh perempuan menjadi pusat penceritaannya, sehingga sisi heroik dan protagonis yang selama ini ditampilkan melalui perspektif maskulin, dapat dilihat ulang melalui perspektif yang berbeda.

CUT PUTRI AYASOFIA

  • CUT PUTRI AYASOFIA | Banda Aceh

Cut Putri Ayasofia berasal dari Banda Aceh yang terlahir pada tahun 1991. Saat ini ia sedang menempuh pendidikan semester akhir di UIN Ar Raniry. Cut banyak berkarya dengan medium komik dan mural. Ia terlibat dalam proyek Mural Seniman Perempuan dalam Jakarta Biennale 2015 Maju Kena, Mundur Kena. Selain itu, ia turut serta dalam Makassar Biennale 2017 dengan melakukan residensi dan memamerkan komik tentang sejarah masuknya Islam di Sulawesi Selatan.

Dalam program Residensi Kelana Biennale Jogja 2019 Equator XV, Cut tertarik untuk mengembangkan karya terkait dengan isu pola asuh dan pendidikan anak, dan mengkritisi model pendidikan formal yang juga menunjukkan kapitalisme pendidikan.

Selama proses residensi di Jogja pada bulan Juli 2019, Cut Putri Ayasofia mengunjungi beberapa sekolah alternatif dan kemudian memilih salah satu dari sekolah itu sebagai mitra kolaborasi. Ia mengajak pada murid untuk berbagi pengalaman dalam mengikuti proses belajar di Aceh.

  • DEDEN SAMBAS | Bandung

DEDEN SAMBASDeden Sambas tinggal dan bekerja di Bandung. Ia adalah seorang seniman otodidak yang dikenal dengan karya-karya instalasinya. Deden berpartisipasi dalam berbagai pameran kelompok, antara lain dalam Bakar Tanah, Jatiwangi Art Factory (2017), Mask Craft, Bale Handap, Selasar Sunaryo Art Space (2017), Art Paris, Grand Palais-Champs Elysees, Perancis (2010), dan Manifesto, Galeri Nasional, Jakarta (2018). Pameran tunggal terakhirnya berjudul Deden Sambas W.A.F & Benda-Benda berlangsung di Galeri Orbital, Bandung, tahun 2019. Ia juga beberapa kali mendapat penghargaan untuk karya-karyanya, misalnya sebagai pemenang 2009 SCMP Art Futures di Hongkong Art Fair.

Beberapa tahun belakangan ini, setidaknya Deden cukup sering membuat karya dengan medium kerajinan (craft). Medium ini, menurut pengamatannya, telah lama larut dalam praktik kesenian kita di nusantara. Dia menemukan keunikan-keunikan metode dalam mengolah material dari para pengrajin yang dikunjunginya.

Baca juga:  Panggih FKY2019 Menampilkan Karya Seniman Lintas Disiplin di Museum Diponegoro

Praktik kerajinan, bagi Deden, juga sangat mudah ditemukan dalam keseharian kita, entah itu anyaman, pacul, tungku masak, atau produk-produk yang menggunakan berbagai jenis material alami dan benda-benda yang dapat dengan mudah ditemukan seperti besi dan lembar plastik. Kerajinan, bagi Deden, juga perlu ditempatkan sebagai praktik artistik yang sejajar dengan bentuk-bentuk kesenian lain yang berkembang dewasa ini.

DIAN SUCI RAHMAWATI

  • DIAN SUCI RAHMAWATI | Yogyakarta

Dian Suci Rahmawati mendapatkan gelar sarjananya dari Jurusan Arsitektur -Universitas Islam Indonesia, Yogyakarta. Saat ini, Dian menetap dan bekerja di Yogyakarta sebagai ilustrator dan seniman. Karya-karyanya berangkat dari observasi dan pengalamannya sebagai perempuan dalam ranah domestik.

Dian ikut serta dalam berbagai pameran kelompok dan art fair, antara lain Art of The Islamic World, World Trade Center building, Jakarta (2019), Celebration of The Future, Art Bali, AB.BC Building, Bali, dan Yang Tersingkap, Proyek Seni Perempuan, Dewan Kesenian Jakarta, Taman Ismail Marzuki, Jakarta (2018).

Pada tahun 2018, Dian juga mengadakan pameran tunggalnya di Kedai Kebun Forum Jogja yang berjudul “Aku Pingin Crita Dawa, Nanging Apa Kowe Kuwawa? Aku Kuwawa”. Sebelumnya pameran serupa juga digelar untuk pertamakali di LIR Space, yaitu pada tahun 2016.

Eksploitasi pekerja tidak hanya terjadi di balik dinding-dinding pabrik, tetapi juga di dalam rumah-rumah warga. Buruh-buruh “rumahan” ini umumnya adalah ibu-ibu rumah tangga yang mengerjakan pesanan perusahaan tertentu seperti menempelkan sticker, memasang kemasan produk, dan lain sebagainya. Harga tenaganya terbilang murah dan juga mengurangi beban perusahaan untuk menanggung asuransi pekerja (kesehatan atau keselamatan kerja). Praktik semacam ini sudah lumrah terjadi di berbagai wilayah, termasuk di Indonesia. Dian berencana mengangkat praktik perburuhan semacam ini ke permukaan.

Pekerja rumahan melakukan pekerjaan yang serupa dengan buruh pabrik, di mana pekerjaan yang dilakukan bersifat repetitif, sederhana, dan cenderung mengejar kuantitas atau target. Sementara perbedaannya, tidak seperti di dalam pabrik-pabrik, pekerja rumahan mempunyai kebebasan dalam soal waktu kerjanya dan dapat dilakukan di sela-sela kegiatan rumah tangga mereka. Namun demikian, lantaran mesti memenuhi target tertentu ditambah aktivitas mereka sebagai ibu rumah tangga, jumlah jam kerja harian mereka bisa melebihi jumlah jam kerja buruh pabrik biasa.

  • FERIAL AFFIF | Yogyakarta

FERIAL AFFIFFerial Affif adalah seniman fleksibel yang telah aktif berkarya lebih dari 10 tahun dan saat ini berdomisili di Yogyakarta. Pola karyanya tak punya batasan maupun gaya tertentu, secara artistik dia kerap beralih-peran sebagai fasilitator/kurator/penulis/peneliti/produser dan lain sebagainya. Dia senantiasa penasaran.

Karyanya berhubungan dengan orang lain serta kondisi kehidupan yang menyertainya, terutama tema lingkungan/gender/sejarah. Karya-karya itu sempat hadir di berbagai kota di Indonesia dan negara lain seperti: Singapura,Myanmar, Jepang, Korea Selatan, India, Sri Lanka, Madagaskar, Switzerland, dan sebagainya, Ferial sejak 2012 menjadi anggota Lifepatch, sebuah inisiasi warga dalam seni-sains-teknologi. Sejak 2018 bersama Putri Wartawati, Ridwan Rau Rau, dan Yayasan Lingkar Semanggi (Tangerang) menginisiasi Expedition Camp sebuah forum temu dan berbagi per dua tahunan bagi para praktisi performans se-Asia.

Selama menelurusi Sumatera Timur dalam Program residensi Kelana dan Rimpang Nusantara, Ferial tertarik untuk menginvestigasi narasi tentang pahlawan atau tokoh-tokoh perempuan yang tidak dikenal, di luar narasi utama dalam sejarah. Penelusuran terhadap sejarah mereka dilakukannya dengan mengunjungi situs, menggali arsip, bertemu narasumber dan menggali cerita yang seperti membaurkan mitos dan sejarah.

Ferial kemudian bekerja sama dengan seniman-seniman perempuan dari generasi yang lebih muda untuk menggambarkan citra wajah perempuan ini melalui cerita-cerita yang ia hadirkan. Penjelajahan personalnya kemudian berkembang menjadi sebuah upaya kolektif untuk membangkitkan sejarah yang dilupakan.

  • GEGERBOYO | Yogyakarta

GEGERBOYOKelompok Gegerboyo tertarik untuk membicarakan Geger Boyo (baca: gègèr boyo), areal perbukitan yang menyerupai punggung buaya di sekitar kawasan Gunung Merapi, di mana Merapi ini mempunyai tempat istimewa di tengah masyarakat Jawa yang menganggapnya sebagai bagian dari kosmologi kehidupan. Dua tempat lain yang juga menjadi bagian dari kosmologi itu adalah Keraton Yogyakarta dan Laut Selatan. Dalam pelbagai catatan tentang Keraton Mataram, ketiga tempat ini merupakan poros spiritual Utara-Selatan. Letusan Gunung Merapi, oleh masyarakat setempat dianggap bukan sekadar peristiwa alam, melainkan juga terkait dengan kosmologi Jawa.

Dalam waktu yang panjang, Geger Boyo telah menjadi tameng agar dampak letusan merapi tidak langsung mencapai area yang ditinggali warga. Di sekitar area itu juga, beragam ritus tradisional masyarakat hidup. Mereka tetap memelihara konsep hidup yang selaras dengan alam di tengah-tengah ancaman erupsi Merapi dan eksploitasi tambang pasir. Dengan latar-belakang semacam itulah Kelompok Gegerboyo ini tertarik untuk melihat praktik hidup masyarakat yang ada di sana dan menjadikannya sebagai landasan dalam membuat karya.

  • HENDRA PRIYADHANI | Yogyakarta

HENDRA PRIYADHANIHendra Priyadhani atau akrab dipanggil Blankon adalah seniman lulusan Jurusan Grafis ISI Yogyakarta. Blankon yang juga bertempat-tinggal di Jogjakarta ini dikenal dengan pendekatan kolase media campuran pada karya-karya 2-3 dimensinya, di mana ia mempergunakan benda-benda temuan baik dari sekitar rumahnya atau dari pasar loak.

Selain seni rupa, Blankon juga membicarakan fesyen, musik, dan fans dalam proyek macanista, melalui keterlibatannya sebagai vokalis di band heavy metal Sangkakala. Blankon terlibat berbagai kegiatan baik nasional maupun internasional. Terakhir, pada tahun 2018 dan 2019 ia diundang untuk residensi di 3,14 Social Responsibility Project, Residencies and Presentation, Hongkong.

Hendra Priyadhani juga sering berpameran secara kelompok seperti Fete Maritime Internationale-Les Tonnerres De Brest, Brest, France (2012) dan ART FORMOSA, Taipei, Taiwan (2018). Pameran tunggalnya yang terakhir adalah Capulet Bar, Kedai Kebun Forum (2010).

Sebagai salah satu seniman Indonesia di Biennale Jogja XV EQUATOR #5 kali ini, Blankon -Hendra Priyadhani akan menyoroti secara spesifik praktik custom di Indonesia, di mana teknologi, produk, dan gaya hidup diubah pakai demi menjawab tantangan hidup masyarakat Indonesia.

Karya Blankon secara politis memperlihatkan struktur kuasa pengetahuan, teknologi, dan ekonomi dalam tataran yang paling dasar; yaitu bagaimana sebagai warga negara bekas kolonial, kita hanya punya akses pada aspek konsumsi. Selain itu, dengan cerdik pula ia menunjukkan bagaimana cara-cara apropriasi teknologi ini menjadi jalan keluar untuk menjawab ketimpangan struktural. Praktik ini dikenal kemudian sebagai inkorporasi, yaitu praktik “alih fungsi” suatu produk dari fungsi aslinya. Atau bisa juga dalam bentuk utak-atik suatu produk menjadi sesuatu yang lain, yang berbeda dari wujud dan fungsi aslinya.

  • HILDAWATI SOEMANTRI | Jakarta

HILDAWATI SOEMANTRIHildawati Soemantri adalah seniman yang terlahir pada tahun 1947 dan merupakan lulusan dari jurusan Keramik di Institut Teknologi Bandung.  Ia juga sempat mengajar di Institut Kesenian Jakarta, dan melanjutkan karir akademiknya hingga ia meraih gelar Doktor dengan disertasinya yang mengupas artefak Terakota di situs kerajaan Majapahit.

Baca juga:  Jangan Lupa Bahagia

Hildawati adalah perempuan pertama yang meraih gelar Doktor sejarah seni di Indonesia. Ia mendedikasikan hidupnya terutama untuk mengajar dan bahkan mendirikan studio keramik di IKJ. Pameran tunggalnya pada 1974 di Taman Ismail Marzuki dengan segera menjadi perhatian khalayak seni karena pendekatan-pendekatan non konvensional terhadap keramik yang ditunjukkannya. Terakhir, ia menggelar pameran tunggal pada tahun 2003 di “Galeri Cemara Enam” beberapa saat sebelum ia berpulang.

Hildawati boleh disebut sebagai generasi pertama seniman Indonesia yang membicarakan kerajinan (craft) secara sejajar dengan seni rupa. Dualitas atau oposisi-hierarkis antara kerajinan (craft) dan Seni murni (fine Art) sebenarnya tidak pernah dikenali sebelumnya di Indonesia. Hanya saja, dualitas tersebut–yang hanya eksis di dalam sejarah seni Barat–turut direproduksi di lingkungan kampus seni di Indonesia dan terus berlangsung hingga sekarang. Meskipun demikian, kita perlu melihat bahwa Hildawati adalah anak zamannya, dan usahanya untuk memberi konteks baru pada perdabatan itu tetap perlu dicatat sebagai sebuah pencapaian penting dalam sejarah seni rupa Indonesia.

Salah satu katu karyanya yang dibuat pada 1978 (tidak berjudul), akan direplika ulang oleh Purnomo Clay. Bentuk karyanya berupa 15 buah bola dari keramik dengan glasir. Karya tersebut, selain menunjukkan usaha Hilda dalam menyuguhkan bentuk baru dari kerajinan pada masanya, juga ditujukan untuk menjadi pelatuk bagi perdebatan mengenai wacana kerajinan kontemporer di Indonesia.

  • IKA VANTIANI | Jakarta

IKA VANTIANIIka Vantiani lulus dari studi periklanan di London Institute of Communication Jakarta pada tahun 1999. Dengan latar belakangnya di industri komunikasi, Ika menjadi seniman ototidak yang bekerja dengan benda-benda yang ada di sekitarnya. Ia cenderung membincangkan soal-soal terkait perempuan, media, konsumsi, dan seni secara umum dalam karya-karyanya. Ika berpartisipasi dalam berbagai gelaran seni, antara lain dalam Titik Temu, Galeri Nasional, Jakarta (2018), Breathing on Paper, Art 1 Gallery, Chiang Mai, Thailand (2017), OK Video 2015, Galeri Nasional, Jakarta (2015), dan 1 x 25 Jam, Rumah Seni Cemeti, Yogyakarta (2014). Saat ini, selain bekerja sebagai seniman dan pengrajin, Ika juga menjadi kurator dan penyelenggara beberapa kegiatan seni dan budaya.

Ika membawa proyek yang telah dia kerjakan selama beberapa tahun belakangan ini, yakni Kata Untuk Perempuan. Proyek ini diawali dari sebuah lokakarya kolase yang dilakukan oleh Ika pada Oktober 2015, di mana para peserta workshop diminta untuk menjawab sebuah pertanyaan, “apa satu kata yang artinya perempuan untukmu?” Karena sebagai perempuan, ika menyadari bahwa ada banyak sekali kata di luar sana yang digunakan untuk mendeskripsikan perempuan, tetapi hanya sedikit yang ia rasa mewakili deskripsi tentang perempuan. Lalu, bagaimana dengan perempuan lain? Bagamana pula dengan laki-laki? kata apa yang akan mereka pilih?

Dan dimulailah perjalanan proyek ini, di mana Ika berkeliling ke berbagai kota, tempat, komunitas, dan institusi di Indonesia untuk mengajak publik menjawab pertanyaan tersebut dan mengilustrasikannya lewat kolase manual yang kemudian diunggahnya di akun Instagram @katauntukperempuan. Lewat proyek ini, Ika ingin mengajak kita melihat bagaimana perempuan direpresentasikan lewat bahasa yang kita pergunakan sehari-hari.

IPEH NUR

  • IPEH NUR | Yogyakarta

Ipeh Nur menetap dan bekerja di Yogyakarta dan merupakan lulusan dari Jurusan Seni Grafis, Institut Seni Indonesia. Kebanyakan karyanya merupakan ilustrasi hitam putih di atas kertas. Ipeh juga berkarya dengan menggunakan teknik dan media lain, semacam sablon, etsa, mural, dan patung dari resin. Ipeh mengikuti berbagai pameran kelompok, antara lain 80 nan Ampuh, Bentara Budaya Yogyakarta (2019), Waktu dan Ingatan Tak Pernah Diam, IVAA, Yogyakarta, Pressing Matters, Framer Framed, Amsterdam (2018), Beyond Masculinity, Ark Galerie, Yogyakarta (2017), dan The 1st Jogja Miniprint Biennale, Museum Bank Indonesia Yogyakarta dan Mien Gallery, Yogyakarta (2014).

Di tahun 2018, Ipeh Nur mengadakan dua kali pameran tunggal masing-masing berjudul Salimah di REDBASE dan Banda di Kedai Kebun Forum.

Ipeh juga berkesempatan untuk mengikuti program Residensi Kelana Laut di Desa Pambusuang, Kabupaten Polewali-Mandar, Sulawesi Barat. Selama proses residensinya, Ipeh mengulik tradisi atau ritus masyarakat yang terkait dengan laut. Kepercayaan akan hal gaib/mistik, istana laut, hantu-hantu laut, Nabi Khaidir sebagai penguasa laut, dan pemali menjadi salah satu bentuk penghormatan sekaligus upaya untuk menjaga laut yang menjadi sumber penghidupan.

Berbagai jenis ritus dan tradisi diwariskan secara turun-temurun, termasuk ritus dalam memperlakukan produk atau teknologi yang mereka ciptakan, dalam hal ini rumah dan perahu. Rumah dan perahu diyakini mempunyai roh atau jiwa yang disimbolkan dengan posiq (pusar). Dalam pembuatan perahu, misalnya, seorang dukun perahu akan diundang untuk melakukan ritual mapposiq (pemberian pusar). Pusar pada perahu mengandaikan sebuah pengharapan akan keselamatan dan limpahan rejeki saat melaut. Demikian halnya pusar rumah (posiq bola), yang menjadi tempat ritual untuk meminta keselamatan dan keberkahan bagi kerabat mereka yang tengah melaut. Temuan-temuan selama proses residensi itu diolah ulang oleh Ipeh dengan memberikan penafsiran-penafsiran baru dari apa yang dia pelajari di Pambusuang. []

Sources: doc biennalejogja | ig katauntukperempuan

Simak pawarta terkait , atau adicara menarik lain oleh Jaring Acara


Ingin mengunggah dan mewartakan kegiatan serta acaramu di Situs WARTA AGENDA ACARA | PAWARTA ADICARA JARINGACARA?
Klik Registrasi dan atau Login! Baca juga Syarat & Ketentuannya!

Sila Siarkan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *