Pawarta Adicara!

JARINGACARA sebagai media publikasi memiliki keinginan turut memberi warna dalam mengabarkan segala agenda acara seni budaya, pariwisata, warta, cuaca, juga menebarkan canda-tawa.
Perihal kontak kerjasama publikasi pun media partner, sila simak “Syarat dan Ketentuan“.

HIGHLIGHT
   
Angkringan Seniman Jun Kitazawa di Project NOWHERE OASISdi Biennale Jogja

Seniman Asal Jepang ‘Jun Kitazawa’ Mengusung Angkringan dengan Konsep NOWHERE OASIS di Gelaran Biennale Jogja 2019


Diunggah oleh Rika Purwaka pada tanggal 19 Oktober 2019   (263 Readers)

Jun Kitazawa adalah seniman yang lahir di Tokyo -Jepang pada tahun 1988 yang saat ini tinggal di Yogyakarta dan dikenal sebagai pekerja seni dengan metode unik. Pada tahun 2016, ia masuk ke dalam jajaran Forbes Magazines 30 Under 30 Asia dalam ranah kesenian.

Seniman asal Jepang ‘Jun Kitazawa‘ ini mengusung angkringan dalam konsep NOWHERE OASIS pada gelaran Biennale Jogja Equator #5 tahun 2019.

Jun Kitazawa adalah salah satu partisipan pada helatan Biennale Jogja XV 2019 yang menyelesaikan studi doktor di Tokyo University of the Arts, dan sekaligus merupakan pengelola Jun Kitazwa Of­fice Yakumo dan Studio Belimbing. Dalam praktik berkeseniannya, ia kerap memproyeksikan berbagai model masyarakat melalui berbagai bentuk kerjanya serta kerja kolaborasi dengan berbagai pihak.

Angkringan Jun Kitazawa di Project NOWHERE OASIS Biennale Jogja Equator 5 tahun 2019

Beberapa karya dari seniman asal Jepang ‘Jun Kitazawa’ ini antara lain adalah ‘Living Room’, ‘My Town Market’ dan ‘Sun Self Hotel’. Selain itu, ada pula satu proyek unik di Indonesia yang pernah ia gelar tahun 2017 silam, yaitu proyek kesenian di Kampung Aquariaum -Jakarta Utara berjudul ‘Relokasi’. Saat itu ia berkolaborasi dengan warga dan komunitas setempat, menyajikan kreativitas dan teknik merakit material dengan cepat ‘Apa itu Rumah Ideal’.

Proyek di Kampung Aquarium Jakarta itu ia gelar dengan diawali proses-penelitian yang dilalui selama satu tahun sebelumnya. Sebagai salah satu subyek penelitiannya ialah tentang penggusuran paksa di Pasar Ikan dan Kampung Aquarium Jakarta Utara pada bulan April 216. Setelah penggusuran, warga kembali dan memulai kembali menata kehidupannya dengan beragam ide. Melalui ragam peristiwa yang ia teliti tersebut, selanjutnya Jun terinspirasi untuk menciptakan proyek seni kolaboratif. Dan bekerja sama dengan warga setempat, ‘Apa itu Rumah Ideal’ menjadi helatan yang digelar dengan dukungan pula dari Rujak Center for Urban Studies serta The Japan Foundation, Nomura Foundation, dan Meguro Regions Exchange Foundation.

Baca juga:  Ajakan untuk Melintasi “Djembatan Gondolaju” dalam Teater FKY 2019

Angkringan Seniman Jun Kitazawa di Project NOWHERE OASIS Biennale Jogja Equator 5 tahun 2019

Membawa Angkringan Guna Mendefinisikan Perbedaan yang Melebur

Pada gelaran Biennale Jogja XV 2019 ini, seniman asal Jepang ‘Jun Kitazawa’ membidik angkringan ke dalam ruang seni yang ia sajikan kepada masyarakat luas. Ia membawa angkringan yang tak asing lagi dengan warga Jogjakarta ini bukan tanpa alasan. Melainkan ada banyak hal yang dapat digali dan mampu dipresentasikan darinya.

Angkringan yang wujudnya adalah gerobak makanan dengan terpal-penutup sejatinya juga telah dimunculkan oleh Jun Kitazawa di negara matahari, tempat kelahirannya.  Kini, di tahun 2019 ini, tepatnya tanggal 19 dan 20 Oktober, lelaki Jepang tersebut membawa pulang angkringan itu, untuk kemudian ia suguhkan kepada khalayak di area Taman Budaya Yogyakarta.

“NOWHERE OASIS” sebagai judul pada konsep persembahan seniman Asal Jepang ‘Jun Kitazawa’ tersebut dimaksudkan sebagai gambaran dari konsep bagaimana kedua negara ini, dengan segala perbedaannya, melebur.

NOWHERE OASIS juga digelar di Tokyo pada tanggal 1 -10 November 2019, tepatnya pada pukul 15:00 hingga 19:00 waktu Tokyo. Gelaran angkringan itu ada di beberapa tempat, yang salah satunya adalah di JST Tokyo Metropolitan Theatre (plaza depan).

Angkringan Jun Kitazawa di Project NOWHERE OASIS

Angkringan Memberi Makna Bahwa dalam Keterbukaan Tetap Ada yang Tertutup

Tatkala hari mulai petang, gerobak makanan yang disebut “Angkringan” mulai bermunculan di sisi dan pinggir jalanan Yogyakarta. Di seputar gerobak tersebut, para pengunjung kemudian keluar-masuk untuk melakukan transaksi jual-beli makanan pun minuman. Selain itu, ada pula yang sengaja menikmati kudapan makanan, dan menyeruput minuman sembari duduk di bangku pun tikar yang disediakan. Antara pengunjung satu dengan lainnya, bahkan meski belum saling mengenal, mereka rela duduk berdampingan sembari bercengkerama di ruang yang nyaman dan bersahabat itu. Di tempat seperti itulah waktu berjalan seolah begitu pelan.

Baca juga:  Jogja Video Mapping Project FKY29 Kolaborasikan Banyak Seniman

Secara fisik, selembar terpal juga menyelimuti gerobak angkringan dan tempat bersengkarama para pengunjung. Praktis terpal tersebut membuat apa yang berada di dalamnya menjadi tak terlihat dari luar. Di kondisi seperti ini, bisa dikatakan bahwa angkringan bisa diakses oleh siapa saja dan kapan saja, hanya saja ia bukan pula sebagai tempat yang terlalu terbuka.

Dapat dimaknai bahwa angkringan mempertahankan karakter kota Yogyakarta yang jarang (bahkan tidak ada) di tempat lain. Yaitu karakter yang bisa disimak melalui kedua sisinya; antara terlihat dan tak kasatmata. Ia umum namun sekaligus tertutup.

Pada definisi angkringan seperti di ataslah NOWHERE itu teraplikasikan. Ia merupakan wujud yang tidak ada di mana pun (nowhere), akan tetapi ia sekaligus ada di sini (now here).

Angkringan Seniman Jun Kitazawa di Project NOWHERE OASIS Biennale Jogja 2019

  • NOWHERE OASIS Hadirkan Angkringan di Tokyo -Jepang; 1 -10 November 2019

Sebagai prakarsa dari project “NOWHERE OASIS”, seniman asal Jepang ‘Jun Kitazawa’ ini berangkat dari kegelisahannya akan hidup di dua negara dan masyarakat yang berbeda, serta kerap hilir-mudik tanpa memiliki sebuah “destinasi”. Dari kondisi itu, Jun Kitazawa menuangkan pengalamannya ke dalam interpretasi akan angkringan.

Beberapa gerobak angkringan yang dibuat di Yogyakarta muncul di jalanan Ikebukuro, Tokyo. Lokasi utamanya berada di depan plaza Teater Tokyo Metropolitan. Namun gerobak-gerobak tersebut juga acap berpindah tempat dan lokasinya, antara lain ke  seputaran komplek Stasiun Ikebukuro.

Bekerjasama dengan komunitas orang Indonesia yang kini sedang tinggal dan menetap di negeri Sakura, kehadiran angkringan ini bakal mengundang berbagai macam respons dari orang-orang yang mengunjungi dan melewati Ikebukuro.

Baca juga:  Indonesia Scooter Festival 21-22 September 2019 Sebagai Hari Lebarannya Para Skuteris

Angkringan Seniman Jun Kitazawa di Project NOWHERE OASIS Biennale Jogja Equator 5 -Nasi Kucing

  • NOWHERE OASIS Hadirkan Angkringan di Taman Budaya Yogyakarta; 19 dan 20 Oktober 2019

Sementara itu untuk project NOWHERE OASIS dengan sajian angkringan yang digelar di Indonesia, dihadirkan di sekitar Taman Budaya Yogyakarta, yaitu tanggal 19 Oktober 2019 mulai pukul 14:00 hingga 18:00 WIB. Sedangkan pada tanggal 20 Oktober 2019, angkringan hadir mulai 17:00 sampai dengan pukul 20:00 WIB.

Angkringan yang dipersembahkan seniman asal Jepang “Jun Kitazawa” seiring gelaran Biennale tersebut sajiannya tak jauh berbeda sebagaimana lazimnya di sudut-sudut angkringan Yogyakarta. Namun faktor kebersihan tentu menjadi perihal utama bagi warga Jepang seperti Jun Kitazawa ini. Karenanya, ada beberapa menu yang sedari kemasannya telah dibuat dengan desain Jun, namun wujudnya tetap tak jauh berbeda dengan barang serupa aslinya.

Angkringan Seniman Jun Kitazawa di Project NOWHERE OASIS Biennale Jogja -Sega Kucing

Masih sebagai rangkaian dari Project NOWHERE OASIS yang diprakarsai Jun Kitazawa, pada tanggal 23-30 November 2019, dari pukul 16:00 hingga 20:00 WIB, dan dengan lokasi di Taman Budaya Yogyakarta dan beberapa lokasi lain, akan disajikan pula lanskap yang terlahir dari proyek di Tokyo tersebut. Angkringan-angkringan di berbagai lokasi di Yogyakarta akan mengadopsi berbagai memori dari Tokyo, sebagai upaya untuk menghadirkan rasa asing pada kehidupan sehari-hari di Yogyakarta.

Di beberapa jalanan pada kedua negara Asia ini, “NOWHERE OASIS” menciptakan, mencari, dan berpindah-pindah di antara tempat-tempat yang terhubung dengan konteks kedua kota, namun sekaligus ia tidak terpaut pada keduanya. Dengan begitu, proyek ini menciptakan sebuah oasis yang tidak ada di mana pun (nowhere), tetapi juga berada di sini (now here). [rpw]

Source & Refference: ig kitazawajun | ig andysetyanta | biennalejogja.org

Simak pawarta terkait , atau adicara menarik lain oleh Rika Purwaka


Ingin mengunggah dan mewartakan kegiatan serta acaramu di Situs WARTA AGENDA ACARA | PAWARTA ADICARA JARINGACARA?
Klik Registrasi dan atau Login! Baca juga Syarat & Ketentuannya!

Sila Siarkan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *