Pawarta Adicara!

JARINGACARA sebagai media publikasi memiliki keinginan turut memberi warna dalam mengabarkan segala agenda acara seni budaya, pariwisata, warta, cuaca, juga menebarkan canda-tawa.
Perihal kontak kerjasama publikasi pun media partner, sila simak “Syarat dan Ketentuan“.

HIGHLIGHT
   
Seminar JSSP #3 Tahun 2019

Seminar JSSP #3 Memuat Representasi dan Reinterpretasi Garis Imajiner dan Sumbu Filosofi Yogyakarta


Diunggah oleh Haiki Murakabi pada tanggal 8 Desember 2019   (430 Readers)

Sebagai rangkaian JSSP yang merupakan kepanjangan dari Jogja Street Sculpture Project di helatannya tahun 2019 juga menyelenggarakan sebuah seminar yang mengusung tajuk “Representasi dan Reinterpretasi Atas Garis Imajiner dan Sumbu Filosofis Yogyakarta”.

Seminar JSSP #3 tahun 2019 tersebut diselenggarakan pada hari Sabtu tanggal 7 Desember 2019 dengan tempat berada di area Pendhapa Art Space -Jalan Ringroad Selatan, Sewon Bantul Yogyakarta, dengan menghadirkan sekira 150 peserta. Selain 150 peserta, diundang pula beberapa pemateri yang di antaranya adalah Dr. Ir. Yustinus Suranto, M.P selaku Dosen Fakultas Kehutanan UGM, Drs. Anuspati, M. FA yang merupakan Seniman JSSP #3 dan Dosen FSR ISI. Di samping itu, dua nama kurator juga datang di tengah-tengah seminat JSSP 2019 ini, yaitu Dr. Kris Budiman, M.Hum, dan Drs. Soewardi, M.Sn.

Dalam seminar JSSP #3 tersebut, Yustinus Suranto memaparkan ikhwal kreativitas seniman yang terlibat dalam JSSP #3 ini sungguh mempresentasikan hal unik dan luar biasa, yang itu sangat tepat apabila hendak dijadikan sebagai bahan pembelajaran baru. Di antara pembelajaran tersebut, Yustinus memperkenalkan satu istilah pembelajaran yang dilihat dari kacamata sudut-pandang kayu budaya ataupun kekayon.

Masih sesuai pendapat Yustinus, istilah kekayon yang berarti tetumbuhan menjadi hal yang sangat dekatketika disandingkan dengan tema Pasir Bawono Wukir. Pasalnya beberapa patung yang memanfaatkan kayu memiliki kandungan nilai dan makna simbolik di dalamnya, termasuk perihal rambu-rambu semiotika dalam pengembangan dan pembentukan karakter manusia.

Baca juga:  PAPERU FKY 30 di Planet Pyramid Bantul

Seminar JSSP #3 Memuat Representasi dan Reinterpretasi Garis Imajiner

Di lain kesempatan Kris Budiman juga menuturkan tentang “Garis Imajiner” yang sangat mungkin bisa direntangkan sebagai Sumbu Filosofis. Lebih gamblangnya, garis imajiner antara gunung dan laut memberikan bentuk poros linear. Selain Yogyakarta, jika dicermati hal tersebut juga terjadi di beberapa kerajaan lain khususnya di pulau Jawa. Antara lain adalah di Kesultanan Banten, Kerajaan Singosari, dan juga di wilayah Bali. Dan kecuali Jawa serta Bali, garis imajiner itu bisa juga disimak di luar Jawa. Sebagai contoh adakah Kesultanan Pontianak. Ini artinya dapat ditarik benang merah, bahwa cara pengaturan terhadap ruang dan sistem sosial juga merupakan salah satu pandangan dunia bagi keberadaan satu kerajaan.

Baca juga:  Grup Band 'Hutan Hujan' Hadirkan Nostalgia Musik 70-an Melalui Single 'Taman Gerimis'

Hal yang menjadikan Yogyakarta sedikit bebeda dengan keunikan pun tidaknya adalah utuhnya pola spasial yang bisa bertahan hingga kini sebagai orientasi di Keraton Yogyakarta. Artinya, orientasi ruang ini sangat mungkin bisa ditransormasikan sebagai orientasi nilai.

Lebih dari itu semua, terlepas dari pandangan pun penilaian ‘Garis Imajiner’ yang terpaparkan di atas, dapat dicermati pula bahwa karya-karya seniman di JSSP #3 ini menjadi sangat ikonik, pasalnya ia mampu menjadi representasi dari tiga elemen penting. Ialah laut, kota, dan gunung. Di mana proses representasi dan sekaligus reinterpretasi ini sangat bisa didasarkan pada  dua hal penting, yaitu data dan juga sekaligus argumen.

Masih di Seminar JSSP #3 tahun 2019 ini, dapat dilihat bahwa pihak kurator juga memberikan kesempatan terhadap para seniman guna menafsirkan makna dan juga memberikan kebebasan dalam memilih lokasi, tema, serta bentuk gagasan yang akan diambil dalam berekspresi dan mempresentasikan karyanya.

Baca juga:  Band Easternboys Menelurkan Single Perdana Bertajuk 'Hijrah' di Hari Soempah Pemoeda

“Material diakomodir agar titik temu antara ide seniman dan realitas ruang melahirkan karya yang harmonis dan layak untuk dipamerkan. Pematung Malaysia merespons ruang di Yogyakarta dengan perbandingan yang terjadi di Malaysia dan Indonesia,” tutur Soewardi.

Di lain sisi Anusapati yang berlaku sebagai salah satu seniman patung dari kelompok Pring Project dengan karya berjudul Tonggak Samudera juga memaparkan tentang tafsir tema “Pasir Bawono Wukir” yang sejatinya lumayan sulit. Karenanya, mereka memilih Gumuk Pasir sebagai lokasi dalam menempatkan karya alasannya karena mudah dan netral.

Bambu yang dipilih sebagai material oleh Pring Project ini alasannya selain ramah lingkungan, adalah juga karena pertumbuhannya tergolong cepat, dengan harga murah, bahan berlimpah, dan memiliki potensi kekuatan lebih dari biasanya. [hmk]

Simak pawarta terkait , atau adicara menarik lain oleh Haiki Murakabi


Ingin mengunggah dan mewartakan kegiatan serta acaramu di Situs WARTA AGENDA ACARA | PAWARTA ADICARA JARINGACARA?
Klik Registrasi dan atau Login! Baca juga Syarat & Ketentuannya!

Sila Siarkan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *