Pawarta Adicara!

JARINGACARA sebagai media publikasi memiliki keinginan turut memberi warna dalam mengabarkan segala agenda acara seni budaya, pariwisata, warta, cuaca, juga menebarkan canda-tawa.
Perihal kontak kerjasama publikasi pun media partner, sila simak “Syarat dan Ketentuan“.

HIGHLIGHT
   
Semar Gaung di Jagongan WAgen PSBK Edisi Agustus 2019

‘Semar Gaung’ di Jagongan Wagen PSBK Sebagai Karya Kolaboratif Bayu Aji Nugraha, Asita Kaladewa, dan Kinanti Sekar Rahina

Diunggah oleh Rika Purwaka, pada tanggal 24 Agustus 2019

Semar Gaung merupakan judul karya Guntur Nur Puspito sebagai Penerima Hibah Seni PSBK 2019, yang agenda presentasinya dihelat pada tanggal 30 Agustus 2019 bertempat di Ruang Njagong, Padepokan Seni Bagong Kussudiardja (PSBK), Yogyakarta.

“Semar Gaung” ini adalah karya pertunjukan dari PSBK yang bekerjasama dengan Bakti Budaya Djarum Foundation sebagai upaya seniman untuk membaca sosok Semar dalam realitas hari ini. Kerjasama tersebut sebagaimana yang sudah diketahui berujud program “Jagongan Wagen”, di mana pada tahun 2019 ini ia sudah memasuki edisi keenam.

Guntur Nur Puspito adalah penerima Hibah Seni PSBK yang terlahir di Parigi -Sulawesi Tengah pada tahun 1998, dan kemudian masuk Sekolah Menengah Musik (SMM) Yogyakarta dengan instrument mayor biola, dibawah bimbingan Pupik Yeti Vivi Yanti & Sapta Ksvara Kusbini. Setamatnya dari SMM pada tahun 2001, ia melanjutkan studi S-1 ke Institut Seni Indonesia (ISI) Yogyakarta, dibawah bimbingan Oni Krisnerwinto S.Sn., & Drs. Djunaedi.

Baca juga:  Konser Sepenuh Cinta 2017

Selepas menempuh pendidikan di ISI, yaitu tamat pada tahun 2008, Guntur Nur Puspito kemudian menekuni aransemen yang telah ia geluti sebelumnya –yaitu semenjak memasuki bangku perkuliahan, dibawah bimbingan Drs. RM. Singgih Sanjaya M.Hum., dan Oni Krisnerwinto. Selanjutnya pada kurun waktu tujuh tahun terakhir mulai menekuni musik dalam penggarapan sebuah karya, baik karya sendiri maupun karya kolaborasi.

Semar Gaung dalam pertunjukan di Jagongan Wagen PSBK ini merupakan pementasan musik kolaboratif yang digagas oleh Guntur Nur Puspito atas pembacaan ulang terhadap sosok Semar dengan mengkontekstualisasikannya pada realitas hari ini.

Semar Gaung di Jagongan WAgen PSBK Edisi Agustus 2019Dalam mempresentasikan karyanya, kali ini Guntur berkolaborasi dengan Bayu Aji Nugraha yang merupakan dalang, Asita Kaladewa sebagai seniman pantomime, Kinanti Sekar Rahina yang seorang penari, dan Muhammad Shodiq sebagai penulis naskah. Pementasan kolaboratif tersebut tertuju pada dialog perihal pengetahuan hari ini, seperti halnya pitutur Semar yang tak lagi didengar. Suaranya menggaung, terlontar, membentur pada kepala-kepala beku dan kembali kepada dirinya sendiri.

Baca juga:  Pameran Karya Cerita Bocah

Sebagaimana yang telah kita ketahui bersama, sosok Semar adalah salah satu karakter dalam pewayangan yang kuat dan luas pengetahuannya, sehingga dia dijuluki pamong para ksatria. Semar merupakan simbol pengetahuan yang menjadi rujukan. Tapi sayang zaman ini sudah berubah. Setiap manusia sudah mampu mengakses ‘pamong (guru)’-nya masing-masing. Sesederhana membuka layar gawai dan menemukan sumber-sumber; rujukan-rujukan daring pun bersumber dari dunia maya (online) seolah sudah disejajarkan dengan guru. Atau lebih jauh lagi, menganggap semua yang berasal dari daring mempunyai bobot pengetahuan yang sama. Dalam konteks Semar, ini seperti membayangkan tentang apa yang terjadi jika murid-murid Semar tidak lagi menjadikannya sebagai rujukan sumber pengetahuan. Ruang-ruang yang mulanya bersifat nyata hari ini disejajarkan dengan ruang-ruang yang bersifat maya.

Baca juga:  Gelaran Havin Fun Tour X Fun As Tour

Dalam pertunjukan Semar Gaung di kompleks art center PSBK kali ini, Guntur Nur Puspito selaku seniman ingin mengajak penonton untuk merenungkan kembali perihal kebiasaan-kebiasaan kita saat ini dalam mengakses pengetahuan melalui dunia maya. Tidak dapat dimungkiri bahwa dunia maya telah membukakan akses pengetahuan seluas-luasnya dan tanpa batas, namun di lain sisi dunia maya juga telah menghilangkan peristiwa tatap muka dalam mengakses pengetahuan. Bahwa dalam peristiwa tatap muka ada hal lain yang kita dapatkan yaitu belajar tentang adab (attitude). Sedangkan akses ilmu pengetahuan di dunia maya seringkali absen akan perihal adab itu sendiri. [rpk]

Simak pawarta lain terkait , atau adicara menarik lain yang diunggah oleh Rika Purwaka


Ingin mengunggah dan mewartakan kegiatan serta acaramu di Situs WARTA AGENDA ACARA | PAWARTA ADICARA JARINGACARA?
Klik Registrasi dan atau Login! Baca juga Syarat & Ketentuannya!

Sila Siarkan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *