Pawarta Adicara!

JARINGACARA sebagai media publikasi memiliki keinginan turut memberi warna dalam mengabarkan segala agenda acara seni budaya, pariwisata, warta, cuaca, juga menebarkan canda-tawa.
Perihal kontak kerjasama publikasi pun media partner, sila simak “Syarat dan Ketentuan“.

HIGHLIGHT
   
SEAMEX 2109

SEAMEX 2019 Merupakan Pertukaran Pendidikan Musik Asia Tenggara

Diunggah oleh Haiki Murakabi, pada tanggal 30 Agustus 2019

SEAMEX 2019 adalah kegiatan Pertukaran Pendidikan Musik Asia Tenggara yang meruapakan singkatan dari ‘Southeast Asia Music Education Exchange’ dengan agendanya akan digelar di di Jogja Nasional Museum, sebagai ruang informasi dan juga sajian pendidikan seputar musik di wilayah Asia Tenggara.

Gelaran SEAMEX tahun 2019 di Yogyakarta ini  mengusung tajuk “Music, Sphere, and Interconnected Generations”yang memiliki fungsi dan tujuan guna menjadi wadah bertemunya para insan musik yang berasal dari 10 negara ASEAN untuk selanjutnya mereka bisa saling berbagi ide, dapat saling mengeksplorasi peluang, dan berkesempatan saling mengembangkan jejaring.

Perihal penyelenggaraan SEAMEX 2109 ini dilaksanakan selama 3 hari, yaitu mulai dari tanggal 6 September hingga tanggal 8 September 2019 bertempat di Jogja Nasional Museum. Selama tiga hari tersebut, kesehariannya dimulai pada pukul 9 pagi dan berakhir pada pukul 10 malam.

Jika pada pawarta terdahulu terdapat pemaparan terkait dengan SEAMEX 2109 yang dipaparkan Hanry Tapotubun dan Brian Trinanda K. Adi, maka kali ini akan bisa disimak juga dua pemaparan lain, yaitu tulisan dari Amor Seta Gilang Pratama dan (Mukhlis Anton Nugroho).

***

“SEAMEX: Peluang Baru Bagi Industri Musik Indonesia” oleh Amor Seta Gilang Pratama

Perkembangan industri musik Indonesia saat ini cukup pesat. Sebelum berkembang seperti saat ini, industri musik Indonesia memiliki lika-liku yang cukup panjang. Lika-liku tersebut dapat dipahami sebagai perjalanan yang bersentuhan dengan berbagai aspek seperti politik dan kebudayaan.

SEAMEX 2109Pada masa pemerintahan Presiden Soekarno, industri musik belum berkembang. Hal ini dikarenakan kebijakan pembatasan terhadap musik, sehingga musik dipergunakan lebih sebagai alat politik. Soekarno sangat melarang pengaruh budaya (musik) asing masuk ke Indonesia, karena dapat mengancam budaya nasional. Oleh sebab itu hanya musik dan lagu-lagu produk dalam negeri yang boleh diperdengarkan dan dimainkan. Radio Republik Indonesia (RRI) mendukung kebijakan Soekarno tersebut dengan memutar dan memperdengarkan lagu-lagu produk dalam negeri.

Perusahaan rekaman Lokananta yang didirikan oleh pemerintah pada 1955, ketika masa pemerintahan Soekarno bukan menjadi alat komoditi atau industri, melainkan sebagai tempat untuk merekam dan mendistribusikan musik-musik nasional ke RRI di seluruh Indonesia. Lokananta didapuk sebagai penyebar kebudayaan dengan tujuan untuk melindungi budaya nasional, bukan untuk mencari untung dari proses rekaman (Mulyadi, Industri Musik Indonesia: Suatu Sejarah [2009]: 2).

Penangkapan Koes Bersaudara (Koes Plus) pada 1965 memperlihatkan bahwa kebijakan Soekarno tidak main-main. Koes Plus dipenjarakan selama 8 bulan di penjara Glodok karena kerap membawakan lagu-lagu The Beatles. Hal ini dianggap melanggar kebijakan dan tidak turut melestarikan budaya nasional.

Peralihan pemerintahan dari Soekarno ke Soeharto, merupakan angin segar bagi industri musik tanah air. Alih-alih melarang, Soeharto justru membuka pintu bagi musik-musik asing (barat). Musisi-musisi merasa merdeka secara musikal serta dapat bebas berekspresi. Selain itu, ABRI (Sekarang TNI) juga memiliki andil bagi Industri musik. Kala itu, ABRI memiliki program musik yang bernama Panggung Prajurit. Lalu setelah dirasa cukup disukai masyarakat, ABRI kembali membuat program musik yang kali ini bekerjasama dengan TVRI sebagai televisi nasional populer saat itu, yang dinamakan ‘Kamera Ria’ pada 1967 (Mulyadi, Industri Musik Indonesia: Suatu Sejarah [2009]: 23).

Era pemerintahan Soeharto merupakan cikal bakal berkembangnya industri musik tanah air. Dengan gaya politiknya yang anti barat telah membebaskan belenggu berekspresi. Dengan demikian, musisi, produser rekaman, serta promotor pertunjukan sangat leluasa untuk melakukan praktik-praktik industri musik.

Baca juga:  Festival Jamu dan Wayang Kota Tersajikan di Hari Pertama Jogja Cross Culture

Saat ini praktik industri musik tanah air bisa dikatakan cukup berkembang. Bukan hanya berharap dari hasil rekaman, namun dari konser, ring back tone, video clip, original soundtrack, dan lain-lain. Industri musik saat ini cepat beradaptasi sejalan dengan berkembangnya revolusi industri.

Terkait dengan perkembangan revolusi industri, maka seharusnya pelaku industri musik tanah air baik musisi, produser, promotor, dan lain-lain, tidak hanya berlaga di kancah nasional, tetapi internasional. Hal ini untuk menunjukan bahwa musik-musik Indonesia mampu bersaing pada ranah industri musik global, serta mampu dikonsumsi oleh khalayak yang lebih luas. Oleh sebab itu para pelaku industri musik perlu memperluas jaringan agar mampu mewujudkan hal tersebut. Salah satu caranya adalah dengan hadir dan mengikuti kegiatan SEAMEX.

Pada September 2019 ini, akan hadir sebuah kegiatan musik yang cukup menarik. SEAMEX (Southeast Asia Education Music Exchange) merupakan sebuah kegiatan tahunan yang diselenggarakan oleh negara-negara di Asia tenggara. Kegiatan ini bertujuan untuk menciptakan ‘market place’ di bidang musik yang masih dinilai belum terbentuk (atau terselenggara dengan baik) dalam lingkup Asia tenggara. SEAMEX tahun ini akan hadir di Yogyakarta pada 6, 7, dan 8 September di Jogja National Museum.

Rangkaian kegiatan SEAMEX di antaranya ialah konferensi yang membahas tentang keragaman musik-musik di Asia Tenggara, penampilan dari proyek kolaborasi musisi se-Asia tenggara yang terangkum dalam Asian Youth Orchestra, pameran musik, diskusi tentang manajemen dan industri musik, serta pertunjukan musik.

Dengan terselenggaranya SEAMEX ini, besar sekali harapan atas terciptanya kesempatan-kesempatan emas, yakni untuk dapat menjalin hubungan, memperdalam ilmu, serta memunculkan ide dan peluang baru. SEAMEX yang ketiga kalinya ini (sebelumnya di Malaysia pada 2017, dan di Thailand pada 2018) mengusung tema ”Music, Sphere, and Interconnected Generation”.

Bagi pelaku industri, menghadiri kegiatan SEAMEX tentu akan semakin membuka peluang baru pada ranah industri musik. Banyak hal yang akan didapatkan selain ilmu, ide, dan juga jaringan. Diharapkan industri musik tanah air tidak menjadi ‘katak dalam tempurung’ melainkan mampu berkolaborasi, memperluas pangsa pasar, serta memunculkan produk-produk baru di bidang musik. Apalagi saat ini sudah tidak ada pelarangan dan pembatasan terkait musik seperti era Presiden Soekarno, sehingga lebih leluasa untuk dapat menciptakan hal-hal baru dan progresif.

Baca juga:  PALE SKIES Sebagai Grup Duo Ambient Meramu Ulang Nothing’s Gonna Hurt You Baby

***

“SEAMEX: Ruang Harmonisasi Masyarakat Musik” oleh Mukhlis Anton Nugroho

Bukan menjadi sebuah fenomena baru lagi ketika melihat kemunduran dunia musik khususnya wilayah Indonesia. Kenapa disebut mundur, karena belakangan ini terjadi fenomena keseragaman musik yang berkembang di Indonesia. Demi menuruti pasar, musik justru mempersempit pasar. Ya, semua jadi seragam dan pasar musik pun juga ikut menjadi satu warna saja. Musik seakan-akan hilang rohnya dalam berdialektika dengan penyuara idealis dari sang pencipta musik. Musik justru sedang dimabuk nominal.

Helatan SEAMEX 2019 -Southeast Asia Music Education Exchange di YogyakartaBukan untuk mencari siapa yang salah, tetapi bagaimana solusi terbaik dicari supaya musik kembali berarti. Bukan menyoroti genre musik tertentu mengingat musik di Indonesia sebenarnya kemajuannya sudah sangat pesat dan sangat beragam warna musiknya. Hanya saja pasarnya yang belum maksimal kinerjanya dan masyarakat perlu disadarkan akan hal itu. Jangan sampai pasar yang belum sehat itu akhirnya mempengaruhi keberagaman musik di Indonesia menjadi seragam. Tentunya dibarengi dengan mengedukasi masyarakat dengan cara membuka ruang- ruang diskusi, sarasehan, ngobrol santai, hingga seminar supaya semua lapisan bisa terjangkau dan tidak berhenti hanya di kalangan akademisi saja. Di kalangan pencipta musik atau senimannya juga perlu memikirkan apa yang dia ciptakan. Lebih menarik ketika pencipta musik bisa mendialogkan apa yang ia ciptakan sehingga proses edukasi di sini bisa berjalan dengan maksimal.

Mari kita coba melihat tiga elemen yang krusial dan saling berhubungan dalam lingkup musik yang ada saat ini. Tiga elemen itu adalah (1) pelaku musik (seniman, pencipta musik, dll), (2) Event Organizer (semua kelompok, lembaga, PT, CV, dll, dari yang berbadan hukum hingga komunitas-komunitas kecil), dan (3) penikmat musik (dari pemakai jasa Event Organizer hingga masyarakat umum). Tiga elemen krusial yang seharusnya terhubung dengan romantis ini dari dulu hingga sekarang masih saja menunjukkan gelagat hubungan yang tidak harmonis dan saling menekan.

Lagi-lagi bukan berniat mencari salah dan benar, ketidak harmonisan itu bisa kita lihat melalui fenomena-fenomena “negosiasi” yang merugikan salah satu elemen. Sebagai contoh, pelaku musik yang dalam tanda kutip kurang produktif atau hanya memiliki beberapa karya musik saja. Tentu di sini Event Organizer dan penikmat musik tidak akan memilih karya si pelaku musik ini untuk dipilih. Tinggal bagaimana negosiasinya, atau cari pelaku musik lain. Yang menjadi masalah ketika banyak pelaku musik yang kurang produktif sehingga membuat tidak banyak pilihan sebagai pengisi acara, maka yang dirugikan adalah Event Organizer yang akan menurunkan kualitas acara musiknya. Ya, menjadi pelaku musik juga perlu produktif untuk menunjukkan kualitasnya supaya orang akan memilihnya.

Baca juga:  Band Letto Micara Hidup Resapi Gamelan dan Bermain Jamuran

Contoh lain melihat dari ranah Event Organizernya, apabila kita lihat elemen ini juga mempunya pengaruh sangat kuat dalam dunia musik. Ia bisa memikirkan yang tidak bisa dilakukan oleh pelaku musik, khususnya dalam hal membuat acara musik. Bahkan Event Organizer juga bisa memberi asupan kepada penikmat musik, dalam hal ini pengguna jasa Event Organizer. Sebagai contoh penikmat musik menggunakan jasa Event Organizer untuk acara musiknya, persoalan yang kerap terjadi musik justru diminta menyesuaikan acara tersebut. Di sini kadang terjadi negosiasi yang kurang sehat seperti penurunan kualitas musik demi menuruti pangsa pasar dalam hal ini penikmat musik. Hal ini terjadi juga pengaruh kurangnya edukasi musik terhadap penikmat musik. Pada fenomena ini Event Organizer seperti penghubung antara penikmat musik dan pelaku musik. Nah, di sinlah, seperti yang sudah dikatakan di atas, bahwa Event Organizer juga bisa memberi asupan edukasi kepada penikmat musik. Lebih lanjut lagi Event Organizer juga bisa memberi masukan kepada pelaku musik terkait kondisi pasar, sehingga
bisa menjadi referensi memuat musik tanpa menurunkan kualitas musiknya.

Penikmat musik tentu menjadi elemen penting karena mereka adalah jantungnya pasar musik. Tentu pelaku musik juga ingin karyanya diapresiasi, tentu Event Organizer juga terkadang bekerja dengan penikmat musik, dan pasar yang sehat juga butuh menyehatkan jantungnya. Ya, masih banyak orang yang belum bisa menghargai karya seni, termasuk musik.

Melihat pentingnya menjaga keharmonisan tiga elemen ini, SEAMEX diselenggarakan dengan berbagai isian acara yang berkualitas. Tiga elemen ini semua ada di SEAMEX, bahkan lebih dari itu. Program-program seperti seminar, workshop musik, musik talk yang mendatangkan pelaku festival musik, hingga pementasan musik digelar untuk mengharmoniskan masyarakat musik di Indonesia hingga Asia. Pelaku musik bisa mementaskan karyanya, bisa mengapresiasi musik orang lain, bisa mencari ide dan gagasan membuat musik, dan masih banyak lagi. Event Organizer bisa mengapresiasi musik, bisa melihat pasar, bisa belajar tentang event, dan lain sebagainya. Penikmat musik tentu bisa menikmati musik, bisa mendapat edukasi tentang musik, bisa melihat bagaimana perkembangan musik yang sudah terjadi, dan lain sebagainya. Di SEAMEX semua terkoneksi dengan baik sehingga pasar pun menjadi sehat. Pasar tidak melulu berorientasi terhadap uang, pasar juga berbicara jaringan dan konektivitas, pasar juga berbicara melimpahnya ide dan gagasan membuat musik, dan semua ada di SEAMEX. []

Simak pawarta lain terkait , atau adicara menarik lain yang diunggah oleh Haiki Murakabi


Ingin mengunggah dan mewartakan kegiatan serta acaramu di Situs WARTA AGENDA ACARA | PAWARTA ADICARA JARINGACARA?
Klik Registrasi dan atau Login! Baca juga Syarat & Ketentuannya!

Sila Siarkan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *