Pawarta Adicara!

JARINGACARA sebagai media publikasi memiliki keinginan turut memberi warna dalam mengabarkan segala agenda acara seni budaya, pariwisata, warta, cuaca, juga menebarkan canda-tawa.
Perihal kontak kerjasama publikasi pun media partner, sila simak “Syarat dan Ketentuan“.

HIGHLIGHT
   
Drama Musikal 'Kargo' oleh SD Tumbuh Yogyakarta

SD Tumbuh 2 Yogyakarta Persembahkan Drama Musikal ‘Kargo’ Sebagai Aksi Nyata Penyelamatan Hutan dan Habitat Hewan


Diunggah oleh Jaring Acara pada tanggal 28 November 2019   (254 Readers)

Setiap hari, kita kehilangan area hutan sebagai habitat asli hewan di Indonesia yang luasnya tercatat kurang-lebih 21 hektar, yang itu bisa disetarakan dengan luas dari area Gembiraloka Zoo di Yogyakarta.

Drama Musikal ‘Kargo’ dari SD Tumbuh 2 Jogjakarta hadir demi menanggapi keadaan hutan yang seolah tiada perbaikan tersebut. Kebakaran hutan dan penebangan liar -yang dilanjutkan dengan konversi hutan sebagai area perkebunan industri dan pertambangan- memaksa hewan-hewan untuk keluar dari habitatnya dan masuk ke pemukiman warga. Hingga selanjutnya konflik antara hewan dengan warga seringkali berakhir dengan perburuan hewan yang dianggap mengganggu warga.

Penemuan Orangutan yang dikurung alam kondisi terluka parah akibat dianiaya warga di Sumatera dan Kalimantan merupakan dampak dari ketidaktahuan masyarakat seputar kita, sehingga dengan dalih mempertahankan diri, penganiyaan hewan tetap berlangsung.

Di sisi lain, komodo di Pulau Padar juga telah mengalami kepunahan. Padahal sebagaimana diketahui, Pulau Padar merupkan salah satu tempat yang menjadi bagian dari Kawasan Taman Nasional Komodo. Komodo-komodo di tempat itu mati kelaparan karena rusa yang menjadi mangsa-buruan mereka telah diburu secara massif oleh manusia-pemburu. Tak pelak, habitat komodo  di Indonesia saat ini semakin terancam keberadaannya, karena yang tersisa hanya tinggal di Pulau Komodo, Pulau Rinca, dan Pulau Gili Motang.

Pun yang terjadi dengan habbitat burung Cenderawasih. Dalam kurun waktu tujuh tahun hingga 2012, terihtung jumlah burung Cenderawasih menurun drastis hanya tinggal seperlima dari jumlah yang ada sebelumnya, yaitu di angka 7.500 ekor yang tersebar di seluruh hutan Papua. Sarang yang rusak sehingga mengakibatkan tak sedikit burung cenderawasih mati dan telur-telur juga pecah sering ditemukan di area penebangan hutan sekaligus area pembukaan hutan, yang itu semua tak lain demi memenuhi kebutuhan konversi lahan sebagai area-pemukiman penduduk serta lahan-kebun kelapa sawit.

Pada akhirnya hal yang bisa dipahami adalah, bahwa dari khasanah kurangnya lahan-hutan sebagai habitat hewan ini tentu saja menjadi penyebab dari bertambahnya ancaman yang dialami hewan-hewan di Indonesia. Hal itu semakin lengkap dengan tingkah-polah manusia yang justru semakin banyak yang gemar melakoni perburuan serta perdagangan hewan ilegal dan sekaligus penyelundupan hewan, yang tentu saja hal itulah yang menjadi ancaman bagi banyak habitat hutan. Di antaranya adalah ancaman terhadap orang-utan sejak tahun 1869, ancaman terhadap cenderawasih sedari tahun 1930, dan perburuan rusa sebagai pakan komodo di tahun 2018.

  • Penyelamatan Hutan

Langkah-langkah penyelamatan hutan hingga saat ini memang telah berlangsung dan sudah dilakoni banyak pihak. Di antaranya yaitu melalui kolaborasi antrara pemerintah, kelompok masyarakat pecinta lingkungan, dan juga lembaga swadaya masyarakat nasional serta internasional.

Baca juga:  Panggung Makbyarr Festival Kesenian Yogyakarta 29 Terasa Istimewa

Meski memang bisa dikatakan belum maksimal, namun upaya itu bukan tanpa hasil. Adalah jumlah populasi komodo selama lima tahun terakhir bisa menjadi stabil sejumlah 5.673 ekor, orangutan sebanyak 60.000 ekor, dan cenderawasih ada di angka 7.500 ekor dalam habitatnya yang terus berkurang.

Menjadi ironis adalah ketika upaya itu dilakukan, namun di sisi lain, konversi lahan juga terus mendesak sehingga menjadi penyebab serius pengurangan hutan habitat hewan pada setiap harinya. Terhitung ada 21 hektar luas hutan sebagai habitat dari hewan-hean di nusantara ini terus dikonversi setiap harinya. Tak pelak, populasi binatang-binatang langka inipun terus terancam secara serius.

Menyimak kondisi hutan dan juga melihat kehidupan masyarakat sekaligus pihak penguasa yang semakin tak karuan arah-tujuan dalam melindungi hutan beserta isinya, tentu hal itu menjadikan semakin banyak orang yang harus disadarkan dan diberitahu, bahkan juga dikritisi pun digugat. Tak lain, hal itu dilakukan demu menumbuhkan inisiatif penyelamatan dan menggalang kolaborasi lebih luas, sehingga keseimbangan alam dapat dipertahankan dan lingkungan pun dapat terus lestari.

Drama Musikal 'Kargo' oleh SD Tumbuh Jogjakarta

  • SD Tumbuh 2 Jogja Dalam Penyelamatan Hutan Habitat Hewan

Menyikapi semakin kacaunya keberadaan hutan habitat hewan sebagaimana terpaparkan di atas, siswa-siswi SD Tumbuh 2 Yogyakarta tergerak untuk mensosialisasikan masalah ini, agar lebih banyak lagi masyarakat yang sadar bahwa setiap hari hutan habitat hewan di Indonesia ini semakin berkurang.

Sosialisasi masalah hutan habitat hewan di Indonesia yang semakin kacau keberadaannya, baik akibat pembakaran pun perambahan hutan -atas nama HGU, HPH, dan lainnya- tersebut bakal disajikan oleh SD Tumbuh 2 Jogjakarta melalui Drama Musikal ‘Kargo’.

Drama Musikal ‘Kargo’ mempresentasikan habitat-habitat hewan yang pada saat ini secara terus-menerus mengalami pengurangan dan bahkan hidup dalam penuh ancaman. Ia disajikan melalui cerita perjalanan satu keluarga, yang berniat mengembalikan para penghuninya menuju ke habitatnya masing-masing. Baik itu yang berujud orangutan, berupa komodo, ataupun cenderawasih. ke habitatnya masing-masing.

Baca juga:  Erasmus Huis Mempersembahkan Konser Tour Indonesia "Altin Gün" yang Merupakan Grup Musik Bergenre Turki Psychedelic Folk dari Belanda

Aksi nyata penyelamatan hutan habitat hewan dalam bentuk Drama Musikal ‘Kargo’ ini diselenggarakan oleh SD Tumbuh 2 – Jogja Educational Spirit. dengan alamat di Jl. Amri Yahya No. 1, Gampingan, Yogyakarta. Hal ini dilakukan tak lain adaah sebagai bagian dari Jogja Educational Spirit, yang mengedepankan pengembangan nilai-nilai budaya lokal untuk kemudian bisa bersaing dalam kancah internasional.

SD Tumbuh 2 Yogyakarta merasa perlu memiliki keistimewaan dalam menjalankan peran sebagaimana tersebut di atas. Dan SD Tumbuh 2 Jogjakarta juga memandang bahwa seni sebagai salah satu cabang ilmu pengetahuan menjadi dasar yang bisa dijadikan sarana guna membangun karakter dari pembelajaran. Seni yang juga mengandung nilai budaya, sejarah, dan ilmu pengetahuan sangat tepat ketika digabungkan menjadi satu, guna menumbuhkan keistimewaan SD Tumbuh 2 Yogyakarta ini.

  • Sekolah Inklusivitas dan Membawa Kearifan Lokal

Sebagai salah satu sekolah di Yogyakarta yang mengusung inklusivitas serta kearifan lokal dan berwawasan global dengan berusaha menanamkan nilai-nilai menghargai dan menerima setiap karakteristik dari individu dengan segala dinamikanya, maka SD Tumbuh Yogyakarta merasa terpanggil untuk menanggapi segala kondisi yang ada di seputar kita. Dan dengan menggunakan pendekatan pembelajaran inquiry project, SD Tumbuh 2 Yogyakarta mendorong anak-anak untuk memaknai setiap proses belajar secara berkesinambungan.

Baca juga:  Ajakan untuk Melintasi “Djembatan Gondolaju” dalam Teater FKY 2019

Di samping itu, SD Tumbuh 2 juga memiliki keunikan dalam menjalankan kegiatan pembelajaran di sekolah, dan salah satunya mengaitkan dengan isu yang sedang berkembang saat ini. Dan tepat kiranya Drama Musikal ‘Kargo’ ini dihadirkan, pasalnya, pada saat ini, SD Tumbuh 2 juga sedang mengambil dan menggaungan tema ‘Animals‘ sebagai suatu langkah nyata dalam merespon isu kepunahan hewan yang ada di Indonesia.

Langkah nyata lain yang juga telah diambil guna merespon isu kepunahan hewan adalah bekerja sama dengan Centre for Orangutan Protection (COP), salah satu organisasi nirlaba yang berkonsentrasi pada menyelamatkan Orangutan di berbagai daerah di Indonesia.

Kerja sama antara SD Tumbuh 2 Yogyakarta dengan Centre Orangutan Protection tersebut antara lain adalah;

  • Edukasi dan sosialisasi tentang Orangutan
  • Penyaluran donasi untuk Orangutan pada kegiatan Tumbuh Fair

Sementara itu di lain hal terdapat pula ‘Tumbuh Fair’ di lingkup SD Tumbuh 2 Yogyakarta yang merupakan kegiatan guna memfasilitasi anak-anak untuk mempresentasikan hasil belajar mereka selama satu semester.

Tumbuh Fair ini menjadi salah satu bahan penilaian keberhasilan pembelajaran anak-anak, yang setiap proses pembelajarannya didasarkan pada tiga topik utama;

  • who we are
  • Indonesia
  • our earth

Terkait dengan ‘Tumbuh Fair’ inilah kali ini dihadirkan Drama Musikal ‘Kargo’, yang merupakan pementasan sebagai wujud satu aksi nyata penyelamatan hutan habitat hewan, yang tentu saja di dalamnya mempresentasikan habitat-habitat hewan yang saat ini terus berkurang dan penuh ancaman. []

Drama Musikal ‘Kargo’ Sebagai Aksi Nyata Penyelamatan Hutan dan Habitat Hewan
Waktu Rabu 11 Desember 2019 | 19.00 – 21.00WIB
Tempat Concert Hall, Taman Budaya Yogyakarta
Jl. Sriwedani, Ngupasan, Gondomanan
Kota Yogyakarta
Tiket Masuk Pongo: Rp25.000,-
Varanus: Rp35.000,-
Paradisa: Rp45.000,-
Contact Person Wiji: 0878 4317 5267
Haky: 0857 4714 0531
Penampil SD Tumbuh 2 Yogyakarta

Simak pawarta terkait , atau adicara menarik lain oleh Jaring Acara


Ingin mengunggah dan mewartakan kegiatan serta acaramu di Situs WARTA AGENDA ACARA | PAWARTA ADICARA JARINGACARA?
Klik Registrasi dan atau Login! Baca juga Syarat & Ketentuannya!

Sila Siarkan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *