Pawarta Adicara!

JARINGACARA sebagai media publikasi memiliki keinginan turut memberi warna dalam mengabarkan segala agenda acara seni budaya, pariwisata, warta, cuaca, juga menebarkan canda-tawa.
Perihal kontak kerjasama publikasi pun media partner, sila simak “Syarat dan Ketentuan“.

HIGHLIGHT
   
Saparan Bekakak Ambarketawang

Tradisi Saparan Bekakak Ambarketawang Gamping Sleman Dilakukan Guna Mengenang dan Menghargai Abdi Dalem Wirasuta


Diunggah oleh Jaring Acara pada tanggal 19 Oktober 2019   (141 Readers)

Saparan Bekakak menjadi helatan rutin setiap tahun yang merupakan tradisi dari masyarakat Desa Ambarketawang, Kecamatan Gamping, Kabupaten Sleman, Yogyakarta. Ia digelar pada setiap hari Jumat Legi, bulan Sapar dalam penanggalan Jawa (Sultan Agungan).

Saparan Bekakak Ambarketawang Gamping ini digelar dengan beberapa rangkaian acara, yang antara lain adalah Malam Widodaren dan Kirab serta Upacara. Untuk tahun 2019, gelaran Saparan Bekakak ini dilakukan pada tanggal 17 dan 18 Oktober 2019.

Ikhwal Upacara Saparan Bekakak Ambarketawang ini dapat dikatakan bahwa ia merupakan ritual penyembelihan bekakak , yaitu wujud boneka pengantin menyerupai manusia  dengan posisi duduk bersila yang dibuat dengan bahan dasar tepung ketan serta gula merah yang dijadikan juruh.

Untuk proses pembuatan bekakak yang biasanya memakan waktu kira-kira 8 jam tersebut, hingga kini para pelakunya seolah sudah diatur secara alami dan tak boleh dilanggar. Yaitu bahwa mereka yang menyiapkan bahan mentahnya tetap para wanita, sementara sebagai pelaku yang mengerjakan pembuatan bekakak itu sendiri dilakukan khusus oleh mereka para kaum adam.

Kirab Saparan Bekakak Ambarketawang

  • Pembuatan Bekakak Gamping

Pada saat proses pembuatan tepung sebagai bahan Bekakak itu diiringi pula dengan tetabuhan gejog lesung ataupun klothekan ragam irama berbeda. Di antaranya adalah irama kebogiro, thong-thongsot, dhengthek, wayangan, kutut manggung, dan masih banyak lagi. Ketika proses pembuatan tepung dengan cara menumbuk beras itu telah selesai dilakukan, selanjutnya proses pembuatan bekakak dimulai. Bahkan bukan itu saja, karena ada pula pembuatan gendruwo, kembang mayang, sekaligus pengadaan sesaji.

Jumlah pembuatan Bekakak adalah dua pasang. Sedangkan ikhwal bentuk dari Bekakak, sepasang laki-laki dan perempuan dibentuk menyerupai pengantin pria dan pengantin wanita. Kemudian satu pasang pengantin bekakak tersebut dirias dengan gaya Mataram-Surakarta, dan sepasang lainnya bergaya Mataram-Yogyakarta.

Secara rigit dapat dilihat bahwa bekakak berujud pengantin laki-laki dengan gaya Surakarta dihiasi ikat kepala dan juga bulu-bulu, sementara pada leher nampak berkalungkan selendang warna merah, serta kalung sungsun berkain bangun tulak, Pada bagian perut nampak sabuk warna biru dan iapun mengenakan keris beruntaikan bunga melati serta kelat bau. Untuk bekakak berujud pengantin perempuan gaya Surakarta ini wujudnya mengenakan kemben warna biru, leher berkalungkan selendang merah dan kalung sungsun. Perihal penampakan pada wajah bekakak pengantin perempuan ini dipaes, gelung diberi bunga-bunga dan mentul, sedangkan pada bahu diberikan kelat bahu dan memakai subang.

Baca juga:  Program dan Kegiatan Festival Kebudayaan Yogyakarta 2019

Pada bekakak dengan wujud pengantin laki-laki dengan gaya Mataram-Yogyakarta, ia dihias menggunakan penutup kepala kuluk warna merah, pada lehernya terlihat kalung selendang warna biru dan kalung sungsun. Pun dengan bagian perut, berkain kain lereng ia nampak mengenakan sabuk biru dengan slepe. Sementara pada perempuannya, mengenakan kemben hijau dan juga berkalung selendang biru.

Upacara Saparan Bekakak Ambarketawang dengan berbagai rangkaian termasuk penyembelihan Bekakak itu dilakukan sebagai cara warga setempat dalam menghargai jasa Kyai Wirasuta dan Nyai Wirasuta, yaitu sepasang manusia yang sudah setia mengabdi di pesanggrahan Ambarketawang hingga ajal menjemputnya. Dapat diketahui bahwa kematian dari kedua sosok tersebut terjadi pada bulan Sapar, tepatnya ketika terjadi musibah longsornya Gunung Gamping di dekat pesanggrahan Ambarketawang. Akibat dari peristiwa tersebut, selanjutnya Sri Sultan Hamengkubuwono I mengutus untuk mencari kedua jasad tersebut. Namun sayang, jasad dari keduanya tidak ditemukan.

Kiai Wirosuto adalah ‘abdi dalem penangsong’ alias ‘abdi yang tugasnya memayungi’ Sri Sultan Hamengku Buwana Pertama. Pria itulah sebagai pembawa payung kebesaran pada saat Sri Sultan Hamengku Buwana I berada di Keraton (pesanggrahan) Ambarketawang pada masa kraton belum berpindah menuju lokasi-keraton yang baru. Bersama keluarganya, beliau tetap bertempat tinggal di Gamping, yang selanjutnya juga dianggap sebagai cikal bakal penduduk Gamping.

Baca juga:  Public Health Expo 12 BEM IM FKM Universitas Indonesia Tahun 2019

Kirab Saparan Bekakak Ambarketawang Gamping

  • Malam Midodareni dan Kirab Bekakak Ambarketawang

Malam sebelum dilakukannya upacara Saparan Bekakak Ambarketawang ini agendanya dimulai dengan melaksanakan acara ‘Malam Widodaren’. Hal ini dilakukan karena meski bekakak ini wujudnya hanya pengantin tiruan, akan tetapi menurut adat dan tradisi perlu juga memakai upacara midodareni, yang merupakan pengejawantahan dari masa-masa peralihan “widodari” alias bidadari. Ada yang tersirat dan dipercaya di tahpan ini, yaitu bahwa pada malam midodareni para bidadari turun dari surga guna memberi restu pada pengantin, termasuk pengantin bekakak tersebut. Tahap upacara pada malam mmidodareni ini berlangsung satu hari sebelumnya, yaitu pada hari kamis malam sekira pukul 20.00 WIB.

Proses malam midodareni adalah diberangkatkannya dari Gamping Kidul menuju komplek balai desa Ambarketawang, dua pasang bekakak pengantin dan sebuah jodhang yang telah diisi sesaji dan tak ketinggalan sepasang gendruwo dan wewe, serta uba-rampe lain yang menyertainya. Sesampainya di komplek Balai Desa Ambarketawang, kemudian piranti dan segala ubarampe di atas diserahkan langsung kepada Ki Lurah ataupun Kepala Desa Ambarketawang. Kemudian, selepas acara penyerahan tersebut, dua pasang bekakak tersebut diinapkan di balai desa selama satu malam, dan selanjutnya pada keesokan siang-sore harinya diarak kembali hingga kemudian disembelih di area Gunung Gamping.

Pada prosesi itulah ada beberapa upacara yang dilakukan sebagai rentetan ragam rangkaian dari ‘Upacara Saparan Bekakak Ambarketawang’ ini.

Sekira pukul 14.00 WIB pada hari Jumatnya, seluruh peserta kirab dan beberapa kontingen perwakilan berkumpul di area lapangan Ambarketawang, Gamping, Sleman, yang lokasinya berada di seputar Jalan Wates Yogyakarta..

Sebagai awal prosesi, Upacara Saparan Bekakak Ambarketawang tersebut dimulai dengan fragmen tari dan juga pemecahan kendi. Setelah itu dilanjutkan dengan pelepasan burung merpati putih, kemudian kontingen peserta kirab mulai mengarak dan mengikuti dua pasang boneka pengantin bekakak yang ditandu dan dibawa berjalan oleh para warga menuju petilasan di Gamping Kidul dan petilasan Gunung Gamping di Tlogo (yang letaknya ada di samping Universitas Jendral Achmad Yani) guna melakukan penyembelihan Bekakak.

Baca juga:  Selain Lomba Nglarak Blarak, Menoreh Art Festival Tahun 2019 Hadirkan Pasar Kangen di Taman Budaya Kulon Progo

Dapat diketahui bahwa dua Bekakak yang biasanya dibuat oleh masyarakat Pedukuhan Gamping Kidul tersebut juga dikawal dengan kontingen bregada (prajurit) utama serta diikuti patung raksasa berujud gendruwo, wewe, dan ogoh-ogoh, yang masing-masing juga ditandu para warga peserta kirab.

Para peserta yang turut mengarak Bekakak tersebut adalah beberapa kelompok warga sebagai wakil satu entitas, baik entitas kelompok komunitas pun entitas kelompok sosial. Di antaranya adalah Bregada Mejing Kidul, Delingsari, Gamping Kidul, Gamping Lor, dan berbagai bregada dan peserta kirab budaya. Mereka menuju petilasan di Gamping Kidul dan petilasan Gunung Gamping di Tlogo untuk dilakukan penyembelihan bekakak.

Prosesi arak-arakan peserta kirab pada Saparan Bekakak Ambarketawang yang sambung-menyambung -tak jauh berbeda dengan pawai tersebut tentu saja membuat area jalan yang dilewatinya macet. Apalagi tak sedikit masyarakat juga turut berduyun-duyun di segala sudut dan sisi jalan guna menyaksikannya. Beberapa ruas jalan yang biasa dilewati oleh kendaraan umum tersebut biasanya sudah ditutup dan alurnya sudah dialihkan pada siang hari, dan apabila berjalan lancar, baru bakda Magrib jalan-jalan tersebut akan dibuka normal seperti biasanya.

Setelah melalui proses kirab dan diarak oleh ratusan peserta serta disaksikan ribuan masyarakat umum, maka kemudian Bekakak dibawa ke dua titik tempat penyembelihan. Yaitu di bekas pesanggrahan Gunung Gamping dan Dukuh Gamping Kidul. Prosesi penyembelihan Bekakak dilakukan satu persatu secara bergantian, yang kemudian setelah selesai berlanjut dengan dilakukannya pembagian beragam makanan pada gunungan yang diarak. []

Simak pawarta terkait , atau adicara menarik lain oleh Jaring Acara


Ingin mengunggah dan mewartakan kegiatan serta acaramu di Situs WARTA AGENDA ACARA | PAWARTA ADICARA JARINGACARA?
Klik Registrasi dan atau Login! Baca juga Syarat & Ketentuannya!

Sila Siarkan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *