Pawarta Adicara!

JARINGACARA sebagai media publikasi memiliki keinginan turut memberi warna dalam mengabarkan segala agenda acara seni budaya, pariwisata, warta, cuaca, juga menebarkan canda-tawa.
Perihal kontak kerjasama publikasi pun media partner, sila simak “Syarat dan Ketentuan“.

HIGHLIGHT
   
Pukat Pikat Asia Biennale Jogja di Taman Budaya Yogyakarta

Biennale Jogja XV Hadirkan ‘Pukat Pikat Asia’ di Taman Budaya Yogyakarta


Diunggah oleh Rika Purwaka pada tanggal 27 Oktober 2019   (1.072 Readers)

Taman Budaya Yogyakarta menjadi salah satu venue Biennale Jogja XV yang memamerkan karya dari seniman-seniman Indonesia sekaligus seniman Asia Tenggara. Di antaranya adalah Popok Tri Wahyudi, Studio Malya, Muslimah Collective, Arisan Tenggara, Nguyen Thi Thanh Mai, Wisnu Ajitama dan Tran Luong.

Dan Pukat Pikat Asia menjadi salah satu sajian di Venue Taman Budaya Yogyakarta pada gelaran Biennale Jogja Equator #5 tahun 2019 ini, mendampingi Kids Corner, serta pojok merchandise.

Pukat Pikat Asia di Venue TBY merupakan bentuk presentasi dari program Resource Room yang menjadi ruang persinggahan para pengunjung untuk duduk, betemu, saling mengenal dan bertukar cerita, atau sekadar beristirahat. Di sini pengunjung akan dimanjakan dengan berbagai sajian khas Asia Tenggara.

Pukat Pikat Asia yang digelar di Taman Budaya Yogyakarta ini tercipta sebagai hasil kerjasama antara Khairunnisa (Biennale Jogja), Niki Ariestyanti, dan RAR Editions (Alwan Brilian Dewanta, Tyasanti Kusumo, dan Faida Rachma).

Dapat diketahui bahwa RAR Editions adalah sebuah kolektif yang berawal dari produksi zine dan kemudian berkembang untuk berfokus pada aktivitas penelitian menggunakan arsip, yang kemudian akan diproses untuk didistribusikan; baik secara isu, pengetahuan, dan penciptaan diskusi. Praktik yang kemudian dikembangkan adalah dengan menggunakan identitas visual, performance art, percetakan, dan publikasi.

Pukat Pikat Asia Biennale Jogja TBY

Pukat Pikat Asia di Biennale Jogja ini juga menyediakan informasi terkait Asia Tenggara, yang di dalamnya juga terdapat buku-buku untuk bisa diakses dan dibaca, baik ditempat ataupun di area dapur. Selain itu, ditampilkan pula beberapa resep dan karya seniman, yang bertemakan makanan.

Baca juga:  Art Exhibition: Obstacles di Green Host Boutique Hotel Prawirotaman Yogyakarta

Di samping perihal informasi, Pukat Pikat Asia menghadirkan berbagai kegiatan pada akhir pekan untuk semakin akrab dan mengenal wilayah Asia Tenggara.

“Warung makan mudah ditemukan dan sudah menjadi praktik dalam keseharian banyak orang. Lapar, ingin istirahat, mau bekerja, atau sekadar bertemu dengan teman, warung makan merupakan persinggahan yang tepat. Anda bisa makan berat, makan ringan, atau hanya pesan minum pun, tidak menjadi masalah. Sebagai ruang persinggahan, kita percaya warung makan menyediakan kesempatan untuk berbagai pertukaran cerita melalui pertemuan.”

Sajian Kolektif

Pukat Pikat Asia ingin menyajikan informasi dan melihat kembali kolektif-kolektif apa saja yang berada di Asia Tenggara dalam bentuk kalender yang terpampang di dinding. Walaupun dekat, seringkali kita tidak mengenalnya. Kami kemudian mencoba merangkumnya dengan menambahkan beberapa peristiwa sejarah yang terjadi di tahun suatu kolektif berdiri. Kata kolektif akan lebih familiar terdengar dalam dunia seni rupa.

Sementara itu, kata kolektif sendiri berarti gabungan atau bersama-sama. Lantas, jika mencoba melihat kaitannya, apakah terciptanya suatu kolektif dapat dilihat sebagai bentuk respon bersama atas suatu situasi? Situasi di mana dalam sebuah lingkup sosial, tidak ada ekosistem yang mendukung bentuk-bentuk kerja tertentu; bisa karena pemerintah yang represif, praktik kerja yang belum begitu populer, atau terbatasnya ruang untuk berkumpul.

Baca juga:  Inilah Nama Kelompok Seni dan Seniman Mancanegara di Biennale Jogja EQUATOR #5 Tahun 2019

Sajian Lembaran

Pukat Pikat Asia juga menyediakan berbagai kebutuhan informasi terkait Asia Tenggara. Terdapat buku-buku yang bisa diakses untuk dibaca ditempat, yang merupakan koleksi dari IVAA (Indonesian Visual Art Archive), Gerak Budaya Jogja, dan PSSAT UGM (Pusat Studi Sosial Asia Tenggara). Buku-buku katalog dari seniman yang berpartisipasi di pameran pun juga dapat diakses di ruang ini. Tidak hanya itu, di areadapur, kami juga menampilkan beberapa resep dan karya seniman, yang bertemakan makanan.

Sajian Gambar Bergerak

Informasi yang coba disajikan dapat juga diakses melalui televisi yang kami hadirkan di ruangan. Pengunjung dapat memainkan beberapa pilihan piringan DVD; mulai dari lagu-lagu Asia Tenggara, video wawancara seniman, dan video arsip karya-karya seniman.

Sajian Permainan

Permainan dihadirkan bagi pengunjung yang ingin bersantai sambil mengasah pengetahuan yang dimiliki dengan mencocokan lembaran magnet kecil ke papan peta.

Pukat Pikat Asia Biennale Jogja di TBY

Sajian Aktivitas di Pukat Pikat Asia

Selain informasi, Pukat Pikat Asia akan menghadirkan berbagai kegiatan pada akhir pekan untuk semakin akrab dan mengenal wilayah Asia Tenggara.

  • Sabtu, 2 November 2019 (14.00-17.00): Baca dan Nyanyikanlah!
    Musik dan lagu seringkali mempermudah proses mempelajari bahasa asing.
    ‘Baca dan Nyanyikanlah!’ merupakan kegiatan mempelajari bahasa Thailand dan Vietnam melalui lagu-lagu dari daerah tersebut.
  • Sabtu, 9 November 2019 (15.00-18.00): Chatter cook
    Untuk mengenal lebih dekat, makanan merupakan jalan yang paling mudah.
    Melalui masak dan makan, kegiatan ini akan mengajak pengunjung untuk berdiskusi dan mengenal lebih jauh isuisu seputar wilayah Asia Tenggara.
  • Jumat, 15 November 2019 (14.00-20.00) dan Sabtu, 16 November 2019 (13.00-20.00): SEA Movie bersama Pusat Studi Sosial Asia Tenggara (PSSAT) UGM
    SEA Movie adalah program pemutaran film pendek yang berfokus pada wacana film di Asia Tenggara yang diinisiasi oleh Pusat Studi Sosial Asia Tenggara (PSSAT) UGM.
    Melalui pemutaran film dan diskusi, SEA Movie mendorong penonton untuk menyadari situasi sebagai komunitas bangsa-bangsa di Asia Tenggara dan untuk memahami masalah sosial di wilayah tersebut. Tahun ini, tema yang dipilih adalah “The Future of Humanity in Southeast Asia”.
    Terdapat lima sesi pemutaran setiap harinya dan akan diikuti dengan diskusi pada tiap akhir pemutaran.
    Catatan: kegiatan ini menggunakan ruang bioskop
  • Sabtu, 23 November 2019 (14.00-selesai): Print Show bersama RAR Editions
    Resource room yang telah dirancang bersama dengan RAR Editions akan direspon kembali melalui kegiatan “Print Show”. Diadaptasi dari karya Daido Moriyama ‘Printing Show’ (1974), RAR Ed menghasilkan sebuah performans transparansi proses pembuatan zine dengan memposisikan peserta sebagai editor. Setiap partisipan Print Show berhak memilih setiap konten arsip yang dipajang, sesuai dengan keinginan mereka. Kemudian piihan tersebut diurutkan dan ditata sehingga nantinya akan dicetak menjadi sebuah zine baru yang bisa dibawa pulang. [rpw]

Simak pawarta terkait , atau adicara menarik lain oleh Rika Purwaka


Ingin mengunggah dan mewartakan kegiatan serta acaramu di Situs WARTA AGENDA ACARA | PAWARTA ADICARA JARINGACARA?
Klik Registrasi dan atau Login! Baca juga Syarat & Ketentuannya!

Sila Siarkan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *