Pawarta Adicara!

JARINGACARA sebagai media publikasi memiliki keinginan turut memberi warna dalam mengabarkan segala agenda acara seni budaya, pariwisata, warta, cuaca, juga menebarkan canda-tawa.
Perihal kontak kerjasama publikasi pun media partner, sila simak “Syarat dan Ketentuan“.

HIGHLIGHT
   
Perupa Muda Terpilih dalam Biennale

5 Perupa Muda Terpilih dalam Biennale Jogja XV – 2019

Diunggah oleh Rika Purwaka, pada tanggal 5 Agustus 2019

Sejumlah 5 karya menjadi kandidat Perupa Muda Terpilih dalam Biennale Jogja tahun 2019 menyingkirkan 11 partisipant lain yang juga turut berkompetisi dalam pameran dalam rangka pre-event Biennale Jogja XV Equator #5 tahun 2019.

Bertempat di area PKKH Universitas Gadjah Mada Yogyakarta, para seniman dan atau kelompok seni telah menyajikan karya-rupanya sejak tanggal 01Agustus 2019, dan kemudian pada hari Senin sore tanggal 5 Agustus 2019 berbarengan dengan diagendakannya acara presscon, diumumkan pula 5 partisipant Perupa Muda Terpilih dalam Biennale Jogja tahun 2019.

Perupa Muda Terpilih dalam BiennaleSatu hari sebelumnya, yaitu Minggu 04 Agustus 2018, Dewan Juri pameran Platform Perupa Muda Biennale Jogja XV – 2019 telah melakukan proses seleksi atas 16 seniman/kelompok seni peserta pameran “Dari Batu, Air, dan Alam Pikir… Untuk Udara dan Kehendak Bebas Manusia”. Para juri tersebut adalah Faruk HT (budayawan), Nasir Tamara (akademisi), Nindityo Adipurnomo (seniman), Eko Prawoto (arsitek), dan Zamzam Fauzanafi (akademisi).

Para juri di ataslah yang akan mengantarkan sebanyak 5 dari 16 pekarya seni yang usianya masih muda (di bawah 35 tahun) itu menuju pameran utama Biennale. Pasalnya, dari 5 yang terpilih, mereka akan mendapatkan pendampingan untuk kemudian karyanya bisa bersanding dengan seniman-seniman lain, yaitu di pameran utaman Biennale Jogja XV Equator #5 2019, yang agendanya akan dihelat pada tanggal 20 Oktober hingga 30 November 2019.

Kriteria Perupa Muda Terpilih dalam Biennale Jogja

Dalam memilih 5 karya tersebut, para juri berpatokan pada beberapa kriteria, yaitu:

  1. Aspek visual (bahasa ungkap dan metafor) karya
  2. Kesesuaian antara karya dengan gagasan tentang pinggiran yang menjadi tema Biennale Jogja XV – 2019
  3. Keselarasan antara material yang digunakan dengan isu yang dibicarakan
  4. Kebaruan atau inovasi dalam segi visual, penggunaan material, dan perspektif terhadap isu
Baca juga:  Festival Jamu dan Wayang Kota Tersajikan di Hari Pertama Jogja Cross Culture

Selanjutnya, di bawah ini adalah nama-nama dari 5 Perupa Muda terpilih dalam Biennale Jogja tahun 2019, tak lain yang pada pemilihannya telah didasarkan pada ketentuan dari kriteria yang tersedia.

  • Wisnu Ajitama dengan karya berjudul Umbai-Umbai

Karya Wisnu dianggap berhasil menghadirkan tafsir perihal masalah yang diangkatnya dengan cukup kuat. Wisnu dapat melampaui kecenderungan untuk sebatas menghadirkan isu dan bisa menghadirkan perspektifnya atas isu tersebut.

Pemilihan medium karya dari tripleks juga menjadi hal penting sebab mampu menyentuh gagasan tentang pinggiran, pasalnya hal itu identik sebagai material untuk bangunan-bangunan di daerah-daerah kumuh perkotaan. Di samping itu, pilihannya untuk menghadirkan usus sebagai bentuk visual juga mampu jadi metafor yang baik bagi kebutuhan untuk makan.

  • Yosep Arizal dengan karya berjudul Tanggalan Mani

Karya Yosep memiliki perspektif yang menarik dalam mendekati naskah kuno. Alih-alih menghadirkan kembali apa yang di dalam naskah, Yosep memilih untuk bermain-main dengan naskah kuno tersebut. Laku ini bisa dilihat sebagai upaya untuk mempertanyakan pengetahuan, khususnya tentang isu seksualitas perempuan dan laki-laki.

Di titik itu, ada upaya untuk mempertanyakan wacana utama dari isu yang dihadirkan sekaligus menghadirkan alternatif atasnya. Secara visual, karya ini juga punya potensi yang sangat kaya untuk dikembangkan lebih jauh.

  • Meliantha Muliawan dengan karya berjudul Point of Interest

Karya Meliantha ini memiliki bahasa visual yang mudah dimengerti sebab jelas dan komunikatif. Pilihannya untuk menghadirkan kartu pos yang secara medium mulai terpinggirkan adalah pilihan yang menarik. Observasinya soal pariwisata Indonesia yang masih menggunakan citraan-citraan arus utama yang mengetengahkan eksotika Indonesia memperkaya karya ini.

Baca juga:  PARALLEL EVENT, The Real Wajah Seni Jogja

Sulit sekali, atau bahkan tidak mungkin, mendapatkan visual-visual daerah pinggiran dalam kartu pos pariwisata Indonesia. Di titik ini, pilihan Meliantha untuk melipat dan menutup kartu pos tepat di objek-objek utamanya jadi menarik sebab bisa dilihat sebagai laku intervensinya atas citraan arus utama tersebut. Selain itu, laku Meliantha untuk melukis ulang kartu pos-kartu pos yang ditemukannya menekankan kemampuannya dalam segi teknik kekaryaan.

  • Studio Malya (kelompok) dengan karya berjudul Have You Heard It Lately?

Karya Studio Malya ini mampu jadi metafora yang baik untuk rumor-rumor yang begitu banyak tentang peristiwa 65. Bahasa ungkap karya ini membuat orang bisa merasakan sisi ketidakjelasan narasi tragedi tersebut. Secara konten dan presentasi karya, ada banyak potensi yang masih bisa dieksplorasi dari karya ini.

Selain itu, pilihan Studio Malya untuk fokus pada perspektif anak muda atas peristiwa tersebut juga jadi menarik. Sudut pandang ini belum banyak digali oleh seniman-seniman lain yang juga menghadirkan soal 65 dalam karya- karyanya.

  • Pendulum (kelompok) dengan karya berjudul Rest In Fear

Perupa Muda Terpilih dalam BiennaleKarya Pendulum berhasil menghadirkan narasi tentang pinggiran yang lekat dengan persoalan tenaga kerja dan tidak jauh dari kehidupan sehari-hari. Karya ini dianggap mampu menghadirkan pertanyaan penting tentang masalah tenaga kerja lewat sesuatu yang “sederhana” macam kebutuhan pekerja untuk beristirahat.

Baca juga:  Pembukaan ARTJOG MMXIX 2019 oleh Sri Mulyani Indrawati

Di sini, karya ini mampu membuat publik melihat hal-hal yang mungkin terlewat dalam keseharian mereka. Intervensi ruang publik yang digunakan dalam karya ini punya potensi besar, sekaligus menantang, untuk dikembangkan lebih lanjut. Secara visual dan presentasi, karya ini juga punya banyak aspek menarik untuk dieksplorasi.

Sebanyak lima seniman dan atau kelompok seni terpilih, untuk selanjutnya berhak memperoleh tindak-lanjut perihal proses pendampingan guna mempersiapkan partisipasi mereka dalam pameran utama Biennale Jogja XV Equator #5 2019.

Sementara, untuk pameran utama Biennale Jogja XV Equator #5 2019 akan mengusung judul Do We Live In the Same PLAYGROUND? dengan fokus mengangkat tema pinggiran.

Do We Live In the Same PLAYGROUND? yang merupakan kalimat dengan fungsi sebagai judul merupakan satu pertanyaan dan ajakan untuk solidaritas. Pameran ini dimaksudkan sebagai pertanyaan tentang posisi seniman, audiens, dan pihak-pihak lain dalam berbagai isu yang dihadapi, kritik, atau sindiran terhadap praktik seni yang menjadikan dunia dan penderitaannya sebatas jadi medan permainan, konsep, dan inspirasi.

Maksud dan tujuan dari pameran adalah guna merespons pun menanggapi isu bersama sekaligus beragam persoalan yang berlangsung di konteks negara masing-masing , tentu saja, yang digerakkan oleh otoritas tertentu. []

Pressrelease: biennalejogja.org

Simak pawarta lain terkait , atau adicara menarik lain yang diunggah oleh Rika Purwaka


Ingin mengunggah dan mewartakan kegiatan serta acaramu di Situs WARTA AGENDA ACARA | PAWARTA ADICARA JARINGACARA?
Klik Registrasi dan atau Login! Baca juga Syarat & Ketentuannya!

Sila Siarkan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *