Pawarta Adicara!

JARINGACARA sebagai media publikasi memiliki keinginan turut memberi warna dalam mengabarkan segala agenda acara seni budaya, pariwisata, warta, cuaca, juga menebarkan canda-tawa.
Perihal kontak kerjasama publikasi pun media partner, sila simak “Syarat dan Ketentuan“.

HIGHLIGHT
   
Pertunjukan Musik Walayagangsa oleh Wahyu Thoyyib Pambayun

Pertunjukan Musik Walayagangsa oleh Wahyu Thoyyib Pambayun di PSBK Jogjakarta


Diunggah oleh Rika Purwaka pada tanggal 24 Oktober 2019   (1.094 Readers)

Padepokan Seni Bagong Kussudiardja atau dikenal pula dengan singkatan PSBK pada akhir pekan, tanggal 26 Oktober 2019 kembali mempersembahkan satu helatan rutin bertajuk Jagongan Wagen yang di tahun 2019 kali ini merupakan edisi ke delapannya.

Pertunjukan Musik ‘Walayagangsa’ menjadi sajian yang dipersembahkan oleh Wahyu Thoyyib Pambayun pada Jagongan Wagen yang di tahun 2019 ini telah menginjak edisi-putaran ke delapannya.

Pertunjukan ini memang tak jauh jaraknya dengan pertunjukan apik lain yang digelar pada hari Rabu 23 Oktober 2019, yaitu dengan menyajikan ‘Dance and Puppet’ garapan Duda Paiva Company. Hanya saja ketika pertunjukan ‘Dance and Puppet’ tersebut dipersembahkan di area Gedung Layang-Layang yang kini telah menjadi mode gedung Blackbox, maka untuk Jagongan Wagen tetap menempati area di Pendopo Diponegoro.

Jika ‘Dance and Puppet’ sebagai persembahan tiga sneiman dari negeri Belanda tersebut merupakan hasil kerjasama antara PSBK dengan Erasmushuis -Jakarta, maka untuk pertunjukan musik ‘Walayagangsa’ ini mendapat dukungan dari Padepokan Seni Bagong Kussudiardja yang bekerjasama dengan Bakti Budaya Djarum Foundation yang memiliki visi guna meneruskan investasi panjang dalam dukungan fasilitasi ruang presentasi karya seniman muda melalui program Jagongan Wagen.

Teater Boneka -Dance and Puppet

Siapa Wahyu Thoyyib Pambayun itu?

Wahyu Thoyyib Pambayun sebagai penyaji dalam Pertunjukan Musik ‘Walayagangsa’ ini adalah salah satu kandidat yang terpilih sebagai penerima Hibah Seni PSBK tahun 2019. Sebagai seniman, ia berupaya  membuat sebuah komposisi di luar pakem tradisi, artinya, ada upayanya untuk tetap melestarikan budaya, namun dengan cara mencari kemungkinan-kemungkinan baru.

Wahyu Thoyyib Pambayun ialah penerima Hibah Seni PSBK tahun 2019 yang lahir di Wonogiri, Jawa Tengah, yang merupakan sosok dalang, pemusik, dan sekaligus komponis gamelan Jawa.

Pada seni pedalangan, Wahyu Thoyyib pernah mendapatkan penghargaan sebagai penyaji terbaik dalam Festival Dalang Remaja tingkat Jawa Tengah tahun 2012. Sementara sebagai pemusik, ia telah terlibat dalam musik film “Setan Jawa” dengan dikomposeri oleh Rahayu Supanggah dan disutradarai Garin Nugroho. Kemudian sebagai komposer, karya-karyanya telah disajikan dalam beberapa acara. Di antaranya adalah pada helatan Bukan Musik Biasa, Festival Musik Tembi, Yogyakarta Gamelan Festival, International Gamelan Festival Solo, dan Pertemuan Musik Surabaya.

Baca juga:  Panggung Senyap di Tengah Keramaian Festival Kesenian Yogyakarta

Selain itu, Wahyu Thoyyib Pambayun juga pernah terlibat pada misi kesenian di beberapa negara, diantaranya yaitu di Singapura pada tahun 2011, di Perancis pada tahun 2012, di Tiongkok pada tahun 2014, di Jerman pada tahun 2018, dan ada 4 negara keterlibatannya di tahun 2017, ialah Australia, Belanda, Inggris, dan Skotlandia.

Apa itu Walayagangsa?

Walayagangsa terpantik dari bahasa Sanskerta yang dapat dibagi ke dalam dua kata, ialah Walaya dan gangsa. Walaya dapat doartikan sebagai pengembaraan ataupun penjelajahan, sementara Gangsa bisa didefinisikan sebagai gamelan.

Baca juga:  Informatics Exhibition "LIMITLESS"

Dari padanan kata yang terpaparkan di atas, maka dapat dimaknai bawa sebagai satu karya pertunjukan yang berisi lima komposisi dari eksperimentasi alat musik gamelan, karya ‘Pertunjukan Musik Walayagangsa’ ini diberangkatkan dari upayanya guna mencari kemungkinan-kemungkinan baru dari sesuatu yang selama ini telah menetap pada pakemnya.

Seperti yang dipaparkan oleh Thoyyib, rasa aman dan nyaman hanya akan menjadi senjata ampuh untuk membenamkan daya kritis seseorang dalam melihat hal-hal yang sedang berlangsung pada hidupnya. Bak katak dalam tempurung, wawasan dan pengetahuan pada saat itu memupuk rasa cepat puas sekaligus penolakan pada realita di luar diri yang terus bergerak. Fenomena semacam inilah yang hendak direfleksikannya melalui pertunjukan musik Walayagangsa di helatan Jagongan Wagen Edisi 8 tahun 2019 ini.

Lebih lanjut Thoyyib memaparkan bahwa melalui perjalanan artistiknya, dalam bermain gamelan dengan pakem tradisi adalah zona nyaman. Pakem-pakem untuk melanggengkan mitos masa lalu yang dicitrakan sebagai yang klasik, adiluhung, unggul tiada banding, serta diangankan sebagai budaya yang halus dan tinggi.

Baca juga:  Yogyakarta Komik Weeks 2019 Menghadirkan Patung Gundala Putera Petir Sebagai Tokoh 'Rekaan Komikus Mas Hasmi'

Menyikapi hal dengan konteks semacam tersebutkan di atas, maka “Walayagangsa” dihadirkan sebagai upaya keberanian Komponis dalam melakukan penjelajahan kemungkinan baru dalam penciptaan komposisi gamelan. Tak lain adalah ragam komposisi yang mewakili usaha manusia dalam melawan rasa aman dan nyaman. Upaya yang menjadi seruan bersama untuk mencari relevansi makna kekayaan budaya yang diwariskan. Sebab, berpasrah pada hal-hal yang dianggap selesai dan mapan, merupakan faktor minimnya usaha transformasi dan inovasi di akhir zaman.

Eksperimen yang dilakukan Wahyu Thoyyib dalam karya Walayagangsa ini cukup menarik. Pasalnya ia mencampurkan laras Slendro dan Pelog, mengacak susunan Bonang, memainkan tiga Rebab sekaligus diiringi Kecapi dan Gender. Atau bahkan lebih dari itu, ia juga memainkan dua vokal secara bersahut-sahutan. Hal semacam ini tentu saja tidak akan ditemui dalam permainan Gamelan tradisi yang sesuai pakem.

Dan meski ada di jalur yang tak biasanya sekaligus berada pada area di luar pakem, dalam mengerjakan karya dengan ragam komposisi dalam pertunjukan musik Walayagangsa di PSBK Jogja kali ini, Wahyu Thoyyib tetap berdiri mantap dan penuh tanggung jawab. Ia tetap mampu menghadirkan komposisi yang indah atau bahkan menantang daya apresiasi. [rpw]

Simak pawarta terkait , atau adicara menarik lain oleh Rika Purwaka


Ingin mengunggah dan mewartakan kegiatan serta acaramu di Situs WARTA AGENDA ACARA | PAWARTA ADICARA JARINGACARA?
Klik Registrasi dan atau Login! Baca juga Syarat & Ketentuannya!

Sila Siarkan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *