Pawarta Adicara!

JARINGACARA sebagai media publikasi memiliki keinginan turut memberi warna dalam mengabarkan segala agenda acara seni budaya, pariwisata, warta, cuaca, juga menebarkan canda-tawa.
Perihal kontak kerjasama publikasi pun media partner, sila simak “Syarat dan Ketentuan“.

HIGHLIGHT
   
Proses Alih Wahana Karya di Pergelaran Musikalisasi Sastra 2019

Proses Alih Wahana Karya di Pergelaran Musikalisasi Sastra 2019 Sebagai Proses Pembelajaran


Diunggah oleh Jaring Acara pada tanggal 22 September 2019   (480 Readers)

Proses alih wahana karya sebagaimana yang tersaji di Pergelaran Musikalisasi Sastra 2019 sejatinya telah banyak dilakukan oleh para pekerja kreatif, pelaku seni, pun pegiat kebudayaan yang ada di Indonesia, khususnya di Yogyakarta.

Seiring Pergelaran Musikalisasi Sastra 2019 terdapat beberapa contoh lain ikhwal proses alih wahana karya sastra itu. Sebut saja ada Teater Gandrik yang pernah melakonkan Gundala yang bahkan melibatkan pula sang penulisnya; Hasmi. Selain itu, puisi-puisinya Sapardi Djoko Damono juga telah berulang dialihwahanakan ke dalam bentuk lagu, yang antara lain dilakukan oleh sang legendaris Ari Reda. Ada juga gelaran di Taman Budaya Surakarta bernama Mimbar Teater Indonesia yang acap menantang para pelaku seni guna mengalihwahanakan tema yang telah ditentukan, termasuk di dalamnya adalah satu tema yang dipantik dari sebuah karya sastra.

Jamaluddin Latif, Ari Wulu, Roby Setiawan, Desi Puspitasari dan kawan-kawan lain yang tergabung dalam kelompok JARINGPROject beberapa kali juga telah mengalihwahanakan karya sastra ke dalam bentuk seni pertunjukan, apalagi Desi sebagai penulis naskah adalah juga penulis novel serta penulis cerpen. Sebut saja pementasan teater ‘Menjaring Malaikat’ yang telah ditampilkan di MTI Surakarta dan Festival Teater Jakarta 2016 silam. Ia sejatinya berangkat dari sebuah cerpen karya alm. Danarto yang berjudul ‘Mereka Toh Tidak Mungkin Menjaring Malaikat’.

Baca juga:  Inilah Nama-Nama 100 Sastrawan Peserta Festival Sastra Yogyakarta JOGLITFEST 2019

Pergelaran Musikalisasi Sastra 2019Terkait dengan proses pengalihwahanaan karya tersebut, saat itu suasana cukup cerah pada Sabtu malam 21 September 2019). yaitu ketika Studio Pertunjukan Sastra (SPS) Yogyakarta berkolaborasi dengan kegiatan Ruang Temu Pentas Sastra Lintas Komunitas, Festival Sastra Yogyakarta -Jogjakarta Literasi Festival a.k.a Joglitfest tahun 2019 menyelenggarakan kegiatan Bincang-bincang Sastra edisi ke-168 bertajuk “Mbara, Perjalanan Setelah Kata”.

Dilangsungkan di Ruang Seminar Taman Budaya Yogyakarta -Jalan Sriwedani Ngupasan Gondomanan Yogyakarta, pukul 19.30 hingga 22:00 WIB,- acara bincang sastra tersebut sejatinya merupakan lanjutan dari agenda pada satu malam sebelumnya, yaitu Pergelaran Musikalisasi Sastra 2019 dengan tajuk “Jentera. Sedangkan hal yang dibahas, tak lain adalah perihal pada proses kreatif di balik pagelaran.

Pergelaran Musikalisasi Sastra 2019 yang telah diselenggarakan sejak tahun 2013 itu dapat dikatakan merupakan bentuk tafsir-tafsir musikal yang bersumber dari karya sastra. Karenanya, menilik kesuksesan yang terjadi pada Pergelaran Musikalisasi Sastra tahun 2018 silam,pagelaran pun kembali digelar pada tahun 2019 ini di Gedung Concert Hall dengan konsep dan nuansa yang berbeda.

Tafsir-tafsir musikal yang ditampilkan ialah bentuk alih wahana, atau perubahan dari satu jenis kesenian ke jenis kesenian lain. Artinya, sebagaimana pendapat Sapardi Djoko Damono, bahwa karya sastra dapat dialihkan menjadi jenis kesenian lain, termasuk musik. Unsur-unsurnya disesuaikan dengan wahananya yang baru.

Proses Alih Wahana Karya di Pergelaran Musikalisasi SastraSebagai pembicara yang dihadirkan pada malam Bincang-Bincang Sastra itu adalah juga nama-nama yang sebelumnya terlibat dalam pagelaran, baik sebagai penampil pun pengonsep. Antara lain Gunawan Maryanto yang merupakan penulis naskah dan sutradara The Wayang Bocor, Lukas Gunawan Arga Rakasiwi sebagai Pelatih Paduan Suara Mahasiswa Swara Wadhana UNY, L. Surajiya –Pelukis yang mewakili kelompok Api Kata Bukit Menoreh -Kulon Progo, Sukandar sebagai Pagiat Studio Pertunjukan Sastra. Acara bincang sastra tersebut dipandu oleh Fairuzul Mumtaz yang juga merupakan pegiat sastra di Radiobuku sekaligus sebagai pendiri sukusastra.com, yang sangat disayangkan adalah ketidakhadiran Bram Makahekum yang merupakan pemimpin Musik Kelompok Kampungan karena sedang berhalangan.

Baca juga:  Pentas Teater 'Perempuan-Perempuan Pembebas' Meriahkan Malam Pengumuman dan Penganugerahan Pemenang Sayembara Naskah Teater TBY

Sukandar yang merupakan salah satu aktor di balik kesuksesan pagelaran musikalisasi sastra tersebut mengutarakan bahwa ia telah mencatat ada sekitar 20 lebih jumlah penampil dalam Pagelaran Musikalisasi Sastra sejak tahun 2013. Dan dari rangkaian panjang itu, ada banyak hal yang bisa dipelajari. Bersama Mustofa W. Hasyim, Latief S. Nugraha, dan beberapa kawan lain, mereka selalu berdiskusi mengenai konsep- konsep dari pagelaran ini. Sebagai contoh, dari sejak awal hingga akhir ikut menyaksikan latihan The Wayang Bocor yang disutradarai Gunawan Maryanto, maka ada hal-hal menarik dalam pengalihwahanaan puisi-puisi dalam buku Sakuntala itu yang butuh digali dan dipelajari kembali.

Baca juga:  Lomba Penulisan Naskah Drama Radio Bahasa Jawa Tahun 2019

Sukandar yang juga merupakan salah satu “penjaga gawang” SPS Yogyakarta itu juga mengakui bahwa akan selalu ada tuntutan untuk terus belajar dan membenahi hal-hal yang berkaitan dengan pagelaran.

“Lewat kegiatan- kegiatan semacam ini, kita dapat terus merasakan napas Yogya yang setia ‘diisi’ oleh berbagai bentuk tegur sapa. Pagelaran ini tentu merupakan salah satunya. Jujur, tegur sapa semacam ini, selain memberikan banyak pelajaran bagi kami, juga membuat kami kian terharu. Kami tentu akan berusaha terus merawatnya, kendati tetap ada risiko-risiko tersendiri di baliknya,” tutur Sukandar.

Sebagai akhir pembicaraan, Sukandar menyampaikan ucapan terima kasih atas antusiasme masyarakat Yogyakarta, baik yang menghadiri acara pagelaran, maupun yang malam itu menyempatkan diri terlibat dalam diskusi. “Proses ini, mungkin dapat dikatakan kami lewati dengan ‘embuh’, totalitas barangkali. Kami mengucapkan terima kasih yang setulusnya, terima kasih yang tak terhingga. []

Simak pawarta terkait , atau adicara menarik lain oleh Jaring Acara


Ingin mengunggah dan mewartakan kegiatan serta acaramu di Situs WARTA AGENDA ACARA | PAWARTA ADICARA JARINGACARA?
Klik Registrasi dan atau Login! Baca juga Syarat & Ketentuannya!

Sila Siarkan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *