Pawarta Adicara!

JARINGACARA sebagai media publikasi memiliki keinginan turut memberi warna dalam mengabarkan segala agenda acara seni budaya, pariwisata, warta, cuaca, juga menebarkan canda-tawa.
Perihal kontak kerjasama publikasi pun media partner, sila simak “Syarat dan Ketentuan“.

HIGHLIGHT
   
Penghargaan Pencapaian Seumur Hidup LSS di Biennale Jogja 2021

Penghargaan Pencapaian Seumur Hidup Lifetime Achievement Award LAA Diberikan kepada Nunung WS dan Hermanu di Penutupan Biennale Jogja XVI Equator #6 Tahun 2021


Diunggah oleh Official Adm pada tanggal 16 November 2021   (266 Readers)

Semacam sudah menjadi ritual, Yayasan Biennale Yogyakarta kali inipun tetap meneruskan tradisi pemberian Penghargaan Pencapaian Seumur Hidup sebagai apresiasi kepada figur-figur yang dinilai turut memberikan sumbangsih serta kontribusi penting dalam pembentukan wacana seni dan pengembangan ekosistem seni, khususnya di Yogyakarta, dan umumnya di Indonesia.

Penghargaan Pencapaian Seumur Hidup yang dikenal pula dengan istilah Lifetime Achievement Award alias LAA diberikan kepada mereka yang sudah sangat diakui di bidangnya namun acap terlupakan atau tidak diberi penghargaan yang menunjukkan apresiasi selayaknya.

Sebagai bentuk nyata dari Penghargaan Pencapaian Seumur Hidup ini, seiring dengan seremoni penutupan Biennale Jogja XVI Equator #6 tahun 2021, Yayasan Biennale Yogyakarta menyerahkan penghargaan kepada Nunung WS dan Hermanu.

Penutupan Biennale Jogja XVI Equator #6 tahun 2021

Apresiasi atas Dedikasi Seni

Sebagaimana dipaparkan oleh Alia Swastika selaku Direktur Yayasan Biennale Yogyakarta, pemberian penghargaan tersebut dilakukan setelah melalui berbagai pertimbangan oleh para Dewan Pembina dan Pengawas Yayasan Biennale Yogyakarta, di antaranya adalah tentang dedikasi, loyalitas, integritas, dan kontribusi praktik kesenian setiap figur untuk pembentukan ekosistem seni di Indonesia dan lebih khusus lagi di Yogyakarta.

Masih pada acara Penutupan Biennale Jogja XVI dan penyerahan LAA yang bertempat di area Jogja National Museum (JNM) pada hari Sabtu 13 November 2021, Alia menjelaskan bahwa Nunung Wahid Sahab merupakan seorang perupa abstrak perempuan Indonesia yang terlahir di Lawang -Jawa Timur, pada tanggal 9 Juli 1948. Sampai di usianya yang ke-78 tahun, Nunung masih aktif berpameran, baik di dalam maupun luar negeri. Terakhir, ia menjadi bagian dalam pameran seniman perempuan di museum bergengsi; Mori Art Museum -Tokyo, Jepang. Ia telah menunjukkan keteguhan dalam berkarya meskipun jauh dari spotlite dan ingar-bingar ketokohan dalam seni rupa. Meski demikian ia masih terus menjalankan panggilan hidupnya sebagai seorang seniman.

“Lebih menarik lagi, Ia juga menunjukkan beragam cara untuk bertahan dan bernegosiasi dengan politik medan seni dan wacana seni rupa, untuk terus berkarya dan merawat pemikiran dan gagasannya,” ujar Alia.

Alia juga menunjukkan bagaimana Hermanu menjadi penerima penghargaan lain yang tuurt menggerakan ekosistem seni di Indonesia mulai akhir 1980-an hingga sekarang dengan praktik kerjanya di Bentara Budaya Yogyakarta. Kerja-kerja kuratorialnya bisa menunjuk pada semangat dekolonisasi praktik seni, yang tidak selalu berpijak pada pengetahuan Barat, tetapi mengembangkan wacana yang berbasis pada tradisi dan pengetahuan lokal.

“Selain itu, Bentara Budaya Yogyakarta juga menjadi ruang perkembangan yang penting bagi seniman-seniman Yogyakarta baik sebagai ruang pertemuan sosial maupun sebagai ruang diskusi untuk membicarakan visi dan gagasan estetika baru,” kata Alia.

Alia Swastika di Penutupan Biennale Jogja 2021

Penutupan Biennale Jogja XVI Equator #6 2021

Biennale Jogja XVI Equator #6 2021 ditutup setelah dilangsungkan selama 40 hari masa penyelenggaraannya. Kegiatan yang panjang ini diselenggarakan di empat lokasi, yaitu Jogja National Museum (JNM), Taman Budaya Yogyakarta (TBY), Museum dan Tanah Liat (MdTl), dan Indieart House. Untuk mengisi pameran, panitia membuat program dengan total 99 program, meluas dari yang semula dirancang 70 program.

Gintani Nur Apresia Swastika sebagai komandan helatan ini saat membacakan laporan kerjanya juga menuturkan bahwa selama 40 hari pelaksanaan, pihaknya sebagai penyelenggara tetap berupaya secara maksimal agar program-program yang dijalankan bisa menjadi media untuk transfer pengetahuan dan gagasan, baik dari sisi kuratorial maupun dari seniman yang melakukan aktivasi karyanya.

Gintani Swastika di Penutupan Biennale Jogja 2021

Masih menurut Gintani, selama 40 hari masa penyelenggaraan, Biennale Jogja XVI telah dinikmati oleh kurang lebih 1.5 juta orang melalui media sosial, 236.210 melalui website, dan 14.590 melalui kunjungan langsung di 4 lokasi. Kecuali itu, kegiatan ini terpublikasi di 165 portal media daring, 25 media cetak, dan 15 media elektronik, baik lokal, nasional, maupun internasional.

Sebagaimana dalam kurun waktu sepuluh tahun penyelenggaraannya, pameran dua tahunan ini berfokus pada kawasan khatulistiwa dan mempertemukan Indonesia dengan negara-negara di garis khatulistiwa. Tahun ini, bekerja sama dengan wilayah Oseania, tim kurator membingkai pameran utama dengan judul Roots <> Routes yang diselenggarakan sejak 6 Oktober 2021. Ada 34 seniman dan kolektif yang diundang sebagai partisipan.

Selain penghargaan kepada seniman dan kurator berdedikasi tersebut, malam itu juga diisi dengan peluncuran buku ‘Membabar Peta, Merupa Bumi’ sebagai hasil Sinau Romo Mangun yang merespon ruang Romo Mangun pada pameran di JNM. Diluncurkan pula buku Pasang Naik, Laut yang Sama, katalog Biennale Jogja XVI Equator #6 2021.

Beberapa pertunjukan digelar pula pada penghujung acara, seperti paduan suara yang membawakan lagu “Nyanyian Sunyi” karya Mambesak dan disambung narasi karya “Dibungkam” Yanto Gombo dan karya Wok The Rock (Radio Isolasido) yang menarasikan “Sedikit mendengar, Banyak Mendengarkan”.

Peluncuran Buku 'Membabar Peta, Merupa Bumi' di Biennale Jogja 2021

Menjadi pamungkas disajikan Forum Bakurima: Oceania HipHop Forum yang merupakan forum diskusi dengan format musik hiphop dari kawan-kawan Indonesia bagian timur. Beberapa yang tampil adalah DJ Kateratchy, Lacosmusixx, Mario Zwinkle, Keilandboi, Uncle T, Presiden Tidore, Bacil Kill, dan Muria. []

4.8/5 - (5 votes)

Simak pawarta terkait , atau adicara menarik lain oleh Official Adm


Ingin mengunggah dan mewartakan kegiatan serta acaramu di Situs WARTA AGENDA ACARA | PAWARTA ADICARA JARINGACARA?
Klik Registrasi dan atau Login! Baca juga Syarat & Ketentuannya!

Sila Siarkan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *