Pawarta Adicara!

JARINGACARA sebagai media publikasi memiliki keinginan turut memberi warna dalam mengabarkan segala agenda acara seni budaya, pariwisata, warta, cuaca, juga menebarkan canda-tawa.
Perihal kontak kerjasama publikasi pun media partner, sila simak “Syarat dan Ketentuan“.

HIGHLIGHT
   
Icipili Mitirimin di Pembukaan Biennale Jogja XV Equator #5

Pembukaan Biennale Jogja XV Equator #5 Tahun 2019 Dimeriahkan Penampilan Musisi dan Seniman


Diunggah oleh Jaring Acara pada tanggal 22 Oktober 2019   (407 Readers)

Pameran utama Biennale Jogja XV Equator #5 secara resmi telah dibuka pada hari Minggu, 20 Oktober 2019 dengan tempat berada di Jogja National Museum dan juga di area Taman Budaya Yogyakarta.

Turut hadir pada acara pembukaan Biennale Jogja XV Equator #5 tahun 2019 ini adalah Kanjeng Pangeran Haryo selaku perwakilan dari Gubernur DIY yang berhalangan hadir. Selain itu ada pula Bapak Aris Eko Nugroho S.P., M.Si. yang merupakan Kepala Dinas Kebudayaan Yogyakarta.

Disaksikan secara terbuka oleh masyarakat dan juga berbagai tamu undangan, gelaran Biennale Jogja Equator #5 tahun 2019 ini dibuka dengan doa bersama yang dipimpin oleh seniman asal Surabaya, Abdoel Semute. Doa yang dilantunkan dengan berbagai latar belakang agama pada pembukaan Biennale Jogja ini menjadi cermin atas keragaman di Indonesia.

Acara pembukaan Biennale Jogja XV Equator #5 tahun 2019 ini diawali dengan kata sambutan dari Alia Swastika yang merupakan Direktur Yayasan Biennale Yogyakarta, dan kemudian langsung disambung oleh para kurator yang masing-masing adalah: Akiq AW, Arham Rahman, dan Penwadee Nophaket Manont. Ketiga kurator tersebut kemudian memperkenalkan seluruh seniman yang terlibat dalam helatan Biennale Jogja XV Equator #5 ini.

Alia Swastika dan Kurator di Pembukaan Biennale Jogja XV Equator #5 | Doc. Official Biennale Jogja XV 2019

Dalam pidato pembukaan tersebut, Alia Swastika mengungkapkan bahwa semangat berkolaborasi menjadi hal yang sangat penting hingga helatan Biennale Jogja XV tahun 2019 ini dibuka.

“Yang terpenting adalah spirit kolaborasi dan berbagi dalam mempersiapkan, dari berbagai seniman dan panitia serta volunteer yang telah bekerja mempersiapkan selama dua bulan ini, representasi dari seni itu sendiri dalam mewujudkan Biennale Jogja Equator #5,” kata Alia Swastika.

Di lain sisi Kepala Dinas Kebudayaan Yogyakarta dalam sambutannya menyampaikan apresiasi yang besar terhadapt pelaksanaan Biennale Jogja XV tahun 2019 ini.

“Semoga dapat menjadi sarana diskusi edukatif antara seniman dan masyarakat, kami percaya bahwa Biennale membawa multi-player efek bagi masyarakat Yogyakarta,” ungkap Aris Eko Nugroho.

Baca juga:  Festival Equator Biennale Jogja Equator#4 Indonesia-Brasil

Usai acara sambutan tersebut, selanjutnya secara simbolik Aris Eko Nugroho juga melakukan pembukaan Biennale Jogja XV Equator #5 ini, yaitu dengan pemukulan gong tanda pameran Biennale Jogja XV Equator #5 telah resmi dibuka.

Pembukaan Biennale Jogja XV Equator #5 | Doc. Official Biennale Jogja XV 2019

Pembukaan Biennale Jogja XV Equator #5 Dimeriahkan Para Musisi dan Seniman

Selepas seremonial pembukaan Biennale Jogja XV Equator #5 dilakukan, berikutnya dirangkai dengan dihadirkannya para musisi dan juga para seniman yang mempresentasikan karyanya di Biennale ini.

Sebagai penampil pertama adalah musisi Thanom and Friends yang bersal dari negeri gajah putih: Thailand, yaitu dengan menampilkan solo guitar akustik yang bernuansa musik tradisi Thailand.

Di sisi lain, ketika matahari masih terlihat di ufuk barat, ada pula penampilan anak-anak penuh talenta. Ialah Icipili Mitirimin dan The Beast Kids.

Icipili Mitirimin adalah sekolompo anak-anak di bawah asuhan seorang seniman Jogja; Pardiman Joyonegoro yang bernyanyi secara acapela alias paduan suara dan sekaligus juga memainkan alat musik tradisional berujud gamelan. Sementara “The Beast Kids” yang juga unjuk gigi di pembukaan Biennale Jogja XV Equator #5 ini adalah band yang anggotanya adalah anak-anak yang masih bersekolah di SD Tumbuh Yogyakarta.

Widi n Virda VoB Voice of Baceprot di Pembukaan Biennale Jogja XV Equator #5

Tiba di malam hari, masih memeriahkan acara pembukaan Biennale Jogja XV Equator #5 tersebut, hadir pula di area Taman Budaya Yogyakarta adalah kelompok queer Amuba, sementara untuk panggung di venue utama Biennale Jogja -area Jogja National Museum, ada Voice of Baceprot. Ialah Voice of Baceprot atau dikenal pula dengan akronim VOB, merupakan band yang berisi tiga wanita hijabers asal Garut -Jawa Barat dengan aliran musik heavy-metal.

Kehadiran tiga ‘mojang priangan’ yang tergabung dalam VoB tersebut masing-masing adalah Firda pada Gitar & Vokal, Widi pada Bass, dan Siti sebagai penggebuk drum. Sebagai kaum hijabber yang memainkan musik rock heavy-metal mereka dianggap mampu merepresentasikan tema pinggiran dalam Biennale Jogja XV tahun 2019. Kenyataannya, VoB ini menjadi persembahan yang ditunggu-tunggu dan banyak dinantikan oleh publik seni di Yogyakarta. Terbukti sejak awal pertunjukannya, semua penonton sangat antusias.

Baca juga:  Pekan Seni Grafis Yogyakarta Pamerkan Karya Cukilan Linoleographs dan Teknik Relief Print

Pada malam acara pembukaan Biennale Jogja XV Equator #5 tanggal 20 Oktober 2019 tersebut, hadir sebagai penutup adalah aksi dari musisi eksperimental Pisitakun Kuantalaeng yang berasal dari Thailand, kemudian langsung disambung dengan penampilan Raja Kirik yang berkolaborasi dengan Silir Pujiwati.

Program Publik di Biennale XV 2019

Sebagai bagian dari rangkaian acara besar Biennale Jogja XV Equator #5 ini, tersajikan pula berbagai program publik berupa aktivitas-aktivitas kreatif dan intelektual yang diperuntukkan bagi masyarakat setempat dari berbagai kalangan supaya dapat turut berpartisipasi dan mendapatkan manfaat lebih dalam penyelenggaraan Biennale Jogja kali ini.

Program publik pada Biennale Jogja XV Equator #5 antara lain berupa Tur Pameran Berpemandu, Wicara Seniman, Wicara Kuratorial, Simposium Publik, Pemutaran Film bekerja sama dengan Forum Film Dokumenter, serta sejumlah Lokakarya dan Diskusi bersama Seniman-Seniman Biennale Jogja.

Hal tersebut merupakan perwujudan dari salah satu fungsi Biennale yaitu menyebarkan pengetahuan- pengetahuan alternatif dan gagasan-gagasan inovatif dalam ranah seni budaya kepada publik yang luas, serta untuk menciptakan generasi muda yang penuh imajinasi, berlaku kreatif dan berpikir kritis untuk menjadi bagian dari upaya mengantisipasi kompleksitas masa depan.

Siti VoB Voice of Baceprot di Pembukaan Biennale Jogja XV Equator #5

Bilik Negara di Biennale Jogja XV Equator #5

Tahun ini untuk memperluas gagasan tentang Asia Tenggara dan melihat khazanah khatulistiwa secara lebih beragam, diciptakan sebuah inisitiaf baru yang disebut sebagai Bilik Nasional.

Kata “bilik” yang dipilih merupakan sebuah tawaran untuk mengganggu konsep paviliun yang telah mapan dalam berbagai peristiwa kebudayaan internasional, yang terutama sejarahnya berawal dari pendirian paviliun nasional di Biennale Venice.

Dengan memilih kata Bilik, tidak saja ingin menegaskan distingsi ini, tetapi Bilik juga merujuk pada gagasan pinggiran, seperti terpisah dari yang pusat tetapi menopang kekuatannya. Untuk edisi pertama bilik nasional 2019, dihadirkan karya bersama dengan tiga negara yaitu Taiwan, Hong Kong dan Timor Leste, yang semuanya mempunyai relasi kuat dengan Asia Tenggara.

  • Bilik Taiwan

Kelima seniman dalam pameran ini menunjukkan bagaimana relasi antara Taiwan dengan Asia Tenggara dalam sejarahnya yang panjang juga membentuk bagaimana kedua wilayah ini saling ‘memandang’ dalam konteks yang lebih kontemporer. The Library of Possible Encounters berangkat dari gagasan untuk mengumpulkan berbagai keterhubungan dan perjumpaan di antara dua konteks, dan juga bagaimana keduanya berkait dengan dunia.

Baca juga:  Project Angkringan Jepang dan Angkringan Jogja oleh Jun Kitazawa di Biennale Jogja Hadir Kembali Tanggal 23-30 November 2019

Tempat: Helutrans –Jogja National Museum
Dibuka hingga 30 November 2019
Pukul 10 – 20 WIB

Galeri-Biennale-Jogja-XV-Tahun-2019-Doc.-Official-Biennale-Jogja-XV-

  • Bilik Hongkong

Parasite diundang terlibat untuk mengkurasi Bilik Hongkong pada gelaran Biennale Jogja 2019 untuk memberikan studi lebih dekat berkait koneksi historis dan relasi masa kini Hong Kong dengan Asia Tenggara, terutama dalam isu pekerja domestik migran dan peristiwa sosial lainnya

Tempat: PKKH UGM
Dibuka hingga tanggal 30 November 2019
Pukul 11 – 18 WIB | Hari Minggu tutup

  • Bilik Timor Leste

Tema pinggiran diterjemahkan oleh REKREATIF melalui representasi kehidupan sosial Timor Leste di wilayah-wilayah yang tak terjangkau. Misalnya, masyarakat Timor mempraktikkan hidup yang telah diwariskan sejak nenek moyang ke generasi selanjutnya, dengan kebajikan yang diberikan turun temurun.

Menjadi sebuah kehormatan bagi nenek moyang maupun bagi dunia untuk bisa membuka dan membagi keaslian keyakinan tradisional, seni dan budaya di desa Manufahi Kiik sebuah kebudayaan masih diajarkan dan dipraktikkan sekarang.

Tempat: PKKH UGM
Dibuka hingga tanggal 30 November 2019
Pukul 11 – 18 WIB | Hari Minggu tutup

Simak pawarta terkait , atau adicara menarik lain oleh Jaring Acara


Ingin mengunggah dan mewartakan kegiatan serta acaramu di Situs WARTA AGENDA ACARA | PAWARTA ADICARA JARINGACARA?
Klik Registrasi dan atau Login! Baca juga Syarat & Ketentuannya!

Sila Siarkan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *