Pawarta Adicara!

JARINGACARA sebagai media publikasi memiliki keinginan turut memberi warna dalam mengabarkan segala agenda acara seni budaya, pariwisata, warta, cuaca, juga menebarkan canda-tawa.
Perihal kontak kerjasama publikasi pun media partner, sila simak “Syarat dan Ketentuan“.

HIGHLIGHT
   
Pembukaan Biennale Jogja

Pembukaan Biennale Jogja oleh Kepala BEKRAF

Diunggah oleh Jaring Acara, pada tanggal 2 November 2017

PEMBUKAAN BIENNALE JOGJA | BIENNALE JOGJA EQUATOR

Biennale Jogja (BJ) adalah Biennale internasional yang diselenggarakan oleh pemerintah Daerah Istimewa Yogyakarta dan diorganisasi oleh Yayasan Biennale Yogyakarta (YBY). Pertama kali diadakan pada tahun 1988, tahun ini adalah penyelenggaraan ke -14. Mulai tahun 2011, YBY meluncurkan proyek Biennale Jogja seri Ekuator (Biennale Equator) yang berfokus pada kawasan ekuator. Yayasan Biennale Yogyakarta mengasumsikan Ekuator sebagai prespektif baru yang sekaligus juga membika diri untuk melakukan konfrontasi atas ‘kemapanan ataupun konvensi atas event sejenis. Ekuator adalah titik berangkat dan common platform untuk membaca kembali dunia.

BJ seri Ekuator akan membawa Indonesia, khususnya Yogyakarta, mengelilingi planet Bumi selama 10 tahun. Dalam setiap penyelenggarannya, Biennale Ekuator akan bekerjasama dengan satu atau lebih Negara atau kawasan di sekitar ekuator.

Perjumpaan melalui kegiatan seni rupa dalam BJ Ekuator akan diselenggarakan dengan semangat membangun jejaring yang berkelanjutan sehingga dialog, kerjasama, dan kemitraan dapat melahirkan hal-hal baru yang lebih luas dan berkelanjutan diantara para praktisi dikawasan ekuator.

Penghiburan atas kehilangan, tentang terjalinnya relasi baru yang penuh kejenakaan, tumbuhnya cinta dan kebersamaan, kemampuan melihat keindahan dalam kesederhanaan, perilaku produktif dan letupan-letupan yang kreatif (fenomena munculnya gerakan kemanusian dan gerakan peduli pada lingkungan).

Ilustrasi peristiwa, kemunculan kelompok-kelompok yang membela komunitas yang dipinggirkan, sub culture, humanitarisme.

Kesadaran pada keadaan, tentang pemikiran yang mengikuti naluri dalam menghadapi persoalan, kesadaran baru untuk membuat alternative perubahan (fenomena penemuan-penemuan sederhana yang memiliki arti kegunaan,
bangkitnya kearifan lokal dan semangat kemandirian yang tidak bergantung pada sistem global).

Ilustrasi peristiwa: temuan inovatif misalnya ketela sebagai pengganti bahan bakar fosil.

Penerimaan atas kenyataan, tentang keberanian untuk berharap, siap menerima perubahan walau menyakitkan , dan penemuan kebebasan dalam keterbatasan (fenomena kemenangan dari pengorbanan, kewarisan masa lalu untuk masa depan).

Ilustrasi : kematian salim kancil di lumajang.

stAGE OF HOPElessness adalah tema untuk main exhibition dan parallel event. Tema ini akan dijawab oleh karya-karya seniman Indonesia dan brazil melalui pameran utama di Jogja National Museum dan ruang ruang pamer lain di Yogyakarta yang menjadi peserta parallel event. Tema ini adalah perlintasan panjang yang merupakan tahapan tahapan psikologis dari ketidak pastian menuju harapan.

Baca juga:  Sayembara Cerita Anak DKJ 2019

AGE OF HOPE

(Main exhibition dan Parallel events)

Penyangkalan atas kenyataan, tentang pemujaan pada ilusi kehidupan yang ideal, penolakan atas perubahan yang menyakitkan, dan wabah ketidakpedulian pada perubahan (fenomena kemenangan janji palsu dalam demokrasi yang korosif, dalam pasar bebas yang tidak berkeadilan).

Ilustrasi peristiwa : kemenangan Donald Trump, Pemilihan Gubernur 2017, penggantian kekuasaan di Brazil 2015.

Kemarahan pada keadaan, tentang hancurnya ilusi kehidupan yang ideal, pemaksaan kehendak untuk perubahan, dan wabah kekerasan yang salah alamat (fenomena ilusi kiamat setiap hari dalam kepercayaan yang korosif, bangkitnya fundamentalis dan perlawanan pada system global, aksi aksi protes…).

Ilustrasi peristiwa : aksi boikot, misalnya aksi 212 di Jakarta, pemogokan kerja, demonstrasi, perusuhan massa.

Keputusasaan atas kehilangan, tentang putusnya relasi dengan orang lain, hilangnya cinta dan kebersamaan, perilaku tidak produktif dan letupan letupan yang merusak ( fenomena keterasingan, penyimpangan perilaku, keinginan bunuh diri hingga aksi terorisme).

Ilustrasi peristiwa : aksi terror di Indonesia dan berbagai Negara dunia dengan aktifitas ISIS, penyerbuan narkoba di favela di Brazil, kekerasan rumah tangga, kasus pembunuhan anak perempuan di bali.

Kepasrahan dalam ketiadaan, tentang kenyataan yang traumatis, tawar menawar antara hidup dan mati, penyerahan pada kehendak alam, dan naluri bertahan hidup.( fenomena perubahan alam yang melampaui ketidak mungkinan dan perubahan spiritual yang mengikutinya).

Ilustrasi peristiwa : peristiwa bencana alam berskala besar, misalnya gempa di jogja tahun 2006, tsunami aceh tahun 2004, banjir dan longsor di Rio de Janeiro tahun 2011.

Biennale jogja XIV Ekuator #4 hendak menjawab persoalan ketidak pastian hidup yang telah membuat kita tidak berani untuk berharap karena kenyataan semakin sulit untuk dipahami.

Tema besar yang diangkat dalam biennale jogja XIV Ekuator #4 adalah

Baca juga:  Pameran Kembulan Lesbumi PWNU DIY

AGE of HOPE

Narasi besar ini akan mengajak kita pada satu pengalaman melintas dari ketidakpastian menuju harapan. Menyajikan serangkaian momen momen teraumatik yang dapat ditangkap sebagai momen momen estetik yang
memunculkan kesadaran. Sembilan repertoar yang akan ditampilkan terdiri dari tiga bagian besar yaitu organizing chaos yang akan menjadi tema untuk festival ekuator, age of hope yang menjadi tema untuk Main Exhibition dan Parallel Event, dan managing hope yang menjadi tema untuk Biennale Forum.

ORGANIZING CHAOS

(Festival Ekuator)

Doc: Biennale Jogja XIV Equator #4

Pembukaan Biennale Jogja | Tentang munculnya ketidak laziman yang sulit untuk dimengerti dan merebaknya wabah kegilaan sebagai penanda akan terjadinya perubahan ( fenomena berita bohong dan ujaran ujaran yang menyinggung perasaan).

Menjadi tema untuk festival ekuator yang diadakan sebelum pameran utama berlangsung, organizing chaos adalah kumpulan kekacauan yang tertata. Keadaan yang tidak biasa dan peristiwa yang tidak lazim ditampilkan diruang ruang publik untuk mengingatkan kembali orang orang pada momen momen traumatic di masa lalu. Tema ini menjadi pembuka bagi pagelaran Biennale kali ini.

Harapannya, BJ dapat memberikan kontribusi pada terbentuknya topografi medan seni rupa global yang dirumuskan secara baru.

Penyelenggaraan Biennale Ekuator dari masa ke masa adalah sebagai berikut:
Equator #1 2011 : Indonesia –India
Equator #2 2013 :Indonesia- Negara di kawasan Arab
Equator #3 2015 : Indonesia- Nigeria (Afrika)
Equator #4 2017 : Indonesia – Brazil

Edisi Jogja Biennale #4 2017 kali ini adalah titik terjauh dalam perjalanan mengelilingi garis ekuator. Pada edisi ekuator yang keempat, memilih Brazil sebagai Negara mitra.

Perjumpaan Indonesia-Brazil

Pembukaan Biennale Jogja1

Doc: Doc: Biennale Jogja XIV Equator #4

Dalam seminar Bela Negara yang dihadiri ratusan anggota resimen mahasiswa di Makassar, panglima TNI Jendral Gatot Nurmantyo memaparkan tentang pentingnya kerjasama antar Negara-negara di kawasan ekuator dalam menghadapi persoalan global di masa yang akan dating. Ia mengingatkan bahwa krisis energi yang kini sedang terjadi dikhawatirkan akan bergeser menjadi krisis pangan. Dan medan konflik yang kini berlangsung di kawasan Arab akan bergeser ke kawasan ekuator lain yang memiliki musim tanam panjang.

Baca juga:  Erasmus Huis Dance Event (EHDE) bersama Thomas Newson Digelar di Yogyakarta

Menipisnya cadangan sumber energi fosil untuk pemenuhan kebutuhan produksi industry-industri besar di dunia, telah menjadikan kawasan Arab sebagai medan konflik yang paling panas. Krisis yang terjadi di Irak, Mesir, libia, dan Suriah telah memicu gelombang migrasi secara besar besaran, krisis kemanusiaan yang terjadi telah membangkitkan kesadaran kaum fundamentalis untuk menuntut perubahan yang segera. Wabah kekerasan yang salah alamat telah menular ke berbagai penjuru dunia, letupan-letupan traumatik berupa aksi terror bahkan telah berulang kali menghantam Indonesia. Momen momen traumatic yang terjadi belakangan ini membuka kesadaran baru untuk meninjau kembali hubungan kerjasama Indonesia dengan Negara dan bangsa lain.

Brazil adalah Negara di kawasan ekuator yang memiliki musim tanam panjang dan telah berhasil mengembangkan Bio energy sebagai alternatif lain dari energi fosil. Maka menjalin hubungan kerjasama dengan Brazil akan bernilai strategis untuk menjawab tantangan tantangan di masa yang akan datang. Dalam menjalin kerjasama dengan Brazil, jarak yang jauh dan perbedaan budaya yang besar menjadi kendala yang utama. Maka perjumpaan Indonesia-Brazil dalam Biennale Jogja Ekuator kali ini adalah upaya membangun percakapan untuk saling memahami budaya masing masing Negara melalui senirupa kontemporer.

Pada kunjungan pertama ke Brazil pada November 2016, tim Biennale Jogja menemukan momen estetik dalam sao Paulo Biennale ke-32, Live Uncertainty. Perhelatan ini tidak hanya merefleksikan persoalan ketidakstabilan ekonomi karena momen traumatik dari pergantian kekuasaan di Brazil yang terjadi pada tahun sebelumnya, tapi juga mengetengahkan persoalan ekologi sebagai pangkal persoalannya. Tentang pemanasan global dan dampaknya pada habitat kita, pemusnahan speseies dan lenyapnya keragaman hayati yang tentu juga berdampak pada hilangnya keragaman budaya. Bagaimana menjawab persoalan Live Uncertainty, ketidakpastian hidup, jika wabah ketakutan telah mempengaruhi kondisi psikologi individu dan kolektif adalah pertanyaan yang disodorkan perhelatan Sao Paulo Biennale ke-32.

Simak pawarta lain terkait , atau adicara menarik lain yang diunggah oleh Jaring Acara


Ingin mengunggah dan mewartakan kegiatan serta acaramu di Situs WARTA AGENDA ACARA | PAWARTA ADICARA JARINGACARA?
Klik Registrasi dan atau Login! Baca juga Syarat & Ketentuannya!

Sila Siarkan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *