Pawarta Adicara!

JARINGACARA sebagai media publikasi memiliki keinginan turut memberi warna dalam mengabarkan segala agenda acara seni budaya, pariwisata, warta, cuaca, juga menebarkan canda-tawa.
Perihal kontak kerjasama publikasi pun media partner, sila simak “Syarat dan Ketentuan“.

HIGHLIGHT
   
Parallel Event

PARALLEL EVENT, The Real Wajah Seni Jogja

Diunggah oleh Jaring Acara, pada tanggal 3 November 2017

PARALLEL EVENT | Selain pameran utama Biennale Jogja XIV – Seri Biennale Equator # 4, 2017 yang akan dibuka pada 2 November 2017, Parallel Event menjadi bagian yang tidak terpisahkan dari hajatan seni rupa internasional ini. Secara khusus, Parallel Event menjadi bentuk dukungandari berbagai ruang seni di Yogyakarta untuk pelaksanaan event dua tahunan ini.

“Di Serial Biennale Equator sebelumnya, Parallel Event mengundang proposal dan mendorong kolaborasi antara seni dan disiplin ilmu lainnya. Kali ini, kami membuka diri untuk sebanyak mungkin ruang seni di kota ini untuk terlibat,” kata Rismilliana Wijayanti , koordinator Parallel Event.

Tanpa membatasi partisipasi pada galeri, ruang seni yang dilibatkan termasuk diantaranya ruang pamer, studio seni, dan juga komunitas seni. Tercatat ada 30 entitas yang berpartisipasi di Biennale kali ini. Salah satunya adalah, Ace House Collective.

Ace House Collective merupakan komunitas yang terbentuk dari Program Parallel Event Biennale Jogja X, Serial Biennale Equator #1, yang lalu. Mereka memiliki perhatian khusus pada karya seni jalanan: graffiti, hip hop dan breakdance. Sejak 14 Oktober, di Mangkuyudan 41 mereka berkumpul dan dan memajang sejarah graffiti di Jogja dari awal tahun 2000-an, pameran bertajuk After All These Years digelar dan setiap minggunya ada sessi jamming. Pameran ini menyajikan hasil riset dan pencatatan mereka atas kiprah seni grafiti jalanan selama hampir dua dekade.

“Selain pameran sejarah graffiti di Jogja, komunitas ini juga membuat acara yang melibatkan publik, kok. Ada acara menggambar bersama tiap minggu yang mereka selenggarakan dengan mengajak street crew, DJ dan b-boys/girls. Jadwal acaranya sudah tersusun. Bisa dilihat di ruang pamernya,” jelas Ris.

Biennale Jogja XIV ini, secara khusus membuka peluang dan menerima dukungan dan partisipasi dari banyak pelaku seni dan pendukungnya dalam perhelatan akbar ini. Paling tidak ada 300 seniman yang berpartisipasi dalam 30 ruang seni. “Silakan melihat jadwal yang tercantum di baliho, poster, ataupun sosial media yang sudah kami sebar. Masih banyak ruang lain yang dapat dijelajahi untuk memuaskan dahaga mayarakat akan seni rupa Yogya,” kata Ries, menutup perbincangan.

====
Narasumber & nfo lebih lanjut: Riesmiliana (WA 0818 260134)

After All These Year(s)

PARALLEL EVENT, Wajah Seni Jogja yang Nyata1

Doc: Biennale Jogja XIV Equator #4

Kajian komprehensif mengenai graffiti hingga saat ini memang masih dipertanyakan. Rujukan yang digunakan secara tekstual maupun kontekstual pun masih bersandar pada teks asalnya – Amerika. Tentu saja rujukan primer ini sifatnya sangat dasar mengingat tema yang diangkat seringkali menyoal histori kemunculan graffiti mula-mula sebagai sebuah bentuk ekspresi yang lahir di jalanan. Namun teknologi informasi yang berkembang begitu cepat telah menjadi jembatan yang memungkinkan graffiti dikenal secara luas hingga ke kota Yogya.

Baca juga:  Jalur Pinggir Tak Selalu Ada di Peta Kota

Layaknya budaya impor lainnya, proses asimilasi pun terjadi pada graffiti dalam upaya berdifusi dengan kultur masyarakat Yogya yang tentu saja berbeda dengan kultur aslinya. Hingga akhirnya graffiti yang berkembang di kota Yogya ini menjadi aktivitas budaya yang memiliki ciri khas dan keunikannya sendiri yang berbeda dengan kota lain.

Di era post-graffiti yang saat ini pun marak berkembang di kota Yogya, menjadi sangat penting untuk mempertanyakan mengenai histori perkembangan graffiti di kota Yogya itu sendiri. Hal ini menjadi penting
mengingat segala aktivitas manusia merupakan hasil dari proses induktif yang dapat dijadikan sebagai bahan kontemplasi untuk menunjang aktivitas manusia itu sendiri. Sehingga inisiasi untuk diadakannya sebuah acara pameran bertajuk “After All These Year(s)” oleh Ace House pada 14 Oktober 2017 ini menjadi satu momen penting ketika artefak dan arsip lama graffiti di kota Yogya dihadirkan untuk dipamerkan. Kisah dibalik penyelenggaraan acara ini pun adalah untuk menyingkap selubung graffiti pada awal perkembangannya di kota Yogya yang sebelumnya segala artefak dan dokumentasi hanya disimpan dan cenderung terabaikan.

Sehingga dengan dipamerkannya artefak maupun dokumentasi graffiti oleh para bomber di kota Yogya pada tahun 2000’an dapat menjadi bahan retrospektif bagi movement graffiti yang berkembang saat ini. Realisasi acara ini pun sepenuhnya disambut dengan tangan terbuka oleh para bomber di era tahun 2000’an seperti DEKA, LOVEHATELOVE, TAT (TaTSOY), MADS, dan MUCK, selaku individu yang yang dipilih untuk mewakili cerita para bomber era tahun 2000 hingga 2007 di kota Yogya. Selain para bomber tersebut GRAFORCE selaku individu yang
sejak tahun 2006 aktif mendokumentasikan graffiti di kota Yogya, turut diundang untuk melengkapi
nukilan histori perkembangan graffiti di kota Yogya.

Periodisasi dalam kurun waktu ini pun dikembangkan atas pertimbangan penelusuran artefak dan dokumentasi sekaligus narasi para bomber tersebut berdasarkan ingatan masing- masing. Hasil penelusuran itulah kemudian saling dikolaborasi dan dielaborasi yang sekiranya dapat menjadi titik awal perjalanan berkembangnya movement graffiti di kota Yogya hingga saat ini.

Parallel Event | Embrio Graffiti

Doc: Biennale Jogja XIV Equator #4

Menilik ke belakang, apa yang dilakukan oleh para bomber di awal tahun 2000’an ini tak lebih dari sekedar keisengan masa muda yang ditujukan untuk ‘mengganggu’ publik lewat ekspresi mereka. Budaya lowbrow yang diimpor serta asimilasi yang terjadi menghadirkan sebuah aktivitas budaya yang lahir dari ‘jalanan’ kota Yogya. Aktivitas ini tidaklah lahir secara tiba-tiba. Perkembangan teknologi dan informasi di awal abad milenium memungkinkan beragam budaya impor masuk dan berdifusi dengan masyarakat kota Yogya.

Underground music (Punk, Hip Hop, Metal, dll) dan extreme sport (BMX, Skateboard, dll) menjadi bentuk ekspresi dominan anak muda kala itu. Penyerapan tanpa filtrasi kemudian menjadi semacam shock culture yang cenderung memotivasi anak muda untuk meng- copycat baik movement dan roots dari beragam scene, yang kemudian secara implisit menghasilkan aktivitas komunal berdasarkan interest masing-masing.

Baca juga:  Gelaran FKY 30 Mulai 23 Juli 2018

Graffiti di kota Yogya sendiri menjadi ketertarikan bagi sebagian anak muda saat itu sebagai hasil persinggungan aktivitas komunal underground music dan extreme sport tersebut. Berkumpul atau ‘nongkrong’ menjadi semacam ritual yang rutin dilakukan. Daerah Wijilan – sentra gudeg, merupakan salah satu lokasi di kota Yogya yang menjadi tempat dimana pada awalnya aktivitas berkumpul kerap dilakukan oleh para bomber. Pada saat kumpul-kumpul tersebut aktivitas ‘iseng’ seperti mencoret- coret benda-benda yang ditemui tak luput dilakukan saat berkumpul. Coretan ‘iseng’ ini pun menjadi satu bentuk ekspresi yang dilakukan oleh karena bomber yang berangkat dari aktivitas underground music dan extreme sport sebagian besar memiliki latar belakang pendidikan berlabel seni rupa – Sekolah Menengah Seni Rupa (SMSR) dan Institut Seni Indonesia, Yogyakarta. Hal ini menarik mengingat graffiti yang notabene dikenal sebagai ekspresi ‘jalanan’, dalam kasus ini seolah merupakan semacam pilihan bagi para bomber yang memiliki bekal pengetahuan seni rupa untuk di ekspresikan di ‘jalanan’. Ekspresi berwujud corat-coret ‘iseng’ di ‘jalanan’ di awal tahun 2000’an oleh para bomber ini tak disangka menjadi embrio bagi sebuah
movement kultural yang satu dekade kemudian berkembang secara masif dan menjadikannya sebagai fragmen kultural.

Tren Bombing – Train Bombing

Aktivitas corat-coret yang awalnya dilakukan secara ‘iseng’ belaka, kemudian mengalami eksplorasi lebih
secara militan. Berdasarkan narasi serta artefak yang diungkapkan para bomber, di tahun 2000’an ‘bomb’
graffiti mulai ‘mengganggu’ publik kota Yogya. Graffiti menjadi passion dan vandal menjadi roots. Semangat mereka terjaga oleh kenaifan dan ekspresi. Apresiasi, penolakan, penangkapan, hingga aksi anarkis oleh stigma destruktif menjadi buah atas ekspresi yang masih lekat dalam ingatan para bomber.

Keterbatasan alat dan bahan tidak menghentikan mereka untuk bombing. Tagging, throw up, logos, sticker slap dan beragam teknik lainnya meninggalkan jejak dan menjadi tekstur bagi ruang publik kota Yogya. Jejak yang ditinggalkan tak hanya pada tembok, rolling door, atau tiang listrik, namun eksplorasi mereka pun berkembang hingga transportasi publik seperti kereta api yang sempat marak terjadi di tahun 2005’an. Alat dan bahan yang digunakan pun seadanya. Bila cat semprot (aerosol) atau yang familiar dikenal sebagai kaleng oleh para bomber dirasa cukup mahal, maka mereka akan menggunakan cat tembok. Bila kantong sedang berlebih dan cukup mereka akan memadukan cat tembok pada fill dan cat semprot pada line dari piece nickname mereka. Beragam modifikasi pada caps – kepala cat semprot pun dilakukan. Mulai dari modifikasi skinny caps untuk menghasilkan garis yang tipis, memodifikasi caps standar untuk menghasilkan garis kaligrafi, hingga menciptakan male dan female caps yang dapat digunakan pada stem cat semprot yang beragam.

Baca juga:  Pameran Seni Rupa Persinggahan Dwi Rahayuningsih

Tren bombing mulai berkembang di kota Yogyakarta. Aktivitas vandal yang biasanya dilakukan secara individu menjadi berkelompok. Crew graffiti di kota Yogya mulai bermunculan. Tersebutlah YKILC (Yogyakarta Illegal Crew) sebagai crew graffiti pertama di kota Yogya yang didirikan ROTEN (2005 menjadi LOVEHATELOVE) dan DEKA pada tahun 2003.

Hingga YORC (Yogyakarta Art Crime) yang merupakan crew bagi para bomber kota Yogya pada tahun 2005. Acara graffiti bertema jamming maupun prodo (production) pun mulai aktif diselenggarakan. Tembok yang berada di seberang Galeria Mall (sekarang sudah tidak ada) menjadi saksi bisu aktivitas ‘tembok panas’ bagi para bomber, ‘Yogyakarta Graffiti Strike Back’, ‘Gemerlap Mobil Patroli’, dan beragam acara lainnya menyemarakkan tren bombing kota Yogya yang sedang gayeng-gayeng nya (bahasa Jawa akrab) saat itu .

Eksplorasi bombing di ruang publik pun merambah hingga moda transportasi publik yang menuntut tingkat adrenalin lebih. Ingatan khas secara senada diungkapkan masing- masing oleh DEKA, LOVEHATELOVE, TAT (TaTSOY), MADS, dan MUCK saat membicarakan mengenai train bombing di kota Yogya pada tahun-tahun tersebut. Ialah mengenai penangkapan para bomber oleh pihak berwajib karena mencorat-coret gerbong kereta api. Mereka diwajibkan untuk menghapus coretan mereka atau mengganti uang sebesar 80 juta rupiah sebagai konsekuensi atas tindakan mereka. Akhirnya uang kas yang dikumpulkan oleh para bomber ditambah ‘sumbangan’ dari para siswa SMSR kemudian digunakan untuk membeli tiner guna membersihkan gerbong tersebut. Kejadian yang sempat menjadi bahan jurnalistik ini pun tak juga menyurutkan semangat para bomber terhadap graffiti.

“Tembok kami tak akan runtuh!”

Satu dekade lebih telah berlalu sejak graffiti mulai berkembang di kota Yogya. Selama satu dekade itu pula movement ini telah memiliki dinamika yang silih berganti layaknya jejak-jejak graffiti yang saling ‘timpa-menimpa’ berganti dari waktu ke waktu. Membentuk tekstur artistik sebagai wajah kota Yogya yang bersinggungan dengan aktivitas urban masyarakatnya. Penggalan lirik oleh Tawazun, “Tembok kami tak
akan runtuh!” yang kala itu mungkin terdengar naif, provokatif, dan optimistik menjadi mimpi bagi para bomber dan movement graffiti di kota Yogya yang konteksnya masih relevan hingga saat ini. Graffiti dan para bomber yang kala itu masih terhitung jari jumlahnya bertindak layaknya garda depan, mempertahankan eksistensi sebuah movement kultural yang kehadirannya tak dapat dinisbikan. Beragam narasi serta artefak yang diungkapkan mungkin tampak sebagai pengalaman eksoterik. Namun tak dapat dipungkiri kepingan narasi maupun pengalaman yang diungkap oleh para bomber ini dapat menjadi satu materi retrospektif bagi graffiti kota Yogya yang terus menorehkan kisahnya.

Donna Carollina

Simak pawarta lain terkait , atau adicara menarik lain yang diunggah oleh Jaring Acara


Ingin mengunggah dan mewartakan kegiatan serta acaramu di Situs WARTA AGENDA ACARA | PAWARTA ADICARA JARINGACARA?
Klik Registrasi dan atau Login! Baca juga Syarat & Ketentuannya!

Sila Siarkan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *