Pawarta Adicara!

JARINGACARA sebagai media publikasi memiliki keinginan turut memberi warna dalam mengabarkan segala agenda acara seni budaya, pariwisata, warta, cuaca, juga menebarkan canda-tawa.
Perihal kontak kerjasama publikasi pun media partner, sila simak “Syarat dan Ketentuan“.

HIGHLIGHT
   
Pameran Seni HIATUS 2019 di UGM

Open Submission Pameran Seni HIATUS 2019 di UGM

Diunggah oleh Haiki Murakabi, pada tanggal 9 Agustus 2019

Sebagai latar belakang dari dihelatnya pameran seni HIATUS adalah bahwa di Indonesia pada akhir-akhir ini muncul berbagai fenomena sosial yang melibatkan identitas di dalamnya, dan hal itu terjadi tak lain adalah adanya anggapan perihal ampuhnya pelibatan identitas itu sebagai alat mobilisasi massa.

Masifnya penggunaan identitas sebagai mobilisasi massa karena identitas itu sendiri dijadikan sebuah konstruksi, ia dibentuk dan dibangun oleh masyarakat dan bersifat cair (fluid), dalam arti ia mampu dibentuk melalui narasi yang ada oleh sebuah kelompok tertentu hingga kemudian tertanam pada individu manusia. Konsekuensi yang harus dihadapi adalah, bahwa identitas yang sebenarnya secara netral melekat dalam diri manusia ini ternyata dapat berdampak sebagaimana “toxic” alias ‘racun’ apabila narasi yang dibentuk mendorong stereotipe yang kemudian memunculkan stigma terhadap suatu identitas tertentu di dalam sosial masyarakat. Terlebih apabila ia kemudian mampu mempolarisasi masyarakat ke dalam beberapa kelompok identitas masyarakat dengan latar-belakang berbeda.

Seiring berkembangnya zaman, telah terjadi miskonsepsi oleh masyarakat mengenai stigma itu sendiri yaitu bahwa stigma seolah-olah hanya menyerang “minoritas”. Padahal kenyataanya tak banyak yang sadar bahwa stigma juga menyerang identitas-identitas yang melekat pada ‘mayoritas’.

Baca juga:  Dari Batu Air dan Alam Pikir untuk Udara dan Kehendak Manusia

Tak pelak, hal yang terkait dengan stigma di atas menimbulkan cara pandang yang hitam dan putih, seolah-olah identitas hanya berupa A atau B, hingga luput bahwa pada dasanya identitas dapat berupa merah biru maupun hijau kuning. Dengan begitu, sekali lagi bisa dikatakan bahwa masyarakat belum sepenuhnya memahami bahwa identitas itu sejatinya bersifat cair (fluid). Di kondisi seperti inilah Pameran Seni HIATUS tahun 2019 ini dihelat.

Harapan untuk Perupa pada Pameran Seni HIATUS

HIATUS 2019 mengajak para perupa guna memberikan beragam pertanyaan terhadap diri masing-masing; Label apa saja yang pernah menempel pada dirinya? Atas dasar apa perupa diberikan kesan tersebut? Apakah label-label tersebut benar menggambarkan diri perupa yang sesungguhnya? Stigma tersebut bukan hanya tentang siapa mereka, namun juga tentang siapa kita dan bagaimana kita memandang jiwa kita masing-masing.

Selanjutnya melalui pameran seni HIATUS 2019, perupa diharapkan bisa merefleksikan stigma yang pernah dilekatkan atas diri dan merealisasikannya ke dalam bentuk karya seni, sehingga dari sana dapat dibuka perspektif yang lebih berwarna mengenai siapa kita dan mereka yang sebenarnya.

Tujuan Pameran Seni HIATUS 2019

Ada beberapa tujuan dari diselenggarakannya pameran seni HIATUS tahun 2019. Dua di antaranya adalah sebagaimana terpapar di bawah ini.

  • Mendekonstruksi Stigma yang Melekat pada Suatu Individu (Kelompok)

Stigma secara nyata telah memberikan pengaruh dalam cara pandang seorang individu terhadap kelompok tertentu. Hal ini yang pada akhirnya menghasilkan hambatan bagi suatu kelompok untuk dapat mengekspresikan diri mereka sendiri.

Baca juga:  Pameran Kembulan Lesbumi PWNU DIY

Dengan konstruksi pikiran yang sudah terbentuk oleh sebagian besar orang, apa yang dilihat oleh mereka akan membuat individu ataupun kelompok tertentu tidak dapat menunjukkan realita dari jati diri mereka yang sesungguhnya. Oleh karena itu, dekonstruksi stigma diperlukan untuk menyadarkan masyarakat tentang cara memandang sesuatu dari sudut pandang yang berbeda.

  • Mendorong Setiap Pengunjung untuk Tidak Hanya Menerima Keberagaman, Melainkan juga Menyadari Keberagaman dengan Pikiran Lebih Kritis

Terkadang adanya konsep toleransi yang diajarkan pada masyarakat akan membuat keberagaman menjadi sesuatu yang wajar dan biasa. Orang-orang akan menganggap adanya perbedaan adalah sesuatu yang tidak menarik lagi. Pada akhirnya, pikiran-pikiran tersebut membuat masyarakat multikulturalis menjadi lebih mudah dalam menerima keberagaman.

Baca juga:  Pameran Seni Rupa Persinggahan Dwi Rahayuningsih

Namun sebaliknya, disebabkan sudah menjadi hal biasa, tak pelak orang-orang pun hanya sebatas mempelajari keberagaman tersebut dari permukaan saja, dan tidak mencoba untuk berpikiran lebih kritis mengenai mengapa keberagaman tersebut bisa terjadi serta apa motif dari keberagaman tersebut.

Dari paparan di atas, dengan dihelatnya Pameran Seni HIATUS tahun 2019 ini diharapkan persepsi lain dari identitas tertentu akan muncul dan memberi pemahaman yang lebih mendalam tentang latar belakang mereka. Dan dari terbukanya berbagai perspektif tersebut, diharapkan pihak yang terlibat –yang awalnya dapat menerima keberagaman– juga menjadi bisa menyadari akan keberagaman tersebut dengan cara yang lebih kritis. []

Open Submission for Art Exhibition | Hiatus Needs You
 Theme  “Perspective: Uncovering Stigma”
 Time  July 20, 2019 – August 25, 2019
 Submit Your Concept through:  ugm.id/OPENSUBHIATUS19
 Contact Person  0812 3516 9094 (Amara)

Artikel pun Pawarta di atas diunggah dan dipublikasikan oleh 'Haiki Murakabi'. Isi ada di luar tanggung jawab redaksi, karenanya untuk informasi, sanggahan, saran, dan lain-lain, mohon kontak langsung pengunggah (Haiki Murakabi).

Ingin mengunggah serta mewartakan kegiatan dan acaramu di Situs WARTA AGENDA ACARA | PAWARTA ADICARA JARINGACARA juga?
Sila Klik Registrasi dan atau Login. Simak juga Syarat & Ketentuannya!

Sila Siarkan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *