Pawarta Adicara!

JARINGACARA sebagai media publikasi memiliki keinginan turut memberi warna dalam mengabarkan segala agenda acara seni budaya, pariwisata, warta, cuaca, juga menebarkan canda-tawa.
Perihal kontak kerjasama publikasi pun media partner, sila simak “Syarat dan Ketentuan“.

HIGHLIGHT
   
Pameran Karel Dudesek

Pameran Karel Dudesek di Studio Kalahan Yogyakarta

Diunggah oleh Rika Purwaka, pada tanggal 25 Juli 2019

Pameran Karel Dudesek | Keberadaan objek visual dalam lingkungan sehari-hari kita memperlihatkan keberaneka ragaman kehidupan, teknologi, media, moda produksi maupun kebudayaan di sekitar kita. Tidak terkecuali objek visual yang diinvasi oleh ideologi tertentu, baik secara sublim, ataupun yang vulgar seperti kampanye politik yang akhir-akhir ini telah berlalu.

Sebagian dari objek visual ini tidak terelakkan dan diberhentikan keberadaannya, menerobos garis batas otonomi kita, sudah peranan dari keberlangsungan detak peradaban. Sebagian lagi tak acuh dengan kesanggupan daya olah masyarakat yang menerimaanya, maupun konsentrasi kita untuk menerimanya ketika sedang beraktivitas di luar rumah atau saat kita berselancar di internet di sela-sela waktu istirahat. Kemajemukan objek visual di ruang publik kita sehari-hari merupakan padanan kumpulan ideologi yang saling bertabrakan, bertumpuk dan berkompetisi, seolah lingkungan kita tak teratur.

Pameran Karel DudesekTidak ada suatu perhatian atas objek visual yang berada dalam ruang publik mana saja dapat menarik diri kita ke dalam ataupun ke luar. Betapa objek visual tersebut menempatkan ruang, keadaan sosial maupun orientasi kita. Kesehariannya selalu bergulir begitu saja, mana kala terkait beberapa hal tidak tertudaga, keberadaan objek visual rusak atau hilang dan lalu digantikan oleh yang lain. Sebagian juga tidak terlalu diperhatikan keberadaannya dalam menciptakan imaji, urgensi, jejak, kemajemukan emosi, pergeseran ruang, maupun berbagai akibat lainnya.

Memori dan identitas sosial kita juga turut terbentuk atas objek visual yang berada dalam keseharian kita itu, bahkan sebagian tetap menyimpan tekanan mental untuk kita, dengan cara seperti menghadirkan gambar tertentu (implikasi perokok, sosok diktaktor, dan sebagainya). Tidak bisa tidak untuk mengalami arus eksternalisasi yang dibawa olehnya, seakan-akan hal ini memang sangatlah wajar. Terkadang juga pemandangan yang alamiah terus tergusur dengan bentangan papan reklame, spanduk yang seolah-olah saling merajut, ataupun poster yang bertumbuk. Keberadaan objek visual ini memaksa kita untuk mempercayai realitas yang mereka tawarkan, bersangkut paut dalam pandangan kita sehari-hari, seolah-olah apa yang tersemat darinya merupakan kebenaran, harapan satu-satunya, moralitas yang seharusnya, dan sebagainya.

Office of reDesign, sebuah proyek Karel Dudesek, seorang seniman dan professor seni media dari Vienna, Austria, akan menghadirkan pameran dan pertunjukan seni terbarunya di Studio Kalahan, Yogyakarta, dari tanggal 27 Juli sampai 8 Agustus 2019. Pada proyek ini, melalui tajuk “The Collection of Transformational Works from the Indonesia 2019 Election”, Karel Dudesek memajang kurang lebih 96 kumpulan spanduk dan poster kampanye politik dari pemilu 2019 lalu. Pameran ini juga akan dibuka, mulai pukul 19.00-22.00 WIB , dengan sebuah pertunjukan Wayang Kulit yang didalangi oleh Karel Dudesek sendiri.

Pameran Karel DudesekMelalui pameran Karel Dudesek ini, kita bisa melihat secara blak-blakan bagaiaman relasi kuasa berkelindan di belakang fabrikasi senyuman ramah, tatapan penuh harap, hingga panji-panji penuh peyakinan, yang pada 23 September 2018-13 April 2019 1 menjadi objek visual sehari-hari kita. Dengan hasil desain ulang Karel Dudesek atas aksesoris kampanye terbsut, menggunakan pilihan warna cat minyak dan cat akrilik mencolok atau kadang sama sekali putih yang hanya meninggalkan muka beserta panji-panji. Atas beberapa poster, Karel juga menggunakan piranti lunak untuk memberikan variasi sunting muka. Dislokasi objek visual ini terasa tidak terelakkan ketika menyaksikan sebagian spanduk besar tergantung di pelataran Studio Kalahan, dan sebian lagi terurai pada dinding dan lantai galeri. membawa kita kepada realitas teater demokrasi yang tersemat pada tiap praktik politik, terutama pada pemilu 2019 di seluruh kepulauan Indonesia yang lalu.

Baca juga:  Pre Event Pertama FKY 2019 Mulanira Malyabhara

Kumpulan objek visual yang sudah tidak berada pada tempat yang sepatutunya ini, mengurai keberadaan yang apa adanya. Mengingatkan kembali pada masa kampanye itu, di mana terdapat keberagaman muka para politisi, ada yang familiar dan juga tidak, tua ataupun muda, dengan identitas agama maupun nasionalis. Sehari-hari kita jumpai di persimpangan jalan, di pinggir sawah, di sekitaran plaza kota, di tiap lampu merah, di tiang listrik bahkan di batang pohon. Banyaknya spanduk dan poster dalam koleksi Karel juga menandakan luasan atas tersebarnya unsur utama dari fasad sebuah kekuasaan, kepentingan, maupun ideologi tertentu, disamping dikte panji-panji yang terasa baru maupun yang sudah lawas seperti, “RAKYAT MAKMUR”.

Baca juga:  Workshop Seni Menyulam, Antara Hobi dan Passion

Pameran Karel DudesekDalam koleksinya ini juga, tersemat beragam cerita dari satu spanduk atau poster ke yang lainnya. Semisal terdapat beberapa spanduk yang sama, namun beberapa darinya kehilangan satu atau dua muka dalam spanduk tersebut. Hal ini bisa dikarenakan beragam kemungkinan, salah satunya tersangkutnya kandidat yang hilang oleh kasus-kasus yang sensitif seperti penistaan agama, skandal korupsi ataupun seksual. Juga terdapat sebuah poster yang disunting ulang oleh Karel, untuk menghadirkan extensi varian citra yang lain dari kecantikan salah satu kandidat yang sempat dituduh telah melanggar aturan 2 . Rangkaian fabrikasi kampanye politik terurai seada-adanya, menghadirkan teater demokrasi di depan mata para pengunjung.

Baca juga:  Program Teater FKY 30: Menafsir Mesemeleh

Mengingat banyaknya sampah dari kampanye politik ini sering terbuat dari material yang membutuhkan waktu teramat lama untuk terurai dengan tanah, salah satunya ialah polyvinyl chloride (PVC). Apa yang dilakukan oleh Karel dan sebenarnya juga dilakukan oleh masyarakat dengan siasat-siasat yang terlahir dari tekanan kondisi ekonomi mereka masing-masing, sampah ini terdaur ulang, lingkungan sekali lagi terselamatkan. Banyaknya spanduk, poster, dan bendera yang digelontorkan saat kampanye terkadang dijadikan tenda warung, taplak meja, penutup jok motor dikala siang hari oleh juru parkir, lantai garasi, hingga kolam tambak. Di titik inilah ihwal fantastis ataupun epik yang selalu dipaksakan dalam teater demokrasi kembali netral, kehidupan seutuhnya kembali merakyat. []

Rujukan: Pressrelease studiokalahan

Artikel pun Pawarta di atas diunggah dan dipublikasikan oleh 'Rika Purwaka'. Isi ada di luar tanggung jawab redaksi, karenanya untuk informasi, sanggahan, saran, dan lain-lain, mohon kontak langsung pengunggah (Rika Purwaka).

Ingin mengunggah serta mewartakan kegiatan dan acaramu di Situs WARTA AGENDA ACARA | PAWARTA ADICARA JARINGACARA juga?
Sila Klik Registrasi dan atau Login. Simak juga Syarat & Ketentuannya!

Sila Siarkan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *