Pawarta Adicara!

JARINGACARA sebagai media publikasi memiliki keinginan turut memberi warna dalam mengabarkan segala agenda acara seni budaya, pariwisata, warta, cuaca, juga menebarkan canda-tawa.
Perihal kontak kerjasama publikasi pun media partner, sila simak “Syarat dan Ketentuan“.

HIGHLIGHT
   

“Jogja Istimewa dalam Cerita” Menjadi Tema Pameran Fotografi yang Digelar Paniradya Kaistimewan


Diunggah oleh Utroq Trieha pada tanggal 25 Oktober 2019   (1.178 Readers)

Paniradya Kaistimewan pada akhir Oktober 2019 menggelar pameran fotografi, yaitu bertempat di Kafe Sonobudoyo, Jalan Pangurakan No.6 Yogyakarta. Dan “Jogja Istimewa dalam Cerita” merupakan satu kalimat yang diusung sebagai tema dalam pameran fotografi kali ini.

Paniradya Kaistimewan yang mengusung tema “Jogja Istimewa dalam Cerita” ini merupakan salah satu perangkat daerah di DIY yang dibentuk berdasarkan Perdais No. 1 Tahun 2019 tentang Kelembagaan Pemerintah Daerah Daerah Istimewa Yogyakarta. Lembaga ini memiliki fungsi membantu Gubernur DIY dalam penyusunan kebijakan urusan keistimewaan dan pengoordinasian administratif urusan keistimewaan. Sebagai sebutan dari kepala ataupun pimpinan lembaga ini adalah “Paniradya Pati” alias Pimpinan Paniradya Kaistimewaan, yang kali ini dijabat oleh Drs. Beny Suharsono, M.Si.

Bertempat di Kafe Sonobudoyo dengan alamat di Jalan Pangurakan No.6 Yogyakarta, pameran photography yang mengusung tajuk “Jogja Istimewa dalam Cerita” kali ini bakal berlangsung selama selama tiga hari, yaitu dimulai sejak hari Jumat 25 Oktober 2019, dan akan berakhir pada hari Minggu, tanggal 27 Oktober 2019. Sementara waktunya dimulai pada setiap pukul 10:00 WIB hingga pukul 21:00 WIB.

Kenapa Harus “Jogja Istimewa dalam Cerita” pada Pameran Fotografi ini?

“Jogja Istimewa dalam Cerita” diusung sebagai tema pada Pameran Fotografi ini, pasalnya sebagai dasar gelarannya diawali dengan menilik sejarah keberadaan Jogjakarta yang terkait dengan Indonesia.

Paniradya Kaistimewan sepenuhnya menyadari akan keberadaan Yogyakarta, bahwa sudah sejak permulaan kemerdekaan republik ini, Daerah Istimewa Yogyakarta kenyataannya memang telah menjadi miniatur bagi keberagaman Indonesia. Tak lain adalah sedari Ngarso Dalem -Sri Sultan Hamengku Buwono IX membuka pintu seluas-luasnya bagi seluruh rakyat Indonesia dari segala penjuru guna mengenyam pendidikan di Jogakarta itu sendiri.

Kala itu, meski dengan keterbatasan yang ada, Kraton Jogja tetap membuka banyak ruang agar anak mudadapat bersekolah dan mengenyam pendidikan. Karenanya, tak heran apabila Jogja menjadi tempat dilahirkannya kampus negeri pertama di Indonesia. Sifat orang Jogja yang terbuka terhadap budaya baru berbaur seiring dengan semakin banyaknya orang yang datang dari daerah lainn, kemudian bersekolah, dan bahkan hingga menetap di Jogja.

Apalagi jika digali lebih dalam, Jogja bukan hanya sebatas dikenal sebagai kota pelajar, lebih dari itu, ia juga bertumbuh sebagai melting pot bagi banyak budaya. Baik itu budaya nusantara, pun yang hadir dari mancanegara. Pada akhirnya, kehidupan masyarakat Jogja dengan keistimewaan seperti itulah yang menjadi salah satu daya tarik bagi wisatawan.

Agenda Pameran Fotografi 'Jogja Istimewa dalam Cerita' oleh Paniradya Kaistimewan

  • Pandangan Sosial Ragam Budaya

Dipandang dari sisi sosial, hidup bersama dalam masyarakat denganlatar belakang budaya yang beraneka-ragamnya, maka sudah barang tentu dituntut adanya solidaritas atau kesetiakawanan sosial antaranggota masyarakat, baik dalam keadaan senang, gembira, bahagia, ataupun dalam keadaan sulit, susah, sedih, serta merana. Manis pahit sudah selayaknya dihadapi dan dirasakan bersama, atau dalam idiom Jawanya “sabaya mati, sabaya mukti“.

Baca juga:  Gas ke Indonesian Scooter Festival 2019 Bersama Atta Halilintar dan Budi Doremi

Pun dalam sikap-laku yang ditunjukkan keseharian. Sudah selayaknya antarkita, satu dengan lainnya, harus saling tolong-menolong sekaligus bantu-membantu. Karena pada akhirnya dengan laku semacam itu, bukan tidak mungkin setiap permasalahan yang timbul bisa dihadapi dan diselesaikan lebih ringan, utamanya dalam menangani urusan yang ada hubungannya terhadap kepentingan bersama. Artinya, antaranggota masyarakat sewajarnya seia-sekata, bergotong royong bahu-membahu dalam menyelesaikan segala urusan secara bersama dengan sebaik-baiknya. Hal tersebut tentu sejalan dengan saloka yang berbunyi “Saiyek saéka kapti”.

  • Pandangan Nilai Sosial-Budaya

Dilihat dari nilai, dalam menjalankan kepentingan umum seyogyanya tak harus selalu didasarkan pada hitung-hitungan imbalan materi. Lebih dari itu, yang harus disadari adalah, bahwa tak semua hal bisa dimaterikan. Karenanya, dalam bekerja demi kepentingan umum sudah selayaknya diletakkan sebagai wujud keutamaan tugas yang harus diemban manusia sebagai makhluk Tuhan. Inilah sikap dari pengejawantahan atas kalimat idiom “sepi ing pamrih, ramé ing gawé“.

Hal di atas dilaksanakan tak lain adalah demi memperindah dan menjaga kelestarian dunia, sebagaimana berulang dipaparkan oleh Ki Hadjar Dewantara, yaitu “hamemayu hayuning bawana” guna melengkapi sikap-laku ‘hamemayu hayuning sarira’ serta ‘hamemayu hayuning bangsa’. Hal ini dilakukan agar dunia senantiasa memberi perasaan aman dan damai (ayom-ayem) bagi penghuninya.

Selanjutnya dalam menjaga kohesi dan harmoni kehidupan sosial, hubungan antaranggota masyarakat haruslah dilandasi oleh prinsip hormat, di mana sebagai susunan penghormatan secara runut dalam tradisi Jawa, khususnya di Yogyakarta adalah:

  1. Penghormatan pertama-tama diberikan kepada kedua orangtua atau “ingkang dingin rama ibu”
  2. Yang kedua terhadap mertua lelaki dan mertua perempuan alias “kaping kalih maratuwa lanang wadon”
  3. Sementara laku-hormat yang ketiga kepada saudara tua atau dalam bahasa lainnya berbunyi “kaping katri marang sadulur tuwa”
  4. Sedangkan yang ke-4 harus hormat terhadap guru, “kaping paté mring guru sayekti”
  5. Dan terakhir sikap hormat di depan pemimpin atau atasan, yang dalam bahasa lainnya disampaikan sebagai “kaping lima marang gustinira”

Jika menilik laku-hormat di atas, tentu kita bisa menggaris-bawahi bahwa yang hormat adalah mereka dengan posisi di bawah dan tak lebih, sementara yang dihormati adalah yang di atas pun yang lebih tinggi. Namun kenyataannya tak sebatas hormat sebagaimana hierarki yang ada. Pasalnya, ketika yang muda harus menghormati yang tua atau yang dituakan, namun sebaliknya, yang tua atau yang dituakan juga memiliki kewajiban untuk selalu menghargai, melindungi, membimbing, dan juga menyayangi yang muda ataupun yang lebih rendah.

Artinya, secara garis besar dapat disarikan bahwa prinsip hormat ini dijalankan agar setiap manusia memiliki kesediaan dalam memanusiakan orang lain, sehingga dari lain pihak dari dirinya juga memiliki rasa dimanusiakan oleh orang lain. Atau dalam bahasa lain adalah memanusiakan manusia; “nguwongké lan diuwongké”

Berlaku pararel dengan prinsip memanusiakan orang tersebut adalah prinsip empati dan timbal-balik alias sikap tepa-salira.

Sementara prinsip hormat yang sifatnya lebih mengarah ke batiniah diekspresikan secara lahiriah dalam wujud sopan santun ataupun tata krama; unggah-ungguh. Di mana perilaku sopan-santun tersebut bakal menjauhkan orang dari celaan, “tata krama iku ngadohaké ing panyendhu”.

  • Pandangan Sikap

Selanjutnya ketika dilihat dari sisi pergaulan, seseorang sudah semestinya pandai dalam mengemas diri, yaitu itu terdiri dari tiga kemasan;

  1. Dengan Kemasan Bahasa
  2. Dengan Kemasan Busana
  3. Dengan Kemasan Gerak-gerik Anggota Tubuh
Baca juga:  Kelompok Kesenian Jathilan Kudho Asmoro Hadir di Pre-event FKY 2019

Ketiga kemasan tersebut selayaknya bisa disampaikan dengan disertai laku santun dan sedapat mungkin menyenangkan hati orang yang ada di sekitarnya. Seturut dengan hal itu, maka dituntut pula agar seseorang bisa cermat dalam menyesuaikan ketiga kemasan tadi dengan waktu yang tepat, sekaligus tempat dan konteks yang pas dan semestinya. Atau, dalam idiom jawa bisa pula disepadankan dengan isitilah “angon mangsa”, “empan papan”, dan “duga prayoga”.

Sebagai dasar terdalam dari semua itu tak lain adalah sikap batin yang harus dijaga, bahwa laku dan tindak menghormati itu bukanlah wujud kerendahdirian. Lebih dari itu, ia merupakan wujud kerendahatian.

Demikian beberapa hal ikhwal “Jogja Istimewa dalam Cerita” yang dijadikan sebagai tema pada pameran fotografi yang dihelat oleh Paniradya Kaistimewan tahun 2019. Drs. Beny Suharsono, M.Si selaku Paniradya Pati menyampaikan bahwa keberagaman tidak harus menjadi keseragaman, tapi ia bisa menjadi keselarasan.

Pada akhirnya, dari kesimpulan seperti yang diungkapkan Paniradya Pati itulah kemudian Paniradya Kaistimewan meresponnya dengan mendesain Pameran Fotografi bertajuk utama “Jogja Istimewa dalam Cerita” ini.

Lomba Foto 'Jogja Istimewa dalam Cerita' oleh Paniradya Kaistimewan

Penyebarluasan Informasi Keistimewaan Yogyakarta

Fotografi yang mengusung tema “Jogja Istimewa dalam Cerita” kali ini dipilih oleh Paniradya Kaistimewan sebagai salah satu cara Penyebarluasan Informasi Keistimewaan Daerah Istimewa Yogyakarta dengan latar-belakang dari mengamati keberagaman budaya yang tumbuh di Jogja. Artinya, apabila hal itu dibingkai dalam bentuk fotografi, bukan tidak mungkin bakal menjadi sajian yang memiliki nilai jual saat dikemas di media cetak, media elektronik, pun sosial media.

Hal di atas dilakukan mengingat pergerakan fotografi yang mengalami perkembangan pesat pada beberapa tahun terakhir, yaitu semenjak memasuki era revolusi digital. Sebuah foto tidak hanya mampu menggambarkan objek yang ada di dalamnya, namun ia sekaligus juga mampu menyebarluaskan informasi tertentu.

Rangkaian Program Fotografi

Secara terpadu, semua ragam acara dan kegiatan ini dilangsungkan dengan tempat di area Kafe Sonobudoyo dengan alamat di Jalan Pangurakan No.6 Yogyakarta. Dan beberapa rangkaian programnya adalah sebagaimana tersebut di bawah ini.

  • Pameran Fotografi | 25-27 Oktober 2019, 10:00 – 21:00 WIB

Pameran photography yang menyajikan ragam karya terkait keistimewaan Jogja kali ini bakal berlangsung selama selama tiga hari, yaitu dimulai sejak hari Jumat 25 Oktober 2019, dan akan berakhir pada hari Minggu, tanggal 27 Oktober 2019. Sementara waktunya dimulai pada setiap pukul 10:00 WIB hingga pukul 21:00 WIB.

  • Workshop Membingkai Jogja Istimewa

Masih dalam helatan yang digelar oleh Paniradya Kaistimewan pada seputar dunia fotografi kali ini, untuk rangkaian kegiatan berbentuk pameran, ia bakal dikemas berbarengan dengan kegiatan berujud workshop. Di mana Workshop Fotografi tersebut membawa judul “Membingkai Jogja Istimewa”, yaitu yang menyoal “Bincang Foto The Best Shot Bersama Giri Wija dan Lomba Foto On The Spot” .

  • Lomba Foto | 27 Oktober

Lomba Foto On The Spot dengan judul “Membingkai Jogja Istimewa” berhadiah total sebesar Rp14.500.000 dengan rincian hadiah:

  1. Juara I sebesar Rp5.000.000,-
  2. Juara II sebesar Rp3.500.000,-
  3. Juara III sebesar Rp2.250.000,-
  4. Juara Harapan I sebesar Rp1.500.000,-
  5. Juara Harapan II sebesar Rp1.250.000,-
  6. Juara Harapan III sebesar Rp1.000.000,-
Baca juga:  Dari Jogja Cross Culture 2019 Menuju Kota Budaya Dunia

Peserta Lomba Foto On The Spot dapat mengikuti lomba ini dengan daftar online di bit.ly/lombafotojogja dan wajib hadir untuk registrasi ulang pada hari Minggu, 27 Oktober 2019 pukul 11.00 – 12.00 WIB di halaman Museum Sonobudoyo.

  • Bincang Foto | 26 Oktober 2019; 18.00 WIB

Bincang Foto The Best Shot Bersama Giri Wija menjadi rangkaian acara yang akan berlangsung pada hari Sabtu, 26 Oktober 2019 pukul 18.00 WIB di Kafe Sonobudoyo, Yogyakarta.

Sinergi antara pameran fotografi, workshop dan lomba foto ini diharapkan semakin menyebarluaskan informasi tentang keistimewaan Daerah Istimewa Yogyakarta ke lingkup lebih luas.

  • Gelaran Musik | 19:30 – 20:30 WIB

Dalam kurun waktu 3 hari diselenggarakannya pameran fotografi bertema “Jogja Istimewa dalam Cerita” ini, maka setiap malam, yaitu pada pukul 19:30 hingga 20:30 WIB akan dihadirkan pula gelaran musik yang dipersembahkan beberapa penampil. Di antaranya untuk hari pertama disajikan oleh Wave Musik, kemudian hari kedua oleh Bait Nugraha, sedangkan di akhir ada sajian musik yang performer-nya masih dirahasiakan, alias Mystery Guest.

Demikian perihal kegiatan yang terkait dengan dunia photografi dan dihelat oleh salah satu perangkat daerah di DIY berjuluk Paniradya Kaistimewan ini. Untuk informasi lebih lanjut dapat menghubungi nomor 0817273091, atas nama Alexius Widhi Nur Pambudi. Bisa pula mengirimkan surat elektronik ke alamat paniradyaKaistimewan@gmail.com, dan atau bisa pula menyimak segala pawartanya melalui akun-akun sosial media, baik Twitter, Instagram, Fanspage FB, serta Youtube, yang masing-masing akun tersebut menggunakan nama (user-name) @paniradyajogja. [uth]

Simak pawarta terkait , atau adicara menarik lain oleh Utroq Trieha


Ingin mengunggah dan mewartakan kegiatan serta acaramu di Situs WARTA AGENDA ACARA | PAWARTA ADICARA JARINGACARA?
Klik Registrasi dan atau Login! Baca juga Syarat & Ketentuannya!

Sila Siarkan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *