Pawarta Adicara!

JARINGACARA sebagai media publikasi memiliki keinginan turut memberi warna dalam mengabarkan segala agenda acara seni budaya, pariwisata, warta, cuaca, juga menebarkan canda-tawa.
Perihal kontak kerjasama publikasi pun media partner, sila simak “Syarat dan Ketentuan“.

HIGHLIGHT
   
Pameran A(r)tmosphere

Pameran A(r)tmosphere


Diunggah oleh Sepeda Jogja pada tanggal 25 Mei 2018   (71 Readers)

Pameran A(r)tmosphere | Praktek pewarisan ketertarikan terhadap bidang tertentu, dari satu generasi ke generasi selanjutnya, merupakan hal jamak terjadi dalam realitas kehidupan berkeluarga. Pewarisan ini, terkadang bersifat otoriter dengan mengharuskan generasi lebih muda di keluarga, untuk memegang teguh jejak yang telah dibuat pendahulunya. Ada yang menerima dengan sukarela, ada pula cerita pemberontakan terhadap pemaksaan tersebut. Di sisi yang lain, terdapat pula karakter pewarisan, yang sifat pembelajarannya tersembunyi, halus dan tanpa disadari. Seolah terlihat sebagai hal yang wajar dan alamiah. Bahkan orang yang terlibat didalamnya, seringkali terpukau dan bingung, mengapa dia tiba-tiba telah berdiri di jejak dan arah hidup yang sama dengan generasi sebelumnya. Pertanyaan lanjutan yang kemudian menghampiri, mengapa dan bagaimana tradisi pewarisan ini, hadir dalam kehidupan berkeluarga? Apakah sisi naturalistik pepatah “the apple never falls far from the tree”, memang benar?

Bourdieu mengembangkan gagasan filosofis tentang habitus dan modal, yang memungkinkan untuk digunakan memeriksa sistem operasi penyelinapan ‘alamiah’ pewarisan ideologi keluarga tersebut. Sebagai produk dari sejarah, habitus, merupakan struktur mental yang terinternalisasi, juga berkelindan dengan konstruksi dasar atas sistem nilai dan evaluasi, yang dipakai oleh seorang individu pada saat berhubungan dengan realitas dunia sosial. Habitus, dalam konteks ini, hadir dengan fungsinya sebagai matrix of percepstions, appreciations dan actions, yang menjadi tonggak awal munculnya cara pandang atas suatu hal, mempengaruhi nalar berpikir tentang hal tersebut dan membentuk penentuan pilihan tindakan terhadapnya. Habitus keluarga, mewujud melalui hubungan dialektis antara pembelajaran dengan pola pengasuhan, pendidikan formal dan informal serta kerangka rancangan permainan yang dipercayai menjadi salah satu faktor pembentuk karakter seorang anak.

Baca juga:  Nusasonic Menyelami Keberagaman Budaya Bunyi dan Musik Eksperimental

Selanjutnya, adalah modal, yang digambarkan sebagai akumulasi sumber daya yang dapat digunakan oleh seorang individu untuk kebermanfaatannya. Bourdieu, menggolongkan modal menjadi modal ekonomi (sumber daya ekonomi, pendapatan dll), budaya (sumber daya budaya, pengetahuan umum, ketrampilan, nilai, pendidikan formal, keahlian), sosial (sumber daya berupa jaringan dan relasi sosial) dan simbolik (sumber daya berupa status, pengakuan/legitimasi, otoritas). Akumulasi keempat modal yang telah dikumpulkan dan dimiliki dalam garis keturunan keluarga, menjadi suatu investasi yang bukan hanya membuka dan memberikan, melainkan juga melapangkan serta memperkuat akses dan penempatan posisi individu dalam ranah sosialnya. Habitus serta modal ini, secara pelan dan pasti menjadi rajutan benang merah, yang membentuk pola pewarisan ketertarikan terhadap bidang tertentu dalam keluarga dan disaat bersamaan pula, menutupi kesadaran untuk dapat mengamati dengan jelas proses internalisasinya, yang seringkali terlihat sebagai reaksi mekanistis dan atau bahkan alamiah.

Pameran A(r)tmosphereDalam Pameran A(r)tmosphere, Roziq dan Rozzan, ayah-anak, mempunyai hubungan ulang alik, yang saling mempengaruhi dan unik dalam kerja kreativitas mereka. Apabila kita menengok ke belakang untuk memperhatikan narasi yang dibangun dalam beberapa karya Roziq, maka akan terasa kental aroma permainan anak dan jika menelusurinya lebih lanjut, akan berpangkal pada interaksi dan cara baca Roziq terhadap dunia sekeliling anaknya. Bagi Rozzan sendiri, sebagai seorang anak yang masih terikat secara penuh dengan orangtua, lingkungan kehidupan keluarga, berperan besar mengantarkan ke dalam dimensi kehidupan yang dilakukannya saat ini. Tumbuh dan besar dalam keluarga yang pilihan hidupnya berada di wilayah artistik, menciptakan dan memberi Rozzan akses terhadap ruang kreativitas tersendiri, yang terus bergerak dan mengalami perubahan, sejalan dengan perkembangannya sebagai seorang anak.. Dari penemuan sosok idol dalam diri raja pop Michael Jackson (saya masih terkagum, bagaimana Rozzan, pertamakali memamerkan kemampuannya melakukan moon-walk kepada saya saat dia masih berumur 9 tahun(?)), beranjak remaja dan menyukai karakter komikal super hero seperti Iron Man dan Spiderman, hingga sampai tahapan pencapaian untuk menemukan dan menciptakan karakter yang sesuai dengan keinginan, merupakan rekaman jejak dari proses tumbuh kembangnya. Menariknya lagi, rekam jejak tersebut mampu membawa pengalaman eksotis tersendiri bagi Rozzan, yang mungkin tidak semua anggota masyarakat mau dan dapat melakukan, yaitu mempresentasikan di ruang seni. Secara tidak langsung, kemampuan untuk mematerialisasikan imajinasi ke dalam bentukan karya seni, menjadikan layer sejarah hidup Rozzan, terbingkai dengan cara yang khas, istimewa dan menyenangkan.

Baca juga:  Gas ke Indonesian Scooter Festival 2019 Bersama Atta Halilintar dan Budi Doremi

Meskipun begitu, ketika kita kembali lagi pada teori Boerdieu di atas, perjalanan Rozzan tersebut bukanlah suatu hal yang muncul secara tiba-tiba. Melainkan, dipengaruhi oleh struktur lingkungan terdekat, yaitu keluarga, yang menyelimuti kehidupan personal Rozzan. Roziq, dengan pilihan totalitas kehidupannya sebagai seorang seniman, membentuk habitus serta modal, yang kemudian disadari maupun tidak, memberikan dampak yang mengalir pekat dalam cara personifikasi diri Rozzan. Pandangan hidup Roziq (dan tentunya juga tidak akan melupakan sang istri, Eva), pola pembimbingan dan sistem pengasuhannya terhadap Rozzan serta penanaman idealisasi atas apa yang diinginkan dan diharapkan dalam berperikehidupan dan kemanusian, meresap dan menumbuhkan akar ketertarikan atas seni dalam diri Rozzan. Begitu juga jalinan berbagai modal yang telah diakumulasikan oleh Roziq dalam petualangan hidupnya, turut serta mewarnai proses internalisasi minat Rozzan terhadap seni.

Baca juga:  Festival Equator Biennale Jogja Equator#4 Indonesia-Brasil

Tanpa mengurangi rasa hormat terhadap kemampuan alamiah yang unik dari seorang anak untuk menyerap dan  mengembangkan pengetahuannya secara mandiri, ketersediaan cara pandang, keterampilan, kesempatan dan akses jaringan berkesenian yang mengitari dan yang telah dibangun disekeliling Rozzan, bukanlah suatu hal yang tabu dan harus dihindari. Hal tersebut merupakan ketersediaan pilihan, yang sudah seharusnya dimanfaatkan serta digunakan olehnya sebagai bekal pengembangan diri lebih lanjut. Bagi saya pribadi, adalah hal yang menyenangkan untuk menunggu tahapan yang akan dipilih oleh Rozzan kemudian. Setiap langkah adalah sebuah jejak, dan bagi orangtua, tidak ada moment yang lebih menggembirakan dan membanggakan dibandingkan kesempatan untuk dapat menyertai serta terlibat bersama dalam rangkaian jejak yang dibuat oleh sang anak. Selamat berpameran Rozzan dan Roziq, sampai bertemu di langkah kalian berikutnya.

Simak pawarta terkait , atau adicara menarik lain oleh Sepeda Jogja


Ingin mengunggah dan mewartakan kegiatan serta acaramu di Situs WARTA AGENDA ACARA | PAWARTA ADICARA JARINGACARA?
Klik Registrasi dan atau Login! Baca juga Syarat & Ketentuannya!

Sila Siarkan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *