Pawarta Adicara!

JARINGACARA sebagai media publikasi memiliki keinginan turut memberi warna dalam mengabarkan segala agenda acara seni budaya, pariwisata, warta, cuaca, juga menebarkan canda-tawa.
Perihal kontak kerjasama publikasi pun media partner, sila simak “Syarat dan Ketentuan“.

HIGHLIGHT
   
Ngebluk Ngapem Sugengan dan Labuhan dalam Tingalan Jumenengan Dalem Sri Sultan Hamengku Buwono

Ngebluk Ngapem Sugengan dan Labuhan dalam Tingalan Jumenengan Dalem Sri Sultan Hamengku Buwono


Diunggah oleh Utroq Trieha pada tanggal 6 Maret 2020   (333 Readers)

Helatan Tingalan Jumenengan Dalem Sri Sultan HB X Tahun 2020 yang mengusung tema ‘Busana dan Peradaban di Keraton Yogyakarta’ dimulai pada tanggal tanggal 7 Maret 2020, di mana ada banyak rangkaian acara yang tersedia seiring gelarannya.

Sehubungan dengan helatan Tingalan Jumenengan Dalem Sri Sultan Hamengku Buwono yang merupakan peringatan naiknya tahta, maka bisa dimaknai bahwa hal ini serupa dengan acara ulang-tahun, karenanya ia bakal diselenggarakan rutin setiap tahun. Hal yang perlu diketahui adalah, bahwa antara Sultan pertama hingga Sulta ke-10, tentu waktnya tak selalu sama.

Untuk Sri Sultan Hamengku Buwono X sebagai raja (Yogyakarta) yang bertahta saat ini, 7 Maret 1989 atau dalam penanggalan jawa adalah 29 Rejeb tahun Wawu 1921, menjadi hari dinobatkannya sebagai pimpinan tertinggi Ngayogyakarta Hadiningrat yang awalnya memiliki nama KGPH Mangkubumi. Karenanya, setiap tanggal 29 Rejeb di tahun-tahun berikutnya selalu diagendakan peringatan ulang tahun penobatan Sri Sultan Hamengku Buwono X.

Ikhwal perayaan Tingalan Jumenengan Dalem Sri Sultan Hamengku Buwono tersebut, ada banyak sekali prosesi yang harus dilaksanakan. Bahkan untuk tahun 2020, selain acara adat seperti Ngebluk, Ngapem, Sugengan, dan Labuhan, ada pula gelaran Pameran Budaya, Simposium Internasional, dan juga Pertunjukan Seni.

Ngebluk Ngapem Sugengan dan Labuhan dalam Tingalan Jumenengan Dalem Sri Sultan HB

Apa itu Ngebluk, Ngapem, Sugengan, dan Labuhan?

Sebagai acara adat, pertanyaan yang muncul adalah apa itu Ngebluk, Ngapem, Sugengan, dan Labuhan? Di bawah ini ada beberapa peaparan yang dapat disarikan terkait acara adat tersebut.

  • Ngebluk

Ngebluk menjadi acara adat yang dilakukan pada hari pertama perayaan Tingalan Jumenengan Dalem Sri Sultan Hamengku Buwono, yaitu tepat pada tanggal 27 Rejeb.

Ngebluk ialah prosesi mempersiapkan bahan dan adonan untuk membuat apem yang biasanya dilakukan di Bangsal Sekar Kedaton, Keputren. Prosesi Ngebluk ini hanya boleh dilakukan oleh para wanita yang dipimpin Permaisuri dan Putri Raja tertua. Selain para Putri Raja, orang-orang yang terlibat pada prosesi ngebluk adalah para kerabat Keraton beserta Abdi Dalem Keparak.

Istilah Ngebluk sendiri asal-mulanya berasal dari suara ‘bluk’ sebagai satu bunyi yang ditimbulkan pada saat mencampur adonan apem secara terus menerus oleh para Sentana Dalem Putri dibantu Keparak.

Baca juga:  Workshop Seni Menyulam, Antara Hobi dan Passion

Awal proses yang dilakukan adalah; para Putri dibantu oleh Abdi Dalem mencampurkan bahan yang diperlukan guna dijadikan adonan bakal apem, kemudian adonan tersebut diaduk hingga tercampur. Ketika adonan tersebut telah bercampur dan telah berujud menjadi jladren, selanjutnya ia dipindahkan ke dalam enceh (gentong berukuran besar), kemudian didiamkan selama satu malam agar adonan mengembang.

Seturut dengan proses pengerjaan adonan di atas, saat bersamaan beberapa Abdi Dalem Keparak memiliki tugas lain untuk mengeluarkan layon sekar, yaitu bunga sesaji yang sudah layu atau mengering, dari Gedhong Prabayeksa yang merupakan gedung penyimpanan Pusaka. Layon sekar yang terkumpul selama satu tahun akan menjadi salah satu ubarampe (syarat-kelengkapan) yang akan dilabuh.

  • Ngapem

Ngapem merupakan prosesi adat yang dilakukan pada hari kedua (28 Rejeb). Ialah kegiatan memasak apem yang bahan dasar adonannya telah dipersiapkan sehari sebelumnya, yaitu pada prosesi yang dinamakan Ngebluk.

Prosesi adat bernama Ngapem ini langsung dikomando oleh permaisuri dan para putrinya, serta diikuti oleh sanak-keluarga serta kerabat putri. Ada beberapa hal yang perlu diperhatikan, yaitu bahwa pada acara adat memasak apem ini hanya boleh dilakukan oleh perempuan yang telah menikah. Sementara bagi mereka yang belum menikah hanya sebatas diizinkan membantu menata kue apem, itupun tak boleh menyentuhnya secara langsung.

Dalam proses memasak apem ini dilakukan secara tradisional, satu persatu menggunakan tungku. Karenanya, proses pelaksanaannya bia memakan waktu lama, bahkan bisa lebih dari satu hari penuh. Apalagi jumlah kue apem yang dimasak memang mencapai ratusan. Jumlah ratusan itu dibuat karena hendak disesuaikan dengan tinggi badan Sang Raja, pasalnya pada akhirnya apem inilah bagian yang juga harus disusun sesuai dengan tinggi Sri Sultan sebagai sosok yang merayakan kenaikan tahtaya.

Selain itu, ikhwal ukuran apem yang dimasak juga jauh lebih besar jika dibandingkan dengan apem yang biasa dijual di pasar sebagai kudapan. Bahkan ada apem yang dibuat dengan diameter 25cm dengan jumlah sebanyak 600 pasang, juga ada apem mustaka yang berdiameter lebih dari 35cm sebagai apem hasil-buatan para perempuan yang telah menapouse.

Baca juga:  Gitar dan Gadget Berkolaborasi pada Jari Gitaris Mr D

Bukan tanpa alasan apem ini dipersembahkan dalam helatan Tingalan Jumenengan Dalem Sri Sultan Hamengku Buwono, melainkan ia hadir juga dengan maksud membawa nilai filosofi. Bahwa nama “apem” sendiri diserap dari bahasa Arab “afwan” yang berarti maaf. Perihal ini disajikan karena pihak keraton percaya bahwa prosesi perayaan kenaikan tahta ini selaiknya merupakan ajang refleksi untuk meminta maaf atas kesalahan-kesalahan yang diperbuat.

Di prosesi selanjutnya, apem-apem yang telah dimasak seharian inilah yang bakal menjadi ubarampe prosesi pengetan jumenengan dalem. Termasuk beberapa apem ukuran kecil yang akan dibagikan kepada keluarga, kerabat, dan abdi dalem pada prosesi pada hari puncak.

Sementara itu, saat bersamaan dengan prosesi ngapem di atas, para Abdi Dalem Reh Widyabudaya mengemban tugas mempersiapkan ubarampe labuhan, yaitu yang utama berupa seperangkat pakaian yang pernah digunakan Sultan, kemudian seperangkat pakaian untuk laki-laki dan perempuan, potongan kuku dan potongan rambut Sultan, dan tak ketinggalan adalah layon sekar. Ubarampe-ubarampe tersebut dibawa dari Kawedanan Hageng Punakawan Widya Budaya menuju ke Bangsal Manis untuk selanjutnya diteliti kembali kelengkapannya. Apabila semuanya telah lengkap, ubarampe kemudian diinapkan di Gedhong Prabayeksa.

Ngebluk Ngapem Sugengan dan Labuhan dalam Tingalan Jumenengan Dalem

  • Sugengan

Sugengan menjadi hari puncak dari perayaan Tingalan Jumenengan Dalem Sri Sultan Hamengku Buwono, yaitu tepat pada hari ke-3 prosesi, atau jika untuk Sri Sultan HB X waktu tepatnya adalah tanggal 29 Rejeb.

Pada prosesi Sugengan ini ada kenduri atau slametan yang diselanggarakan di Bangsal Kencana, di mana prosesi ini juga dihadiri oleh para abdi dalem kaji yang terdiri atas para ulama dan santri, dan kemudian bertugas untuk mendoakan Sri Sultan.

Terdapat tiga doa utama yang dipanjatkan pada prosesi Sugengan;

  1. Doa untuk memohon keselamatan dan panjang umur bagi Ngarsa Dalem Sri Sultan sebagai raja yang bertahta.
  2. Doa untuk memohon keselamatan dan kesejahteraan bagi keluarga Sultan sebagai pimpinan ataupun raja.
  3. Doa untuk memohon keselamatan dan kesejahteraan bagi masyarakat Ngayogyakarta Hadiningrat
Baca juga:  FKY 30 Terus Berupaya Beri Ruang Semua Pihak

Dalam acara adat Sugengan ini suasana yang dibangun cenderung dilaksanakan secara khidmat, sehingga kesannya memang tak meriah. Hanya saja, ada beberapa rangkaian lain yang tetap menjadi puncak acara yang dapat diikuti, baik bagi undangan pun masyarakat umum.

Labuhan dalam Tingalan Jumenengan Dalem Sri Sultan Hamengku Buwono

  • Labuhan

Labuhan menjadi prosesi terakhir dalam rangkaian acara adat seiring dihelatnya Tingalan Jumenengan Dalem Sri Sultan Hamengku Buwono di Kraton Kasultanan Ngayogyakarta Hadiningrat. Yaitu usai prosesi Sugengan, maka pada keesokan harinya, atau tepatnya pada 30 Rejeb untuk perayaan naiknya tahta Sultan HB X.

Upacara Labuhan ini dilakukan dnegan maksud sebagai penyampaian doa dan pengharapan guna membuang segala sifat buruk, yang dalam pelaksanaannya, Kraton Jogja mengarak seluruh ubarampe yang telah dipersiapkan dari Gedhong Prabeyeksa menuju Bangsal Srimanganti, yang selanjutnya diberangkatkan menuju ke empat titik petilasan, yakni Pantai Parangkusumo, Gunung Merapi, Gunung Lawu, dan Dlepi Khayangan.

Empat titik petilasan itu dipilih sebagai tempat labugan padalnya dinilai memiliki kaitan sangat erat dengan sejarah berdirinya Kerajaan Mataram Islam. Dengan begitu, dapat dikatakan pula bahwa prosesi labuhan ini secara tidak langsung merupakan napak tilas sejarah Kraton Yogyakarta.

Hal menarik pada upacara labuhan ini adalah, bahwa semua abdi dalem yang mengarak ubarampe diharuskan mengenakan pakaian adat lengkap dengan tanpa mengenakan alas kaki, yang itu dikenakan sejak berangkat dari komplek keraton hingga sampai ke lokasi tujuan labuhan, baik itu yang menuju Pantai Parangkusumo ataupun Gunung Merapi.

Hanya saja memang ada pengecualian untuk prosesi labuhan dengan tujuan di titik petilasan Gunung Lawu, karena mengingat medan yang ditempuh cukup sulit dan bahjan cenderung berbahaya, maka biasanya para Abdi Dalem tersebut dilengkapi dengan jaket dan alas kaki. [uth]

Gambar diambil dari Akun Instagram @kratonjogja

Simak pawarta terkait , atau adicara menarik lain oleh Utroq Trieha


Ingin mengunggah dan mewartakan kegiatan serta acaramu di Situs WARTA AGENDA ACARA | PAWARTA ADICARA JARINGACARA?
Klik Registrasi dan atau Login! Baca juga Syarat & Ketentuannya!

Sila Siarkan

2 tanggapan untuk “Ngebluk Ngapem Sugengan dan Labuhan dalam Tingalan Jumenengan Dalem Sri Sultan Hamengku Buwono”

  1. Laku Mulya berkata:

    Gan,
    Kok artikel ini (bahkan juga ilustrasinya) sama persis kek yang di sini ya ~> https://beritaradar.com/2020/03/08/ngebluk-ngapem-sugengan-dan-labuhan-dalam-tingalan-jumenengan-dalem-sri-sultan-hamengku-buwono-tahun-2020

    Ciecieee… kompakan niyee..

    Etapi, postingnya duluan di sini sih… 🙂

    • Jaring Acara berkata:

      Hihii..
      Makasih informasinya.

      Gak papa, selow saja, kan seperti kalimat pepatah; ‘tak ada yang baru di bawah matahari’ ini. 🙂
      Dan lagi, berarti artikel ini ada yang minat. Sedangkan soal etika kan sudah seharusnya sama-sama tahu, toh itu juga ada di Pedoman Pemberitaan Media Siber yang juga telah dikutip dan dipublikasikan medianya… 😀

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *