Pawarta Adicara!

JARINGACARA sebagai media publikasi memiliki keinginan turut memberi warna dalam mengabarkan segala agenda acara seni budaya, pariwisata, warta, cuaca, juga menebarkan canda-tawa.
Perihal kontak kerjasama publikasi pun media partner, sila simak “Syarat dan Ketentuan“.

HIGHLIGHT
   

Musikalisasi Sastra Jentera Sebagai Persembahan Sastra Melalui Pertunjukan Rupa Nada dan Irama


Diunggah oleh Rika Purwaka pada tanggal 18 September 2019   24

Jentera sebagai tema pagelaran Musikalisasi Sastra menjadi agenda yang bakal dihelat di area Taman Budaya Yogyakarta pada Jumat malam tanggal 20 September 2019, yaitu dengan menghadirkan kolaborasi antara para pelaku seni dengan pegiat sastra di Jogjakarta.

Pada helatan Musikalisasi Sastra Jentera kali ini, Taman Budaya Yogyakarta sebagai tuan rumah sekaligus juga bekerjasama dengan Studio Pertunjukan Sastra –SPS. Dengan disajikan dan dipandu oleh Eko Bebek dan Vika Aditya, pada pertunjukan hari Jumat 20 September 2019 yang dimulai sekira pukul 19.00 dan berakhir hingga pukul 22.00 WIB ini bakal dihadirkan empat grup yang penuh talenta. Mereka masing-masing adalah Api Kata Bukit Menoreh, The Wayang Bocor, Paduan Suara Mahasiswa Swara Wadhana UNY, dan Kelompok Kampungan.

Musikalisasi Sastra Jentera Sebagai Persembahan Sastra Melalui Pertunjukan Nada dan Irama Meski masih berada di satu lokasi sama dengan gelaran serupa -selama dua malam- pada tahun 2018 silam, pagelaran ini sedikit bergeser tempat. Ketika dahulu berada di Gedung Societet Taman Budaya Yogyakarta, maka tahun 2019 ini ia merapat ke sebelahnya, yaitu di Gedung Concert Hall Taman Budaya Yogyakarta. Hal itu dilakukan salah satunya adalah karena hendak memberikan tempat lebih kepada para penonton, di mana antusiasme para penonton setahun silam sebagian besarnya adalah justru juga dari generasi muda. Karena itu pula pada geliat helatan Musikalisasi Sastra tahun 2019 ini hendak disuguhkan konsep dan nuansa berbeda, yang antara lain adalah dengan dihadirkannya para penampil penuh prestasi, baik itu prestasi di kancah lokal, kancah nasional, bahkan di kancah internasional.

Baca juga:  Nusasonic Menyelami Keberagaman Budaya Bunyi dan Musik Eksperimental

Dengan mengusung tema “Jentera” pada helatan Musikalisasi Sastra tahun 2019 ini, bisa dimaknai bahwa Yogyakarta diharapkan mampu menjadi satu poros siklus roda-roda kreativitas kesenian dan kebudayaan yang terus berputar dan memintal karya, yang pada akhirnya antara para pelaku seni serta pelaku sastra dapat menjadi satu kesatuan. Di posisi ini, kata demi kata beralih wahana dalam nada, irama, gerak, dan warna yang harmoni. Pafa akhirnya, di atas panggung pentas yang megah, karya sastra mampu membuktikan diri mengambil cara  dalam menyuarakan nada bicara secara lantang. Kata yang awalnya menentang dan menantang di kesunyian, selanjutnya menjadi bunyi. Sementara perpaduan antara sastra dan musik melahirkan keluasan sekaligus kebaruan cakrawala interpretasi. Nada dasarnya tak lain adalah pertemuan antara berbagai unsur harmoni yang ada dalam satu pintalan pun putaran seirama dalam jentera.

Performer Musikalisasi Sastra Jentera 2019

Pada helatan ini, “Api Kata Bukit Menoreh” yang merupakan komunitas seni rupa dari Kulon Progo mempersembahkan Perfoming Art, yaitu dengan memadukan antara sastra berbentuk puisi dengan seni lukis dan seni musik. Komunitas yang gemar menulis puisi dari bumi Menoreh -bagian barat Daerah Istimewa Yogyakarta tersebut hendak memberikan tafsir terhadap puisi-puisi karya Subagio Sastrowardoyo, Darmanto Jatman, M. Thahar, Abdul Hadi WM, pun Ragil Suwarna Pragolapati. Sementara  goresan tangan dari Endang Susanti Rustamaji akan berada di atas kanvas, menjadikannya sebagai sastra rupa. Begitulah satu bentuk gambaran awal dari penyaluran ekspresi dalam karya seni rupa sekaligus sastra.

Baca juga:  Petunjuk Teknis Seniman Mengajar 2019

Tak berhenti di situ, karena masih ada pula “The Wayang Bocor” yang bakal menyajikan satu reportoar berjudul ‘Permata di Ujung Tanduk‘. Satu kisah tentang Sakuntala yang diangkat dari puisi-puisi karya Gunawan “Cindhil” Maryanto. Proyek penciptaan karya pertunjukan wayang kontemporer hasil ide kreatif dari perupa Eko Nugroho ini dihadirkan sebagai wujud kolaborasi para seniman yang berasal dari berbagai disiplin ilmu dalam menggali lebih dalam kemungkinan-kemungkinan estetika baru dan masih segar dalam pertunjukan, di mana pada garapan nada ada pula nama Ishari Sahida a.k.a Ari Wulu di sana. Media alih wahana karya sastranya sendiri berbentuk wayang kontemporer. Perpaduan yang disuguhkan itu menjadi satu keseimbangan sajian di atas panggung berupa pertunjukan wayang dan teatrikal kekinian.

Berikutnya adalah hal baru yang dipersembahkan PSMSW UNY alias Paduan Suara Mahasiswa Swara Wadhana UNY yang merupakan grup vokal sebagai wadah kegiatan mahasiswa di bidang tarik suara. Mereka hendak menyajikan tembang dan nyanyian yang merespons puisi-puisi karya Chairil Anwar, Asrul Sani, Wisnoe Wardhana, sekaligus mempersembahkan tembang karya Ki Hadi Sukatno dalam lantunan paduan suaranya.

Apa yang dipersembahkan oleh PSM Swara Wadhana UNY ini sepertinya merupakan hal yang baru pertamakali dilakukan grup paduan suara mahasiswa, yaitu dengan menciptakan lagu yang berasal dari puisi dan kemudian menyajikannya pada satu helatan berujud pagelaran sastra. Hal ini bisa difahami, mengingat PSM Swara Wadhana UNY ini terbukti memang telah memiliki prestasi pada ajang tarik suara, baik di tingkat nasional, pun internasional. Sehingga bisa jadi itu pula yang menjadi satu pertimbangan guna menantangnya dengan menghadirkan ragam sastra bentuk puisi karya para penyair terkemuka Indonesia yang selanjutnya dialih-wahanakan ke dalan bentuk lantunan lagu.

Baca juga:  Pemenang Lomba Penulisan Naskah Sandiwara Radio Bahasa Jawa untuk Pelajar SLTA se-DIY

Kecuali Api Kata Bukit Menoreh, Wayang Bocor, dan Paduan Suara dari UNY, Kelompok Kampungan menjadi penampil lain yang tak kalah menariknya. Dengan dikomandani Bram Makahekum, kelompok ini bakal mempersembahkan konser “Berkata Indonesia dari Yogyakarta”.

Kelompok Kampungan sebagai satu pionir grup musik folk legendaris yang terlahir di Yogyakarta ini, sepanjang sejarah dalam menapaki kiprahnya di blantika musik Indonesia, yaitu semenjak tahun 1970an, dalam setiap penampilannya telah menyatukan unsur-unsur musik modern dengan musik etnik.

Selain itu, kelompok ini dipilih karena karya-karyanya yang telah melegenda sekaligus telah menjadi monumental. Dengan begitu ada ajakan kepada para penikmatnya untuk bersama-sama bisa bernostalgia. Syair-syair karya Bram Makahekum dan juga puisi-puisi karya W.S. Rendra bakal membuat bendera Merah Putih berkibar-kibar di penghujung helatan Musikalisasi Sastra Jentera tahun 2019 ini. [rpw]

Musikalisasi Sastra Jentera Tahun 2019
Waktu 20 September 2019 | 19:30 WIB
Tempat

Gedung Concert Hall Taman Budaya Yogyakarta

Jl. Sriwedani No.1 Ngupasan Gondomanan

Kota Yogyakarta

Performer

~Api Kata Bukit Menoreh

~The Wayang Bocor

~PSM Swara Wadhana UNY

~Kelompok Kampungan

Simak pawarta terkait , atau adicara menarik lain oleh Rika Purwaka


Ingin mengunggah dan mewartakan kegiatan serta acaramu di Situs WARTA AGENDA ACARA | PAWARTA ADICARA JARINGACARA?
Klik Registrasi dan atau Login! Baca juga Syarat & Ketentuannya!

Sila Siarkan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *