Pawarta Adicara!

JARINGACARA sebagai media publikasi memiliki keinginan turut memberi warna dalam mengabarkan segala agenda acara seni budaya, pariwisata, warta, cuaca, juga menebarkan canda-tawa.
Perihal kontak kerjasama publikasi pun media partner, sila simak “Syarat dan Ketentuan“.

HIGHLIGHT
   
Tulus Menutup Mocosik Festival 2019 Disambut Keluarga Pram Okky Madasari Kalis Mardiasih dan Guyon Waton

Tulus dan Guyon Waton dalam Penutupan Mocosik Festival 2019 Bersama Keluarga Pram, Okky Madasari, dan Kalis Mardiasih


Diunggah oleh Utroq Trieha pada tanggal 28 Agustus 2019   (165 Readers)

Tulus akhirnya menjadi penampil pamungkas pada malam penutupan helatan Mocosik Festival 2019, di mana pada siang hari sebelumnya, tepatnya di hari ke-3 -alias hari terakhir helatan bertema ‘Buku, Musik, dan Kamu’ ini- disajikan pula program Obrolan Mocosik. Yaitu obrolan yang mempersembahkan ragam diskusi perihal literasi sastra serta musik.

Turut diundang dalam Obrolan Mocosik siang itu (25/08) adalah Okky Madasari dan John McGlynn dengan moderatornya Olive Hateem yang kemudian mendiskusikan perihal karya sastra Indonesia dipandang dari dalam pun dari luar. Obrolan asyik dengan penulis buku Entrok itu berlangsung seru dengan durasi lebih dari satu jam, dan dilanjutkan dengan sesi serupa namun dengan tema pun narasumber yang berbeda.

Obrolan kedua yang dipandu Iqbal Aji Daryono menghadirkan Mbak gadis NU; Kalis Mardiasih, Windy Ariestanty, serta Mas Aik. Masih di tempat sama, yaitu di Panggung Galery Mocosik, perbincangan terkait “Berliterasi di era Digital” tersebut berlangsung seru. Apalagi ada banyak bahasan kekinian yang saling menyambung di antara mereka, yang  kemudian itu mampu membuat audience menjadi tertarik untuk turut aktif dalam obrolan. Sementara dalam waktu bersamaan, di tempat lain, yaitu di Kelas Mocosik ada Marzuki Mohammad a.k.a Kill The DJ memberikan materi perihal menulis lagu.

Tulus Menutup Mocosik Festival 2019 Disambut Keluarga Pram Okky Madasari Kalis Mardiasih dan Guyon WatonTak terasa waktu bergulir begitu cepat, hingga ahirnya di Panggung Galery Mocosik, acara diisi dengan ‘Pernyataan Sikap Melawan Pembajakan Buku’ yang langsung dipandu oleh Irwan Bajang sebagai perwakilan dari pihak Mocosik Foundation. Pernyataan sikap ini sebagai buntut usai dilaporkannya tindak pembajakan buku yang kemudian bisa bebas dijual di tempat umum, salah satunya di area Shoping Center Yogyakarta. Pelaporan tersebut dilakukan oleh Konsorsium Penerbit Jogja (KPJ) ke pihak Polda DIY pada tanggal 21 Agustus 2019.

Sekira pukul 16:30WIB, diskusi dilanjutkan dengan menghadirkan beberapa keluarga dari Pramoedya Ananta Toer. Diskusi tersebut bertajuk “Pram Sehari-Hari: Percakapan dengan Keluarga (Lentera Dipantara)”, namun sebelum acara itu dimulai, terlebih dahulu disajikan dramatic reading nukilan roman Pram; “Bumi Manusia” oleh Whani Darmawan dan Sha Ine Febriyanti. Keduanya adalah juga yang menjadi pemeran dalam film Boemi Manusia, yaitu sebagai Darsam dan Nyai Ontosoroh.

Dimoderatori mantan penyiar radio kondang; Endah SR, obrolan seputar waktu Maghrib tersebut, selain ada Whani Darmawan dan Ine Febriyanti, hadir pula Astuti Ananta Toer, Angga Okta Rahman, Rova Rivani, Aditya Prasstira Ananta Teur, Derry Prasstira Ananta Teur, dan tak ketinggalan Bakkar Wibowo. Bakkar Wibowo ini selain sebagai co-founder MocoSik, dan juga sekaligus inisiator pun Direktur Balkonjazz Festival, ia adalah sosok yang juga pernah terlibat aktif terlibat di masa-masa awal kemunculan Lentera Dipantara.

Ada kabar baik dari Obrolan Mocosik Festival 2019 ini terkait dengan beberapa novel Pram yang sudah tak tampak di pasaran, maka kali ini Lentera Dipantara telah memiliki agenda untuk menerbitkannya kembali. Novel-novel yang agendanya hendak diterbitkan tersebut di antaranya adalah; Arus Balik, Perburuan, dan Sang Pemula.

Tulus Menutup Mocosik Festival 2019 Disambut Keluarga Pram Okky Madasari Kalis Mardiasih dan Guyon WatonJika pada awal obrolan ini Mas Whani dan Sha Ine masing-masing menceritakan ikhwal pengalamannya selama bersentuhan dengan karya Pram, termasuk keterlibatannya dalam film Bumi Manusia garapan Hanung Bramantyo, maka bagi anak-cucu pun keluarga Pram sendiri, masing-masing juga mengisahkan berbagai hal yang tak jauh dari jejak-jejak sang maestro sastra tersebut.

Baca juga:  Jalur Pinggir Tak Selalu Ada di Peta Kota

Contoh jejak sang maestro tersebut sebagaimana yang dikisahkan oleh putri Pram; Astuti Ananta Toer yang mengenang sang ayah sebagai sosok tegar dan tak mau menampakkan kelelahannya. Sementara bagi para cucu Pram, mereka pada intinya mengisahkan perihal Pram yang salah satunya tertuju pada beragam tugas yang diberikan. Angga Okta Rahman sebagai salah satu cucu almarhum Pram mengisahkan bahwa setiap usai mengumpulkan tugas kepada eyangnya, ia kemudian diminta untuk membacanya sekalian.

Tulus Menutup Mocosik Festival 2019 Disambut Keluarga Pram Okky Madasari Kalis Mardiasih dan Guyon WatonSelesai dengan obrolan bersama keluarga Pram, selanjutnya sebagai pamungkas masih dipersembahkan diskusi mengenai “Dokumentasi Musik: Yang Lama Masih Asyik”. Obrolan yang dipandu oleh Nuran Wibisono ini dimulai bersamaan dengan naiknya Group Band Guyon Waton di panggung pertunjukan Mocosik Fetival area Jogja Expo Center Jl. Janti Yogyakarta. Hadir dalam obrolan tersebut adalah David Tarigan dari Irama Nusantara, Henky Herwanto dari Museum Musik Indonesia, Adib Hidayat dari Billboard Indonesia dan Erie Seitawan dari Art Music Today. Obrolan yang dihadirkan adalah seputar hal pendokumentasian musik di Indonesia ini.

Sementara suasana di dalam lapak buku sendiri sangat ramai, baik diisi oleh mereka yang memang kutu buku dan niatnya hendak memborong buku-buku kesayangannya. Pun dipenuhi oleh mereka yang hendak membeli buku dengan maksud guna mendapatkan tiket masuk ke panggung pertunjukan Mocosik yang malam itu menghadrikan Guyon Waton, Ecoutez, Pusakata, dan Tulus.

Baca juga:  Di Luar Dugaan Jumlah Penonton Berbatik di Gelaran Batik Music Festival 2019 Capai 9100 Pengunjung

Guyon Waton, Ecoutez, Pusakata, dan Tulus Menghipnotis Para Pemirsa Mocosik Festival 2019

Tulus Menutup Mocosik Festival 2019 Disambut Keluarga Pram Okky Madasari Kalis Mardiasih dan Guyon WatonTepat pukul 19:00WIB, berbarengan dengan dimulainya obrolan seputar dokumentasi musik, maka di panggung pertunjukan musik telah dikerumuni massa adalah penampilan dari Guyon Waton yang merupakan band asli (Temon – Kulon Progo) Yogyakarta dan memiliki kekhasan membawakan lagu-lagu berbahasa Jawa.

Gutonners yang merupakan julukan bagi para penggemar Guyon Waton sejatinya masih mengular meski pementasannya sudah dimulai. Mereka masih rela mengantri guna mendapatkan tiket masuk ke dalam hall musik MocoSik 2019 ini, di mana tiket ini bisa diperoleh dengan cara yang agak berbeda. Yaitu harus membelanjakan uangnya pada buku yang minimal besarannya adalah Rp75.000,-

Tiket ini tentu terbilang sangat murah, karena toh buku yang dibelanjakan tersebut juga tak sebagaimana harga yang ada di pasaran pada umumnya. Dalam hal ini memang sengaja dilakukan pihak Rajawali sebagai penyelenggara acara, karena sebagaimana pernah diungkapkan oleh Anas Syahrul Alimi (selaku pemilik sekaligus CEO Rajawali Indonesia Communications -RIC), bahkan seluruh penjualan buku tersebut diperuntukkan bagi para penerbit pun pihak penjual.

Selepas menembangkan “Penak Kanca” dengan iringan biolanya, vokalis Guyon Waton juga sempat mengajak para penonton untuk berfoto bersama, namun harus dengan pose menunjukkan buku di tangan. Hal ini sebagai salah satu wujud dari tekad penyelenggara, bahwa semua yang terlibat dalam helatan Mocosik ini tak bisa tidak, harus tetap melek terhadap dunia literasi, dunia buku. Karena sebagaimana diungkapkan Alit Jabangbayi pun Anang batas sebagai duo pembawa acara, buku adalah jendela dunia. So, nek maca buku isa gawe silir… pikirane. 🙂

Tulus Menutup Mocosik Festival 2019 Disambut Keluarga Pram Okky Madasari Kalis Mardiasih dan Guyon WatonSatu jam Guyon Waton di atas pangung menyihir gutonners, tibalah giliran penampil selanjutnya; Ecotez. Band kedua yang mengisi Panggung Musik MocoSik 2019 ini naik di atas panggung tepat pukul 20:00WIB langsung membawakan tembang nostalgia. Di antaranya adalah lagu “Aku Wanita” dan “Berharap Tak Berpisah” namun dibawakan dengan nuansa agak jazzy. Di tengah-tengah penampilan dan perekenalan para personilnya, sang vokalist Ecoutez mengaku juga bahwa iapun merupakan japemethe, “Cah Yoja” karena pernah tinggal di Dongkelan -Jalan Bantul sejak kecil hingga SMA. Karenanya, ia juga tak mau kalah dengan Guyon-Waton, didendangkanlah tembang jawa “Tamba Ati” yang diplesetkan. “Kaping lima mangan duren sak kulite…” begitulah salah satu baris yang diplesetkannya.

Baca juga:  JOGLITFEST 2019 Gelar Workshop Bincang Sastra Milenial untuk Regenerasi Sastra Jawa dan Sastra Indonesia

Pukul 21.00 WIB giliran “Is” Pusakata yang merupan sosok exs vokalisnya Payung Teduh hadir di atas panggung. Sontak Panggung Musik MocoSik menjadi ramai, lantaran memang telah penuh dengan para penonton. Is yang bernama lengkap “Mohammad Istiqomah Djamad” mampu membuat penonton tersihir dalam kebersamaan melantunkan syair pada bait-bait lagunya. Pusakata saat itu juga dilengkapi dengan personil drummer bernama Ronald, ialah drummer beken Indonesia yang juga ada di GiGi Band.

Tak terasa waktu menunjukkan pada pukul 22:00WIB, ialah waktunya bagi Tulus untuk naik ke atas panggung MocoSik 2019. Baru saja duo MC; Alit dan Anang mempersilahkan, sementara Tulus belum masuk, para penonton sudah menyambutnya dengan histeris. Hingga tak lama kemudian para penonton menjadi semakin bersorak-sorai ketika sosok Tulus muncul dalam iringan musik sambil memegang Smartphone-nya untuk ber-selfie di atas panggung. “Gajah” menjadi lagu pertama yang dilantunkan dan tanpa butuh diberikan aba-aba, para penonton pun telah riuh membersamainya seiring nada.

Tulus Menutup Mocosik Festival 2019 Disambut Keluarga Pram Okky Madasari Kalis Mardiasih dan Guyon WatonSetelah Gajah, lagu-lagu hits lain milik Tulus juga didendangkan di Panggung Musik Mocosik Festival 2019 ini. Di antaranya adalah Monokrom, Adu Rayu, Teman Hidup, Ruang Sendiri, Jangan Cintaiku Aku Apa Adanya, Tukar Jiwa, 1000 Tahun Lamanya, dan Pamit.

Masih di atas panggung, di sela melantunkan lagu-lagunya, Tulus juga memberikan pengumuman bahwa November nanti merupakan tahun ke-8 dalam ia berkarya musik. Delapan tahun artinya adalah sewindu. Karenanya, pria yang sejatinya memiliki latar belakang sebagai Arsitektur ini dalam waktu dekat hendak melakukan tur Indonesia dalam “Konser Peringatan Sewindu Tulus Berkarya”. Sebagaimana gelaran MocoSik Fest, Prambanan Jazz, JogjaRockarta, dan beberapa yang lainnya, rencana tur Sewindu Tulus ini agenda helatannya juga akan bersinergi antara Tulus dengan Mas Anas Syahrul Alimi di bawah bendera Rajawali Indonesia Communications.

Penampilan Tulus yang mampu membuat Hall JEC membludak tersebut menjadi penghujung helatan Mocosik Festival 2019 yang bertajuk ‘Buku, Musik, dan Kamu“. Sampai bertemu di festival pun helatan lain selanjutnya. [uth]

Simak pawarta terkait , atau adicara menarik lain oleh Utroq Trieha


Ingin mengunggah dan mewartakan kegiatan serta acaramu di Situs WARTA AGENDA ACARA | PAWARTA ADICARA JARINGACARA?
Klik Registrasi dan atau Login! Baca juga Syarat & Ketentuannya!

Sila Siarkan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *