Pawarta Adicara!

JARINGACARA sebagai media publikasi memiliki keinginan turut memberi warna dalam mengabarkan segala agenda acara seni budaya, pariwisata, warta, cuaca, juga menebarkan canda-tawa.
Perihal kontak kerjasama publikasi pun media partner, sila simak “Syarat dan Ketentuan“.

HIGHLIGHT
   
Berpuisi dengan Metode Diagram Pohon Bersama Joko Pinurbo di JOKLITFEST

Belajar Berpuisi dengan Metode Diagram Pohon Bersama Joko Pinurbo di JOGLITFEST

Diunggah oleh Haiki Murakabi, pada tanggal 8 September 2019

Metode diagram pohon bisa jadi sangat lekat dengan mereka yang menggeluti ilmu hitung ataupun ilmu pasti. Namun di tangan Joko Pinurbo, kali ini ia digunakan pula dalam sastra, khususnya berpuisi.

Ya, puisi oleh masyarakat awam masih kerap sekali dianggap sebagai karya yang hanya berisi ungkapan- ungkapan perasaan dan sekadar bersumber dari khayalan penulisnya semata. Padahal bisa jadi hal itu tak selalu benar. Pasalnya, karya sastra yang bergenre selain prosa dan naskah drama ini justru pada hakikatnya bersumber dari realitas atau pengalaman empiris penyairnya.

Dan sebagaimana wujud seni lainnya, puisi juga ditujukan menjadi sarana komunikasi antara penulisnya di satu sisi dengan pembaca di sisi lain. ahkan menurut Prof. Rachmat Djoko Pradopo selaku salah seorang guru besar sastra Universitas Gadjah Mada (UGM), puisi didefinisikan sebagai rekaman dan interpretasi pengalaman manusia yang penting, digubah dalam wujud yang paling berkesan.

Seseorang yang menuliskan puisi disebut sebagai penyair, yaitu orang yang berperan menghadirkan the ultimate reality dalam bahasa Dick Hartoko. Akan tetapi, tidak semua orang lantas tergugah untuk menjadi penyair, lantaran memang posisi tersebut menuntut adanya kesadaran yang intens, pergulatan secara kontinuitas dengan realitas dan bahasa, serta siap menjadi eksponen yang senantiasa – dalam ungkapan Linus Suryadi AG – berdiri dan bersaksi di pinggir.

Baca juga:  Sayembara Cerita Anak DKJ 2019

Berpuisi dengan Metode Diagram Pohon Bersama Joko Pinurbo di JOKLITFESTBerkaitan dengan hal itu, menjadi hal yang unik ketika melihat realitas Yogyakarta sebagai kota yang tidak henti-hentinya melahirkan nama penyair baru. Kenyataan itu berimbas pada aktivitas kesenian di dalamnya, khususnya sastra, yang seakan-akan silih berganti terus digulirkan mengiring perjalanan zaman. Yogyakarta menjadi wadah yang kian mendukung proses-proses kepenyairan.

Alasan demikian juga menjadi salah sebab diadakannya Workshop Penulisan Puisi sebagai rangkaian pra-event Festival Sastra Yogyakarta (JOGLITFEST) tahun 2019, yang dilaksanakan hari Sabtu 7 September 2019, bertempat di Kedai JBS, Wijilan (Gang Semangat no. 150 Panembahan, Kraton, Yogyakarta).

Hadir sebagai pembicara dalam Workshop Penulisan Puisi adalah Joko Pinurbo sebagai seorang penyair dan didampingi Anggitya Alfiansari selaku moderator.

Setelah mengajak para peserta workshop terlebih dahulu menghapus “mitos-mitos” dalam dunia kepenyairan berupa persoalan pengolahan kata, ilham penulisan, dan penderitaan. Jokpin -sapaan karib Joko Pinurbo-juga menjelaskan ikhwal metode umum yang bisa digunakan dalam penulisan puisi. Metode tersebut memang terkesan ilmiah menurutnya, tetapi efektif untuk dipelajari.

Baca juga:  Lomba Penulisan Novel Bahasa Jawa Tahun 2018

Berpuisi dengan Metode Diagram Pohon Bersama Joko Pinurbo di JOKLITFEST“Kita akan mencoba merancang sebuah puisi dalam perspektif ilmiah, yakni menggunakan metode diagram pohon. Maksudnya, agar nanti bisa dipelajari kembali,” ajak Joko Pinurbo sebagai penyair kelahiran Sukabumi 11 Mei 1962 itu.

“Saya mengajak menggunakan metode diagram pohon karena sebagaimana sebatang pohon, bahwa puisi pun berilham dari tanah, dari bawah, dari pergulatan hidup kita sehari-hari. Ilham, dengan demikian harus “dijemput‟ dan “diserap‟, sebab sumber utamanya tak lain adalah tanah, “bumi‟, yang kita gulati sehari-hari. Jadi, sekali lagi, bukan dari langit, sebab bagaimana mungkin kita bisa menjangkau langit, sementara kitamanusia biasa, bukan seorang nabi?” lanjut Jokpin.

Jokpin pun melihat potensi-potensi kepenyairan dalam diri para peserta berdasarkan puisi yang telah dikirimkan sebelum acara. Ia sekaligus menjelaskan yang dimaksudkan sebagai metode diagram pohon, serta hal-hal yang bisa “dirambati” oleh akar dari pohon tersebut.

“Saya yakin, semua peserta yang hadir di sini adalah seorang penyair andai melihat puisi-puisi yang telah dikirim. Kemudian, tentang potensi yang bisa kita garap sebagai bahan puisi, misalnya problematika kita hari ini, bahwa pascareformasi, dalam konteks kehidupan sosial, kita menjadi manusia yang mudah terpantik oleh konflik. Kita kian gemar saling bertengkar. Retaknya hubungan kasih sayang, mau tak mau harus kita akui. Singkatnya, cinta kasih sosial kita kian pudar. Itu yang saya lihat, dan merupakan sumber inspirasi. Puisi-puisi kita dapat mengakar pada hal itu, kemudian kita lanjutkan pengolahan ke “batang”nya menjadi beberapa bagian, lalu dituntaskan pada eksekusi “daun-daun‟ puisi,” jelas penyair yang menjadi masyhur lantaran kumpulan puisi Celana-nya itu.

Baca juga:  Inilah Jadwal Acara Festival Sastra Yogyakarta JOGLITFEST 2019 yang Telah Dibuka 2 September 2019

Acara Workshop Penulisan Puisi sebagai pre-event helatan JOGLITFEST dengan Metode Diagram Pohon oleh Joko Pinurbo tersebut berlangsung pukul 10:00 hingga pukul 14:00 WIB, yang terbagi ke dalam dua sesi. Para peserta terlihat kian antusias, baik tatkala menyimak pembicaraan Jokpin, maupun pada sesi praktik. Workshop kemudian ditutup dengan kegiatan berfoto bersama. []

Simak pawarta lain terkait , atau adicara menarik lain yang diunggah oleh Haiki Murakabi


Ingin mengunggah dan mewartakan kegiatan serta acaramu di Situs WARTA AGENDA ACARA | PAWARTA ADICARA JARINGACARA?
Klik Registrasi dan atau Login! Baca juga Syarat & Ketentuannya!

Sila Siarkan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *