Pawarta Adicara!

JARINGACARA sebagai media publikasi memiliki keinginan turut memberi warna dalam mengabarkan segala agenda acara seni budaya, pariwisata, warta, cuaca, juga menebarkan canda-tawa.
Perihal kontak kerjasama publikasi pun media partner, sila simak “Syarat dan Ketentuan“.

HIGHLIGHT
   
Larung Kali Lestari Gajah Wong

Larung Kali Lestari Gajah Wong Menjadi Isi Perayaan Hari Sumpah Pemuda Warga Gajah Wong Yogyakarta


Diunggah oleh Jaring Acara pada tanggal 1 November 2019   (166 Readers)

Muda-mudi warga Gajah Wong pada hari Minggu tanggal 27 Oktober 2019 menggelar acara budaya bertajuk “Larung Kali” yang bertempat di seutar sungai ataupun ‘Kali’ Gajahwong, guna memperingati hari Sumpah Pemuda tahun 2019.

Diberi tajuk ‘Larung Kali Lestari Gajah Wong’ kegiatan ini dilakukan sebagai bentuk ungkapan rasa syukur kepada Tuhan Yang Maha Esa, karena aktivitas masyarakat dapat terbantu melalui potensi yang dimiliki kali Gajah Wong. Potensi-potensi tersebut tersebut di antaranya adalah menggali pasir, kegiatan memancing, dan tak ketinggalan potensi kekayaan ikan yang berlimpah di sepanjang sungai.

Selain itu, ‘Larung Kali Lestari Gajah Wong’ ini digelar juga untuk memupuk rasa kekeluargaan antarsesama masyarakat, terutama warga Balirejo dan sekitarnya. Harapan dari danya kegiatan ini, warga dapat peduli dan mencintai lingkungan, terutama kawasan kali Gajah Wong yang bersih, bebas dari sampah plastik dan tidak tercemar.

Tahun 2019 menjadi kegiatan ‘Larung Kali Lestari Gajah Wong’ pertama kali yang sedianya bakal digelar secara rutin kelak. Sementara rangkaian acara yang dilakukan di antaranya mulai dari mengarak hasil bumi, menggelar doa bersama lintas agama, dan tentu saja kegiatan larung kali.

Acara ‘Larung Kali Lestari Gajah Wong’ ini tercetus dari gagasan pemikiran masyarakat yang erat dengan budaya lelabuhan, yang biasanya dilakukan oleh masyarakat pesisir.

Sejak pagi, ada arak-arakan berbentuk seperti gunungan di sekitar jalan warga. Yaitu dimulai dari Deronjongan RT 53 Balirejo, Muja-Muju, Umbulharjo, Yogyakarta. Warga yang berpartisipasi mengenakan pakaian tradisional adat Jawa, semua kalangan, bapak, Ibu, anak-anak, dan pemuda-pemudi warga Balirejo semua terlibat di gelaran ini.

Baca juga:  Rajawali Sukses Gelar 'WESTLIFE The Twenty Tour Live in Sam Poo Kong' Sehari Usai Sukses Gelar Borobudur Symphony

Larung Kali Lestari Gajah Wong -BiennaleJogja 2019

Setelah sambutan dilakukan oleh Dr. Sunaryo selaku Ketua RW 06, dan Jemari SH yang merupakan Lurah Balirejo, semua warga berkumpul dengan mempersiapkan bentuk gunungan dan iringan alat musik tradisional.

Kemudian kegiatan ‘Larung Kali Lestari Gajah Wong’ tersebut dimulai dengan memutari kawasan jalan kampung, dari gang Kartika, menuju kawasan Simpang Lima, kemudian melewati jembatan Sokowaten, hingga berkumpul kembali di titik awal Deronjongan RT 53.

Perjalanan keliling memutari pemukiman warga tersebut dimaksudkan guna mengajak sesama warga, agar turut berpartisipasi dalam kegiatan ini. Bentuk larungan berupa gunungan yang diarak, berisi hasil limpahan bumi, mulai dari sayur-sayuran, buah-buahan, palawija, ketela, kentang dan beras.

Usai memutari pemukiman warga, bentuk gunungan dalam ‘Larung Kali Lestari Gajah Wong’ tersebut selanjutnya dibawa menuju sungai Gajahwong. Sebelum dilarung, warga melakukan doa lintas agama agar kegiatan larung dapat berkah. Gunungan dalam tersebut terdiri dari gunungan utama, dan tujuh gunungan kecil. Sementara untuk prosesi dalam ‘Larung Kali Lestari Gajah Wong’ dimulai dari melarung gunungan kecil, yang bermakna keselamatan, kesehatan, dan kemudahan rizki, berikutnya baru gunungan utama.

Baca juga:  Penutupan Pekan Seni Grafis Yogyakarta 2019 "Sampai Jumpa di PSGY 2021"

Larung Kali di Sungaki Gajah Wong’ ini dimaknai pula sebagai simbol bahwa air memiliki peradaban yang sangat penting. Tidak hanya untuk memenuhi kebutuhan manusia, tetapi ia juga memiliki nilai simbolis dan religi dalam sebuah tradisi, air tidak hanya digunakan sebagai sarana untuk bersuci, tetapi juga ucapan syukur kepada Yang Maha Kuasa.

Larung Kali Lestari Gajah Wong Peringati Soempah Pemoeda

Melihat air dalam memaknai Larung Kali Lestari Gajah Wong tersebut, dalam salah satu agama (Islam) yang diyakini warga, ibadah baru dapat sah dilakukan jika badan telah bersih dari hadas dan najis, yang dibersihkan dengan air. Sementara umat Hindu juga menghargai air sebagai tirtha atau toya sebagai sumber kesucian dan pembersihan, lambang penciptaan dan kehidupan, sebagai sebagai pemelihara, sehingga unsur air selalu ada di candi atau pura.

Selain dua keyakinan di atas, Buddhisme juga menjadikan air sebagai sarana untuk menyucikan diri, baik lahir maupun batin, sekaligus memunculkan sifat ke-Buddhaan dalam diri kita, yang ada pada setiap makhluk hidup. Selain menempatkan air sebagai sarana pembersihan, penahiran, dan pembersihan dosa, Alkitab pun juga memuat banyak pelajaran dari kisah-kisah tentang guna penting air bagi lingkungan.

Lain dari itu, kebudayaan Tionghoa pun mendudukkan air sebagai salah satu dari lima elemen dasar kehidupan manusia, selain kayu, api, tanah, dan logam. Begitu pula dengan banyak kebudayaan yang lain di dunia.

Baca juga:  Pameran Sekaten 2019 Menjadi Agenda Memeriahkan Peringatan 'Muludan' di Keraton Yogyakarta

Jawa menjadi salah satu ruang hidup kebudayaan yang bercorak agraris di Nusantara. Sejak masa prasejarah hingga era modern, peradaban yang muncul silih berganti di pulau dengan penduduk terbanyak di dunia ini tentu saja tak bisa lepas dari air. Prasasti Tugu dari Kerajaan Tarumanegara pada sekitar abad V Masehi melaporkan upaya penggalian sungai untuk mengantisipasi banjir di musim hujan dan kekeringan di musim kemarau.

Beragam waduk dan kanal juga dibangun di ibukota Majapahit yang berdiri di dataran banjir untuk mendukung kehidupan kerajaan dan masyarakat selama dua setengah abad. Kraton Kasultanan Yogyakarta pun juga dibangun di atas mata air tepat di antara dua sungai, Code dan Winongo, pada pertengahan abad XVIII Masehi. Pada masa pendudukan Jepang, Sri Sultan Hamengku Buwono IX memprakarsai pembangunan Selokan/Saluran Mataram, yang selain merupakan strategi politik, juga menjadi upaya untuk mendukung pertanian di wilayah Jogjakarta bagian utara.

Rasa syukur atas limpahan anugrah alam berupa air tak terkecuali juga ingin disampaikan oleh warga Balirejo yang hidup di sekitar bantaran Sungai/Kali Gajah Wong, Yogyakarta. Ialah dengan laku Larung Kali Lestari Gajah Wong. []

Simak pawarta terkait , atau adicara menarik lain oleh Jaring Acara


Ingin mengunggah dan mewartakan kegiatan serta acaramu di Situs WARTA AGENDA ACARA | PAWARTA ADICARA JARINGACARA?
Klik Registrasi dan atau Login! Baca juga Syarat & Ketentuannya!

Sila Siarkan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *