Pawarta Adicara!

JARINGACARA sebagai media publikasi memiliki keinginan turut memberi warna dalam mengabarkan segala agenda acara seni budaya, pariwisata, warta, cuaca, juga menebarkan canda-tawa.
Perihal kontak kerjasama publikasi pun media partner, sila simak “Syarat dan Ketentuan“.

HIGHLIGHT
   
Komunitas dan Penulis Baru Mendapat Perhatian Festival Sastra Yogyakarta -JOGLITFEST 2019

Komunitas dan Penulis Baru Dapatkan Perhatian dari Festival Sastra Yogyakarta -JOGLITFEST 2019


Diunggah oleh Haiki Murakabi pada tanggal 1 Oktober 2019   (125 Readers)

Komunitas dan penulis baru menjadi obyek yang juga turut disasar pada helatan Festival Sastra Yogyakarta pertama berjuluk JOGLITFEST 2019 ini. Tak lain karena dalam komunitas, khususnya komunitas sastra tersebut ada banyak hal terdiskusikan, sekaligus tak sedikit talenta turut ambil bagian dalam diskusi pun sekadar obrolan sastra tersebut.

Keberadaan komunitas dan penulis baru merupakan hal yang tak lagi bisa dinafikan, lantaran dalam khasanah sastra, ia bisa bertumbuh seiring sejalan. Di mana komunitas itu bisa tumbuh berkembang secara subur, kemudian juga mampu menggeliat secara aktif, maka bukan tidak mungkin para penulis baru akan bermunculan seiring dengannya. Hal itu terjadi bahkan bukan saja sebatas pada komunitas sastra, namun juga komunitas lainnya.

Terkait dengan keberadaan komunitas dan penulis baru tersebut, maka selain workshop Sastra Jawa da Sastra Indonesia, pada helatan JOGLITFEST tahun 2019 ini juga memiliki fokus utama pada workshop penulisan kreatif, yang itu dimulai dari esai, kritik sastra, penulisan puisi, hingga pada penulisan cerpen.

Workshop penulisan kreatif dalam JOGLITFEST 2019 tersebut telah dilakukan sejak praacara, yaitu pada pertengahan bulan Agustus 2019 silam. Dwi Cipta, Raudal Tanjung Banua, Mahfud Ikhwan, Kris Budiman, Joko Pinurbo, dan Indra Tranggono adalah deretan nama-nama penulis yang terlibat di dalamnya.

Baca juga:  Joko Pinurbo Menolak Mitos-mitos dalam Dunia Kepenyairan di JOGLITFEST

Komunitas dan Penulis Baru Mendapat Perhatian Festival Sastra Yogyakarta -JOGLITFEST 2019Pada puncak acara JOGLITFEST 2019 diselenggarakan pula dua workshop, ialah workshop tata kelola komunitas serta workshop penulisan cerpen.

Mengenai Workshop Tata Kelola dan Manajemen Komunitas, agendanya telah dilakukan pada hari Jumat 27 September 2019 dengan tempat berada di Ruang Barong Hotel Cavinton Yogyakarta. Pada acara tersebut, kesempatan pertama diberikan kepada Yustina W. Nugraheni yang mewakili Bianelle Yogyakarta. Baginya, dalam kerja yang luas komunitas perlu berkolaborasi dengan pemerintah untuk bisa mengakses dana publik.

“Harus diakui, terkait pendanaan, terkadang terkesan meminta uang untuk dana kepada pemerintah. Padahal uang tersebut adalah dana untuk kita. Nah, jelasnya, sejak sekarang harus ada kesadaran dalam diri bahwa dana yang dikelola oleh pemerintah tersebut adalah dana publik, dan kita berhak atas dana tersebut,” papar Neni, sapaan akrab sosok yang tak asing lagi di dunia seni rupa Yogyakarta tersebut.

Sementara Muhidin M. Dahlan selaku wakil sekaligus founder Indonesia Buku alias iboekoe memaparkan bahwa sebagaimana dijelaskan dalam kamus, ‘komunitas’ itu sendiri merupakan kelompok organisme (orang) yang hidup dan saling berinteraksi. Komunitas sejatinya merupakan kumpulan yang sifatnya organik.

“Hari ini, kita perlu melihat peluang-peluang untuk bisa eksis sebagai komunitas. Contohnya, keberadaan akun infoseni Yogya,” papar sosok yang juga menggawangi Radiobuku dengan home-base di belakang kompleks Institut Seni Indonesia Yogyakarta ini..

Baca juga:  Didi Kempot Hadir di Jogja Menyapa Mahasiswa Baru dengan Semangat 'Ngaruhke dan Ngarahke'

Aan Mansyur yang dihadirkan jauh dari kota Makassar juga memaparkan ikhwal aktivas yang ia geluti bersama rekan-rekannya di Makassar, terutama perihal sumber daya mereka di Ininnawa.

“Di Ininnawa, kami setiap akhir tahun menyelenggarakan pertemuan antarkomunitas. Ininnawa yang kini menjadi Katakerja, terisi oleh komunitas-komunitas lain yang tetap fokus bergerak pada isu transformasi sosial, misalnya mendayagunakan literasi untuk mendekati isu-isu tersebut,” papar penyair yang puisinya juga ada dalam film AADC 2 tersebut.

Masih terkait dengan keberadaan komunitas dan penulis baru, di tempat lain, yaitu di Ruang Umar Kayam -Benteng Vredeburg -Yogyakarta, berlangsung pula workshop penulisan cerpen bersama Agus Noor.

Dalam workshop tersebut Agus Noor berbagi perihal tips-tips penting agar penulis cerpen tidak kehabisan ide. Bagi sosok lelaki jangkung yang kini aktif menulis naskah lakon pun naskah teater tersebut, ide cerita bisa datang dari mana saja. Kuncinya adalah penulis mau membuka indera mereka selebar-lebarnya untuk terus menerima dinamika kehidupan di sekitar.

“Ide bisa datang dari apa yang kita lihat, dengar, rasakan, alami. Kalau saya, ide bisa datang ketika menonton berita,” ujar Agus.

Baca juga:  Inilah Nama-Nama Pemenang Sayembara Penulisan Naskah Teater Taman Budaya Yogyakarta Tahun 2019

Komunitas dan Penulis Baru Mendapat Perhatian Festival Sastra Yogyakarta -JOGLITFEST 2019

Sebagaimana acap dipaparkan Agus Noor di beberapa workshop penulisan, teori tiga kata tak lagi bisa ditinggalkan, bahkan ia menjadi satu keharusan. Yaitu membangun cerita berdasarkan; satu kata sebagai titik poin, dan dua kata lain untuk membangun cerita. Ini merupakan cara yang difungsikan guna mewujudkan ide yang sudah muncul menjadi cerita utuh.

Dalam kesempatan tersebut, Agus Noor kemudian menawari para pembaca untuk membangun cerita dari kata “pisau” sebagai titik berangkat dan “bulan” serta “kuburan” sebagai pendamping.

Fahrudin yang merupakan seorang guru sebagai peserta dalam workshop itu kemudian membuat ceritaperihal pisau yang dikubur bersama penjahat. Setiap muncul bulan, pisau itu akan kesakitan. Karena itu, sang pisau ingin sekali keluar dari dalam tanah untuk membelah, melukai, dan menghancurkan bulan agar tidak muncul lagi.

“Intinya, cari kata yang membuat Anda mengimajinasikan tentang sesuatu yang jauh. Lalu, cobalah berpikir dengan berbeda. Aktifkan indera untuk menyerap situasi yang ada di sekitar,” saran Agus Noor yang kini selalu aktif sebagai penulis naskah ketika Teater Gandrik yang bermarkas di PSBK-Jogja menggarap produksi pementasan baru. [hmk]

Simak pawarta terkait , atau adicara menarik lain oleh Haiki Murakabi


Ingin mengunggah dan mewartakan kegiatan serta acaramu di Situs WARTA AGENDA ACARA | PAWARTA ADICARA JARINGACARA?
Klik Registrasi dan atau Login! Baca juga Syarat & Ketentuannya!

Sila Siarkan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *