Pawarta Adicara!

JARINGACARA sebagai media publikasi memiliki keinginan turut memberi warna dalam mengabarkan segala agenda acara seni budaya, pariwisata, warta, cuaca, juga menebarkan canda-tawa.
Perihal kontak kerjasama publikasi pun media partner, sila simak “Syarat dan Ketentuan“.

HIGHLIGHT
   
Kita Muda Kreatif oleh UNESCO Jakarta dan Citi Foundation Kampanyekan Pemberdayaan Masker

Kita Muda Kreatif oleh UNESCO Jakarta dan Citi Foundation Kampanyekan Pemberdayaan Masker Kain Tradisional Guna Mendukung Ekonomi Sekaligus Budaya


Diunggah oleh Haiki Murakabi pada tanggal 18 September 2020   (298 Readers)

Pandemi COVID-19 memberikan dampak buruk bagi banyak bidang dalam kehidupan ini, termasuk satu di antaranya adalah pada sektor budaya dan kreatif. Himbauan dan larangan untuk bepergian dan kegiatan mengumpulkan massa, serta melakukan kegiatan-kegiatan komersial yang “tidak penting” membuat pariwisata bisa dikatakan mati suri akibat semuanya serba dibatasi. Pun dengan ragam pertunjukan, berbagai konser dan juga kegiatan-kegiatan live, ia bahkan dibatalkan. Akibatnya, permintaan produk-produk budaya menurun drastis, sehingga peluang pendapatan bagi para seniman dan mereka yang bekerja di sektor kreatif semakin menipis, bahkan cenderung tidak ada.

Kita Muda Kreatif pada akhirnya tetap harus dimunculkan guna menanggapi keadaan krisis tersebut, apapun dan bagaimanapun suasananya. Hal tersebut sebagaimana yang telah dilakukan oleh UNESCO Jakarta yang sejak bulan Maret 2020 silam juga tak hendak menyerah dalam memfasilitasi serangkaian pelatihan bisnis yang itu dilakukan secara virtual. Program pendampingan virtual dilakukan terhadap sekitar 400 wirausaha muda dari Jawa Tengah, Jogjakarta, Kota Tua Jakarta, Toba, dan juga Bali.

Sebagai salah satu kegiatan ‘Kita Muda Kreatif’ yang digagas UNESCO Jakarta tersebut antara lain adalah kegiatan “Kampanye Pakai Masker Kain Tradisional”, di mana secara khusus ia dihelat dengan tujuan guna mendukung wirausaha muda yang bekerja pada sektor tenun tradisional dan fesyen untuk memberikan mereka alternatif peluang pendapatan.

Kampanye yang diluncurkan oleh UNESCO Jakarta dalam menyelenggarakan gerakan di atas dilakukan sejak bulan Juli 2020, salah satunya adalah dengan memberikan pemahaman tentang sejarah dan signifikansi budaya kain tradisional, serta pelatihan secara langsung perihal mengembangkan cerita produk dan menjahit masker berkualitas. Selanjutnya antara bulan Agustus dan September diberikan penugasan kepada para peserta untuk mendesain dan membuat masker mereka sendiri, dan kemudian  ditindaklanjuti dengan pembuatan foto serta pesan-pesan menarik guna dipublikasikan melalui unggahan di media sosial.

Baca juga:  NKCTHI 'Nanti Kita Cerita Tentang Hari Ini' Menjadi Film dengan Penonton Terbanyak Mengawali Tahun 2020

Kampanye ini bukan saja sebatas digelar dan didukung oleh UNESCO Jakarta, akan tetapi ada pula pihak dari Citi Indonesia yang hadir di sana, di mana kampanye ini menjadi bagian dari proyek “Creative Youth at Indonesian Heritage Sites” yang didukung oleh Citi Foundation. Tujuannya sendiri adalah untuk membangun kapasitas 400 wirausaha muda yang tinggal di sekitar empat daerah tujuan wisata utama Indonesia, ialah Borobudur, Prambanan, Kawasan Danau Toba, Bali, dan Kotatua Jakarta.

Proyek “Creative Youth at Indonesian Heritage Sites” yang juga menjadi pengejawantahan dari ‘Kita Muda Kreatif’ ini dimaksudkan pula untuk membangun keterkaitan antara situs warisan budaya dan mata pencaharian penduduk sekitar, yaitu dengan melakukan pelatihan-pelatihan bagi para wirausaha muda untuk meningkatkan keterampilan dan kemampuan bisnisnya seraya terus melestarikan dan mempromosikan nilai-nilai budaya situs tersebut.

Kita Muda Kreatif oleh UNESCO Jakarta dan Citi Foundation Kampanyekan Pemberdayaan Masker Kain

Pakai Maskermu, Dukung Budayamu!

Langkah-langkah yang ditempuh di atas sebagaimana yang diungkapkan oleh Prof. Shahbaz Khan selaku Direktur dan Perwakilan UNESCO Jakarta. Bahwa pandemi COVID-19 memang membuat banyak hal menjadi tak karuan keadaannya, akan tetapi di balik itu, ia justru juga memberikan tantangan besar bagi kita semua di segenap sektor kehidupan. Artinya, pada saat bersamaan, hal tersebut juga memberi kita kesempatan untuk terus selalu berpikir secara berbeda dan tetap tangguh. Segera setelah larangan pergerakan publik dan mengumpulkan massa diumumkan di Indonesia, UNESCO Jakarta mengubah bentuk kegiatan workshop dari pertemuan langsung di ruang kelas menjadi daring, memanfaatkan platform media sosial. Dari sini dapat dilihat, bahwa meskipun sebatas online, namun justru ini sangat membka kesempatan bagi kita semua untuk terus terhubung dengan para wirausaha muda lain. Dalam kreativitas penuh tantangan seperti ini, mengenakan masker kain tradisional menjadi hal yang dibidik dalam kampanyenya.

Baca juga:  Pengoperasian Kereta Api Jarak-Jauh dan Kapal Penumpang serta Penerbangan Komersial YIA Dihentikan Menyusul Pengetatan Akses Pintu Masuk Perbatasan DIY

Kampanye Pakai Masker Kain Tradisional menjadi salah satu hal yang muncul dari hasil pelatihan-pelatihan daring kami. Karena itu, saya ingin mengucapkan terima kasih yang sedalam-dalamnya kepada para wirausaha muda, pakar, dan mentor yang secara antusias terlibat dalam pelatihan-pelatihan ini yang menunjukkan semangat tinggi mereka di masa sukar ini,” tutur Prof. Shahbaz Khan.

Di lain sisi Lutfi Koriah Yunani yang merupakan sosok seorang wirausaha muda asal Bayat, Klaten, Jawa Tengah memaparkan bahwa dari kampanye ini ia mendapatkan satu inspirasi untuk kemudian membuat masker inovatif, yaitu dengan langkah memilih motif batik truntum yang kemudian digarap dengan menorehkan tema Hari Kemerdekaan Indonesia. Sesuai pemaparannya, dalam membuat masker tersebut ia melakukannya bersama-sama dengan para pembatik di desanya. Ini artinya, secara tidak langsung orang-orang di sekitar juga dapat terbantu selama masa krisis ini.

Lutfi Koriah Yunani juga mengaku sangat terbantu ketika produk miliknya itu juga dibantu dalam hal memasarkannya secara kreatif, yaitu salah satunya adalah melalui unggahan di akun Instagram @kitamudakreatif. Dari sanalah ia berhasil mendapatkan banyak tanggapan dan pesanan.

“Sampai akhir Agustus 2020, kami sudah tiga kali memproduksi masker tersebut, untuk merespons pesanan-pesanan baru yang masuk. Terima kasih pada kampanye ini, saya jadi belajar makna motif-motif batik dan bagaimana mengemas kisah produk saya. Pendapatan bisnis saya jadi meningkat dan membuat saya mampu membantu ibu-ibu pembatik di desa saya,” kata Lutfi Koriah Yunani.

Baca juga:  Single “Mistreated” Merupakan Hasil Kolaborasi Tamara Dai dan Eka Gustiwana

Kita Muda Kreatif oleh UNESCO Jakarta dan Citi Foundation Kampanyekan Pemberdayaan Masker Kain Tradisional

Lain lagi dengan pengalaman di Bali sebagaimana yang disaksikan langsung oleh I Made Dharma Suteja selaku Kepala Balai Pelestarian Nilai Budaya Provinsi Bali – Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan. Ia menyatakan bahwa masker kain tradisional telah menjadi pilihan alternatif di kala pandem COVID-19. Apalagi ketika khalayak tahu bahwa bahan masker yang berasal dari kain tradisional ini terbuat dari berbagai ragam dan corak, –baik tenun endek Bali, ulos Toba, tenun Lombok, dan Batik– di mana di balik semua itu terdapat ragam kekayaan filosofis, sehingga selain sebagai pelindung wajah juga bisa menjadi souvenir dengan nilai seni tinggi.

“Kami mendukung kegiatan ini, karena selain merupakan upaya pelestarian, kegiatan ini juga bisa secara positif membantu para perajin kain tradisional di tengah krisis,“ tutur I Made Dharma Suteja.

Sehubungan dengan kegiatan ini, Puni A. Anjungsari sebagai Country Head of Corporate Affairs di Citi Indonesia memaparkan bahwa inovasi harus terus diciptakan di tengah keadaaan tak menentu akibat COVID-19 yang telah membawa imbas terhadap ragam kehidupan sosial dan ekonomi, dan juga telah mengubah struktur lembaga keuangan, politik, dan ekonomi global di seluruh dunia. Langkah inovatif tersebut termasuk harus dilakukan oleh sebanyak 84%  pengusaha muda yang kenyataannya menjadi kunci pembangunan perekonomian.

“Kami melihat bahwa pengusaha muda memainkan peran kunci dalam membangun ekonomi Indonesia di masa depan, dan oleh karena itu, bersama dengan UNESCO Jakarta, Citi berkolaborasi untuk melaksanakan program ini, yang sejalan dengan inisiatif Pathways to Progress dalam membantu lebih dari 500.000 pemuda di seluruh dunia,” pungkas Puni A. Anjungsari. [hmk]

Simak pawarta terkait , atau adicara menarik lain oleh Haiki Murakabi


Ingin mengunggah dan mewartakan kegiatan serta acaramu di Situs WARTA AGENDA ACARA | PAWARTA ADICARA JARINGACARA?
Klik Registrasi dan atau Login! Baca juga Syarat & Ketentuannya!

Sila Siarkan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *