Pawarta Adicara!

JARINGACARA sebagai media publikasi memiliki keinginan turut memberi warna dalam mengabarkan segala agenda acara seni budaya, pariwisata, warta, cuaca, juga menebarkan canda-tawa.
Perihal kontak kerjasama publikasi pun media partner, sila simak “Syarat dan Ketentuan“.

HIGHLIGHT
   
Kisah Legendaris Lampor Muncul di Festival Video Mapping SUMONAR

Kisah Legendaris Lampor Muncul di Festival Video Mapping SUMONAR

Diunggah oleh Haiki Murakabi, pada tanggal 2 Agustus 2019

Bagaimana jika kisah legendaris Lampor muncul saat ini? Apakah bumi yang telah dihuni dengan banyaknya generasi bernama kaum milenial ini menjadi takut sebagaimana yang dirasakan kamu dewasa pun tua yang pernah mendengar, membaca, atau bahkan melihat sosok berujud Lampor itu?

Ketika banyak anjing menggonggong, burung-burung pun tak kuasa untuk tidak bersuara, sementara air sungai bergejolak, bagi sebagian manusia bisa jadi itu merupakan pertanda akan terjadi sesuatu yang sangat mengerikana. Bahkan bagi mereka yang memiliki intuisi berlebih, bisa jadi juga akan mampu mendengarkan suara alat musik pukul diiringi oleh suara telapak kaki kuda sedang melakukan perjalanan bersama sebuah rombongan dari arah Selatan menuju Utara. Ada yang menganggapnya “biasa”, namun tentu saja tak sedikit manusia yang awalnya pemberani mendadak akan bernyali ciut bak harimau yang kehilangan taringnya.

Ketika pintu rumah masih terbuka, dan jendela pun dalam kondisi menganga, sontak sang pemilik rumah akan menyergap menutupnya, dan ia akan mengunci diri di dalam rumah huniannya.Yang terklintas dalam benak bisa jadi adalah ketidak-mauan mereka dalam menyaksikan kejadian yang mengerikan itu tertangkap oleh mata telanjang. Karena kata orang-orang, jika sampai manusia menyaksikan hal itu, mereka tak akan kembali lagi. Jika pun kembali, kondisi waras sudahlah tak akan ada lagi di dalam diri mereka sebagaimana sebelumnya.

Kejadian-kejadian menakutkan –bahkan mengerikan semacam di atas itulah yang dicoba untuk dikisahkan oleh Anung Srihadi, Ruly “Kawit” Prasetya dan Dani Argi dalam sebuah karya video mapping berjudul “Lampor”.

Bias Kota by Fanikini x Bagustikus x Kukuh Jambronk --Festival Video Mapping SUMONARKisah Legendaris Lampor yang maujud dalam karya video mapping “Lampor” ini ditampilkan pada hari Kamis malam tanggal 1 Agustus 2019, masih dalam festival video mapping SUMONAR 2019 bertajuk “My Place, My Time”.

Baca juga:  Lomba Penulisan Naskah Drama Radio Bahasa Jawa Tahun 2019

Selain karya dari kolaborasi dari Anung, Ruly dan Dani tersebut, dalam penyelenggaraan SUMONAR 2019 hari ke tujuh ini juga menampilkan karya video mapping dari Lepaskendali x Bazzier x Sasi berjudul “Moon & Sun”, Fanikini x Bagustikus x Kukuh Jambronk berjudul “Bias Kota”, Raymond Nogueira/Rampages, MoDAR berjudul “Timeless Dream”, dan juga karya dari Ismoyo Adhi x THMD x Wasis Tanata berjudul “Temu”.

Ruly “Kawit” Prasetya menjelaskan bahwa dalam karya kolaborasinya bersama Anung dan Dani, mereka ingin menyampaikan tentang salah satu kisah mitos legendaris masyarakat Yogyakarta yang saat ini sudah mulai terlupakan. Ia berkisah, Lampor sendiri adalah pasukan dari laut Selatan yang melakukan perjalanan menuju Utara, yaitu Gunung Merapi. Dalam perjalanannya para pasukan tersebut selalu menggunakan jalur sungai yang membentang di Yogyakarta. Seperti Kali Code, Winongo maupun Bedog, atau bahkan Sungai Progo.

“Sebenarnya kisah tentang Lampor ini adalah kisah-kisah yang selalu diceritakan oleh orang-orangtua kami dulu ketika kami masih kecil. Namun saat ini, banyak dari anak muda di Yogyakarta tidak mengetahui kisah tentang Lampor yang sebetulnya merupakan cerita yang diketahui secara turun temurun. Melalui karya video mapping yang kami beri judul “Lampor” juga, kami ingin kembali mengisahkan cerita ini dengan karya yang kami harapkan akan bisa lebih mudah untuk dicerna oleh masyarakat, terutama generasi mudanya,” tutur Ruly.

Tak hanya itu, di dalam karya berdurasi sekitar empat menit tersebut, Ruly Cs memperlihatkan beberapa hal yang bermuatan kritik terhadap sesuatu yang terjadi pada sungai yang ada di Yogyakarta saat ini. Misalnya saja seperti ornamen-ornamen sampah berserakan yang mereka gambarkan di dalam karyanya. Dan hal inilah yang perlu diketahui oleh masyarakat Yogyakarta bahwa sungai bukanlah tempat untuk membuang sampah.

Baca juga:  Film Humba Dreams dan Karya Instalasi Humba Dreams (un)Exposed

“Misalnya saja kita bayangkan jika Lampor itu memang ada, saat sampah dibuang sembarangan dan bermuara di laut Selatan, para “penghuni” laut Selatan pasti akan marah. Tak hanya itu, dalam kenyataannya jika memang sampah itu dibuang ke sungai, biota-biota di laut pun akan sangat terganggu keberlangsungan hidupnya. Dan kami berharap, melalui karya video mapping “Lampor” ini masyarakat yang tidak tahu tentang kisah ini menjadi tahu dan tidak melakukan sesuatu yang tidak seharusnya mereka lakukan pada sugai,” jelas Ruly.

Tambah Ruly, dalam karya “Lampor” ini mereka pun menggaet Paksi Laras Alit untuk mendramatisir karya tersebut dengan sajian audio yang mampu membuat bulu kuduk berdiri.

Kolaborasi Seniman dalam Kisah Legendaris Lampor

Dalam pertunjukan karya-karya video mapping dari rangkaian SUMONAR 2019, setidaknya telah disaksikan ratusan pengunjung yang hadir dari beberapa daerah di Indonesia pun mancanegara. Aji Wartono, salah satu pengunjung pada malam itu menuturkan bahwa SUMONAR tidak hanya sebagai festival yang menyajikan sebuah karya seni kepada khalayak luas, namun lebih dari itu, di dalamnya terdapat kolaborasi dari beberapa disiplin ilmu maupun dari para senimannya.

“Sumonar ini adalah bukti bahwa teknologi modern itu bisa bersinergi dengan budaya yang sudah ada sebelumnya. Hal ini pun merupakan bukti bahwa generasi sekarang bisa menyikapi tradisi dengan cara mereka dengan dinamis dan kreatif. Semua yang dilakukan ini telah membawa budaya mengikuti zaman. SUMONAR harus terus lanjut dan didukung,” tutur Aji.

Kisah Legendaris Lampor Muncul di Festival Video Mapping SUMONARRaphael Donny, Ketua JVMP (Jogjakarta Video Mapping Project) juga menuturkan bahwa dalam penayangan karya video mapping hari Kamis malam tersebut menjadi momen yang dimanfaatkan para seniman yang ada di JVMP guna mempresentasikan karya-karyanya kepada khalayak luas. “Dan di kali kedua pertunjukan karya-karya video mapping di Gedung Bank Indonesia dan Kantor Pos Indonesia Yogyakarta ini, banyak seniman dan kolaboratornya yang baru pertama kali membuat karya video mapping,” tambahnya.

Selain pertunjukan video mapping yang dipusatkan di kawasan Titik 0 Kilometer Yogyakarta, sampai dengan tanggal 5 Agustus 2019, bertempat di Loop Station SUMONAR juga hadir dan terbuka bagi khalayak umum dalam bentuk pameran instalasi seni cahaya.

Baca juga:  Pameran ARTJOG MMXIX Arts In Common Common | Space Yogyakarta

Selepas presentasi Video Mapping tanggal 1 Agustus 2019, bertempat di Museum Sonobudoyo, pada tanggal 4 Agustus 2019 SUMONAR juga mengagendakan Creative Sharing bersama Ican Agoesdjam, Isha Hening, dan Kongfoo Motion. Selanjutnya sebagai hari penutup pun Closing Ceremony SUMONAR 2019, tanggal 5 Agustus 2019 akan kembali dihadirkan pertunjukan video mapping dengan mengambil tempat sama dengan wkatu sebelumnya, yaitu di Gedung Bank Indonesia dan Kantor Pos Besar Yogyakarta. [uth]

**Informasi agenda acara dan hal lainnya, sila bisa klik laman SUMONAR sebagai festival video mapping pertama Indonesia ini!

Simak pawarta lain terkait , atau adicara menarik lain yang diunggah oleh Haiki Murakabi


Ingin mengunggah dan mewartakan kegiatan serta acaramu di Situs WARTA AGENDA ACARA | PAWARTA ADICARA JARINGACARA?
Klik Registrasi dan atau Login! Baca juga Syarat & Ketentuannya!

Sila Siarkan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *