Pawarta Adicara!

JARINGACARA sebagai media publikasi memiliki keinginan turut memberi warna dalam mengabarkan segala agenda acara seni budaya, pariwisata, warta, cuaca, juga menebarkan canda-tawa.
Perihal kontak kerjasama publikasi pun media partner, sila simak “Syarat dan Ketentuan“.

HIGHLIGHT
   
Joko Pinurbo Menolak Mitos

Joko Pinurbo Menolak Mitos-mitos dalam Dunia Kepenyairan di JOGLITFEST

Diunggah oleh Rika Purwaka, pada tanggal 10 September 2019

Joko Pinurbo menolak mitos dalam dunia kepenyairan. Pernyataan itu itu sebagaimana diungkapkan Jokpin sendiri yang berlaku sebagai pemateri dalam rangkaian acara pra-event JOGLITFEST, yaitu akronim dari Jogjakarta Literasi festival ataupun Festival Sastra Yogyakarta tahun 2019.

Ya, rangkaian JOGLITFEST yang mengetengahkan ikhwal ‘Joko Pinurbo menolak mitos dalam dunia kepenyairan’ tersebut digelar dalam JOGLITFEST yang tengah berlangsung sekira satu bulan, dan kali ini telah memasuki acara Workshop Penulisan Puisi jilid kedua.

Berlangsung pada hari Sabtu 7 September 2019 sekira pukul 10:00 hingga pukul 14:00 WIB, dengan lokasi berada di Kedai Jual Buku Sastra, Gang Semangat no. 150 Panembahan, Wijilan, Kraton, Yogyakarta, acara-acara literasi semacam ini seolah menjadi penegas ikhwal Yogyakarta yang tidak pernah sepi dari aktivitas-aktivitas perpuisian, baik berupa pembacaan, diskusi-diskusi, workshop penulisan, pun bentuk apresiasi-apresiasi lainnya.

Joko Pinurbo Menolak MitosTerkait dengan hal tersebut, Muhidin M. Dahlan, dalam orasi budaya di Taman Budaya Yogyakarta pada penghujung tahun 2016 pernah mencatat, “Berkat ‘dunia pendidikan’, kota ini (Yogyakarta) menjadi panggung “teater kecil‟, sebuah melting-pot. Secara demografik, hal yang sama terjadi dalam masyarakat puisi di Yogyakarta. Tugu dunia puisi di kota ini secara evolutif tersusun dari batu-bata ke-Indonesia-an. Para penyumbang dinamika kepenyairan begitu beragam, begitu plural. Tali pusar mereka boleh saja tertanam di kampung masing-masing, namun tungku baja kepenyairan mereka dibangun di atas guncangan jiwa, gesekan pengalaman dengan segala derita ikutannya. Jogja, meminjam judul puisi Indrian Koto yang berasal dari Pesisir Selatan -Sumatera Barat, menjadi tempat “kelahiran kedua‟.”

Baca juga:  Sayembara Hadiah Sastra Terjemahan Mastera 2019

Pada acara Joglitfest yang dipandu oleh Anggitya Alfiansari dan dengan menghadirkan pematerinya adalah sosok Joko Pinurbo tersebut, para peserta semakin semarak mengikuti workshop. Hal inipun seperti menjadi penguat perihal isyarat bahwa Yogya belum akan kehabisan benih-benih penyair untuk keberlangsungan puisi di masa depan.

Sehubungan dengan ungkapan Joko Pinurbo menolak mitos, maka setelah memberikan pengantar singkat dalam memulai praktik penulisan puisi, selanjutnya Joko Pinurbo mengajak kepada para peserta untuk menghapus terlebih dulu “mitos-mitos” dalam dunia kepenyairan. Joko Pinurbo memaparkan, minimal terdapat tiga mitos yang harus disingkirkan.

“Mitos pertama, yakni bahwa puisi itu tak bisa diedit, tak tergantikan, dan tak bisa disentuh oleh orang lain. Saya sarankan, bacalah esai “Hopla!” karangan Chairil Anwar untuk menghapus mitos pertama ini. Mitos kedua menyangkut ilham. Bahwa ilham itu turun dari langit bagaikan wahyu, maka Anda lalu menyepi. Saya mengkhawatirkan malah nantinya jadi gawat, kalian bisa masuk angin dan meriang .Ilham itu harus “dijemput‟, sebab sumber utamanya tak lain adalah “bumi‟ dan kehidupan yang kita gulati sehari-hari. Dan mitos ketiga, yakni kalian tak perlu menderita dulu baru bisa menuliskan puisi. Belum ada statement Chairil semacam itu yang saya baca,” jelas penyair yang menjadi masyhur lantaran kumpulan puisi Celana-nya itu.

Baca juga:  Balkonjazz Music Festival Sebagai Pemantik Ekonomi Lokal

Keuali pemaparan perihal mitos-mitos dalam dunia kepenyairan, Jokpin menjelaskan pula tentang beberapa hal lain kepada para peserta, Di antaranya adalah persoalan mood dalam proses kreatif dan hal-hal yang dapat dijadikan inspirasi dalam menulis puisi.

“Mood adalah situasi dan kondisi yang harus diciptakan sendiri. Tak ada alasan tak mood dalam dunia kepengarangan. Buktinya? Lha, saya malah melejit dan mengalami masa subur pada usia 37 tahun, dalam usia-usia sibuk. Rahasianya, saya menikmati penyatuannya dengan hidup, sehingga akan kentara dalam diksi-diksi yang saya gunakan, sarat dengan hal-hal dalam rutinitas sehari- hari,” ungkapnya.

Baca juga:  Tulus dan Guyon Waton dalam Penutupan Mocosik Festival 2019 Bersama Keluarga Pram, Okky Madasari, dan Kalis Mardiasih

Jokpin memang dikenal sebagai penyair yang lihai mengolah diksi-diksi keharian untuk disulap menjadi puisi. Diksi-diksi seperti celana, kamar mandi, asu, dan yang terbaru seperti biskuit Khong Guan, tidak jarang hadir menjadi simbol dalam bait-bait puisinya.

Sebelum peserta workshop penulisan puisi di rangkaian pre-event JOGLITFEST ini diajak bergelut dengan kertas dan pena, Jokpin kembali menyinggung tentang konteks kekinian yang sangat potensial dijadikan bahan dan inspirasi penulisan puisi.

“Problematika kita hari ini, bahwa pasca-reformasi, dalam konteks kehidupan sosial kita menjadi manusia yang mudah terpantik oleh konflik. Kita kian gemar saling bertengkar. Retaknya hubungan kasih sayang, mau tak mau harus kita akui. Singkatnya, cinta kasih sosial kita kian pudar. Itu yang saya lihat,” tutur sekaligus keluh dari penyair yang meraih penghargaan Kusala Sastra Khatulistiwa tahun 2005 serta tahun 2015 tersebut. [rpw]

Simak pawarta lain terkait , atau adicara menarik lain yang diunggah oleh Rika Purwaka


Ingin mengunggah dan mewartakan kegiatan serta acaramu di Situs WARTA AGENDA ACARA | PAWARTA ADICARA JARINGACARA?
Klik Registrasi dan atau Login! Baca juga Syarat & Ketentuannya!

Sila Siarkan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *