Pawarta Adicara!

JARINGACARA sebagai media publikasi memiliki keinginan turut memberi warna dalam mengabarkan segala agenda acara seni budaya, pariwisata, warta, cuaca, juga menebarkan canda-tawa.
Perihal kontak kerjasama publikasi pun media partner, sila simak “Syarat dan Ketentuan“.

HIGHLIGHT
   
Dinas Kebudayaan di Pameran maket Jogja Street Sculpture Project 2019

Jogja Street Sculpture Project 2019 Dihelat Sebagai Bentuk Kontribusi Pematung atas Perkembangan Dinamika Ruang Hidup Masyarakat


Diunggah oleh Utroq Trieha pada tanggal 18 Oktober 2019   (341 Readers)

API yang merupakan singkatan dari Asosiasi Pematung Indonesia tahun 2019 ini kembali bekerjasama dengan ‘Kundha Kabudayan’ alias Dinas Kebudayaan Daerah Istimewa Yogyakarta menyelenggarakan pameran patung yang diawali dengan Pameran beujud maket (miniatur) pada helatan Jogja Street Sculpture Project tahun 2019.

Jogja Street Sculpture Project tahun 2019 sebagai event rutin dua tahunan di Jogjakarta ini menjadi gelaran pameran seni patung yang ketiga kalinya selepas digelar pada tahun 2015 dan 2017 silam. Dan Jogja Street Sclupture Project yang kemudian dikenal pula dengan singkatan JSSP tahun 2019 ini mengusung tema ‘Pasir Bawono Wukir’.

Pameran Maket pada gelaran JSSP tahun 2019 ini diselenggarakan dari tanggal 17-23 Oktober 2019, berlokasi berada di komplek Galeri Tiforti Art Space, dengan alamat di Jl. Ipda Tut Harsono No.40, Muja Muju, Umbulharjo, Kota Yogyakarta.

Diikuti sejumlah 33 pematung dari Indonesia dan Malaysia, pameran patung di gelaran JSSP ini merupakan proyek seni patung di ruang publik yang hadir sebagai bentuk kontribusi pematung atas perkembangan dinamika ruang hidup masyarakat. Hal itu sebagaimana dipaparkan oleh Rosanto Bima Pratama, S.Sn. yang berlaku sebagai Organizing Comitte pada saat acara jumpa pers hari Jumat 17 Oktober 2019.

“Kami ingin menjadikan Yogyakarta sebagai kota berbudaya, salah satunya dengan patung. Dengan memamerkan patung di tiga tempat berbeda yaitu Bantul, Kota Yogyakarta, dan Sleman, kami mencoba agar patung itu masuk ke masyarakat. Kegiatan JSSP #3 akan melibatkan pemuda, perangkat desa, dan masyarakat setempat. Agenda JSSP #3 akan diisi sejumlah kegiatan seperti pameran maket, pameran utama, dan seminar. Diskusi, diskusi tidak hanya soal karya, tetapi juga soal branding wisata melalui patung-patung, workshop edukasi pada masyarakat soal pembuatan dan marketing merchandise. JSSP tour kamisan, JSSP performing art ruang publik, aneka lomba, melalui JSSP #3 kami ingin memasyarakatkan patung, menggabungkan budaya dan wisata,” papar Rosanto Bima Pratama.

Baca juga:  Jogja International Street Performance -JISP 2019 Mengusung Tema “Jogja The Dancing City”

Pameran Maket pada Jogja Street Sculpture Project 2019

Usai acara jumpa media pada hari Jumat 17 Oktober 2019 tersebut, kemudian langsung dilanjutkan dengan pembukaan pameran maket JSSP #3 yang dilakukan secara seremonial dengan pemotongan pita oleh Aris Eko Nugroho, Sp., M.Si selaku Kepala Dinas Kebudayaan DIY

Pada rekan media, Aris Eko Nugroho juga mengungkapkan bahwa Jogja Street Sculpture Project merupakan bagian dari program dinas kebudayaan provinsi DIY menggunakan dana keistimewaan, yang besarannya ada di angka 700 jutaan.

Masih sesuai penuturan Aris, bahwa dalam penyelenggaraan kegiatan seni-budaya, tentu pihak pemerintah daerah tidak bisa bekerja sendiri dalam rangka mengembangkan kebudayaan tersebut. Karena itum, pihaknya melakukan kemitraan dengan Asosiasi Pematung Indonesia a.k.a API.

Di lain sisi RM. Suarsono, B. FA. selaku Ketua Umum API menuturkan bahwa pameran maket alias miniatur pating ini menjadi langkah sangat penting karena memiliki tujuan guna menakar tingkat kreatifitas dari kawan-kawan seniman patung. Dengan begitu akan diketahui sejauh apa hasil itu tercapai, termasuk dalam gagasan orisinilnya. Selanjutnya terkait dengan tema ‘Pasir Bawono Wukir’, sejatinya ia menjadi hal yang lumayan berat, namun itu bukan merupakan tantangan yang tak bisa dihadapi.

“Tema Pasir Bawono Wukir lumayan berat bagi pematung, sebab harus merespon garis filosofis Yogyakarta dari selatan, tengah, dan utara. Namun seberat apapun, toh dari 170-an anggota API tetap ada banyak yang meresponnya secara positif. Terbukti terdapat 61 anggota yang bersedia mengikuti JSSP #3, baik secara individu maupun kolaborasi,” ujar RM. Suarsono.

Dari jumlah peserta yang berpartisipasi dalam gelaran Jogja Street Sculpture Project tahun 2019 ini, ada sejumlah 3 kurator yang tak bisa dilupakan. Ialah Kris Budiman, Eko Prawoto, dan Soewardi.

Tim Kuratorial yang terdiri dari tiga orang tersebut meramu konsep yang kemudian bakal diterjemahkan oleh para pematung JSSP. Sementara ikhwal proses seleksi, ia diperuntukkan bagi anggota API yang sifatnya bukan sebatas regional Jogjakarta, namun lebih luas dari itu, nasional. Bahkan pada JSSP ke-3 tahun 2019 ini turut diundang pula sebanyak empat pematung dari Malaysia.

Baca juga:  Pembukaan Biennale Jogja oleh Kepala BEKRAF

Kris Budiman sebagai salah satu kurator JSSP #3 ini dalam press conference mengatakan bahwa kerja kurasi pemeran Jogja Street Sculpture Project tahun 2019 ini membawa konsep yang tidak main-main. Sebab ia berangkat dari Garis Imajiner sebagai salah satu filosofis keberadaan Yogyakarta. Tak lain, ia merupakan titik-titik penting dalam klasifikasi simbolik ruang kota Yogyakarta. Dari garis filosofis tersebut selnajutnya bakal diterjemahkan dalam sebuah judul “Pasir Bawono Wukir” yang sifatnya mengglobal.

Sementara itu Eko Prawoto sebagai kurator juga menyampaikan bahwa pada pameran patung JSSP #3 ini ada upaya membawa dan menerapkan nilai-nilai dan mengomunikasikannya dengan masyarakat. Diharapkan menjadi pemicu dan merespons proses berkarya. Patung-patung tiga dimensi mengisi ruang-ruang kreatif yang telah disediakan.

Masih sesuai penuturan para kurator, Soewardi juga memaparkan bahwa JSSP merupakan kegiatan pameran patung bagi publik, yang artinya ia berada di luar ruang, bukan di galeri. Karenanya, ada harapan di sana, yaitu bahwa setiap pematung anggota asosiasi datang ke Yogyakarta untuk meninjau ruang bagi karya mereka, yang kemudian mereka tidak hanya merespon dari konsep tema “Pasir Buwono Wukir” tersebut, namun sekaligus karyanya bisa merespon ruang-ruang yang ada di Yogyakarta itu sendiri.

Pembukaan Pameran Maket Seni Patung di Gelaran Jogja Street Sculpture Project 2019

Dari tema “Pasir Buwono Wukir” itu, dapat diketahui bahwa kekuatan Gunung Merapi, Laut Selatan dan Keraton dalam konteks ruang memengaruhi dinamika alam dan sosial. Artinya, penekanan tafsir garis imajiner bukan sebatas pada ruang semata. Lebih dari itu, adalah juga pada imajinasi sosial dalam konteks kekinian yang mewarnai perilaku masyarakat plural.

Banyak poros baru yang sekarang sangat majemuk. Keberanian mendefinisikan kembali poros imajiner klasik, memberi tafsir baru dan kontekstual. Peran pematung sangat penting untuk mewujudkan konsep karya yang terintegrasi dengan lingkungan.

Baca juga:  Duo Spesial Ineke Vandoorn dan Marc Van Vugt Berkolaborasi dengan Purwanto -Kua Etnika di Tembi Rumah Budaya

Rosanto Bima Pratama sebagai Organizing Comitte masih menambahkan bahwa ada hal yang membedakan antara Jogja Street Sculpture Project tahun 2019 ini dengan gelaran SSP pada tahun-tahun sebelumnya. Ialah keterlibatan tiga tempat yang menjadi garis imajiner Yogyakarta. Patung tidak hanya diletakkan di suatu tempat, namun diharapkan mampu menciptakan efek keberlangsungan dan kegunaan bagi masyarakat. Sebagai contoh harapan dari penempatan patung di beberapa tempat itu antara lain adalah, apabila nanti patung berada di area Gumuk Pasir, ia memiliki kemampuan dalam hal menunjang daya tarik bagi wisatawan untuk datang ke lokasi tersebut.

Untuk rangkaian program dari gelaran Jogja Street Sculpture Project tahun 2019 ini juga bakal diselenggarakan workshop dan diskusi dengan tujuan agar wawasan masyarakat sekitar juga menjadi bertambah. Terutama di lokasi Gumuk Pasir dan Gunung Merapi. Apalagi tak sedikit seniman yang tergabung di API ini juga merupakan para pelaku usaha.

Selain pameran dan workshop, masih ada lagi beberapa yang lainnya. Salah satunya adalah “program edukasi” yang akan diberikan. Di antaranya adalah mengenai branding dan marketing bagi masyarakat sekitar guna membuat merchandise khas daerahnya masing-masing.

Pada akhirnya, dari hasil karya para pematung ini diharapkan bisa ditelusuri kembali kemungkinan poros-poros baru dan dapat menjembatani keterbatasan serta kepedulian sosial dalam merespons ruang. Selain itu, dapat pula melahirkan tantangan untuk proses interaksi penonton dalam memberikan respons terhadap konsep karya, lokasi dan dampak sosial.

Harapan lain dari gelaran JSSP tahun 2019 adalah mempu memberikan rangsangan bagi para seniman dalam mengeksplorasi gagasan, material, dan karakteristik ruang. Artinya, di sini ada ruang dalam memberikan harapan akan kebaruan dari partisipan terhadap seni patung Indonesia ini. [uth]

Simak pawarta terkait , atau adicara menarik lain oleh Utroq Trieha


Ingin mengunggah dan mewartakan kegiatan serta acaramu di Situs WARTA AGENDA ACARA | PAWARTA ADICARA JARINGACARA?
Klik Registrasi dan atau Login! Baca juga Syarat & Ketentuannya!

Sila Siarkan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *