Pawarta Adicara!

JARINGACARA sebagai media publikasi memiliki keinginan turut memberi warna dalam mengabarkan segala agenda acara seni budaya, pariwisata, warta, cuaca, juga menebarkan canda-tawa.
Perihal kontak kerjasama publikasi pun media partner, sila simak “Syarat dan Ketentuan“.

HIGHLIGHT
   
Jogja Street Sculpture Project 2019

Jogja Street Sculpture Project 2019 Memantik Garis Imajiner Yogyakarta Sebagai Tema ‘Pasir Bawono Wukir’


Diunggah oleh Utroq Trieha pada tanggal 17 Oktober 2019   (121 Readers)

Jogja Street Sculpture Project yang kemudian dikenal pula dengan singkatan JSSP adalah proyek seni patung di ruang publik yang hadir sebagai bentuk kontribusi pematung atas perkembangan dinamika ruang hidup masyarakat, khususnya di Daerah Istimewa Yogyakarta.

Proyek pembuatan dan pemasangan patung Jogja Street Sculpture Project 2019 ini menjadi platform intervensi artistik yang bukan saja bertujuan guna menambah keindahan ruang. Akan tetapi lebih dari itu, adalah juga untuk diikhtiarkan sebagai medium pemantik kesadaran masyarakat akan dinamika sosial yang terjadi.

Dapat diketahui bahwa gagasan-gagasan kontemporer dalam JSSP ini secara sadar telah memproduksi generator kreativitas bagi tumbuhnya berbagai persepsi publik yang cerdas terhadap ruang hidupnya. Lahirnya kesegaran interpretasi kreatif ini kemudian menjadi passion bagi JSSP guna merevitalisasi peran strategis ruang publik sebagai laboratorium seni dan kreatifitas. Apalagi gagasan yang terkait dengan “bagaimana seni rupa mampu memberikan kontribusi langsung terhadap masyarakat” ini saat sekarang kembali mengemuka dan beririsan dengan wacana seni kontemporer yang sedang berkembang. Termasuk di dalamnya adalah perihal perkembangan seni patung di ruang publik.

Maket Jogja Street Sculpture Project 2019

Jika melihat dari sejarah dan konsepsi keberadaannya, selain menjadi landmark sebuah kawasan, seni patung di ruang publik sebagaimana bakal digelar pada Jogja Street Sculpture Project 2019 ini memiliki tanggung jawab dalam menyematkan nilai-nilai kultural yang merepresentasikan dinamika sosial politik masyarakatnya. Hal ini bisa terjadi bukan tanpa alasan. Pasalnya, modus kerja interventif JSSP memiliki potensi besar untuk mewujudkan gagasan ini.

Baca juga:  Di Luar Dugaan Jumlah Penonton Berbatik di Gelaran Batik Music Festival 2019 Capai 9100 Pengunjung

Hanya saja hal di atas bukan perkara mudah untuk diwujudkan, karena masih diperlukan beberapa hal sebagai pendukung. Di antaranya adalah dibutuhkannya sebuah konsep visi yang berjangka panjang, juga diperlukannya upaya yang sistematis serta mengarah pada kerja-kerja seni yang berkelanjutan alias sustainability.

Dan dengan tiga kali gelarannya, yaitu setelah menggelar JSSP tahun 2015 dengan tajuk ‘Antawacana’ dan JSSP tahun 2017 yang mengusung tema ‘Jogjatopia’, maka kemudian dalam rangka menjemput perhelatan berikutnya di JSSP #3 tahun 2019, ada tawaran gagasan – gagasan yang lebih konstruktif, sekaligus menyentuh ruang gerak masyarakat secara langsung melalui kerja seni kolaboratif-partisipatoris. Pada akhirnya dari tawaran tersebut ada kontribusi seni lebih nyata untuk menyentuh jantung dinamika warga, khususnya masyarakat Yogyakarta.

Jogja Street Sculpture Project 2019 Usung Tema Pasir Bawono Wukir

“Pasir Bawana Wukir” menjadi tema yang diusung pada helatan JSSP yang digelar dua tahun sekali ini. Tiga kata pada tema tersebut menjadi perwujudan makna dari yang hendak diejawantahkan pada gelaran Jogja Street Sculpture Project ke-3 tahun 2019 ini.

Tiga tempat gelaran JSSP 2019 yang terpantik dari tema tersebut adalah:

  • Bahwa Pasir dapat dimaknai sebagai satu tempat yang tak jauh dari Samudera alias ‘pesisir’, karenanya gelaran JSSP tahun 2019 ini salah satu tempat memilih di area Obyek Wisata Gumuk Pasir daerah Parang Tritis, Bantul, Yogyakarta
  • Kemudian Wukir sebagai kata terakhir pada tema yang diusung tersebut mengindikasikan sebagai ‘puncak’, karenanya helatan JSSP ke-3 juga bakal menempatkan beberapa patung di area tak jauh dari Puncak Gunung Merapi, yaitu di daerah Pertigaan Ngangkrak, Kinahrejo, Cangkringan, Sleman.
  • Sedangkan ‘Bawana’ yang menjadi kata tengah dalam tema tersebut menunjukkan bahwa tempat digelarnya JSSP ini berpusat di tengah-tengah Garis Imajiner Yogyakarta. Yaitu tepatnya di area Jl. Trikora, depan kantor POS, depan Serangan Oemoem 1 Maret (seputar Titik 0 Kilometer Yogyakarta)
Baca juga:  Gelaran Batik Music Festival Wajibkan Artis Panitia dan Penonton Mengenakan Pakaian Batik

Peserta Pameran Maket Patung dalam Jogja Street Sculpture Project 2019Dapat diketahui bahwa program dalam Jogja Street Sculpture Project ke-3 tahun 2019 menjadi upaya guna meningkatkan bobot serta arah seni patung, baik itu dalam konteks Indonesia, Asia, ataupun dunia. Kecuali itu, ada pula upaya lain dan tak bisa diabaikan, yaitu guna memberikan tafsir atas Sumbu Filosofis dan Garis Imajiner Yogyakarta dalam memperkaya tafsir tradisi.

Secara spacial, Garis Imajiner yang dipantik pada helatan Jogja Street Sculpture Project 2019 ini apabila dilihat dalam konstelasi relasi dan dampaknya, maka bakal melahirkan pertanyaan; “Mengapa Keraton Ngayogyakarta dibangun tepat di tengah?

Maksudnya Keraton Ngayogyakarta dibangun tepat di tengah mana? tak lain adalah tepat ditempatkan di dalam pusat ketegangan dua kekuatan alam, gunung-laut, letusan, dan gempa. Ialah konstelasi dua titik alam yang memiliki dampak terhadap lingkungan dan manusianya. Yaitu perilaku dua kekuatan alam yang memengaruhi perilaku air, tanah dan elemen alam, topografi sehingga mempengaruhi masyarakat menjadi dinamis, adaptif dan kreatif. Bahkan dalam konteks ruang, dua kekuatan Gunung Merapi, Laut Selatan dan keraton memengaruhi dinamika alam dan sosial.

Baca juga:  Pembukaan Biennale Jogja oleh Kepala BEKRAF

Penekanan tafsir dari garis imajiner sebagaimana tersebut di atas bukanlah sebatas pada HANYA RUANG, akan tetapi juga perihal IMAJINASI. Lebih luasnya, imajinasi sosial dalam konteks kekinian yang mewarnai perilaku masyarakat plural.

Banyak poros baru yang saat ini menjadi sangat majemuk. Artinya, dari keberanian mendefinisikan kembali mengenai poros imajiner klasik ini, maka ada langkah dalam memberikan tafsir baru dan kontekstual saat ini. Dalam hal ini, maka peran pematung menjadi sangat penting. Dan salah satunya adalah dengan mewujudkan konsep karya yang terintegrasi dengan lingkungannya.

Pada akhirnya, hasil karya para pematung pada Jogja Street Sculpture ini diharapkan dapat menelusuri kembali kemungkinan poros-poros baru dan dapat menjembatani keterbatasan serta kepedulian sosial dalam merespons ruang. Melahirkan tantangan untuk proses interaksi penonton dalam memberikan respons terhadap konsep karya, lokasi dan dampak sosial. Merangsang seniman dalam mengeksplorasi gagasan, material, dan karakteristik ruang. Memberi harapan akan kebaruan dari partisipan bagi seni patung Indonesia. [uth]

Simak pawarta terkait , atau adicara menarik lain oleh Utroq Trieha


Ingin mengunggah dan mewartakan kegiatan serta acaramu di Situs WARTA AGENDA ACARA | PAWARTA ADICARA JARINGACARA?
Klik Registrasi dan atau Login! Baca juga Syarat & Ketentuannya!

Sila Siarkan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *