Pawarta Adicara!

JARINGACARA sebagai media publikasi memiliki keinginan turut memberi warna dalam mengabarkan segala agenda acara seni budaya, pariwisata, warta, cuaca, juga menebarkan canda-tawa.
Perihal kontak kerjasama publikasi pun media partner, sila simak “Syarat dan Ketentuan“.

HIGHLIGHT
   
Didi Kempot Hadir di Jogja Menyapa Mahasiswa Baru

Didi Kempot Hadir di Jogja Menyapa Mahasiswa Baru dengan Semangat ‘Ngaruhke dan Ngarahke’


Diunggah oleh Haiki Murakabi pada tanggal 19 Agustus 2019   (114 Readers)

Jogja Menyapa merupakan helatan yang diagendakan pada tanggal 20 Agustus 2019 dengan pihak penyelenggaranya adalah Paniradya Kaistimewan, yaitu satu perangkat daerah dalam lingkup Pemerintah Daerah Provinsi D.I. Yogyakarta yang dibentuk sekira awal tahun 2019. Dalam pelaksanaannya, “Paniradya Kaistimewan” bersinergi dengan Bank Pembangunan Daerah DIY, dan juga Fakultas Ilmu Budaya UGM.

Apa itu Paniradya Kaistimewan? Ialah lembaga perangkat daerah yang dibentuk berdasarkan Perdais No. 1 Tahun 2019 tentang Kelembagaan Pemerintah Daerah Daerah Istimewa Yogyakarta, yang jika dilihat dari fungsi-tugasnya adalah guna membantu Gubernur Daerah Istimewa Yogyakarta dalam penyusunan kebijakan urusan keistimewaan dan pengoordinasian administratif urusan keistimewaan.

Kembali pada helatan “Jogja Menyapa”, helatan ini dimaksudkan guna menyapa para siswa dan atau mahasiswa yang baru saja datang guna menempuh pendidikan dan juga mereka yang belum lama berkunjung serta tinggal di wilayah Daerah Istimewa Yogyakarta.

Gelaran Jogja Menyapa dengan tajuk “Ngaruhke, Ngarahke – Tepung, Dunung, Srawung” yang memilih tempat di area Fakultas Ilmu Budaya UGM Yogyakarta ini merupakan respon Pemerintah Daerah –dalam hal ini diwakili Paniradya Kaistimewan– atas datangnya para mahasiswa baru di kota budaya Jogjakarta guna lebih memperkenalkan Keistimewaan Yogyakarta.

Sementara mengenai bentuk yang diperkenalkan dari keistimewaan itu adalah dilihat dari berbagai sudut pandang, baik itu dilihat dari sisi sosial kemasyarakatan, dari pola perilaku kesantunan, dari segi keramah-tamahan, dari sisi kultur seni budaya kuliner, dan dari beragam sisi menarik lainnya.

Baca juga:  Trajectory: Posthumous Solo Exhibition Of I Nyoman Sukari

Didi Kempot Hadir di Jogja Menyapa Mahasiswa BaruBeni Suharsono selaku Pejabat Paniradya Kaistimewan –atau acap pula disebut Paniradya Pati– propinsi Daerah Istimewa Yogyakarta menuturkan bahwa melalui helatan “Jogja Menyapa” diharapkan para mahasiswa yang baru saja datang ke Yogyakarta dan berasal dari seluruh pelosok nusantara ini bisa mengenal perihal budaya Yogyakarta, sehingga tidak gagap budaya.

Masih sesuai penuturan Beni Suharsono, mereka para mahasiswa itu tak lantas harus berubah menjadi ‘seperti orang Jogja’, lain dari itu, mereka para mahasiswa yang baru tinggal dan akan hidup dan berinteraksi di Jogja yang notabene berbudaya Jawa ini diharapkan tetap bisa membawa unsur dan identitas budayanya sendiri untuk kemudian bisa saling melengkapi dan membaur di dalam kerangka kehidupan bermasyarakat.

Sesuai tajuk yang diusung dari helatan ini, ‘ngaruhke’ diejawantahkan bahwa ada niatan untuk ‘mrajani’ alias menerima sekaligus menjemput tamu sebagaimana lazimnya dilakukan masyarakat Ngayogyakarta Hadiningrat pada kehidupan sehari-hari. Sedangkan ‘ngarahke’ memiliki arti memberikan arahan serta memberikan petunjuk perihal berbagai macam yang terkait dengan Yogyakarta yang Istimewa, termasuk di dalamnya adalah adat budaya serta norma dan tata susila yang berlaku. Dengan demikian, ada saling pemahaman antara masyarakat DIY dengan mereka para mahasiswa baru tersebut.

Gelaran ‘Jogja Menyapa’ pertama tahun 2019 ini digelar di kawasan Universitas Gadjah Mada karena perguruan tinggi ini memang memiliki sejarah sangat penting dengan keberadaan Republik Indonesia dan juga Kasultanan Ngayogyakarta Hadiningrat yang sejatinya telah ada sebelum terbentuknya Indonesia. Dan karena sifatnya terbuka untuk umum dan gratis, termasuk untuk semua mahasiswa dari berbagai perguruan tinggi lain, maka untuk selanjutnya, gelaran ini direncanakan akan dihelat secara rutin setiap tahun. Di latar-belakangi hal itu, maka besar kemungkinan untuk gelaran tahun berikutnya akan berada di tempat pun perguruan tinggi berbeda.

Baca juga:  Inilah Jadwal Acara Festival Sastra Yogyakarta JOGLITFEST 2019 yang Telah Dibuka 2 September 2019

Terkait dengan helatan pertamanya, harapan yang muncul masih juga sesuai tajuk, yaitu bahwa para pendatang terutama lingkup mahasiswa baru mampu mengaplikasikan sikap ‘Tepung, Dunung, lan Srawung’. Tepung memiliki makna bisa memahami, sedangkan dunung berarti dapat lebih mengenal. Sementara untuk kata Srawung memiliki definisi mampu menjalin hubungan lebih dekat dan akrab.

Dari tajuk yang berujung pada pengejawantahan sikap dari kata “Srawung” terseut, harapan yang muncul setelah itu adalah timbulnya rasa betah alias ‘kerasan; bagi para mahasiswa baru selama berada di Jogja guna belajar pun menuntut ilmu pengetahuan.

Agenda Acara ‘Jogja Menyapa’ Ngaruhke, Ngarahke – Tepung, Dunung, Srawung

Didi Kempot Hadir di Jogja Menyapa Mahasiswa BaruPada helatan “jogja Menyapa” yang diselenggarakan di area Pelataran Soegondo, Fakultas Ilmu Budaya, Universitas Gadjah Mada mulai pukul 16:00 WIB ini bakal dipandu oleh MC Trio A yang tak asing lagi bagi khalayak masyarakat Jogja. Ialah Alit Jabangbayi, Anangbatas, dan Awangisme.

Bisa diperkirakan apabila tiga MC Selososelo itu berada di atas panggung secara bersamaan, maka sajian yang dipersembahkan akan menjadi meriah bukan saja perihal helatannya, namun juga candaan dan guyonan segarnya. Hal ini selaras dengan rangkaian acara yang dihadirkan, yaitu berupa guyonan, gojekan, plesetan, sekaligus dialog budaya.

Baca juga:  Sepuluh Karya Terbaik Pemenang Lomba Penulisan Naskah Drama Radio Bahasa Jawa DIY 2019

Selain suguhan di atas, masih ada juga persembahan seni tari berujud tarian tradisional dari beberapa daerah di Indonesia. Di antaranya adalah Rampoe UGM, Tarian Sumba, Tarian Halmahera, dan tak ketinggalan penampilan Beksan Wanara dari Kraton Jogja. Turut meramaikan adalah grup legendaris dari FIB UGM; Sastro Moeni.

Dan di samping ada penampilan dari Semata Wayang, Traffix Jam, serta Keroncong Plesiran, masih ada pula yang tak boleh ditinggalkan, ialah kehadiran suara merdu yang ‘njawani’ dari penampilan penyanyi khas tembang-tembang jawa The Lord of Broken Heart; Didi Kempot.

Seturut dengan helatan Jogja Menyapa, kehadiran Lord Didi ini sebagaimana yang acap dituturkan para ‘Sobat Ambyar’ seluruh nusantara, bahwa kesedihan jangan ditangisi, namun layak untuk dijogedi. Pun dengan sebagian mahasiswa yang baru saja tinggal di Jogjakarta, meski ada yang bersedih karena harus berpisah jauh dari orangtua, namun itu semua tak pantas dijadikan alasan untuk juga bersedih hati. Tetap berbudaya dengan mengejawantahkan sikap tepung, dunung, dan srawung di Jogja, dan jangan lupa untuk selalu semangat dalam mengembangkan diri. [hm]

Pic Didi Kempot from IG didikempot_official

Simak pawarta terkait , atau adicara menarik lain oleh Haiki Murakabi


Ingin mengunggah dan mewartakan kegiatan serta acaramu di Situs WARTA AGENDA ACARA | PAWARTA ADICARA JARINGACARA?
Klik Registrasi dan atau Login! Baca juga Syarat & Ketentuannya!

Sila Siarkan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *