Pawarta Adicara!

JARINGACARA sebagai media publikasi memiliki keinginan turut memberi warna dalam mengabarkan segala agenda acara seni budaya, pariwisata, warta, cuaca, juga menebarkan canda-tawa.
Perihal kontak kerjasama publikasi pun media partner, sila simak “Syarat dan Ketentuan“.

HIGHLIGHT
   
Festival Expo-Jogja Holden Day- Jogja Festivals Forum dan Expo

Kemeriahan Jogja Festivals Forum dan Expo Sebagai Hajatan Akbar Insan Pegiat Festival di Yogyakarta


Diunggah oleh Haiki Murakabi pada tanggal 24 November 2019   (174 Readers)

Suasana di Alun-alun Pendopo Agung Kedaton Ambarukmo Yogyakarta pada hari Kamis malam tanggal 21 November 2019 terasa meiah, hangat, dan juga intim, yaitu dengan dihadirkannya beberapa booth kuliner dan juga merchandise seiring gelaran Jogja Festivals Forum dan Expo.

Helatan Jogja Festivals Forum dan Expo yang digelar pada malam hari tersebut juga terasa hangat dengan ditampilkannya ragam warna musik yang dihadirkan dari beberapa band. Hal itu semakin terasa pula akibat area yang dipersembahkan oleh para penonton telah ditata sedemikian rupa, sehingga mereka dapat menikmati para penampil di panggung tidak hanya dengan berdiri, namun juga bisa dengan duduk, lesehan, dan bahkan juga bisa sembari berbaring santai di bean bag yang tersedia.

Tak sedikit sosok-sosok yang menghadiri acara ini bahkan berharap agar hajatan akbar insan festival di Jogjakarta seperti ini masih terus berlangsung sampai beberapa hari lagi. Pasalnya waktu 3 hari (19 – 21 November 2019) serasa tidak cukup dalam gelaran Jogja Festivals Forum dan Expo (JFFE) tahun 2019, yang menyuguhkan berbagai program serta kegiatan, sebagai gelaran pertama kali di Yogyakarta, atau mungkin di Indonesia ini.

Penyelenggaraan JFFE pada hari terakhir waktunya dimulai pukul 10:00 WIB, dan bertempat di Hotel Grand Ambarrukmo Jogja sajian yang dihadirkan adalah FGD alias Focus Group Discussion yang membincang perihal Ekosistem Festival.

FGD mengenai Ekosistem Festival ini selain diikuti oleh para pegiat festival. Baik mereka yang memiliki peran secara langsung maupun tidak terhadap pelaksanaan ragam festival di Yogyakarta. Ialah pihak pemerintah, pihak swasta, penyelenggara festival, dan juga dari kalangan media.

Creative Sharing Heri Pemad-Kamila Andini-Ria Papermoon-Ari Wulu-JFFE - Jogja Festivals Forum dan Expo

  • Festive Your Passion di Jogja Festivals Forum dan Expo

Siang hari pukul 12:00 WIB, berlokasi di Pendopo Agung Kedaton Ambarukmo Yogyakarta, digelar pula diskusi bertajuk Festive Your Passion. Dengan dimoderatori Aan Fikriyan, diskusi tersebut menghadirkan tiga “Bapak Festival” Jogjakarta. Mereka adalah Lulut Wahyudi dari Kustomfest, Ajie Wartono dari Ngayogjazz, dan Anas Alimi dari Rajawali Indonesia, yang beberapa event larannya antara lain adalah PrambananJazz, Jogjarockarta, serta Mocosik.

Baca juga:  Pesta Rakyat Kampung Terban Yogyakarta Menampilkan Potensi Seni-Budaya dari Warga

Tampil sebagai pembicara pertama adalah Ajie Wartono yang merupakan salah seorang pengagas Ngayogjazz. Ia mengungkapkan bahwa setiap membuat festival tidak perlu memikirkan berapa audience yang akan datang. Namun yang lebih penting dipikirkan adalah bagaimana festival itu nanti berjalan, terutama bagaimana passion dari penggiat festival persiapan saat pra-festival dan selama prosesnya. Jika hal tersebut berjalan baik sesuai ide-ide yang berkembang, niscaya audience festival akan datang dengan sendirinya.

“Ikuti passion dan ide-ide liar Anda. Wujudkan, dan bagilah dengan teman-teman Anda,” tutur Ajie Wartono.

Giliran berikutnya adalah Lulut Wahyudi yang bercerita ikhwal bagaimana event Kustomfest sudah diliput sekitar 127 media dari luar negeri. Selain itu, ia juga menceritakan tentang perkembangan tema festival ini setiap tahunnya. Bagaimana perlahan-lahan mengubah image Kustomfest yang selama ini identik dengan motor, mobil, dan anak muda, menjadi lebih terbuka untuk masyarakat yang lebih luas.

Contoh langkah-langkah sederhana yang dilakukan berkaitan dengan hal tersebut antara lain dengan membuat ruang bermain untuk anak-anak, menghadirkan suasana lebih homy, sehingga semua kalangan nyaman untuk datang dalam event ini.

Dalam kesempatan tersebut, Lulut Wahyudi berpesan, “Lakukan apapun yg sesuai passion, karena kamu tidak merasa kerja tapi melakukan kesenangan yang berbonus.”

Pada bagian selanjutnya, Anas Alimi dari Rajawali Indonesia menekankan pentingnya referensi dan riset jika ingin membuat sebuah festival. Ia juga mengingatkan bahwa penyelenggara festival harus berani berinvestasi, termasuk investasi kerugian, terutama untuk event rutin atau tahunan.

Baca juga:  Jogja Street Sculpture Project 2019 Dihelat Sebagai Bentuk Kontribusi Pematung atas Perkembangan Dinamika Ruang Hidup Masyarakat

Anas Alimi juga memiliki harapan dari diadakannya Jogja Festivals Forum dan Expo ini, bahwa ke depan, bisa dibuat timeline dari semua event di Jogja yang diselenggarakan dalam waktu yang beruntutan. Anas Alimi tak lupa juga mengungkapkan pesan yang kalimatnya terdengar sebagaimana diungkap oleh Albert Einstein, yaitu “Seni Tertinggi adalah Guru untuk Membangun Kegembiraan dalam Ekspresi Kreatif dan Pengetahuan”.

“Seni tertinggi adalah membahagiakan orang banyak. Selamat membuat festival!,” ungkap Anas Alimi.

Creative Sharing Anas Alimi-Lulut Wahyudi-Aji Wartono-Aan Fikriyan-JFFE- Jogja Festivals Forum dan Expo

  • Creative Cultural Hub & Hack

Usai sesi pertama tersebut, di lokasi yang sama mulai pukul 15:00 WIB digelar sesi berikutnya yang bertajuk “Creative Cultural Hub & Hack“. Hadir sebagai pembicara di sesi yang dimoderatori oleh Ari Wulu ini adalah Ria Papermoon dari Pesta Boneka, Kamila Andini dari JAFF, dan Heri Pemad dari ArtJog.

Sebagai penyelenggara ArtJog selama dua belas kali, Hari Pemad mengungkapkan semuanya itu berawal dari kegalauan pribadi sebagai seorang pelukis. Kemudian ia bersama-sama para seniman dan pelaku kreatif lainnya memikirkan bagaimana cara menemukan wadah untuk menuangkan karya seni rupa mereka, yang selama ini masih dianggap kurang.

Seiring berjalannya waktu, dan juga dari dukungan banyak seniman, Artjog akhirnya berkembang bukan hanya sekadar sebagai event khusus seni rupa, akan tetapi juga telah berubah menjadi festival besar dengan berbagai jenis seni rupa. Dalam helatan ARTJOG tersebut, Hari Pemad juga menekankan ikhwal kerja maksimal yang harus dilakukan.

“Penyajian karya yang maksimal harus diutamakan. Sehingga penyajian suatu karya ketika dinikmati langsung atau ketika didokumentasikan sudah menjadi sajian internasional tersendiri,” ungkap Hari Pemad.

Sementara itu Kamila Andini sebagai wakil dari JAFF alias Jogja-NETPAC Asian Film Festival 2019 mengungkapkan, bahwa festival film yang telah berlangsung sejak 2005 tersebut didirikan oleh beberapa film maker serta beberapa komunitas film yang banyak di Jogja. Mereka memiliki keinginan yang sama, yaitu hendak mengadakan festival film di tingkat Asia.

Baca juga:  Pameran “Sambang Sambung Malioboro" Oleh Hendro Purwoko Dimeriahkan Beragam Rangkaian Kegiatan Seni Rupa

“Sejak awal berdirinya, JAFF berkontribusi mengajak penonton mengapresiasi tak hanya film-film Indonesia, tapi juga Asia.” imbuh Kamila Andini.

Berbeda lagi dengan kisah Festival Boneka yang dituturkan Ria Papermoon pada program ‘Creative Cultural Hub & Hack’ di Jogja Festivals Forum dan Expo ini. Festival yang diadakan dua tahun sekali tersebut tercipta justru secara tidak sengaja. Semua berawal dari inisiatif Papermoon dengan para mahasiswa luar negeri, yang sama-sama ingin menggelar sebuah pementasan boneka.

Stage - Mahijadedi - JFFE - Jogja Festivals Forum dan Expo

Selain program yang ada di atas, selanjutnya digelar pula pementasan musik yang menghadirkan Tricotado, Taksu, dan ditutup oleh Mahijadedi. Dan bersamaan dengan usianya lagu terakhir dari Mahijadedi, secara resmi berakhir pula pelaksanaan Jogja Festivals Forum dan Expo.

Meskipun hanya berlangsung selama tiga hari, benyak hal yang mampu dihasilkan dan didapatkan oleh para pengunjung, dan tentu saja oleh para pegiat yang terlibat baik secara langsung maupun tidak atas pelaksanaan beragam festival di Jogja dan juga Indonesia.

Beberapa capaian yang patut dicatat dari gelaran perdana JFFE ini antara lain adalah, semakin terjalinnya komunikasi yang makin intens dan erat di antara para stakeholder festival Jogja, serta semakin jelas arah dan tujuan yang ingin sama-sama diraih. Satu hal lagi yang tidak kalah penting adalah, dengan terselenggaranya JFFE yang didukung sepenuhnya oleh para pekerja event, pegiat festival, dan festival-festival yang menjadi expo participant, merupakan sebuah bukti kuat bagaimana niat, semangat, jejaring, kolaborasi, dan kesungguhan para pegiat festival Jogja tersebut, untuk memantapkan, memantaskan, dan mempersiapkan diri menghadapi terwujudnya Yogyakarta sebagai Kota Festival. [hmk]

Simak pawarta terkait , atau adicara menarik lain oleh Haiki Murakabi


Ingin mengunggah dan mewartakan kegiatan serta acaramu di Situs WARTA AGENDA ACARA | PAWARTA ADICARA JARINGACARA?
Klik Registrasi dan atau Login! Baca juga Syarat & Ketentuannya!

Sila Siarkan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *