Pawarta Adicara!

JARINGACARA sebagai media publikasi memiliki keinginan turut memberi warna dalam mengabarkan segala agenda acara seni budaya, pariwisata, warta, cuaca, juga menebarkan canda-tawa.
Perihal kontak kerjasama publikasi pun media partner, sila simak “Syarat dan Ketentuan“.

HIGHLIGHT
   
Jogja Cross Culture 2019

Dari Jogja Cross Culture 2019 Menuju Kota Budaya Dunia

Diunggah oleh Jaring Acara, pada tanggal 29 Juli 2019

Jogja Cross Culture adalah satu helatan yang menjadi pilot project gerakan budaya hasil partnership antara komunitas para budayawan dan seniman muda di Jogja dengan Pemerintah Kota Yogyakarta, yang agendanya akan dilaksanakan pada tanggal 3 dan 4 Agustus 2019, dengan mengambil tempat di kawasan Titik 0 Kilometer Jogjakarta.

Dengan dilatarbelakangi usaha untuk menjalankan misi Kota Yogyakarta sebagai Kota Budaya Dunia, maka konsep partnership di atas mendapat sambutan terbuka, khususnya dari pihak pemerintahan Kota Jogja, apalagi Drs. Heroe Purwadi, MA selaku Wakil Walikota Yogyakarta secara resmi juga membuka diri kesediaannya untuk didapuk sebagai Ketua Panitia. Bahkan dari beliau pula, Program Jogja Budaya dikemas dengan tema besar JOGJA CROSS CULTURE.

Presskon Jogja Cross Culture 2019Apabila kita mengamati dari sudut pandang dalam ruang lingkup nasional di negeri Indonesia ini, kita dapat menilai bahwa belum ada tempat lain yang menyerupai kedudukan Yogyakarta dalam posisinya sebagai kota budaya. Artinya, Yogyakarta masih menjadi kota budaya yang paling diminati, apalagi jika ditambah penghargaan yang diperoleh Yogyakarta pada 2018; bahwa dalam Forum ASEAN Ministers Responsible for Culture and Art, Kota Yogyakarta dikukuhkan sebagai Kota Budaya ASEAN periode tahun 2018-2020. Tak ayal, pengakuan tersebut menjadikan Yogyakarta tak sebatas dipandang sebagai aset budaya nasional, namun lebih dari itu, ia ditempatkan sejajar dengan kota budaya lain di dunia internasional.

Merespon pengukuhan dari Forum ASEAN Ministers Responsible for Culture and Art tersebut, selanjutnya Dinas Kebudayaan Kota Yogyakarta menggamit komunitas seniman muda Jogja untuk menyusun Program Jogja Budaya, di mana program ini sejatinya merupakan satu gerakan berbasis budaya dengan mengusung pula semangat Gandeng Gendong yang diluncurkan oleh Pemerintah Kota Yogyakarta.

Gandeng Gendong sendiri merupakan perwujudan filosofi gotong-royong dari beragam elemen masyarakat yang terbagi menjadi 5 K, yaitu Kota, Kampung, Kampus, Komunitas dan Korporat. Namun khusus bagi Jogjakarta, elemen ini ditambah lagi dengan satu elemen lagi yang sakral yaitu Karaton: Ngayogyakarta Hadiningrat.

“Tugas kami di kebudayaan adalah melakukan pembinaan. Baik untuk para pelaku seni dan juga masyarakat. Acara ini juga mengetengahkan hakikat dari kebudayaan di Yogyakarta. Budaya yang telah menyesuaikan dengan perkembangan zaman tetapi ruhnya tidak berubah.” papar Ir. Eko Suryo Maharsono, MM selaku Kepala Dinas Kebudayaan Kota Yogyakarta.

Baca juga:  Satu Bulan Rayakan Tahun Baru Hijriah Pondok Pesantren Kaliopak Piyungan Usung Semangat Persatuan

Program Gandeng Gendong selanjutnya mulai diperkenalkan kepada elemen masyarakat lain, di mana pada elemen Kampung, 14 Kecamatan di Kotamadya Yogyakarta bergabung dan melibatkan diri secara langsung di beberapa rangkaian acara. Sebagai contoh adalah pada pembuatan Jenang Khas Kota Yogyakarta yang diberi nama Jenang Golong Gilig, yang launching-nya juga akan dilakukan dalam acara sama. Perwakilan dari wilayah ini juga akan berkolaborasi dan terlibat secara bersama-sama dalam penampilan tari-rakyat yang disajikan tepat di kawasan Titik 0 Kilometer Jogjakarta dalam penampulan Njoged Njalar.

Presskon Jogja Cross Culture 2019Selain itu, keterlibatan lain dari perwakilan wilayah ini ada pada aktivitas yang mengedepankan edukasi sejarah, yang itu juga terbuka untuk umum, di mana pesertanya diajak menyusuri tempat-tempat bersejarah di “Njeron Benteng” alias dalam kawasan Keraton. Kemasan tersebut diberi tajuk Historical Trail Njeron Benteng.

Konsep partisipatif ini menjadi penting bagi sebuah gerakan budaya, sebagaimana yang disampaikan oleh Budayawan Prof. Dr. Suminto A. Sayuti, “Cross Culture itu mungkin selalu kontekstual tetapi prinsipnya itu pelibatan. Melibatkan banyak pihak sehingga silang budaya memunculkan pemahaman lintas budaya.”

Selain yang telah tersebutkan di atas, keterlibatan kampuspun tak lantas diabaikan begitu saja, pasalnya ia/mereka juga dihadirkan sebagai ruang persiapan Cross Culture Performance.

Baca juga:  Program Teater FKY 30: Menafsir Mesemeleh

Agenda Jogja Cross Culture 2019 Unity in Infinity

Selanjutnya untuk agenda gelaran acara pada tanggal 4 Agustus 2019 juga akan diisi dengan launching program Gandes Luwes dari pemerintah Kota Yogyakarta, dengan puncaknya adalah Historical Orchestra dan Cross Culture Performance, yang mengharmonisasikan karawitan, musik orchestra, choir, dan seniman-seniman Jogja, berkolaborasi dengan seniman internasional di satu panggung. Tak ketinggalan representasi akar budaya Karaton Ngayogyakarta Hadiningrat dihadirkan melalui wujud Tepas Keprajuritan.

Elemen Komunitas juga berbicara banyak pada program ini, selain komunitas seni musik, seni tari, dan seni visual, bergabung pula komunitas permainan traditional, multimedia, serta forum-forum masyarakat online Jogja. Komunitas-komunitas ini selain mewakili budaya tradisi, juga menjadi representasi pada budaya kekinian.

Lintas budaya secara era juga dipresentasikan pada tanggal 3 Agustus 2019 dalam penampilan Wayang Kota. Ini merupakan kolaborasi Wayang Ukur yang diperkenalkan oleh Maestro Wayang Sigit Sukasman dengan lima dalang generasi milenial. Dalam kesempatan ini, mereka akan menampilkan lakon Kancing Jaya.

Program Jogja Budaya sejak awal dikonsep menjadi gerakan budaya di seluruh elemen masyarakat. Dalam membidani program ini, kesadaran yang terbentuk bahwa budaya bukanlah sebuah komoditas, lain dari itu, budaya adalah sebuah cara hidup yang tumbuh dan berkembang pada sebuah kelompok dan diwariskan dari satu generasi ke generasi berikutnya. Titik tekan program ini adalah bagaimana budaya itu hidup dan menghidupi. Gerakan pembinaan dan penguatan budaya di kelompok-kelompok inilah yang sebenarnya menjadi focal point.

“Istimewanya lagi, di Jogja terjadi saling silang budaya sejak awal berdirinya Nagari Ngayogyakarta Hadiningrat dan semuanya mampu berkembang dan bersanding. Inilah kemudian yang menciptakan sebuah melting pot budaya dalam satu kota. Tepat kiranya, Jogja menjadi bagian dari Kota Budaya Dunia,” ujar RM Altiyanto Henryawan, Program Director Jogja Cross Culture. [uth]

Baca juga:  Jogja Video Mapping FKY-30 di Kawasan Malioboro dan Titik Nol Kilometer
AGENDA JOGJA CROSS CULTURE 2019
 Waktu  Sabtu, 3 Agustus 2019
 15:00 WIB  Festival Jamu dan Kuliner – JAMFESTA
 19:30 WIB  PAMBUKA
 20:00 WIB  WAYANG KOTA – Wayang Ukur dengan lakon KANCING JAYA
 Waktu  Minggu, 4 Agustus 2019
 08:00 WIB  Historical Trail – JERON JOURNEY
 10:00 WIB  JOGJA SKETSA bersama MAESTRO
 12:00 WIB  KERONCONG PARAMUDA
 15:00 WIB  Dolanan Bocah – nJOBO LATAR
 16:00 WIB  nJoged nJalar – JOG JAG NONG
 19:30 WIB  Historical Orchestra – SELARAS JUANG
 20:30 WIB  CELEBRATION (Launching GANDHES LUWES; Launching JENANG GOLONG GILIG; Road to JOGJA CROSS CULTURE 2020)
 21:00 WIB  Cross Culture Performance – réUnèn

~Siaran Pers Jogja Cross Culture 2019

Simak pawarta lain terkait , atau adicara menarik lain yang diunggah oleh Jaring Acara


Ingin mengunggah dan mewartakan kegiatan serta acaramu di Situs WARTA AGENDA ACARA | PAWARTA ADICARA JARINGACARA?
Klik Registrasi dan atau Login! Baca juga Syarat & Ketentuannya!

Sila Siarkan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *