Pawarta Adicara!

JARINGACARA sebagai media publikasi memiliki keinginan turut memberi warna dalam mengabarkan segala agenda acara seni budaya, pariwisata, warta, cuaca, juga menebarkan canda-tawa.
Perihal kontak kerjasama publikasi pun media partner, sila simak “Syarat dan Ketentuan“.

HIGHLIGHT
   
Penwadee Nopaket Manont

Inilah Para Kurator Biennale Jogja XV Equator #5

Diunggah oleh Lik Ngatmin, pada tanggal 1 Juli 2019

Jika helatan seni rupa di Jogja yang dikenal setiap tahunnya adalah ARTJOG maka Biennale Jogja (BJ) menjadi helatan besar seni rupa lain yang sama-sama dihelat di kota budaya Yogyakarta, namun pelaksanaannya bukan tiap tahun, melainkan diselengarakan setiap dua tahun sekali.

Tahun 2019 menjadi helatan Pameran Biennale Jogja XV Equator #5, yang pada pra-event diselenggarakan pula berbagai kegiatan yang mengiringinya. Kegiatan tersebut antara lain adalah Residensi Kelana dan Pameran Seniman Muda.

Sebelum kita beranjak ke isu yang diangkat dari helatan yang diorganisir oleh Yayasan Biennale Yogyakarta (YBY) ini, maka di bawah ini kami paparkan perihal kita tim kurator yang terdiri dari Akiq AW, Arham Rahman, dan Penwadee Nopaket Manont (Thailand).

  • Penwadee Nopaket Manont

Penwadee Nopaket ManontPenwadee Nopaket Manont adalah kurator yang berasal dari Thailand dan terlahir pada tahun 1973, di California, Amerika Serikat. Selain bekerja di Bangkok, ia juga berfokus dalam dialog Seni dan Budaya dengan minat dalam masalah Sosial dan Lingkungan.

Kuratir perempuan ini yang menyandang gelar Sarjana Seni Komunikasi Visual sekaligus gelar Magister Manajemen Lingkungan ini mengawali karirnya sebagai Desainer Grafis, dan kemudian beralih ke bidang Seni dan Manajemen Budaya dengan bekerja sebagai Asisten Kurator di Project 304, yaitu satu ruang seni alternatif pada tahun 2001.

Akiq AW

Akiq AWSebagai seniman, kegiatan sehari-hari Akiq AW sejatinya lumayan padat dan dipenuhi aktivitas beragam. Ia sesekali membuat proyek kuratorial, lain kali menunggui bengkel kerja percetakan foto yang cukup sibuk melayani pelanggan, serta berkumpul bersama teman-teman seniman terutama di markas Mes 56. Selain itu, yang tak kalah penting adlaah mengantar jemput ketiga anaknya pergi dan pulang sekolah.

Baca juga:  Proses Film Drama Anak Remaja “Doremi & You” di Yogyakarta

Pria yang acap mengaku diri sebagai fotografer ini justru tidak selalu siap dengan kameranya. Sementara kerja kreatifnya sebagai seniman sering diawali dari amatan-amatannya atas praktik keseharian dalam hidup, yang penuh siasat dan sabotase, kemudian hal itu direfleksikan melalui serangkaian pembacaan dan kajian, dan selanjutnya barulah gagasan itu dieksekusi menjadi karya.

Selain menempuh pendidikan tinggi di jurusan fotografi Fakultas Media Rekam Institut Seni Indonesia, pada waktu bersamaan ia juga belajar di jurusan Ilmu Komunikasi Universitas Gadjah Mada. Dua pengalaman-pendidikan yang seolah memberinya pembelajaran untuk melatih pisau analisis terhadap problem dan praktik kehidupan sosial, sekaligus guna melakukan eksperimentasi artistik dalam rangka penciptaan karya.

Karya-karya Akiq AW merefleksikan bagaimana praktik dan tata nilai keseharian menunjukkan kecerdasan dan kejeniusan lokal. Semenjak akhir 2000an, ia mengembangkan seri “The Order of Things”, di mana ia merekam bagaimana benda-benda atau objek-objek disusun melalui pengetahuan dan pendekatan yang unik dalam lingkungan keseharian, hampir menyerupai citraan seni.

Akiq AW mengangkat hal yang dilakukan sehari-hari sebagai sesuatu yang seperti “tak lazim”. Ada absurditas imaji, ada humor kritis, ada komposisi yang artistik, yang kadang kita terima nyaris terberi.

Proyek berikutnya yang dikerjakan diawali dari gagasan perihal moda-moda pendisiplinan dan propaganda yang terjadi selama Orde Baru, sampai ia memilih program Keluarga Berencana sebagai kasus yang diangkat. Program ini merupakan program andalan yang banyak dilihat sebagai tolak ukur keberhasilan rezim Soeharto, yang secara massif dicanangkan di setiap wilayah di Indonesia.

Baca juga:  Seminar Nasional Kesehatan

Akiq mendokumentasikan artefak-artefak propaganda KB yang berupa relief gambar keluarga yang ada di desa-desa di beberapa kota di Jawa. Citra visual keluarga ini digambarkan nyaris sama dalam hal idealisasi keluarga: bapak, ibu dan dua anak—laki-laki, perempuan.

Karya ini pertama kali dipamerkan secara utuh di Ark Galerie di Yogyakarta, dan kemudian sempat melanglang ke beberapa pameran di manca negara, termasuk di EVA International Biennale di Limmerick, Irlandia (2018), di Deck Singapura (2018), di Dakkar, Senegal, dan selanjutnya juga di National Gallery of Australia di Canberra pada Juni 2019 mendatang.

Selain yang telah terpaparkan di atas, Akiq AW juga terlibat dalam proses kuratorial untuk keterlibatan Mes 56 sebagai kolektif di berbagai pameran internasional yang telah mereka ikuti. Dengan pengalaman dalam penyelenggaraan pameran yang kaya dan pemahaman yang cukup luas atas dinamika seni baik di tingkat lokal maupun global, Akiq AW terpilih sebagai salah satu anggota tim kurator dalam Biennale Jogja 2019.

Arham Rahman

Kurator Biennale Jogja XV Equator: Arham rahmanArham Rahman mulai dikenal dalam skena seni di Yogyakarta terutama setelah kelompok yang ia inisiasi memenangkan kompetisi program dalam Parallel Events yang diselenggarakan oleh Biennale Jogja Ekuator #2, Indonesia bertemu kawasan Arab.

Arham Rahman tumbuh besar di Makassar hingga ia melanjutkan pendidikannya ke Yogya pada kisaran 2011. Di Makassar, ia banyak menggeluti bidang sastra, mengingat juga pendidikan formal yang ia peroleh di Universitas Negeri Makassar adlaah juga di Fakultas Sastra.

Selanjutnya ia memutuskan mendalami kajian budaya dan melanjutkan sekolah di Program Studi Ilmu Religi dan Budaya di Universitas Sanata Dharma Yogyakarta. Referensinya yang luas terhadap sejarah dan kajian-kajian Indonesia Timur, dengan perhatiannya yang besar atas teori-teori kajian dan filsafat kebudayaan, membuat Arham dengan segera masuk ke dalam lingkaran intelektual dan akademik dalam dinamika seni di Yogyakarta. Ia terlibat dalam beberapa proyek penelitian dan penerbitan, serta secara aktif menjadi pembicara atau pemandu diskusi dalam berbagai pertemuan yang melibatkan pemikir, aktivis dan seniman di Yogyakarta.

Baca juga:  Panggung Makbyarr Festival Kesenian Yogyakarta 29 Terasa Istimewa

Sejak tahun 2017, Arham juga mengembangkan visi kuratorial di Galeri Lorong yang berfokus pada wacana kepengrajinan (craftsmanship) menjadi sesuatu hal unik yang membedakan ruang ini dengan ruang-ruang lain di Yogyakarta atau di Indonesia.

Saat diwawancarai mengapa ia tertarik mengembangkan lebih jauh kerja kuratorial, Arham menyatakan bahwa “Praktik kuratorial tidak mempunyai pakem atau metode yang baku. Setiap kurator bisa mengembangkan metodologi dan praktik kerjanya sendiri. Ditambah lagi, peluang untuk berdialog dengan berbagai jenis gagasan (dalam hal ini gagasan seniman) sangat terbuka, yang membuat kita terus tertantang dan terus belajar. Itu yang membuat praktik kuratorial itu menarik buat saya.”

Sehubungan dengan gagasan Asia Tenggara dalam penyelenggaraan Biennale Jogja tahun 2019, Arham juga telah terlibat dalam jaringan Arisan Tenggara yang diinisiasi oleh Ace House Collective pada 2018, sehingga menarik untuk memperluas jejaring kerja para penggerak seni generasi muda ini dalam lingkup yang lebih luas.

Refferensi:
[1] biennalejogja.org
[2] xcodemedia.id
[3] Gambar Akiq AW dan Arham Rahman diambil dari akun Instagram masing-masing

Artikel pun Pawarta di atas diunggah dan dipublikasikan oleh 'Lik Ngatmin'. Isi ada di luar tanggung jawab redaksi, karenanya untuk informasi, sanggahan, saran, dan lain-lain, mohon kontak langsung pengunggah (Lik Ngatmin).

Ingin mengunggah serta mewartakan kegiatan dan acaramu di Situs WARTA AGENDA ACARA | PAWARTA ADICARA JARINGACARA juga?
Sila Klik Registrasi dan atau Login. Simak juga Syarat & Ketentuannya!

Sila Siarkan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *