Pawarta Adicara!

JARINGACARA sebagai media publikasi memiliki keinginan turut memberi warna dalam mengabarkan segala agenda acara seni budaya, pariwisata, warta, cuaca, juga menebarkan canda-tawa.
Perihal kontak kerjasama publikasi pun media partner, sila simak “Syarat dan Ketentuan“.

HIGHLIGHT
   
Opening Hotel Purgatorio -Hotel Jogoyudan

Hotel Purgatorio Hadir di Biennale Jogja 2019 Sebagai Cikal-Bakal Lahirnya Hotel Jogoyudan Yogyakarta


Diunggah oleh Rika Purwaka pada tanggal 31 Oktober 2019   (174 Readers)

Seiring dengan helatan Biennale Jogja XV Equator #5 tahun 2019, Hotel Purgatorio menjadi sebuah karya instalasi yang digarap oleh Yoshi Fajar dalam merespon site spesifik dengan lokasi di RW 10 Kampung Jogoyudan Yogyakarta.

Hotel Purgatorio di helatan Biennale Jogja 2019 yang dipersembahkan oleh Yoshi Fajar dan beberapa seniman Biennale Jogja ini menghadirkan instalasi konseptual mengenai hotel, yaitu dengan menyediakan ruang tidur, model instalasi kloset – kamar mandi, dan beranda santai.

Maksud dari dihadirkannya instalasi konseptual tersebut adalah guna “menantang” konsep hotel global yang standar dan saat ini marak kehadirannya, yang memusat dalam segala hal, dan yang bersifat korporasi. Dengan menyajikan instalasi, ruang, peristiwa/momentum, dan dekonstruksi mengenai hotel, secara otomatis itu menjadi langkah dalam membawa dan menuntun cara berpikir kita mengenai ruang,  dan sekaligus menyadarkan, bahwa setiap orang memungkinkan mempunyai otoritas membangun ruangnya sendiri.

Yoshi_Jogoyudan_Biennale_2019-Hotel Purgatorio

Dalam prosesnyam karya Hotel Purgatorio ini dikerjakan dalam waktu 3 hari secara struktur, di mana material dikumpulkan dari sumbangan individual, ataupun material bekas pakai yang dikumpulkan dari jaringan ugahari. Ada juga beberapa yang lainnya berasal dari bekas rumah gusuran.

 

Selama berlangsungnya helatan Biennale Jogja XV Equator #5, Hotel Purgatorio ini dikelola secara profesional oleh manajemen Muda-mudi di lingkungan RW 10 Kampung Jogoyudan yang merupakan tuan rumah penginapan, dan sekaligus dipublikasikan melalui jaringan airBnB. Selama kurun waktu itu pula, Hotel Purgatorio akan menjadi ruang publik bagi setiap orang untuk bertemu, berbincang, dan atau berdiskusi.

Baca juga:  Gas ke Indonesian Scooter Festival 2019 Bersama Atta Halilintar dan Budi Doremi

Sarasehan dan Pembukaan Hotel Purgatorio

Sebagai tahap awal dari kehadiran Hotel Purgatorio di Jogoyudan Yogyakarta ini, diadakan satu acara yang kontennya terdiri dari sarasehan dan pembukaan Hotel Purgatorio itu sendiri. Yaitu dilaksanakan pada hari Selasa tanggal 29 Oktober 2019.

Kecuali diikuti oleh pemuda dan pemudi warga Jogoyudan, sekaligus ketua RT dan RW Jogoyudan, hadir pula dalam acara ini adalah Aris Eko Nugroho selaku Kepala Dinas Kebudayaan Yogyakarta, serta Drs. Tri Mulyono yang merupakan Staff ahli Gubernur Daerah Istimewa Yogyakarta.

Dalam acara pembukaan pun sarasehan yang berlangsung hingga pukul 20:00 WIB, dengan tempat di Balai Serbaguna RW X Jogoyudan tersebut, ada pula sessi penjelasan yang dilakukan oleh Yoshi Fajar sebagai seniman Biennale Jogja pembangun Hotel Purgatorio, dan juga penuturan dari kurator Biennale Jogja XV; Arham Rahman.

Tentang tujuan sarasehan ini tak lain adalah guna melibatkan masyarakat dan pemerintah untuk saling bersinergi menciptakan kawasan lingkungan yang dapat dijadikan ruang publik.

Terkait dengan hal tersebut, pPada sarasehan ini, antara pihak warga dan pihak pemerintah secara keseluruhan saling memberikan dukungan dari dihadirkannya proyek Hotel Purgatorio. Itu artinya, secara bersamaan itu juga menjadi sikap-dukungan pada aktivitas yang berkaitan dengan kebudayaan. Apalagi Drs. Tri Mulyono yang berlaku sebagai staf ahli perwakilan Gubernur Daerah Istimewa Yogyakarta juga mendukung kegiatan seni yang melibatkan masyarakat. Bahkan menurutnya, budaya yang tergerak maju seperti ini menjadi langkah yang dapat menjaga identitas nasional.

Baca juga:  Balkonjazz Music Festival Sebagai Pemantik Ekonomi Lokal

“Melalui kekayaan budaya yang menjadi teladan falsafah hidup, memaknai budaya, tidak hanya berkesenian, tetapi menjadi identitas esensial budaya, bagaimana suatu bangsa dapat bertahan,” tutur Tri Mulyono.

Di samping itu, Aris Eko Nugroho sebagai Kepala Dinas Kebudayaan juga memaparkan sehubungan dengan makna dari kebudayaan yang berkaitan terhadap Perda No 3 tahun 2017. Yaitu salah satunya dengan mengembangkan kebudayaan dengan melibatkan masyarakat dan pemerintah. Karenanya tentang aktivitas dari seniman Biennale seperti ini menjadi kebutuhan setiap tahun yang patut dijasikan sebagai catatan yang dikembangkan.

Diskusi dan Sarasehan dalam Opening Hotel Purgatorio

Kenapa Lokasi Hotel Purgatorio harus di Jogoyudan?

Selanjutnya perihal pemilihan Jogoyudan menjadi lokasi dibangunnya Hotel Purgatorio, alasannya adalah karena ia berkaitan dengan tema Biennale Jogja XV, yaitu sebagai langkah dalam memaknai ‘pinggiran‘. Kecuali lokasinya berada di area pinggiran kota, masih banyak masyarakat yang kurang tahu secara detail ikhwal keberadaan dari kampung Jogoyudan. Ini sangat bisa dimaklumi, karena tempatnya memanglah sempit.

Dengan situasi dan kondisi bernuansa ‘pinggiran’ semacam itulah karenanya proyek Hotel Purgatorio ini hadir. Tak lain adalah guna mengenalkan potensi kampung Jogoyudan, baik dari sisi lokasi, pun dari kemampuan warga dalam mengelola kampungnya sendiri.

Baca juga:  5 Perupa Muda Terpilih dalam Biennale Jogja XV - 2019

Pada prosesnya, pembuatan Hotel Purgatorio secara aktif juga melibatkan masyarakat sekitar Jogoyudan. Di antaranya adalah dengan dihadirkannya wokshop Damar Kurung yang mengajak anak-anak untuk melukis dalam sebuah lampion. Gambar- gambar yang dihasilkan itulah yang menjadi salah satu representasi keaslian lingkungan, sekaligus sebagai bayangan dari aktivitas warga kampung Jogoyudan. Sebagai contoh adalah gambar yang terkain dengan orang berjualan, memancing ikan, dan lain-sebagainya.

Opening Hotel Purgatorio -Bakal Hotel Jogoyudan

Hotel Purgatorio Berganti Nama Menjadi Hotel Jogoyudan

Sebagai kelanjutan dari keberadaan Hotel Purgatorio ini, maka kelak selepas helatan Biennale Jogja XV ini berakhir, Hotel Purgatorio bakal berganti nama menjadi Hotel Jogoyudan Yogyakarta.

Demikian pula dengan kondisi lokasi karya pembangunan juga bisa pula berubah sesua yang dikehendaki warga sebagai pengelola melalui Hospitality yang dikembangkannya.

Secara fisik sebagai penunjang di awal pembangunannya, Hotel Jogoyudan Yogyakarta ini dibangun menggunakan material bambu. Namun begitu jangan pula lantas diremehkan. Pasalnya, ia telah masuk dalam satu nama “Standar Hotel Jogoyudan”, yang diakui secara Internasional. Apalagi keberadaanya juga digali melalui wokshop perkampungan, kuliner seperti membuat jamu, karya batik, ecofirm, pentas seni, dan diskusi film.

Bahkan hingga acara Biennale Jogja 2019 selesai digelar, tamu yang datang di Hotel Purgatorio ini juga akan disuguhi dengan persembahan diskusi, sekaligus tawaran ruang publik bersama warga yang terlibat di dalamnya. [rpw]

Simak pawarta terkait , atau adicara menarik lain oleh Rika Purwaka


Ingin mengunggah dan mewartakan kegiatan serta acaramu di Situs WARTA AGENDA ACARA | PAWARTA ADICARA JARINGACARA?
Klik Registrasi dan atau Login! Baca juga Syarat & Ketentuannya!

Sila Siarkan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *