Pawarta Adicara!

JARINGACARA sebagai media publikasi memiliki keinginan turut memberi warna dalam mengabarkan segala agenda acara seni budaya, pariwisata, warta, cuaca, juga menebarkan canda-tawa.
Perihal kontak kerjasama publikasi pun media partner, sila simak “Syarat dan Ketentuan“.

HIGHLIGHT
   
Gelar Karya Masker Kain Tradisional Sarat Makna Filosofis -Tema-Pesona-Warna-Alam

Gelar Karya Masker Kain Tradisional Sarat Makna Filosofis dan Banyak Memperoleh Respons Positif


Diunggah oleh Jaring Acara pada tanggal 18 September 2020   (194 Readers)

Gelar Karya Masker Kain Tradisional yang dilaksanakan secara daring pada tanggal 15 September 2020 telah berjalan lancar, penuh kemeriahan, dan juga memberikan banyak inspirasi bagi para pemirsa yang menikmati melalui kanal YouTube, Instagram Live, serta laman Facebook Live Kita Muda Kreatif.

Gelar Karya Masker Kain Tradisional tersebut dilaksanakan mulai pukul 18:30 WIB, dan dilangsungkan berdurasi selama kurang lebih satu setengah jam, dengan sajian utamanya adalah busana dan masker kain tradisiona karya para peserta “Kampanye Pakai Masker Kain Tradisional” sebagai bagian dari proyek Creative Youth at Indonesian Heritage Sites yang dijalankan oleh UNESCO Jakarta berkolaborasi dengan Citi Indonesia, tentu saja dengan dukungan oleh Citi Foundation.

Dalam helatan tersebut, berbagai karya masker yang berbahan baku kain tradisional berhasil ditampilkan oleh lebih dari 50 peserta “Kampanye Pakai Masker Kain Tradisional”. Hal yang dapat disaksikan pada presentasi tersebut adalah terdapatnya ragam keunikan sekaligus adanya banyak pesan budaya yang menarik di dalamnya. Sebagai contohnya adalah ragam masker kain tradisional karya Putri Mara Widyastuti yang merupakan salah satu wirausaha muda dari Borobudur -Jawa Tengah (asal Wringin Putih dari Putri Batik). Ia menyajikan masker kain tradisional yang mengangkat tema tentang pesona warna alam yang menggunakan kain ecoprint sebagai bahan masker dengan dominasi warna abu dari daun sawo.

Baca juga:  Pawai Pembukaan FKY -Festival Kebudayaan Yogyakarta 2019

Selain Putri Mara Widyastuti ada pula karya peserta lain yang masih beradal dari Borobudur, ialah Sisca Wahyanti (desa Borobudur). Ia mempersembahkan karya yang terinspirasi dari relief-relief di Candi Borobudur, di antaranya adalah motif Wayang Jataka.

“Masker ini terinspirasi cerita dari relief candi Borobudur di sisi timur lantai 3 lorong 1 pagar langkan atas bidang H, panil 10-12,” ungkap Sisca Wahyanti.

Cerita-cerita penuh pesan kebajikan dari relief tadi diangkat dan dituangkan dalam masker dengan kombinasi warna hitam dan coklat.

Gelar Karya Masker Kain Tradisional Sarat Makna Filosofis -Batk-Motif-Parang-Lurik

Tiga sosok wirausaha muda batik yang berasal dari Klaten -Jawa Tengah seolah tak hendak menjadi penonton, pasalnya mereka pun menyuguhkan karya-karyanya yang tak kalah menarik. Di antaranya yaitu Sri Lestari dari kelompok Danke yang membuat karya masker Parang Lurik, yaitu batik parang yang disandingkan dengan lurik. Sri Lestari menuturkan bahwa masker karyanya mengandung filosofi ‘jangan menyerah’. Dari masker tersebut ia berharap agar para penggunanya bisa menjadi lebih bersemangat dalam bertahan di kondisi pandemi saat ini

Kecuali itu, terdapat juga masker dengan tampilan cerah ceria yang bertemakan HUT ke-75 RI hasil karya dari Cori asal Bayat -Klaten (dari Batik Cemethik). Ia mempresentasikan masker berbahan kain batik tulis motif truntum yang dikombinasikan dengan gambar peta kepulauan Indonesia, tak lain adalah dengan warna dasar merah dan putih. Dari karyanya ia memaknai bahwa gabungan motif klasik batik truntum tersebut menyimbolkan ketulusan cinta abadi dan tanpa syarat.

Baca juga:  Inilah 14 Karakter Wayang Kapi-Kapi di Wayang Jogja Night Carnival

“Masker ini adalah lambang dan pesan kecintaan pada bangsa dan negara Indonesia,” tutur Cori.

Masih serupa dengan Cori, Rekna Indriyani dari Bayat, yaitu yang berasal dari Klaten (kelompok Danke) juga mengusung tema Kemerdekaan Indonesia, yaitu dengan menampilkan karya Masker “Gurdo”, yang dalam bahasa Indonesia bisa diartikan sebagai Garuda.

“Garuda ini melambangkan harapan untuk kemakmuran serta keberanian, semakin terasa maknanya dengan perpaduan warna merah dan putih,” jelas Rekna Indriyani.

Dari Jogjakarta, ada Muhammad Irsyad dari Suwastra Batik yang menampilkan masker motif Bunga Melati dan Motif Banji.

“Motif Bunga Melati adalah lambang kesucian dan kemurnian yang semoga juga dapat terpancar ke pemakai masker ini. Sementara masker motif Banji ini melambangkan murah rejeki dan kebahagiaan berlipat ganda. Harapan dari tersebut semoga bisa tercurah ke pengguna masker motif ini,” demikian papar Irsyad.

Ada juga Nungki dari Kotagede Jogjakarta mengusung kebanggaannya pada Jogjakarta dan Indonesia dengan memproduksi dua motif masker batik kontemporer, yaitu motif yang diberi judul Nyayogyakarta Hadiningrat dan motif Gurda.

Baca juga:  Performing Art Merespons Patung-Patung JSSP #3 Digelar di Kawasan Titik 0 Kilometer Yogyakarta

Selain dari Jawa Tengah dan Jogjakarta, masker-masker kain batik yang ditampilkan di gelaran karya tadi malam ada pula yang berasal dari kawasan Danau Toba dengan masker dari motif kain ulos, dari Kota Tua Jakarta dengan Batik Betawi Terogong, Bali yang menampilkan kain tenun endek, serta Bayan dan Pringgasela, Lombok, NTB, yang menampilkan masker dari kain tenun Lombok. Masker-masker tersebut dapat disaksikan di akun Instagram @kitamudakreatif.

Gelar Karya Masker Kain Tradisional Sarat Makna Filosofis -Batik-Motif-Melati-dan-Motif-Banji

Antusiasme para pemirsa mengikuti acara ini sangat menggembirakan, ini dapat dilihat dari besarnya angka live streaming di YouTube yang mencapai lebih dari 2.600 penonton. Respon penonton yang masuk melalui live chat ketika acara berlangsung juga banyak yang positif.

“Wah, Indonesia memang adi budaya,” komentar Dwi Bambang di live chat YouTube ketika acara masih berlangsung.

“Angkat masker budaya nasional. Maju terus,” Rama Syifa menimpali pula di live chat tersebut.

Melihat respons seperti ini, tampaknya harapan dan tujuan diluncurkannya kampanye Pakai Masker Kain Tradisional, yaitu membantu roda perekonomian para wirausaha muda kreatif sambil mendukung pencegahan penyebaran Covid-19, dengan tetap mengusung dan melestarikan budaya mereka, dapat dikatakan telah berhasil. []

Simak pawarta terkait , atau adicara menarik lain oleh Jaring Acara


Ingin mengunggah dan mewartakan kegiatan serta acaramu di Situs WARTA AGENDA ACARA | PAWARTA ADICARA JARINGACARA?
Klik Registrasi dan atau Login! Baca juga Syarat & Ketentuannya!

Sila Siarkan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *