Pawarta Adicara!

JARINGACARA sebagai media publikasi memiliki keinginan turut memberi warna dalam mengabarkan segala agenda acara seni budaya, pariwisata, warta, cuaca, juga menebarkan canda-tawa.
Perihal kontak kerjasama publikasi pun media partner, sila simak “Syarat dan Ketentuan“.

HIGHLIGHT
   
Yogyakarta Simphony Orchestra feat. Rio Febrian on Penutupan Festival Kebudayaan Yogyakarta Mulanira 2

Festival Kebudayaan Yogyakarta Mulanira 2 yang Tonjolkan Produksi Pengetahuan Resmi Ditutup dengan Menghadirkan Rio Febrian dan Didik Nini Thowok


Diunggah oleh Utroq Trieha pada tanggal 27 September 2020   (349 Readers)

Festival Kebudayaan Yogyakarta Mulanira 2 yang dihelat tahun 2020 dengan mengusung judul ‘Akar Hening di Tengah Bising’ telah selesai digelar pada 26 September 2020 setelah dilaksanakan selama 6 hari. Acara penutupan yang dilaksanakan mulai pukul 20.00 WIB tersebut disiarkan secara langsung dari Museum Sonobudoyo melalui www.fkymulanira.com, Jogja TV, dan juga Kanal YouTube FKY.

Sebagai rangkaian penutupan Festival Kebudayaan Yogyakarta Mulanira 2 kali ini, selain adanya beberapa sambutan, disuguhkan pula beberapa pertunjukan, yang di antaranya adalah ditampilkannya Yogyakarta Simphony Orchestra featuring Rio Febrian. Selain itu, ada pula sajian Tari Dwimuka Jali dari Didi Nini Thowok dan juga persembahan Karya Tanggap Karya “Rupa, Kata, Gerak, Suara” oleh Deaf Art Community dan Landung Simatupang.

Dalam mempersembahkan ‘Karya Tanggap Karya: Rupa, Kata, Gerak, Suara’ kali in, FKY menghadirkan teman-teman Deaf Art guna merespons karya-karya dari ruang pameran, baik itu karya instalasi oleh Lintang ‘Kenalirangkaipakai’ pun karya seni rupa dari 33 seniman yang dipamerkan di area Museum Sonobudoyo Yogyakarta. Selama kurang lebih dua hari, karya dicerap dan diapresiasi. Dari tiap cerapan, kemudian diekspresikan melalui bahasa gerak dan koreografi. Demikian pula dengan hal yang dilakukan oleh Landung Simatupang, ia merespons setiap karya. Respon dan apresiasinya kemudian muncul menjadi puisi.

Baca juga:  Ekwan Marianto Membawa "Cinta dan Kesederhanaan" di Pameran Seni Rupa Bertajuk “The Journey of Happiness”

Selanjutnya, baik Landung Simatupang maupun Deaf Art Community tersebut, masing-masing melakukan pembacaan atas karya-karya yang hadir, dan kemudian menghadirkan hasil pembacaan tersebut dengan caranya masing-masing pula. Dari sini, hal yang dapat dicermati adalah, bahwa pada dasarnya pemilihan Deaf Art sebagai kolaborator ini dimaksudkan guna membuka ruang apresiasi dan ruang pembacaan yang inklusif. Hal tersebut sebagaimana yang diungkapkan oleh Ghozali sebagai salah satu Kurator Festival Kebudayaan Yogyakarta tahun 2020, bahwa sebagian besar program FKY ini dihadirkan secara virtual. Karena itu, disadari atau tidak, kenyataannya tetap ada persoalan, yaitu bahwa sajian virtual memiliki batasannya sendiri. Artinya, tidak semua kelompok sosial mampu dan memiliki akses cara untuk mengaksesnya, baik itu dipandang dari segi teknis kuota internet ataupun dari segi keterbacaan. Hal inilah yang juga tak luput menjadi poin refleksi dari FKY dengan penyelenggaraannya di tengah pandemi.

Tari Dwimuka Jali Didi Nini Thowok on Penutupan Festival Kebudayaan Yogyakarta Mulanira 2

Masih dalam suasana penutupan Festival Kebudayaan Yogyakarta Mulanira 2 ini, Ghozali juga menuturkan perihal pencapaian FKY 2020 kali ini. Bahwa meski tahun 2020 FKY telah menginjak tahun ke-2 dengan kepemilikan akronim ‘Festival Kebudayaan Yogyakarta” (dahulu berakronim Festival Kesenian Yogyakarta), namun pada gelarannya di tahun 2020 ini ia tetap menjadi momen guna mempelajari kembali proses transisi FKY dari Kesenian menjadi Kebudayaan tersebut. Menurutnya, proses eksperimentasi yang disebabkan oleh perubahan situasi saat ini memaksa untuk berubah juga. Dengan latar-belakang semacam itulah maka FKY tahun 2020 kali ini memilih menonjolkan produksi pengetahuan dalam setiap rangkaian acaranya.

Baca juga:  Lebih dari 100.000 Pengunjung Hadir Hingga Malam Penutupan ARTJOG 2019

“Yang didorong adalah produksi pengetahuannya dan juga bisa tersebar lebih luas lagi karena dapat diakses secara online atau virtual,” imbuh Ghozali.

Sementara itu, Paksi Raras Alit selaku Ketua umum sekaligus Direktur Utama Festival Kebudayaan Yogyakarta tahun 2020 dalam sambutannya melaporkan data statistik kunjungan selama berlangsungnya festival yang telah digelar sejak tahun 1988 silam ini. Dilaporkan bahwa total pengunjung website www.fkymulanira.com hingga waktu sebelum penutupan tersebut mencapai sejumlah 123.432, sedangkan total pengunjung platform sosial media FKY sebanyak 11.287.651 dengan jangkauan dari dalam dan luar negeri seperti Eropa, Australia, dan Asia terkhusus Yogyakarta, Indonesia.

Di samping kunjungan secara daring, Paksi Raras Alit juga melaporkan total jumlah pengunjung langsung (terbatas) di pameran seni rupa FKY 2020 yang digelar selama 6 hari di area Museum Sonobudoyo, yaitu mencapai jumlah sebanyak 588. Dan yang teralhir, tak lupa pula laporan perihal total peserta kompetisi seni Mulanira 2, yaitu mencapai angka 595.

Baca juga:  Yogyakarta Berhias 33 Patung di Pameran Jogja Street Sculpture Project #3, 17 November Hingga 10 Desembar 2019

Dalam kesempatan penutupan Festival Kebudayaan Yogyakarta Mulanira 2 tahun 2020 tersebut, Paksi Raras Alit mewakili teman-teman yang bertugas dalam FKY 2020 juga menyampaiakn permohonan.

“Saya mohon maaf apabila masih ada kekurangan dalam melaksanakan tugas. Juga berterima kasih kepada sobat budaya dan pihak-pihak yang telah mendukung kami dalam penyelenggaraan di tengah keterbatasan saat ini,” tutup Paksi.

Deaf Art Community feat Landung Simatupang on Penutupan Festival Kebudayaan Yogyakarta Mulanira 2

Sebagai penutupan Festival Kebudayaan Yogyakarta Mulanira 2 tahun 2020 kali ini, secara resmi acara seremonial penutupan ditutup oleh Kadarmanta Baskara Aji yang merupakan Sekretaris Daerah DIY. Dalam sambutannya Sekda DIY tersebut juga mengaku bahwa pagelaran FKY kali ini penuh dengan tantangan, dan sudah banyak berubah dari FKY sebelum-sebelumnya.

“Kalau menghitung tantangan dan keberhasilannya, FKY kali ini perlu diapresiasi karena tetap berjuang untuk tetap terselenggara di situasi yang kurang mendukung. Selain panitia saya juga berterimakasih kepada seniman yang membuat FKY ini tetap ada dari tahun ke tahun. Mari kita kaji lagi FKY 2020 ini agar dalam pagelaran FKY selanjutnya bisa lebih sukses,” ungkap Aji. [uth]

Simak pawarta terkait , atau adicara menarik lain oleh Utroq Trieha


Ingin mengunggah dan mewartakan kegiatan serta acaramu di Situs WARTA AGENDA ACARA | PAWARTA ADICARA JARINGACARA?
Klik Registrasi dan atau Login! Baca juga Syarat & Ketentuannya!

Sila Siarkan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *