Pawarta Adicara!

JARINGACARA sebagai media publikasi memiliki keinginan turut memberi warna dalam mengabarkan segala agenda acara seni budaya, pariwisata, warta, cuaca, juga menebarkan canda-tawa.
Perihal kontak kerjasama publikasi pun media partner, sila simak “Syarat dan Ketentuan“.

HIGHLIGHT
   
24 Tahun Festival Gamelan Berkiprah di Yogyakarta

New Gamelan YGF24 Menjadi Tanda 24 Tahun Festival Gamelan Berkiprah di Yogyakarta

Diunggah oleh Utroq Trieha, pada tanggal 25 Agustus 2019

Gelaran rutin tahunan Festival Gamelan ke-24 telah purna dilakukan di Yogyakarta pada tanggal 24 Agustus 2019, yaitu selepas dilangsungkan selama 6 hari.

Festival Gamelan yang dikenal dengan nama ‘Yogyakarta Gamelan Festival‘ dan disingkat dengan YGF ini menjadi salah satu festival tertua mendampingi FKY, yaitu Festival Kesenian Yogyakarta, yang pada tahun 2019 ini juga telah bermetamorfosa menjadi Festival Kebudayaan Yogyakarta.

Yogyakarta Gamelan Festival adalah satu helatan yang digelar rutin setiap tahun sekali guna mewadahi pertemuan antara pemain gamelan (gamelan players) dan pencinta musik gamelan (gamlean lovers) bukan saja di Indonesia pun Yogyakarta, namun juga di seluruh dunia.

Sejak dikumandangkannya Festival Gamelan pertama pada tahun 1995 oleh sang maestro ‘Sapto Raharjo’, YGF semakin memperkokoh posisinya sebagai suatu sarana yang selalu hadir di tengah masyarakat sekaligus sebagai jalan mempertahankan keberadaan salah satu warisan leluhur sendiri.

24 Tahun Festival Gamelan Berkiprah di YogyakartaSelama 6 hari telah digelar YGF yang ke-24 tahun, yaitu helatan yang membawa tema ‘New gamelan’, di mana bukan saja kebaruan yang ada pada musik gamelan itu sendiri yang hendak digaungkan, lain dari itu adalah tumbuhnya spirit baru yang terkait dengan keberadaan pusaka leluhur kita ini.

Dimulai pada tanggal 19 Agustus 2019 bertempat di kawasan Titik 0 Kilometer Yogyakarta dan 4 titik lainnya, YGF 24 dibuka, dan kemudian selama 3 hari pagelaran dihadirkan di area Plaza Paras Ngasem Yogyakarta. Program Gaung Gamelan, Rembug Budaya, Lokakarya, tiga hari Program Pagelaran musik gamelan tersebut menjadi sajian yang dihadirkan langsung di depan masyaraat tanpa skat pun batas, baik itu masyarakat sekitar, mereka para pendatang, kaum pelajar pun wisatawan.

Baca juga:  Lintasan FKY2019 Menjadi Wahana Merayakan Interaksi Seni-Budaya

Pada sela-sela sajian malam terakhir Program Pagelaran yang bertempat di area Plaza Pasar Ngasem, Ishari Sahida atau lebih akrab disapa Ari Wulu, selaku Direktur YGF 24 yang notabene adalah juga putera dari Sapto Rahardjo memberikan pemaparan. Bahwa secara keseluruhan, penyelenggaraan YGF yang ke-24 tahun 2019 berjalan dengan lancar. Pun dengan antusiasme khalayak terhadap helatan ini, baik mereka yang terlibat langsung pun tidak langsung, mereka bisa menerima dan merasa bahagia menikmati persembahan yang ada.

Selain itu, Ari Wulu juga menyampaikan hal menarik lain yang tak bisa diabaikan, yaitu realisasi akan semangat “New Gamelan” benar-benar bisa hadir dalam setiap program pun rangkaian dalam festival gamelan di Yogyakarta ini. Di helatan ini “New Gamelan” itu bisa hadir dengan munculnya semangat baru, spirit baru dan juga energi baru dari berbagai pihak.

Semangat Baru dalam New Gamelan

24 Tahun Festival Gamelan Berkiprah di YogyakartaKebaruan itu salah satunya bisa disaksikan langsung pada malam terakhir program rangkaian YGF 24 yang menghadirkan penampil dari segala usia. Ada dari Sariswara Taman Siswa yang menyajikan anak-anak balita sambil bermain gamelan juga bermain ‘jamuran’. Setelah itu ada dari rekan-rekan Universitas gadjah Mada yang tergabung dalam kelompok ‘Gasita’. Usia di atas itu tampil pula Jaeko Siena yang merupakan sosok musisi tiup –dan acap berkolaborasi dengan Dewa Budjana– turut meramaikan sajian musik gamelan tersebut.

Baca juga:  Dari Jogja Cross Culture 2019 Menuju Kota Budaya Dunia

Di akhir helatan, semangat baru dan energi baru itu tersaji melalui penampilan 6 anak Sekolah Menengah Pertama, SMP Negeri 6 Jepara, yang tentu saja usianya masih belasan. Namun toh kenyataannya mereka telah mampu dan tetap bersemangat menyajikan perihal yang tak banyak bisa dilakukan kebanyakan dari kita. Bermain gamelan, menyajikan tembang yang mengisahkan tentang Dewi Sri sebagai Dewi Padi, sekaligus bermain Gejok Lesung yang notabene merupakan alat tumbuk padi dan bisa dibilang masuk dalam kategori ‘alat purba’.

Dengan berbagai hal yang disajikan tersebut, Ari Wulu sebagai Direktur bersemangat dalam menyongsong seperempat abad festival gamelan ini tahun 2020 mendatang. Semangat serta spirit baru dari “New gamelan” itu sangat dibutuhkan guna merencanakan banyak hal lagi kelak.

“Dengan semangat baru ini, yang kami harapkan adalah munculnya ide-ide segar, gagasan kekinian, sehingga membuat tidak berhenti di titik ini saja,” papar Ari Wulu.

GASITA UGMDalam kesempatan malam terakhir Pagelaran Yogyakarta Gamelan festival ke-24 tahun 2019 tersebut, Ari Wulu juga menceritakan perihal akun Sosial Media miliknya yang berujud Instagram mendapatkan pesan khusus dari pemirsa YGF24. Mengisahkan bahwa pemirsa tersebut merasa bahagia bisa menikmati persembahan musik gamelan yang dikemas dengan cukup apik dan dihadirkan secara dekat di depan audience.

Selanjutnya iapun pingin banget menceritakan bahwa inilah new gamelan, inilah semangat baru, inilah energi kekinian itu. Bahwa gamelan ini bisa menjadi milik siapa saja, tanpa pandang usia, bahkan juga gender. Bisa tua, muda, dewasa, anak-anak. terbuka untuk pria, wanita, dan ‘in between’ darinya.

Baca juga:  Jogja Video Mapping Project FKY29 Kolaborasikan Banyak Seniman

24 Tahun Festival Gamelan Berkiprah di YogyakartaIni musti digarisbawahi karena stigma itu di beberapa pemikiran masih terpola. Gamelan sebagaimana dalang, hanya milik kaum pria hanya karena yang wanita musti menjadi sindhen. Padahal kenyataannya tak harus seperti itu. Ada sindhen, wiyaga, pengrawit, dhalang, dan hal-hal terkait lainnya, itu semua tak harus dilakukan oleh siapa dan oleh apa. Semua memiliki porsi sama. Sehubungan dengan kisah tersebut, maka Ari Wulu pun meminta tolong kepada salah satu penonton untuk maju ke atas panggung, ialah Kalista namanya, guna memaparkan apa yang dikemukakan Ari Wulu tersebut melalui bahasa English.

Sebagai pamungkas di malam terakhir rangkaian program Pagelaran YGF, 24 Agustus 2019, hadir di depan gamelan adalah kawan-kawan Komunitas Gayam 16 –selaku pihak penyelenggara YGF– untuk kemudian dipimpin Ari Wulu sendiri, memadukan suara vokal para penonton dan juga suara gamelan. [uth]

Simak pawarta lain terkait , atau adicara menarik lain yang diunggah oleh Utroq Trieha


Ingin mengunggah dan mewartakan kegiatan serta acaramu di Situs WARTA AGENDA ACARA | PAWARTA ADICARA JARINGACARA?
Klik Registrasi dan atau Login! Baca juga Syarat & Ketentuannya!

Sila Siarkan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *