Pawarta Adicara!

JARINGACARA sebagai media publikasi memiliki keinginan turut memberi warna dalam mengabarkan segala agenda acara seni budaya, pariwisata, warta, cuaca, juga menebarkan canda-tawa.
Perihal kontak kerjasama publikasi pun media partner, sila simak “Syarat dan Ketentuan“.

HIGHLIGHT
   
Informasi lebih lanjut, sila hubungi: Trisni Rahayu (Koordinator Festival Equator Biennale Jogja XIV) +62 813-2874-2475

Festival Equator Biennale Jogja Equator#4 Indonesia-Brasil

Diunggah oleh Utroq Trieha, pada tanggal 27 November 2017

Pembukaan dan Periode Pameran Festival Equator Biennale Jogja dilakukan pada hari Sabtu, 25 November 2017 (Pukul 16.00WIB ). Sedangkan periode pelaksanaannya adalah hari Selasa tanggal 5 Desember 2017, pukul 10.00WIB – 21.00WIB

Seniman Pembukaan dan Periode Pameran

AORSI (Asosiasi Olah Raga Sketsa Indonesia), Canka Mahameru, Dhomas “Kampret” Yudhistira, Digie Sigit, Estehanget, Erson Padapiran, Fj Kunting, Ismu Ismoyo (OTeWe), Kukomikan, Rolli “LoveHateLove”, SD Tumbuh, Yayas (The Portable).

Festival Equator adalah festival pendukung dan pendamping Biennale Jogja, sejak Biennale Jogja memulai proyek panjang seri EQUATOR. Sebagai pendukung, festival ini bertujuan memfasilitasi dialog tentang persoalan di lingkar equator serta wacananya yang disebarkan ke masyarakat luas di luar kesenian. Sejalan dengan tema utama Biennale Jogja tahun ini, “STAGE OF HOPELESSNESS”, Festival Equator kali ini mengambil tema “ORGINIZING CHAOS”.

Baca juga:  Pameran Seni Rupa Persinggahan Dwi Rahayuningsih

Festival Equator Biennale Jogja“ORGINIZING CHAOS” diambil sebagai tema dan sebuah upaya mengangkat wacana atas dinamika persoalan-persoalan yang terjadi secara historis di tengah masyarakat hari ini. Dalam hal ini, kesadaran baru masyarakat coba dimunculkan melalui rangkaian peristiwa yang berlangsung di ruang publik secara tidak wajar. Bentuk-bentuk peristiwa disusun sedemikian rupa sebagai sebuah teks implisit, yang bertujuan mengingatkan kembali momen-momen traumatik di masa lalu dengan mengaitkannya pada konteks Yogyakarta hari ini. Kesadaran itu ada ketika momen traumatik itu muncul. Pada titik ini pula dirasa turut melahirkan momen estetik.

Baca juga:  5 Perupa Muda Terpilih dalam Biennale Jogja XV - 2019

Jika pada edisi-edisi sebelumnya Festival Equator berlangsung secara blusukan dan gamblang, Festival Equator kali ini terwujud dalam peristiwa-peristiwa yang dilakukan secara senyap dan menyelinap di antara hiruk-pikuk masyarakat selama 30 hari di bulan Oktober 2017. Atribut atau identitas seniman dan komunitas yang menunjukkan bahwa aktivitas mereka merupakan bagian dari Festival Equator pun disamarkan. Dengan begitu, definisi dari peristiwa ini diserahkan kepada publik.

Melalui pameran kali ini, bukan saja ingin dilihat sebagai sebuah dokumentasi (arsip) atau proses (perjalanan) tetapi juga sebagai upaya reflektif publik atas peristiwa yang telah dihadirkan. Pantaskah kemudian ia dihadirkan kembali sebagai kerangka konstruksi kesadaran dan sejauh mana pula ia dapat memberikan kesadaran baru di tengah masyarakat hari ini.

Baca juga:  Kelompok Kesenian Jathilan Kudho Asmoro Hadir di Pre-event FKY 2019

Informasi lebih lanjut, sila hubungi:
Trisni Rahayu (Koordinator Festival Equator Biennale Jogja XIV)
+62 813-2874-2475
biennalejogja.org/2017/

Simak pawarta lain terkait , atau adicara menarik lain yang diunggah oleh Utroq Trieha


Ingin mengunggah dan mewartakan kegiatan serta acaramu di Situs WARTA AGENDA ACARA | PAWARTA ADICARA JARINGACARA?
Klik Registrasi dan atau Login! Baca juga Syarat & Ketentuannya!

Sila Siarkan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *