Pawarta Adicara!

JARINGACARA sebagai media publikasi memiliki keinginan turut memberi warna dalam mengabarkan segala agenda acara seni budaya, pariwisata, warta, cuaca, juga menebarkan canda-tawa.
Perihal kontak kerjasama publikasi pun media partner, sila simak “Syarat dan Ketentuan“.

HIGHLIGHT
   
Tema ECOSYSTEM: pranåtåmångså | ꦥꦿꦤꦠꦩꦁꦱ di Nandur Srawung 2021

Tema “ECOSYSTEM: pranåtåmångså | ꦥꦿꦤꦠꦩꦁꦱ” di Nandur Srawung 2021 Hadir Sebagai Respon Keterbatasan dan Keterkungkungan Manusia di Masa Pandemi untuk Kemudian Berangsur Ramai-Ramai Memasuki Dunia Digital


Diunggah oleh Official Adm pada tanggal 30 Juni 2021   (322 Readers)

2021 menjadi helatan Nandur Srawung tahun ke-8 dan diselenggarakan di tengah-tengah pandemi yang masih saja melanda, di mana kita semua masih harus berada dalam segala keterbatasan serta kungkungan. Hal itu tak pelak menggiring kehidupan manusia ini untuk berangsur-angsur memasuki dunia digital.

Helatan Nandur Srawung 2021 kali inipun diawali dari pemikiran ikhwal keadaan keterpaksaan pun keterkungkungan akibat pandemi yang kemudian mampu menggiring kehidupan manusia untuk memasuki dunia digital sebagaimana dipaparkan di atas. Bahwa dari sana, ada yang menjadi menarik untuk ditilik kembali ragam hubungan yang terjadi, baik antarsesama manusia, pun mansuia dengan lingkungannya.

Teori Biophilia Erich Fromm menyatakan bahwa individu yang sehat mampu menemukan cara bersatu kembali dengan dunia, dan dengan cara bersikap produktif manusia dapat memenuhi kebutuhan manusiawi mereka. Biophilia adalah afinitas bawaan kehidupan atau sistem kehidupan. Istilah ini pertama kali digunakan oleh Wrich Fromm untuk mengggambarkan orientasi psikologis yang tertarik pada semua yang hidup dan vital. Edward O Wilson kemudian menggunakan teori Biophilia dan mendefinisikannya sebagai “kecenderungan bawaan untuk fokus pada kehidupan dan proses seperti kehidupan serta bahwa hubungan manusia dengan alam tidak hanya fisiologis (seperti yang disaraankan Fromm) tetapi memiliki dasar genetik”.

Hipotesis Biophilia adalah gagasan bahwa manusia memiliki kebutuhan bawaan untuk terhubung dengan alam dan bentuk biotik lainnya karena ketergantungan evolusioner kita padanya untuk bertahan hidup dan pemenuhan pribadi.

Nandur Srawung 2021 kali ini kemudian mengusung tema Ecosystem, dengan mengacu pada teori Biophilia, yang juga disambung dengan pranåtåmångså sebagai upaya masyarakat agraris dan maritim jawa dalam mengumpulkan informasi mengenai perubahan iklim dan menghubungkannya dengan aktivitas sehari-hari mereka. Sistem ini digunakan untuk membantu mereka dalam emlakukan aktivitas bertani maupun melaut bagi nelayan.

Ecosystem pranåtåmångså menjadi sebuah pameran yang bertendensi untuk menilik ulang bagaimana manusia berelasi dengan sesama dan semestanya, dan bagaimana kemampuan mereka beradaptasi dalam jagad digital dan pandemi global. Apakah manusia makin tercerabut dengan semesta nyatanya dan tersesat dalam jagad digital. bagaimana kumpulan informasi yang terserak di jagad digital itu membantu manusia, sebagaimana dahulu ‘pranåtåmångså’ digunakan untuk membaca semesta. Dari pertanyaan dan pernyataan itulah setidaknya gagasan pameran ini dikembangkan.

Apa itu Nandur Srawung

Apa itu Nandur Srawung?

Nandur Srawung sendiri merupakan acara seni rupa tahunan yang dihelat oleh Taman Budaya Yogyakarta dengan kegiatan utamanya adalah pameran seni rupa, di mana para peserta pameran berasal dari Yogyakarta dan kota-kota lain dengan sistem pengajuan aplikasi terbuka alias open-call.

Nandur Srawung ini sudah dimulai sejak tahun 2014 silam dengan nama Pameran Rupa Rupa Seni Rupa: Nandur Srawung.

Gagasan besar dari helatan Nandur Srawung ini adalah mempertemukan ragam bentuk dan media ekspresi dalam seni rupa yang berlangsung di Yogyakarta, mulai dari seniman yang berbasis seni lukis, patung, grafis, kriya, disain, hingga seni performans dan media baru.

“SRAWUNG” yang diambil dari bahasa Jawa memiliki arti bergaul, ia dimaknai sebagai bentuk pertemuan dan keterhubungan antar-media dan komunitas seni rupa.

Di tahun 2015, nama Rupa Rupa Seni Rupa: Nandur Srawung yang baru satu kali dikenakan kemudian diubah menjadi hanya menyisakan ‘Nandur Srawung’ saja, dengan tema yang kemudian selalu berganti setiap tahunnya. Sejak tahun 2018 acara ini mengalami perubahan arah dan bentuk kegiatan. Keterhubungan antar ekspresi seni berkembang pada keterhubungan seni rupa dengan komunitas dan praktik sosial lainnya.

Makna ‘srawung’ diperluas dan diwujudkan dalam kegiatan lain selain pameran, yaitu Srawung Moro dan Srawung Tamu. Srawung Moro adalah kegiatan seni berbentuk kerja kolaborasi seni antara seniman dengan komunitas warga. Srawung temu adalah kegiatan residensi seni yang membuka kesempatan kepada seniman dari luar DIY untuk melakukan kerja seni di ruang seni di Yogyakarta atau dengan komunitas seni di Yogyakarta. Dua kegiatan itu sebagai wujud keterhubungan praktik seni dengan komunitas, terutama warga di sekitar DIY dan membuka jejaring dengan seniman dari daerah lain.

Pada masa pandemi corona mewabah, NANDUR SRAWUNG tetap berlangsung, bahkan diarahkan oleh Taman Budaya Yogyakarta menjadi acara internasional.

Pada tahun 2020, Nandur Srawung menggabungkan antara kegiatan daring dengan luring. Selain pameran, di tahun 2020 Nandur Srawung juga menyelenggarakan beberapa acara Webinar dan Talkshow menggunakan jaringan daring. Sementara untuk Nandur Srawung tahun 2021 kali ini, ia tetap terselenggara dengan menambahkan kegiatan Srawung Moro: Temu Kurator Muda. Program ini membuka kesempatan kepada anak-anak muda yang tertarik dengan kegiatan kurasi seni rupa untuk tergabung dalam proses kurasi pameran Nandur Srawung ke-8 tahun 2021. []

Simak pawarta terkait , atau adicara menarik lain oleh Official Adm


Ingin mengunggah dan mewartakan kegiatan serta acaramu di Situs WARTA AGENDA ACARA | PAWARTA ADICARA JARINGACARA?
Klik Registrasi dan atau Login! Baca juga Syarat & Ketentuannya!

Sila Siarkan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *