Pawarta Adicara!

JARINGACARA sebagai media publikasi memiliki keinginan turut memberi warna dalam mengabarkan segala agenda acara seni budaya, pariwisata, warta, cuaca, juga menebarkan canda-tawa.
Perihal kontak kerjasama publikasi pun media partner, sila simak “Syarat dan Ketentuan“.

HIGHLIGHT
   
'Digiyo Digiye' adalah Album Perdana Black Finit

‘Digiyo Digiye’ adalah Album Perdana Black Finit

Diunggah oleh Utroq Trieha, pada tanggal 20 Juni 2019

‘Digiyo Digiye’ adalah album perdana Black Finit yang telah dirilis pada tahun 2015. Ialah album penuh dengan produser oleh Grayce Soba dan berisi 11 lagu berformat CDR. Artinya, sebelum bergabung dengan DoggyHouse Records, sejatinya Black Finit telah merilis sendiri album-albumnya, baik itu berupa mini album dan album penuh, dan album Digiyo Digiye itu kenyataannya juga berhasil ludes terjual dalam sekejap.

Album Albert Gerson unFinit yang dahulu dirilis Gong Waning Production tersebut, kini, di tahun 2019 ini, akan dirilis ulang oleh DoggyHouse Records, hanya saja bentuknya akan menjadi format digital. Proses ini seiring juga dengan Black Finit mengerjakan mastering album terbarunya, Tana.

Digiyo Digiye adalah istilah bikinan Gerson yang diartikan sebagai “melakukan gerilya keluar masuk di dalam hutan”, yang kenyataannya istilah itu ada pula di bumi Papua.

'Digiyo Digiye' adalah Album Perdana Black FinitDalam balutan Reggae dengan dentuman bass yang mantab, Digiyo Digiye berkisah perihal curahan isi kepala pria kelahiran Maumere ini selama meniti kehidupan di Jogjakarta. Mulai dari “Di Jogja” tentang hangat senyum kota Gudeg yang damai, cinta yang mengalir tulus apa adanya di “Mari Bercinta” sampai lirik “maling – maling sesama maling, perut – perut buncit saling tusuk” di lagu “Mohon Ampunan”.

Baca juga:  Erasmus Huis Dance Event (EHDE) bersama Thomas Newson Digelar di Yogyakarta

Artwork kover yang pada kemunculan sebelumny merupakan lukisan Gerson sendiri, kini ia diinterpretasi kembali dengan goresan tangan dan tambahan sentuhan digital. Artwork berbentuk lukisan burung ini dianalogikan seperti “aku (yang) bebas seperti burung tapi pulang di pohon yang sama” ungkap Gerson pada saat memberikan makna atas goresan tangannya tersebut.

Tanggal 21 Juni 2019 sebagai hari musik sedunia (World Music Day) merupakan waktu dimulainya khalayak bisa menikmati album Black Finit – Digiyo Digiye melalui kanal digital, baik itu iTunes, Spotify, Deezer. Selain itu, kelak album ini juga akan dirilis dalam bentuk limited CD dengan tambahan 2 lagu yang dirilis DoggyHouse Records yaitu “Bukan Puisi” dan “Damai Natal” (featuring Wangak).

Baca juga:  Balkonjazz Music Festival Sebagai Pemantik Ekonomi Lokal

Photo: Doggyhouse Records

Simak pawarta lain terkait , atau adicara menarik lain yang diunggah oleh Utroq Trieha


Ingin mengunggah dan mewartakan kegiatan serta acaramu di Situs WARTA AGENDA ACARA | PAWARTA ADICARA JARINGACARA?
Klik Registrasi dan atau Login! Baca juga Syarat & Ketentuannya!

Sila Siarkan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *