Pawarta Adicara!

JARINGACARA sebagai media publikasi memiliki keinginan turut memberi warna dalam mengabarkan segala agenda acara seni budaya, pariwisata, warta, cuaca, juga menebarkan canda-tawa.
Perihal kontak kerjasama publikasi pun media partner, sila simak “Syarat dan Ketentuan“.

HIGHLIGHT
   
Puni A. Anjungsari -Laras -Awang on Citi Indonesia dan UNESCO Rayakan Hari Batik Nasional 2020

Citi Indonesia dan UNESCO Rayakan Hari Batik Nasional 2020 Secara Daring alias Online


Diunggah oleh Haiki Murakabi pada tanggal 4 Oktober 2020   (322 Readers)

Di bawah dukungan Citi Foundation, Citi Indonesia dan UNESCO Jakarta pada tahun 2020 ini kembali menggelar perayaan Hari Batik Nasional. Ialah sebuah perayaan rutin tahunan, tepatnya tiap tanggal 2 Oktober, dan telah dimulai sejak tahun 2009 silam bertepatan dengan ditetapkannya karya batik sebagai Warisan Kemanusiaan untuk Budaya Lisan dan Nonbendawi oleh UNESCO.

Hari Batik Nasional 2020 kali ini memang tak sama dengan perayaan tahun-tahun sebelumnya, namun ia juga menjadi tak jauh berbeda dengan beberapa perhelatan lain, yaitu sama-sama diselenggarakan secara daring alias online, tepatnya pada hari Jumat, tanggal 2 Oktober 2020, pukul 15:00 – 17:00 WIB, baik itu melalui Kanal Youtube ataupun memanfaatkan Instagram Live @kitamudakreatif.

Selama dua jam, dalam rangkaian perayaan Hari Batik Nasional 2020 tersebut juga ditampilkan gelaran karya kain batik yang didatangkan dari berbagai penjuru nusantara. Selain itu ada pula acara temu wicara perajin batik tulis, sesi mengenai batik warna alam yang ramah lingkungan, serta pertunjukan seni tari dan musik yang dipersembahkan oleh para seniman muda yang berasal dari Yogyakarta dan Kota Tua Jakarta.

Berbicara tentang Batik Indonesia seiring hari perayaannya di tahun 2020 kali ini, maka kita dapat memaknainya sebagai sebuah hasil kerajinan tangan tradisional, namun dengan kepememilikan nilai budaya tinggi. Artinya, baik di beberapa tempat di Jawa pun di pulau lain, membatik memang sangat bisa dipandang sebagai sebuah keterampilan yang sebatas menjadi turunan dari generasi ke generasi sejak awal abad ke-19. Hanya saja teknik, simbol, dan budaya yang melingkupi kain katun dan torehan sutra serta perwarnaan yang kebanyakan hal itu dilakukan masih dengan menggunakan tangan adalah sebuah cerminan kehidupan orang Indonesia dari awal hingga akhir.

Cerminan batik selalu menempel pada kehidupan manusia Indonesia sejak awal hingga akhir tersebut sangat kental bisa kita amati. Sebut saja bayi yang baru saja terlahir maka tak jarang iapun langsung digendong dengan mengenakan kain batik bersimbol tertentu, harapannya ia dapat memberi keberuntungan dan keselamatan pada sang bayi. Demikian pula yang terjadi dengan jenazah yang kerap dibungkus ataupun sekadar diselimuti kain batik sebelum prosesi pemakaman. Selain itu dalam keseharian, pakaian dengan bermacam desain juga dikenakan dalam lingkungan bisnis dan akademis, sementara jenis-jenis batik khusus dikenakan pada perayaan pernikahan, kehamilan, di pementasan wayang kulit, serta dalam bentuk-bentuk seni lain.

Baca juga:  Heruwa Menulis Lagu Baru Dubyouth Berjudul “Stomp” Karena Terinspirasi Tingkah Anaknya

Latar-belakang di atas adalah hal yang selaras dengan perjuangan kita dahulu untuk agar Organisasi Pendidikan, Keilmuan, dan Kebudayaan Perserikatan Bangsa-Bangsa (UNESCO) bisa menetapkan Batik Indonesia sebagai Warisan Kemanusiaan untuk Budaya Lisan dan Nonbendawi, dan selanjutnya sudah sepantasnya hari batik nasional itu digelar dan diperingati secara rutin setiap tahunnya.

Seiring berjalannya waktu, meski batik juga telah dicanangkan sebagai warisan nasional, kenyataannya iapun dapat menjadi bagian kebudayaan abad ke-21, dan telah mendukung mata pencaharian sekelompok besar masyarakat di Indonesia. Hal inilah yang pada akhirnya juga turut andil dalam menginspirasi lahirnya kreativitas-kreativitas baru dan inovasi teknologi yang berkaitan dengan batik di nusantara.

Dra. DS Nugrahani, M.A - Dosen Arkeologi UGM on Citi Indonesia dan UNESCO Rayakan Hari Batik Nasional 2020

Di berbagai daerah di Indonesia, pengenalan beragam motif Batik meningkatkan peluang ekonomi melalui diversifikasi ragam corak Batik yang tersedia. Bahkan selama pandemi COVID-19 ini masih mewabah, para pembatik juga tak lupa untuk terus bisa menjajaki peluang pasar baru dengan membuat masker dari kain batik. Selain itu, teknik pewarnaan batik secara alami juga telah menjadi fokus studi ilmiah untuk mengeksplorasi keberadaan industri tekstil yang lebih ramah lingkungan dan berkelanjutan. Dari sinilah pertimbangan UNESCO mengusung tema Heritage on The Move! untuk perayaan Hari Batik Nasional 2020 ini.

Di perayaan Hari Batik Nasional 2020 ini, UNESCO Jakarta menampilkan beberapa inisiatif dan diskusi yang menempatkan batik di tengah agenda sosial dan ekonomi. Selain menampilkan beberapa perajin batik nusantara, akan tampil pula karya-karya batik dari para wirausaha muda kreatif yang tergabung dalam proyek “Creative Youth at Indonesian Heritage Sites” yang diselenggarakan oleh Citi Indonesia dan UNESCO Jakarta dari Jawa Tengah, Jogjakarta, Jakarta, Toba, dan Bali; akan ada pula sesi berbagi tentang penelitian ilmiah yang dilakukan dan pelatihan pewarnaan alami untuk Batik. Para peneliti, wirausaha muda, desainer, dan artisan yang mendukung kegiatan UNESCO, akan membagikan pengalaman mereka di kegiatan ini secara live-streaming.

Prof. Shahbaz Khan selaku Director and Representatives of UNESCO Jakarta menuturkan bahwa batik ini tak serta-merta serupa dengan cagar budaya ataupun monumen. Lain dari itu, warisan budaya tak benda yang salah satunya berujud batik ini selain membutuhkan upaya konservasi teknis dari para ahli berikut kajian ilmiahnya, juga membutuhkan upaya manusia sekelilingnya untuk bisa terus lestari. Dari para praktisinya yang mempunyai kemampuan dan pengetahuan, generasi mudanya yang belajar mewarisi pengetahuan tersebut dan akhirnya kalangan masyarakat luas yang menghargai warisan budaya itu dan mendukung upaya alih pengetahuan antar generasinya.

Baca juga:  Group-Band Sepatu Kotor Asal Jember -Jawa Timur Rilis Mini Album 'Love Hibernation'

“Saya berharap melalui Perayaan Hari Batik ini, Indonesia bisa terus bersama melestarikan warisan budaya,” imbuh Shahbaz Khan.

Di sisi lain Dra. DS Nugrahani, M.A. yang merupakan seorang dosen Arkeologi di Fakultas Ilmu Budaya UGM menyatakan bahwa kata ‘batik’ sejatinya baru ditemui di sekitar abad 16, di mana istilah batik sendiri dapat dimaknai sebagai aktivitas menggambar pola di atas kain menggunakan canting –baik tulis maupun cap, dengan menggunakan malam panas dan dicelup dengan metode halang rintang warna.

Batik sebenarnya adalah media untuk menyampaikan pesan dari si pembuat kepada masyarakat luas. Dari aspek motifnya, batik juga semakin berkembang. Misalnya motif klasik truntum yang berkembang dengan dikombinasikan motif lain, seperti motif parang, atau motif dari relief candi,” jelas Dra. DS Nugrahani, M.A.

Seiring dengan perayaan Hari Batik Nasional 2020 kali ini, peserta dari kelompok pembatik perempuan asal Bayat, Klaten, Jawa Tengah, dengan nama kelompoknya adalah ‘Batik Kebon Indah’ memaparkan, bahwa hingga saat ini mereka telah menyambung hidup dengan membuat batik tulis. Karena itu, pengakuan UNESCO pada batik sebagai warisan kemanusiaan untuk budaya nonbendawi sangat memberikan andil sebab bisa mendongkrak mereka dalam hal mempromosikan batik pewarna alam serta meningkatkan pendapatan.

“Dengan mengembangkan batik, kami mampu membuka lapangan kerja di desa kami sekaligus memberdayakan para perempuannya. Kami harap generasi muda dapat meneruskan batik tulis ini sehingga akan tetap menjadi kebanggaan budaya kami.” ungkap Dalmini sebagai salah satu ketua kelompok Batik Kebon Indah.

Sementara itu menjelaskan ikhwal batik pewarna tersebut, Dr. Ir. Edia Rahayuningsih, MS. IPU. dari Indonesia Natural Dye Institute (INDI) UGM menyatakan bahwa batik pewarna alami ini selain aman dan ramah terhadap lingkungan, kenyataannya di dalamnya juga mengandung senyawa-senyawa bermanfaat bagi manusia. Selain itu pewarna alami merupakan kekayaan alami khas Indonesia, di mana dahulu Indonesia juga pernah menjadi penguasa pewarna alami.

Baca juga:  Dari Batu Air dan Alam Pikir untuk Udara dan Kehendak Manusia

“Di balik batik pewarna alami tidak hanya sekadar berbicara produk, karena ada pula misi edukasi, penyelamatan lingkungan, kesehatan pengrajin, dan membangun kedaulatan bangsa.” terang Dr. Ir. Edia Rahayuningsih, MS. IPU.

Direktur Jenderal Kebudayaan Republik Indonesia dalam sambutan tertulis yang dibacakan oleh Dra. Sri Hartini, M.Si. (selaku Sekretaris Direktorat Jenderal Kebudayaan Republik Indonesia) menyatakan perihal penghargaan dan pengakuan dunia internasional terhadap batik, Karena itu ia mengamanatkan masyarakat dunia termasuk masyarakat Indonesia untuk secara optimal melestarikan batik dalam bentuk perlindungan, pengembangan, dan pemanfaatan warisan budaya untuk kesejahteraan hidup manusia merupakan tugas bersama pemerintah, masyarakat, dan institusi swasta maupun non-pemerintah.

“Semoga di Hari Batik Nasional 2020 ini menjadikan batik sebagai kebanggaan bangsa Indonesia dan menjadikan identitas yang mengangkat martabat masyarakat dan bangsa Indonesia,” baca Dra. Sri Hartini, M.Si.

Dalmini - Bendahara Kelompok Batik Tulis Kebon Indah on Citi Indonesia dan UNESCO Rayakan Hari Batik Nasional 2020

Dari Citi Indonesia di bawah payung kegiatan kemasyarakatannya yang berjuluk CitiPeka (Peduli dan Berkarya) selalu berupaya untuk memberikan kontribusi yang nyata pada komunitas di mana kami beroperasi. Dalam perayaan Hari Batik Nasional 2020 kali ini Citi Indonesia menyampaikan kebanggaannya lantaran bisa memberikan dukungan terhadap program “Creative Youth at Indonesian Heritage Sites”, di mana program ini juga memberikan support pada upaya pelestarian budaya Indonesia sekaligus memberikan kesempatan ekonomi lebih baik bagi generasi muda. Hal ini tentu sangat sejalan dengan misi Citi secara global untuk mengembangkan kesempatan kerja dan berkarya para generasi muda di dunia yang kami sebut Pathways to Progress.

“Citi dan Citi Foundation mengukuhkan kembali komitmen Pathways to Progress sampai dengan tahun 2023. Dengan investasi sebesar lebih dari IDR 500 milliar di Asia Pasifik, Citi Foundation akan membantu generasi muda yang berpenghasilan rendah dalam hal penyediaan 6.000 lapangan kerja dan juga 60.000 kesempatan pelatihan,” ungkap Puni A. Anjungsari selaku Country Head of Corporate Affairs, Citi Indonesia. [hmk]

Simak pawarta terkait , atau adicara menarik lain oleh Haiki Murakabi


Ingin mengunggah dan mewartakan kegiatan serta acaramu di Situs WARTA AGENDA ACARA | PAWARTA ADICARA JARINGACARA?
Klik Registrasi dan atau Login! Baca juga Syarat & Ketentuannya!

Sila Siarkan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *