Pawarta Adicara!

JARINGACARA sebagai media publikasi memiliki keinginan turut memberi warna dalam mengabarkan segala agenda acara seni budaya, pariwisata, warta, cuaca, juga menebarkan canda-tawa.
Perihal kontak kerjasama publikasi pun media partner, sila simak “Syarat dan Ketentuan“.

HIGHLIGHT
   
Biennale Ekuator Tahun 2019 | Batu Air dan Alam Pikir

Biennale Ekuator Tahun 2019 Tentang Asia Tenggara

Diunggah oleh Lik Ngatmin, pada tanggal 13 Maret 2019

Bola dunia yang dikelilingi dalam Pameran Seni Rupa Biennale Ekuator kali ini telah mencapai titik henti yang ke-4 setelah memulai perjalanannya menuju ke barat, yaitu tahun 2011 ke India.

Kemudian YBY (Yayasan Biennale Yogyakarta) melanjutkan perjumpaan dengan wilayah-wilayah geopolitik yang menantang pada periode berikutnya; mulai dari kawasan Arab pada athun 2013, kawasan Afrika dengan memilih Nigeria pada tahun 2015, dan selanjutnya menuju jazirah Amerika Selatan tepatnya Brazil di tahun 2017. Karenanya, tahun 2019 menjadi waktu untuk kembali melihat kawasan terdekat dengan nusantara ini, yaitu seputar Asia Tenggara (dan kawasan Pasifik).

Melalui proses diskusi yang sangat panjang, tahun 2019 YBY mencoba melihat Asia Tenggara dan beberapa wilayah lain sebagai kemungkinan negara mitra. Bisa saja dikatakan bahwa mengadakan pameran yang berfokus pada Asia Tenggara terdengar sebagai satu gagasan klise yang sudah banyak dilakukan. Akan tetapi, justru inilah yang mendorong dalam melihat kemungkinan lain; bahwa Asia Tenggara mempunyai berbagai potensi jauh lebih kaya dan relevan dengan situasi global daripada sebatas membayangkannya sebagai wilayah geografis –yang secara politik acapkali disebut sebagai ASEAN, seperti yang sering menjadi pengetahuan umum selama ini.

Dalam beberapa kali pertemuan Tim YBY bersama ahli kawasan, ada kesadaran untuk melihat kembali keterhubungan antar-rumpun bangsa dan sejarah terpinggir terkait dengan masyarakat Asia Tenggara; kompleksitas antara Sejarah jalan sutra, Indo-China, Dinamika Melayu, Religiusitas dan konflik sosial horizontal, situasi kolonialisme dan pasca-kolonial, dan sebagainya.

Penwadee Nopaket ManontDengan melihat Asia Tenggara sebagai Cara Pandang dan Metode atas praktik keseharian masyarakat kontemporer yang kompleks inilah, gagasan tentang khatulistiwa menjadi relevan untuk diposisikan sebagai ruh bagi pembacaan atas situasi geopolitis di sini. Pasalnya, selama ini Asia Tenggara justru sering lebih dilihat sebagai konsep regional dalam konstelasi politik global, yang setelah pasca perang lebih dilihat sebagai kerangka negara bangsa, dan, kiranya, hal inilah yang sering menjadi penyebab dari pembacaan yang nyaris terberi dan stereotipikal.

Baca juga:  Bread Essence Luncurkan Video "Untukmu Indonesia"

Dalam perjalanannya, para kurator Biennale Ekuator bakal ditantang untuk melihat Asia Tenggara melampaui gagasan negara bangsa, dan karenanya justru melihat sejarah serta keterkaitan dengan konsep kelautan dan nusantara –yang akan menjadi salah satu fokus bagi studi YBY hingga tahun 2022 yang akan datang.

Asia Tenggara sendiri secara geografis sering ditengarai terbagi dalam dua wilayah, yaitu wilayah laut atau kepulauan serta wilayah daratan. Sehingga dari dua hal ini jugaah perbedaan-perbedaan tradisi itu ditentukan. Bahkan lebih dari itu, cara hidup, filsafat, dan berbagai pranata lain pun seturut dengannya. Tentu saja, dalam perjalanan hingga terbentuknya negara bangsa seperti yang kita terima saat ini, kompleksitas perang, perdagangan, perluasan wilayah, kolonialisme, hingga soal-soal seperti demokrasi pada periode yang lebih kini dan sebagainya, menjadi wacana-wacana penting yang akan menjadi titik awal dalam penelusuran terhadap narasi dan pembacaan atas kehidupan masyarakat Asia Tenggara.

Baca juga:  Pawai Mesemeleh FKY 30 di Jalan Malioboro

Secara akademik, kawasan ini sangat berhutang pada cerita perjalanan dan catatan antropologis yang dibuat oleh para pejalan masa lalu seperti Ibnu Batuta, Tome Pires, hingga Rabindranath Tagore, yang pada masa selanjutnya diperdalam oleh kajian yang dilakukan para sarjana negara barat sebagai acuan mengenai studi kawasan hingga kini.

Nama seperti Bennedict Anderson, Anthony Reid, dan beberapa lainnya, seolah menjadi rujukan wajib kita harus mempelajari Asia Tenggara. Tak bisa dimungkiri, memang tidak banyak sarjana asal kawasan Asia Tenggara sendiri yang menjadi rujukan sejarah, dan, karenanya, peristiwa-peristiwa pertemuan semacam ini menjadi penting untuk mendorong pembacaan sejarah yang didasarkan pada pemikiran dari dalam sendiri.

Dalam khazanah seni, sebagai contoh adalah nama-nama seperti TK. Sabapathy (Singapura) atau Patrick Flores (Filipina), menjadi sumber penting dalam penulisan sejarah seni kawasan Asia Tenggara.

Dalam praktik seni kontemporer, kawasan Asia Tenggara sering dibaca sebagai bagian dari politik identitas berbasis kawasan sebagaimana Asia Timur, Asia Selatan, dan Asia Tengah (kawasan baru yang muncul setelah bubarnya Soviet). Dalam satu dekade terakhir, politik kawasan seperti ini tidak saja berupaya untuk mengembangkan satu jejaring kerja dan posisi politik tertentu dalam peta seni global yang lebih luas, namun juga menjadi bagian dari kooptasi pasar seni yang kerap menggunakan jargon-jargon seperti “target pasar baru” sebagai strategi pemasaran. Pembacaan-pembacaan yang sifatnya lebih luas, di luar soal pasar seni, masih belum banyak terdistribusi dalam wacana seni global. Praktik yang hibrid dengan pengaruh sejarah, tradisi, dan estetika yang muncul dari nenek moyang, dikombinasikan dengan kompleksitas sosial politik pasca perang dan pasca kolonial, semua menjadi bahan yang sangat menarik untuk dimunculkan sebagai perayaan bersama.

Baca juga:  Pre Event Pertama FKY 2019 Mulanira Malyabhara

Keputusan untuk memilih Asia Tenggara seperti ini selanjutnya dapat diturunkan kembali sebagai cara guna  membangun posisi politik bagi kawasan-kawasan baru yang selama ini dilihat sebagai pinggiran, atau juga wilayah perbatasan. Ketimbang membicarakan tentang praktik seni di pusat, ada dorongan melihat wilayah-wilayah lain seperti Makassar, Padang, Kinabalu, Pattani, Bagyo, Dha Nang, dan kota-kota selain yang disebutkan itu, yaitu yang selama ini seperti tersembunyi dalam wacana urbanisme dan pembangunan pusat megapolitan di Asia Tenggara. Dan wacana urbanisme serta pembangunan pusat megapolitan itu contohnya adalah Jakarta, Bangkok, Manila, dan lain sebagainya.

Dari latar belakang semacam itulah, Biennale Jogja Equator muncul sebagai platform yang tepat guna mengusung narasi dan wacana-wacana sejarah, identitas, ekologi, dan berbagai hal lain dalam relasi antara kota-kota ‘pinggiran’ tersebut. []

Refferensi: biennalejogja.org

Artikel pun Pawarta di atas diunggah dan dipublikasikan oleh 'Lik Ngatmin'. Isi ada di luar tanggung jawab redaksi, karenanya untuk informasi, sanggahan, saran, dan lain-lain, mohon kontak langsung pengunggah (Lik Ngatmin).

Ingin mengunggah serta mewartakan kegiatan dan acaramu di Situs WARTA AGENDA ACARA | PAWARTA ADICARA JARINGACARA juga?
Sila Klik Registrasi dan atau Login. Simak juga Syarat & Ketentuannya!

Sila Siarkan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *