Pawarta Adicara!

JARINGACARA sebagai media publikasi memiliki keinginan turut memberi warna dalam mengabarkan segala agenda acara seni budaya, pariwisata, warta, cuaca, juga menebarkan canda-tawa.
Perihal kontak kerjasama publikasi pun media partner, sila simak “Syarat dan Ketentuan“.

HIGHLIGHT
   
ARTJOG MMXX_Poster Sosialisasi Tema Time to Wonder

ARTJOG Tahun 2020 Mengusung Tema “Time to Wonder”


Diunggah oleh Utroq Trieha pada tanggal 29 Januari 2020   (266 Readers)

Berlokasi di Pendapa Ajiyasa -Komplek Jogja National Museum (JNM), pada hari Selasa tanggal 28 Januari digelar sosialisasi perihal tema yang bakal diangkat pada penyelenggaraan ARTJOG tahun 2020. Jika pada tahun 2019 silam, sub-tema yang diusung adalah “Common | Space”, maka pada tahun 2020, ARTJOG bakal mengangkat sub-tema “Time (to) Wonder” yang mengiringi judul utama “ARTJOG MMXX Arts in Common”.

“Time to Wonder” menjadi sub-tema “ARTJOG MMXX Arts in Common” tahun 2020 yang gelarannya akan dilangsungkan selama 39 hari, dengan mengambil tempat sama dengan waktu-waktu sebelumnya, yaitu di Komplek Jogja National Museum (JNM) yang beralamat di Jalan Ki AMri Yahya, Gampingan, Wirobrajan, Jogjakarta.

Diinformasikan bahwa sejatinya sedari akhir tahun 2018 silam, helatan ARTJOG Arts in Common ini memang sudah mematok tiga kata kunci dalam rangkaian penyelenggarannya selama tiga tahun ke depan, yaitu ‘ruang’, ‘waktu’ dan ‘kesadaran’. Selanjutnya dengan satu rangkaian tema “Arts in Common” pula, saat itu ARTJOG merancang fokus kuratorialnya sedemikian rupa sehingga ketiganya dapat saling melengkapi dan menegaskan; bahwa satu tema yang diusung pada satu edisi pameran sedapat-mungkin bisa ditempatkan sebagai kesatuan yang saling berhubungan dengan dua lainnya. Bukan tanpa alasan hal itu dilakukan,pasalnya hanya dengan cara seperti terpaparkan itulah agenda Arts in Common di tahun 2019 hingga tahun 2021 dapat termanifestasikan secara koheren sebagai sebuah seri pameran.

Hal di atas sebagaimana yang disampaikan oleh Agung Hujatnika yang merupakan salah satu kurator ARTJOG pada saat acara sosialisasi tema  di JNM tersebut.

“Sejak tahun lalu tema besar ArtJog didesain dalam satu rangkaian (tema) untuk tiga tahun. Tahun lalu ArtJog mengangkat tema tentang ruang sebagai pijakan untuk membicarakan berbagai hal. Tema berikutnya yang akan dihelat tahun ini adalah tentang waktu, sementara untuk tahun depan mengangkat tema tentang kesadaran. Ini (ruang-waktu-kesadaran) adalah sebuah proses yang konvergen,” demikian Agung Hujatnika memaparkan.

ARTJOG Tahun 2020 Mengusung Tema Time to Wonder

Penyelenggaraan helatan ARTJOG MMXX Arts In Common “Time to Wonder” tahun 2020 ini agendanya bakal digelar pada tanggal 23 Juli – 30 Agustus 2020.

Makna Apa yang Hendak Ditunjukkan dari Tema “Time to Wonder” di ARTJOG 2020?

“Time (to) Wonder” menjadi satu tema yang berhubungan dengan undangan untuk memaknai waktu melalui praktik seni. Bahwa isu yang terkait dengan waktu ini menjadi perihal mendesak untuk diperbincangkan, mengingat ada banyak alasan yang sangat mungkin dikemukakan.

Baca juga:  NOEMI Merilis Album Mini alias EP Berjudul “Pulang”

Di antara alasan-alasan “mendesaknya waktu” yang tertautkan pada tema helatan ARTJOG 2020 tersebut antara lain adalah sebagai berikut;

  • Praktik Seni Sebagai Sarana Menyingkap Makna Dimensi Waktu

Pada dasarnya dapat dikatakan bahwa praktik seni sangat memungkinkan untuk dijasikan sebagai refleksi mendalam atas pemahaman manusia terhadap suatu fenomena di satu zaman. Dan meskipun tak selalu bisa termanifestasikan dalam kesimpulan-kesimpulan yang terformulasi secara objektif dan sistematis seperti yang tergambarkan pada sains, namun eksperimen kreatif dari para seniman kenyataannya juga mampu menyingkap secara idiosinkratik dan kadang tak terduga.

Secara singkat dapat diartikan bahwa ARTJOG percaya sepenuhnya pada kapasitas seni untuk menyingkap dimensi-dimensi pemahaman manusia yang tersembunyi, tak terpikirkan dan tiada ter(per)maknai.

  • Munculnya Gagasan Menarik Para Seniman Terkait Perihal Waktu

Pada kenyataannya, sudah lama sekali praktik seni rupa mempersoalkan ‘waktu’, dalam keluasan spektrum pengertiannya. Hal itu seperti yang telah dibuktikan dalam sejarah, bagaimana para seniman menyumbangkan gagasan-gagasan menarik, baik secara langsung maupun tidak, yang itu semua berhubungan dengan perihal waktu.

Dalam ulasan banyak sejawaran seni, karya-karya para Surrealis dan Kubis pada awal abad ke-20, misalnya, seringkali diulas sebagai capaian artistik modern yang beresonansi langsung dengan teori relativitas Einstein.

Perkembangan seni performans, video (video art) dan bunyi (sound art) pada era tahun 1960-an, dan seni media baru—sebagai seni digital atau seni komputer, pada era 1980-an’—di pihak lain, dianggap memperkaya dimensi estetik ‘seni rupa’ dengan elemen waktu.

Kontribusi para seniman performans yang merintis ‘pendekatan daya-tahan’ (dengan karya-karya yang dikenal dengan istilah durational performance) menegaskan bagaimana elemen waktu berkait-kelindan dengan wacana tentang seni tubuh.

Kita dapat melacak dan menggali bagaimana waktu hadir dalam karya-karya para seniman modern sepanjang abad ke-20. Tapi meluasnya spektrum ‘seni rupa kontemporer’ sekurang-kurangnya sejak dominasi posmodernisme pada 1980-an yang cenderung menganut prinsip ‘anything goes’ (apapun boleh, baca: “apapun adalah seni”) semakin mendekatkan pengertian ‘seni rupa’ dengan waktu.

Baca juga:  "Aku Cinta Dia" Menjadi Single Terbaru Duet Antara Andien dengan Ricky Lionardi

Kemunculan istilah ‘seni berbasis waktu’ (time-based arts, yang memayungi berbagai jenis kesenian ‘berdurasi’, termasuk film, musik dan teater) yang menonjol setelah 1990-an, adalah bukti bagaimana waktu kini menjadi menjadi salah satu ‘matra’ yang sah dalam mediasi dan resepsi karya seni rupa.

Pemanfaatan teknologi audio-visual oleh para perupa telah mengubah karya-karya berbasis-waktu menjadi lebih imersif dan interaktif. Dalam aras yang lain, ihwal waktu juga telah diinvestigasi secara mendalam oleh para seniman konseptual, mereka yang menempatkan gagasan atau konsep sebagai medium artistik tersendiri.

Seniman kelahiran Jepang On Kawara adalah menjadi salah satu contoh primer dalam kecenderungan ini. Kawara melahirkan serangkaian karya yang paling lama dikerjakan oleh seorang seniman individu. Melalui seri Today, dengan medium yang sederhana, yaitu cat dan kanvas, ia secara sengaja melukis secara repetitif, metodis, dan obsesif setiap hari, selama puluhan tahun (1966-2014).

Dapat diketahui bahwa pada setiap lukisan berlatar gelap itu hanya tertera angka-angka berwarna putih yang menunjukkan tanggal lukisan itu dibuat.

Menurut sejarawan Pamela M. Lee, cerdasnya karya ini terletak pada upaya tanpa akhir untuk mempertanyakan kehadiran, kemutakhiran sekaligus kesementaraan objek seni.

Proyek-proyek Kawara lainnya, seperti seri kartu pos I am Still Alive, misalnya, adalah refeksi yang filosofis sekaligus satir tentang keberadaannya sebagai individu dalam hitungan waktu kuatitatif manusia.

Selain Kawara, seniman lainnya seperti Felix Gonzales-Torres dan Tehching Hsieh juga telah melakukan sejumlah eksperimentasi tak kalah menarik, yang membuktikan bahwa sebagai tema ‘filosofis’, ‘reflektif’ dan ‘kontemplatif’, waktu bukanlah ‘subjek eksklusif’ dalam ranah para filosof saja.

ARTJOG Tahun 2020 -Time to Wonder

  • ARTJOG MMXX Time to Wonder Dimaksudkan Sebagai Undangan Guna Memaknai ‘HARI INI’

Tak dapat dimungkiri bahwa judul ARTJOG MMXX Time (to) Wonder juga dimaksudkan sebagai suatu undangan untuk memaknai ‘hari ini’, di mana bukan suatu kebetulan apabila hal ini beririsan langsung dengan keberadaan ARTJOG sebagai sebuah festival seni rupa kontemporer yang konon selalu berurusan dengan kemutakhiran dan kekinian.

Hanya saja tim kurator ARTJOG juga sangat sadar, bahwa perihal pemaknaan seperti ini menjadi agenda yang berisiko, namun sekaligus juga menantang. Baik ‘kontemporer’ maupun ‘hari ini’ adalah penanda yang paling cair dan arbitrer, yang justru kontradiktif dengan pengertian waktu linier.

Baca juga:  Open Recruitment Volunteer Wayang Jogja Night Carnival #4

Selama ini, dapat dikemukakan bahwa seni rupa kontemporer teramat dekat dengan konotasi ahistoris setelah para posmodernis menyatakan berakhirnya narasi besar. Seni rupa kontemporer juga identik dengan berakhirnya seni, menurut Arthur Danto, yakni ketika praktik seni tak lagi diarahkan oleh kemajuan linier isme-isme atau gerakan yang dibayangkan oleh narasi Sejarah Seni (Art History, dengan huruf kapital) pada awal abad ke-20.

Sejak akhir abad ke-20, seni rupa telah terjun bebas dalam ranah praktik yang serba plural dan hibrid. Alih-alih berpatokan pada progresi linier ala modernisme, kecenderungan estetik seni rupa kontemporer malah termanifestasikan ke dalam kecenderungan ‘regresif-multilinier’, terutama jika kita selami sejumlah strategi artistik semacam apropriasi, pastiche dan parodi yang dominan dalam seni lukis. Tanpa penekanan pada bobot kesadaran sejarah, seni rupa semacam itu berisiko jatuh menjadi sekadar tontonan yang menyesatkan.

Risiko lain yang diusung oleh ‘hari ini’ sebagai penanda waktu adalah; bahwa di tengah ramifikasi informasi oleh internet global dan media sosial selama beberapa tahun belakangan ditambah lagi dengan ‘politik pasca-kebenaran’ yang mengikutinya, yang diyakini ‘benar hari ini’ adalah mendapatkan jumlah klik terbanyak oleh sebagian besar pengguna internet.

Dari sana timbul pertanyaan: Masih bisakah seni menawarkan ‘hari ini’ yang reflektif (dan mungkin otentik), yang terlepas dari semua logika kuantitatif semacam itu?

Ketimbang menawarkan ‘pesona keajaiban’ dan ‘kedalaman misteri’ waktu (yang sangab bisa diistikahkan dengan “time wonder”) belaka, ARTJOG MMXX Arts in Common juga menantang para seniman untuk memtanyakan kembali (to wonder) segala sesuatu, untuk menghindar dari semua pengertian ‘kekinian/kemutakhiran hari ini’ yang serba stereotip.

Karena ‘ke-kontemporer-an’ (contemporariness), kata Giorgio Agamben, sesungguhnya adalah hubungan satu lawan satu yang unik antara seseorang dengan suatu masa yang melekat kepada, dan pada saat yang sama, berjarak dengannya. [uth]

Catatan:
Gambar diambil dari Twitter ARTJOG, sedangkan artikel disarikan dari acara sosialisasi ARTJOG serta tulisan di www.artjog.co.id dengan refferensi sebagaimana tertulis, yaitu Amelia Groom (ed.), Time, Documents of Contemporary Art, Whitechapel Gallery and The MIT Press, 2013 dan Pamela M. Lee, Chronophobia, On Time in the Art of the 1960s, Massachusetts Institute of Technology, 2004

Simak pawarta terkait , atau adicara menarik lain oleh Utroq Trieha


Ingin mengunggah dan mewartakan kegiatan serta acaramu di Situs WARTA AGENDA ACARA | PAWARTA ADICARA JARINGACARA?
Klik Registrasi dan atau Login! Baca juga Syarat & Ketentuannya!

Sila Siarkan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *